muslimah itu indah
Kamis, 17 Oktober 2013
Sunnah-Sunnah Rasulullah yang sering dilupakan..
Sunnah-Sunnah Rasulullah yang sering dilupakan..
1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya
2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu
3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak)
4. Shalat Istikharah
5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu
6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke
Kanan
7. Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan
8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari
Bencana
9. Tidak Begadang Dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya`
10. Mengikuti Bacaan Muadzin
11. Berlomba-Lomba Untuk Mengumandangkan Adzan, Bersegera Menuju Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama.
12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu
13. Mengibaskan Seprai Saat Hendak Tidur
14. Meruqyah Diri Dan Keluarga
15. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru
16. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk
Anak Kecil
17. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub)
18. Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum
19. Mengeraskan Suara Saat Membaca Zikir Setelah Shalat
20. Membuat Pembatas Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat
Sunnah
" Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti sunnah
rasul-Mu dan mengikuti jejaknya.
Ya Allah, kumpulkanlah kami dan kedua orang tua kami
bersamanya di surga " aamiin...
Silakan di share/bagikan
www.avocadosweetshop.com
Rabu, 16 Oktober 2013
Sabtu, 08 November 2008
Psikologi Suami – Istri
Kategori: Pernikahan
Sumber: Kado Pernikahan, Psikologi Suami-Istri; Dr. Thariq Kamal An-Nu’aimi; Mitra Pustaka.
Sumber: Kado Pernikahan, Psikologi Suami-Istri; Dr. Thariq Kamal An-Nu’aimi; Mitra Pustaka.
Oleh Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi
Semua orang pasti setuju bila dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kondisi psikologis yang berbeda. Kondisi psikologis yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon sesuatu. Perbedaan tersebut membuat masing-masing menjadi jelas dan sepertinya tidak akan mungkin bisa bersandar pada dunia yang sama, cara berfikir yang sama. Inilah kodrat manusia. Agar tak salah dalam menafsirkan cara berpikir, maka adalah baiknya mengetahui bagaimana perbedaan ini? Dengan mengetahui dasar-dasar perbedaan ini, diharapkan tidak ada lagi rasa curiga.
Selain perbedaan yang mencolok secara fisik, tentu banyak perbedaan lainnya secara lahiriah. Begitu halnya dalam hal cara berfikir. Cara berfikir lelaki terkonsentrasi (terpusat) pada kebutuhannya saja dan hanya memperhatikan dirinya saja. Sebaliknya pada wanita, akan lebih mudah memperhatikan sekelilingnya melebihi perhatian pada dirinya sendiri. Ia akan menngorbankan dirinya sendiri dan tidak merasakan hal tersebut.
Perbedaan cara berpikir ini yang mendasari sikap tidak saling memahami jalan pemikiran. Lelaki tidak bisa berfikir dan menyikapi sesuatu seperti yang dilakukan perempuan. Begitu juga sebaliknya. Jika masing-masing pihak memaksakan cara berpikirnya, tentu saja fatal akibatnya. Timbullah rasa frustasi, ketegangan yang diwarnai pertengkaran, kebencian yang dapat menimbulkan keretakan dalam rumah tangga.
Lalu, apa saja perbedaan itu?
Cara Berpikir
Otak lelaki dan perempuan berbeda, begitu pula dalam penggunaannya. Para lelaki akan sulit sekali merubah fikirannya dalam waktu sekejab. Lain hal dengan wanita.
Jika seorang lelaki dalam konsentrasi penuh melakukan suatu hal, maka akan sulit baginya untuk membagi konsentrasi pada hal lainnya. Misalnya, seorang suami sedang asik membaca. Si istri datang dengan maksud ingin menciptakan suasana hangat. Namun yang terjadi pada suami adalah si istri mengganggu konsentrasinya. Hal umum terjadi adalah, suami dan istri sama-sama menjadi jengkel karena tak terpenuhi keinginannya.
