Selasa, 20 Desember 2005

Ta`adud

Jauh sebelum datangnya Islam, laki-laki pada masa lampau terutama pada masa jahiliyyah, memperlakukan wanita dengan perlakuan keji serta kasar, membencinya, merendahkannya, dan melarangnya dari hidup bebas yang mulia. Hal ini terutama pada masalah poligami, mereka menikah dengan wanita dengan jumlah yang tidak terbatas, hingga mencapai jumlah 80 istri untuk satu suami. Hal ini tidak hanya terjadi di bangsa Arab saja, bahkan juga terjadi di masyarakat barat dengan segala macam bentuk dan ragamnya dengan batas yang tak terhingga, yang semuanya kembali menurut adat yang berlaku dan hasrat laki-laki.
Maka tidak ada pilihan lain bagi wanita dalam pernikahaannya, kecuali tidak berdaya dan terpaksa Inilah gambaran poligami pada masyarakat terdahulu dan masa lampau, yang mungkin ada kesamaan dengan masyarakat sekarang Maka Islam bukanlah pendahulu sama sekali dalam asal penikahan dan poligami secara mutlak. Justru Islam mengatur masalah pernikahan dan memberi batasan dalam poligami.
Seperti merebaknya poligami di negara perancis yang kemudian dilarang karena suatu alasan. Sehingga tersebarlah perzinahan dan lahirnya anak-anak di luar pernikahan dalam jumlah yang besar.
Dan setelah mereka melampaui batas dalam “menghormati” wanita serta tuduhan terhadap Islam yang telah melegalkan poligami, dan menganggapnya sebagai tindakan keji dan mambatasi kebebasan berdirilah para pemikir dari mereka, menuntut diberlakukannya poligami untuk mengecilkan angka pelacuran mencegah tersebarnya perzinahan, serta mencegah penyakit, kerusakan dan penyimpangan akhlak, mencegah hilangnya masyarakat dan kehancuran keluarga Ta’adud diberlakukan di dalam masyarakat Islam pada saat timbulnya problematika sosial, ekonomi dan politik misalnya :
terdapat janda2 yg ditinggal suami dengan banyak anak dalam asuhannya - populasi akhwat lebih banyak dari pada ikhwan - mencegah timbulnya jinnah Sehingga tujuan utama Ta’adud adalah : Menyelamatkan aqidah ummat dalam rangka menegakkan Islam
Dengan adanya ta’adud maka :
1. Mencegah janda2 miskin dg banyak anak dari rasa prustasi karena kurangnya kasih sayang, perlindungan dan harta sehingga jangan sampai terjadinya penurunan iman dan rusaknya aqidah.
2. Akan terjaga keberlangsungan generasi penerus yang lebih baik aqidah dan akhlaqnya. Oleh karena itu Islam tidak membiarkan anak-anak yatim hidup dengan kekurangan kasih sayang, ilmu, dan harta.
3. Terciptanya ruhamahu bainahu, terciptanya kasih sayang diantara ummat, untuk berbagi kasih , berbagi beban dan derita dalam rangka menegakkan dienul Islam. Sehingga Islam sebagai suatu tubuh, yang jika anggota tubuhnya sakit maka bagian lain pun akan merasakan sakit yg sama
4. Terciptanya ruhamahu bainahu, terciptanya kasih sayang diantara ummat, untuk berbagi kasih , berbagi beban dan derita dalam rangka menegakkan dienul Islam. Sehingga Islam sebagai suatu tubuh, yang jika anggota tubuhnya sakit maka bagian lain pun akan merasakan sakit yg sama.
5. Mencegah timbulnya perbuatan2 keji seperti berjinnah, berbohong, merampok, mencuri, membunuh dsb yang semuanya timbul akibat kurangnya pendidikan, kasih sayang dan bimbingan
Ta’adud atau Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir.
Ta’adud adalah bentuk pengabdian suami dan isteri kehadapan Allah (ibadah)
Ta’adud merupakan ibadah yang terstruktur, artinya ibadah ini merupakan tugas yang diberikan oleh seorang rasul kepada ummatnya.
Dulu ketika jaman Rasulullah orang yang akan melakukan ta’adud berdasarkan perintah/ tugas dari rasulullah untuk menikahi si Fulanah walaupun ada inisiatif pribadi, tapi inisiatif tsb dikonsultasikan dulu dg Rasulullah dg pertimbangan penyelamatan aqidah ummat bukan atas dasar keinginan pribadi yg didasari hawa nafsu, apalagi untuk menyakiti isteri.
Dalam pelaksanaannya banyak hal yang harus diperhatikan yaitu :
1. Suami isteri harus memiliki tujuan yg sama yakni ta’adud dalam rangka izzul islam
2. Suami dan isteri harus memiliki pengetahuan dan kesiapan secara mental dan fisik
3. Suami harus sanggup berbuat adil terhadap isteri-isterinya, (Q.S.4/Al-Nisa ayat 3)
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Berlaku adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan kepada masing-masing istri hak-haknya.
4. Adanya komunikasi yang terbuka diantara isteri-isterinya
5. Suami memiliki kemampuan memanaj keluarga dengan baik
Dalam melakukan ta’adud tidaklah mudah, kemampuan untuk mengelola emosi, meredam rasa benci dan marah menjadi sebuah masalah yang sangat menantang, disitulah bentuk jihad yang sulit baik bagi suami maupun bagi isteri
Apalagi tantangan dari keluarga dan lingkungan yang tidak menerima ta’adud sebagai sebuah ibadah yang suci dan luhur.
Walaupun masyarakat kita sebagaian besar adalah muslim tapi budaya kita sangat terpengaruh oleh budaya di luar Islam Gaya hidup, cara pandang, dan keseharian kita bukan budaya seorang mukmin