Hal yang harus dilakukan istri adalah, tanyakan pada suami apakah dia ingin berbincang-bincang padanya. Jika suami mengatakan kesanggupannya tapi dia tidak melepaskan matanya dari bacaannya. Lebih baik tak usah dilanjutkan lagi perbincangan karena sudah pasti suami tidak akan dapat berkonsentrasi dengan dua macam perbuatan. Lebih baik cari lagi waktu luang lainnya. Dan hal ini tidak berarti dia tidak mencintai dan perduli pada istrinya. Hal ini hanyalah karena tabiat dasar seorang lelaki.
Interaksi dengan dunia luar bagi lelaki adalah pergulatan dengan dunia luar. Pergulatan yang membutuhkan enerji besar dan keharusan untuk memenangkannya. Ia harus selalu menjadi orang yang berada di urutan teratas. Tentu saja interaksi ini berbeda jauh pada kaum perempuan yang penuh dengan kasih sayang, dunia penuh cinta, dan hubungan sosial.
Cara berfikir terhadap dunia luarpun menjadi sangat berbeda. Dimana lelaki berfikir secara sentratif (memusat) akan mengaitkan satu hal dengan hal lainnya kemudian secara bertahap membentuk sebuah gambaran yang dapat ia mengerti. Sedangkan perempuan memiliki sifat ekspansif (meluas) dimana pada tahap awalnya ia akan mencoba menjelajah segala aspek yang terkait dengan objek kemudian mengkaitkan bagian-bagian tersebut.
Contoh sederhana adalah saat berbelanja. Bagi lelaki dimana cara berfikirnya terkonsentrasi adalah langsung membeli barang yang dibutuhkannya dan mengabaikan lainnya. Berbeda dengan perempuan yang bersifat ekspansif. Perempuan membutuhkan waktu untuk menjelajah sambil menyebarkan sifat penyayangnya. Tentu hal yang melelahkan bagi lelaki bila ia dipaksakan harus melakukan hal yang sama seperti kaum perempuan.
Perbedaan lainnya terletak pada cara berfikir dalam menyelesaikan masalah. Bagi lelaki, berfikir adalah diam namun bagi perempuan berfikir sambil berbicara agar mendapatkan kejernihan dalan berfikir. Kontradiktif. Tabiat pokok para lelaki adalah perhatian pada sesuatu yang di luar. Sehingga ketika ia mengalami kesukaran maka ia akan menarik diri dan mulai berfikir secara diam. Ia berusaha memecahkan permasalahan yang dialami. Demikianlah cara lelaki bersikap agar telepas dari kesukaran dan kelelahan.
Lelaki yang merasa lelah akan berusaha mencari kelegaan dengan berusaha mendapatkan tempat yang cukup tenang, jauh dari kebisingan. Dan secara umum berusaha menghindarkan diri untuk tenggelam pada perdebatan dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin berbicara, baik pada permasalahan yang dihadapi maupun tema lainnya. Yang diinginkan lelaki pada waktu itu hanyalah ketenangan. Dan rumah adalah tempat mendapatkan ketenangan itu.
Di antara naluri khas lelaki adalah apabila ia konsentrasi untuk membahagiakan perempuan maka ketika itu semua pikiran dan usahanya terpusat untuk mewujudkannya. Bila ia merasa perempuan telah merasa bahagia, maka lelaki akan berusaha mengubah pikirannya pada hal baru secara tidak sengaja. Ia mulai konsentrasi pada hal lain, seperti permasalahan dalam pekerjaan. Sehingga otaknya sibuk, pemikirannya tertumpah pada hal tersebut, sehingga masalah baru itu menjadi sangat menyibukkan dia. Seakan-akan ia telah mengabaikan istrinya yang ia cintai.
Seni Berkomunikasi
Sudah umum dikatakan bahwa perempuan adalah makhluk cerewet yang banyak omong. Sebenarnya pendapat itu tidak salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Kaum lelaki juga sangat suka berbicara. Kaum lelaki banyak berbicara saat di luar rumah, saat ia berjuang dan berkorban untuk mendapatkan kebutuhannya. Saat di rumah ia menjadi pendiam karena baginya rumah bukan tempat untuk berjuang. Rumah adalah tempat untuk beristirahat, mengistirahatkan otaknya. Berbeda dengan kaum perempuan yang merasa rumah adalah tempat yang tepat untuk berbicara terutama dengan suaminya. Lagi-lagi, keadaan yang sangat jauh berbeda. Lalu bagaimana mengatasinya?
Tentu saja harus melihat kondisi dan situasi. Lelaki yang sedang memiliki masalah di kantor akan terus membawa masalahnya itu sampai ke rumah. Ketika suami sedang dalam kondisi letih dan mempunyai masalah, maka perempuan harus memahami hal itu bahwa suami sedang lelah, butuh istirahat, dan ketenangan. Kewajiban perempuan adalah memenuhi hal tersebut. Jika tidak, akibatnya akan buruk. Jika suami telah menemukan pemecahan masalahnya, letihnya telah habis, maka ia akan terlihat gembira. Pikirannya menjadi baik kembali. Mukanya menampakkan senyuman yang lebar. Siap diajak untuk berkomunikasi.
Dalam dunia lelaki, ada dua sebab mengapa ia mau berbicara tentang masalahnya:
1. Ingin berembug dan mencari jalan keluar
2. Ingin membebaskan diri dari tanggung jawab dan kesalah tersebut.
Dalam benak lelaki, saat perempuan mengatakan keluhannya, dua hal tersebutlah yang menjadi alasannya. Jikalah istrinya mengeluh, maka secara otomatis, lelaki yang menganggap dirinya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab penuh kepada istrinya akan memberikan jalan keluarnya. Namun lelaki tidak mengetahui bahwa istrinya membutuhkan perbincangan kasih sayang bukan membutuhkan nasehat-nasehat dan jalan keluar. Baik, jika ternyata lelaki itu mampu mengerti akan kebutuhan bercakap-cakap ini dalam diri istrinya sehingga konflik tidak ada.
Hal lain yang menjadi permasalahan adalah jika lelaki menangkap pesan bahwa keluhan yang disampaikan istrinya adalah salah satu tindakan pembebasan diri si istri dari tanggung jawab. Dengan kata lain, bahwa lelaki merasa bahwa istrinya telah menganggapnya lalai. Ketika inilah lelaki akan mengeluarkan senjatanya untuk membela diri. Di sinilah harus ada trik-trik dalam menyampaikan keluhan permasalahan.
Di lain sisi, kaum perempuan menyukai memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama. Keadaan berbeda pada kaum lelaki. Perbedaan memang selalu ada selayaknya tulang rusuk yang bengkok bagi kaum lelaki, selalu berseberangan sifatnya. Tujuan memberikan bantuan bagi kaum perempuan adalah untuk membuat dia merasa dicintai. Sementara dalam dunia kaum lelaki, memberikan bantuan sukarela dianggap sesuatu yang tak dapat diterima. Kadang ditafsirkan sebagai penghinaan atas sebuah ketidakmampuan.
Karena itulah, seorang istri yang baik akan membiarkan suaminya berkerja dan percaya penuh padanya. Biarkanlah ia, turutilah, dan jangan mencampur aduk. Jangan berusaha memperbaiki kecuali apabila ia tidak bekerja dan berhenti dari pekerjaannya.
Secara umum, bila perempuan ingin memberikan bantuan kepada suaminya atau memberikan nasehat kepadanya. Murni keinginannya dengan tujuan untuk kebaikan si suami, sebagai wujud rasa cinta tanpa diminta suami. Sikap ini akan terasa menyakitkan bagi suami. Bagi suami, tindakan ini sebagai sikap dari rasa ketidakpercayaan istri padanya. Ada baiknya dilakukan dengan sikap yang tidak menggurui atau dengan cara tidak langsung.
Kamis, 12 Juni 2008
Make Up Muslimah
Anda ingin lebih cantik dan menarik?
- Jadikanlah 'Gadhdhul Bashar' (menundukan pandangan) sebagai 'hiasan mata' anda, niscaya akan semakin bening dan jernih.
- Oleskan 'Lipstik Kejujuran' pada bibir anda, niscaya akan semakin manis.
- Gunakanlah 'Pemerah Pipi' anda dengan kosmetika yang terbuat dari rasa malu yang dibuat pada salon iman.
- Pakailah 'Sabun Istighfar' yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.