Kamis, 15 Desember 2005

Ghibah

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Alhamdulillahirobbil alamin. Allohumma sholli ala Muhammad, wa’alaa alihi washhbihi ajma’iin. Amiin.


Marilah kita sama-sama luruskan niat kita terlebih dahulu, bahwa kita berkumpul di majelis ini semata-mata dalam rangka mengharapkan ridho-Nya.

Baiklah, disini saya ingin berbagi pengalaman seputar masalah Ghibah (mengumpat/ngrasani/backbiting).

Terkadang kita berpikira bahwa kita sudah berusaha membebaskan diri dari makanan haram, seperti daging babi, alcohol dll.

Tapi sungguh kadang dengan “ringan”nya kita seolah sedang memakan daging bangkai saudara kita sendiri!!!!

berapa daging bangkai?, 2 atau 1kah 3 dalam sehari????? Astaghfirullohaladziem.

Kenapa?

Marilah kita simak firman Alloh dalam QS Al Hujurot ayat 12, yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian

dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan

janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka

memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik

kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat

lagi Maha Penyayang . (QS Al-Hujurat:12)


Demikianlah …….Alloh mengumpamakan antara menggunjing (ghibah) dengan orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri.


Lalu Apakah ghibah itu ?


Sesuai apa yang diterangkan Nabi SAW: pada Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud : Nabi SAW bersabda : "Tahukah kamu apa ghibah itu ? Jawab sahabat : Allahu warasuluhu a'lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu).


Kemudian Nabi SAW bersabda: Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ?


Jawab Nabi SAW : "Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu, fitnah) dan itu lebih besar dosanya".

Dalam kitab al adzkar , Imam AnNawawy memberikan definisi : 'Ghibah, adalah menyebutkan hal-hal yang

tidak disukai orang lain, baik berkaitan kondisi badan, agama, dunia,

jiwa, perawakan, akhlak, harta, istri, pembantu, gaya ekspresi rasa

senang, rasa duka dan sebainya, baik dengan kata-kata yang gamblang,

isyarat maupun kode.

Di era sekarang ini, meng-ghibah (bukan hibah loh…) dapat dilakukan dengan tulisan, sms, email, bahkan lewat bahasa tubuh-pun bisa.