- Rawatlah rambut anda dengan 'Jilbab Islami' yang akan menghilangkan ketombe pandangan laki-laki yang membahayakan.
- Hiasilah kedua tangan anda dengan gelang Tawadhu' dan jari-jari anda dengan cincin Ukhuwah.
- Sebaik-baiknya kalung adalah kalung ' Kesucian '
- Bedakilah wajah anda dengan 'Air Wudlu' niscaya akan bercahaya di akhirat
Selasa, 26 Juni 2007
Mengqadha Shalat dalam Hukum Haid
Kategori: Fiqh
Sumber: 52 Persoalan Sekitar Hukum Haid, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Darul Haq
Sumber: 52 Persoalan Sekitar Hukum Haid, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Darul Haq
Pertanyaan:
Jika seorang wanita mengalami haid pada pukul 01.00 siang umpamanya dan dia belum mengerjakan shalat Zhuhur, apakah dia harus mengqadha' shalat Zhuhur itu setelah suci?
Jawaban:
Terdapat perbedaan-perbedaan di antara para ulama dalam masalah ini. ada yang berpendapat, dia tidak harus mengqadha' shalat itu karena dia tidak meremehkannya, juga tidak berdosa karena boleh baginya mengerjakan shalat sampai pada akhir waktunya. Ada lagi pendapat yang mengatakan, dia harus mengqadha' shalat itu berdasarkan keumuman sabda Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam:
"Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu."
Dan sikap hati-hati ialah mengqadha' shalat itu karena hanya satu shalat saja dan tidak ada kesulitan dalam mengqadha'nya.
***
Pertanyaan:
Seorang wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat, apakah wajib baginya mengqadha' shalat itu jika telah suci, demikian pula jika telah suci sebelum habis waktu shalat?
Jawaban:
Pertama. Jika wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat wajib baginya, jika telah suci mengqadha' shalat pada waktu dia haid bila dia belum mengerjakannya sebelum datangnya haid. Berdasarkan sabda Rasulullah shalallhu 'alaihi wa sallam,
"Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu."
Jadi, seandainya seorang wanita bisa mengerjakan sekedar satu raka'at dari waktu shalat kemudian dia kedatangan haid sebelum mengerjakannya, maka jika dia suci nanti, wajib mengqadha'-nya.
Kedua. Jika wanita itu suci dari haid sebelum habis waktu shalat, wajib baginya mengqadha' shalat tersebut. Seandainya dia suci pada saat sekedar satu raka'at sebelum terbit matahari maka wajib baginya mengqadha' shalat Subuh. Atau suci sebelum terbenam matahari sekedar satu raka'at, maka wajib baginya mengqadha' shalat Ashar. Atau suci sebelum tengah malam sekedar satu raka'at, wajib baginya mengqadha' shalat Isya'. namun kalau suci setelah tengah malam, tidak wajib baginya shalat Isya' tetapi dia berkewajiban shalat Subuh bila telah masuk waktunya.
Firman Allah:
"Kemudian apabila kami telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (seagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [QA An-Nisaa': 103]
Berarti tidak boleh bagi seseorang mengerjakan shalat di luar waktunya atau memulai shalat sebelum masuk waktunya.
Rabu, 30 Mei 2007
Aba'ah
Kategori: Fiqh
Sumber: Nasihat Ulama Besar untuk Wanita Muslimah, Penyusun Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Huraiqi, Pustaka Ibnu Katsir
Sumber: Nasihat Ulama Besar untuk Wanita Muslimah, Penyusun Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Huraiqi, Pustaka Ibnu Katsir
Pertanyaan: Telah tersebar di kalangan wanita muslimah satu fenomena yang berbahaya berupa kebiasaan memakai aba’ah, yaitu busana yang menutupi tubuh hingga ke bahu dan menutupi kepala dengan maksud agar terlihat anggun dipandang. Aba’ah ini terlihat ketat, transparan sehingga terlihat bentuk dada dan tulang, dan mereka memakai busana ini karena ingin mengikuti mode atau karena ingin ketenaran. Bagaimana hukum memakainya? Apakah ini termasuk hijab yang disyariatkan? Dan apakah ini termasuk dari ancaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang membawa pecut kemudian dengan pecut itu mereka memukul manusia dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, jika berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan punuk unta yang meliuk-liuk, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak pula mendapat harumnya. sedangkan wangi Surga sudah dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.”
Atas fatwanya, saya ucapkan Jazakumullah khairal jazza’.
Jawaban: Allah Ta’ala telah memerintahkan wanita muslimah untuk menutupi tubuh secara sempurna dengan hijab sebagaimana firman-Nya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dan jilbab adalah kain panjang yang digunakan wanita untuk menutupi kepala dan seluruh anggota badannya seperti halnya misylah (pakaian kebesaran bangsa Arab bagi kaum prianya). Sedangkan aba’ah pada awalnya dipakai untuk kepala dan seluruh badan. Maka aba’ah termasuk penutup dan penghalang dari pandangan mata orang lain.
Firman Allah Ta’ala:
“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dan tidak diragukan lagi bahwa menampakkan bentuk kepala dan kedua bahu wanita merupakan daya tarik yang akan memancing pandangan orang lain, jika wanita muslimah memakai aba’ah yang hanya sampai bahu, maka sama seperti laki-laki karena menampakkan bentuk kepala, leher, dan bentuk bahu serta menjelaskan secara detail sebagian anggota tubuhnya seperti dada, punggung, dan lainnya. Ini semua merupakan sebab terjadinya fitnah, memancing pandangan orang lain, serta mendekatkan diri pada orang jahil walaupun ia termasuk wanita yang menjaga kehormatan diri. Atas dasar inilah, maka tidak boleh bagi seorang muslimah memakai aba’ah yang hanya menutup hingga bahu karena adanya larangan, dan dikhawatirkan masuk kepada ancaman Nabi shalallahu a’alaihi wasallam dalam hadist di atas.
Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin
pada 27/8/1413 H.
Rabu, 25 April 2007
Muslimah Indonesia : Hati-hati godaan konsumerisme
Kategori: Nasehat
Sumber: Majalah Alia
Sumber: Majalah Alia
Sebuah nasehat dari Ingrid Mattson
Saya sebenarnya ingin menasehati Muslim di Indonesia untuk berhati-hati menghadapi sejumlah permasalahan serius akibat modernisasi dan industrialisasi. Saya sedih melihat begitu banyak sungai dan seluran air di Jawa yang terpolusi, melihat sampah dan kotoran di jalan dan melihat pabrik-pabrik menyemburkan asap beracun ke udara.
Allah memberi manusia tanggung jawab untuk melindungi bumi ini dan agaknya kita tidak melaksanakan tugas ini dengan baik. Malahan, kita saat ini sedang menghancurkan bumi. Akibatnya, semua orang akan menderita secara fisik, mental, dan spiritual. Islam adalah agama yang suci dan mencintai kesucian (thaharah dan tazkiyyah) dan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassallam sendiri pernah berkata, "Allah itu indah dan cinta keindahan." Jadi, saya ingin mengajak para brothers dan sisters di Indonesia untuk memegang tanggung jawab ini dengan sungguh-sungguh dan untuk bekerja menciptakan lingkungan yang bersih dan indah.
Saya ingin menasehati my sisters untuk berhati-hati menghadapi godaan-godaan konsumerisme. Kita semua suka baju, perhiasan, dan perabot yang bagus. Kita semua ingin membahagiakan anak-anak dengan memberi mereka pakaian dan mainan yang bagus. Tapi kita juga harus hati-hati jangan sampai tertipu sehingga mengira bahwa banyak berbelanja membawa kebahagiaan. Padahal kebahagiaan hanya bisa kita dapatkan bila memiliki hati yang baik dan penuh kasih sayang, dan selalu tunduk kapada Allah. Kita justru akan lebih bahagia kalau berbagi denga kaum dhuafa, daripada kalau kita hambur-hamburkan uang untuk barang-barnang yang tidak akan kita pakai lagi dalam waktu dekat. Sewaktu di Jakarta saya sedih sekali melihat kondisi kaum miskin di sana. Padahal, adalah kewajiban agama kita sebagai Muslim untuk menolong tetangga kita.
Langganan:
Komentar (Atom)