Adapun kalau sekedar membathin, belum bisa disebut ghibah, meskipun hal ini juga termasuk prasangka. Dalam QS Al Hujurat ayat 12 tadi disebutkan bahwa ber-prasangka pun kita sebaiknya berhati-hati, karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Dalam hal ini adalah prasangka yang buruk (su’u dzon). Sebaliknya kita dianjurkan untuk selalu berkhusnudzon atau prasangka yang baik.

Ghibah dikatakan mempunyai dosa ganda. Karena selain kita harus memohon ampun kepada Alloh, dan alloh maha pengampun atas dosa-dosa kita.

Namun, kita juga harus meminta maaf kepada orang kita gunjing tersebut, ini yang terkadang menjadi sulit bagi diri kita. Apalagi jika yang kita gunjing jumlahnya banyak sekali, naudzubillahi min dzaalik.

Dalam Sebuah hadit dari abu hurairoh, nabi Muhammad SAW bersabda :

Whoever has wronged his brother with regard to wealth or honor, should ask for his pardon (before his death), before he pays for it (in the Hereafter) when he will have neither a Dinar nor a Dirham. (He should secure pardon in this life) before some of his good deeds are taken and paid to this (his brother), or (if he has no good deeds) some of the bad deeds of this (his brother) are taken to be loaded on him.” (Reported by Al-Bukhari and Muslim)
Maaf ya textnya masih asli dalam bahasa inggris…tapi kurang lebihnya maksudnya begini: barangsiapa bersalah kepada saudaranya maka kita harus minta maaf kepada dia sebelum meninggal, karena jika tidak, maka amal kita akan dilimpahkan kepadanya, atau jika kita tak memiliki amal, maka amal buruk dia akan dilimpahkan kepada kita, Na’udzubillahimindzaalik.


Lalu, Apakah ghibah haram 100 persen?

Untuk beberapa kondisi, kita diperbolehkan untuk ber-ghibah, yaitu:

1. Orang yang mazhlum (teraniaya) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut haknya.


2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Pembolehan ini dalam rangka isti'anah (minta tolong) untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang hak. Selain itu ini juga merupakan kewajiban manusia untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Setiap muslim harus saling bantu membantu menegakkan kebenaran dan meluruskan jalan orang-orang yang menyimpang dari hukum-hukum Allah, hingga nyata garis perbedaan antara yang haq dan yang bathil.


3. Istifta' (meminta fatwa) akan sesuatu hal. Walaupun kita diperbolehkan menceritakan keburukan seseorang untuk meminta fatwa, untuk lebih berhati-hati, ada baiknya kita hanya menyebutkan keburukan orang lain sesuai yang ingin kita adukan, tidak lebih.

4. Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan contohnya: Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli bid'ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan untuk kebaikan semata.

5. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bid'ah seperti, minum-minuman keras, menyita harta orang secara paksa, memungut pajak liar atau perkara-perkara bathil lainnya. Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan sepanjang niat kita dalam melakukan hal itu hanya untuk kebaikan


6. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Tetapi jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain tersebut.

Mungkin itu aja dulu ya. Marilah kita berdo’a dan berusaha agar lebih dapat menjaga lidah dan hati kita, amiiin.

Minggu, 04 Desember 2005

Halal Bi Hilal Kajian Muslimah Offline

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kami mengundang akhwat fillah sekalian untuk hadir pada acara "HALAL BI HALAL KAJIAN MUSLIMAH" yang insya Allah akan diselenggarakan pada :

Hari/Tgl : Ahad, 11 Desember 2005
Jam : 09.30 - 11.30 WIB
Tempat : Masjid Al Ihsan, kompleks gedung BKPM, Jl. Gatot Subroto Jakarta
Acara : Halal Bi Halal & Taujih

Detail Acara :
09.30 - 09.45 : Pembukaan & Pembacaan Ayat Suci Al Qur'an
09.45 - 10.30 : Taujih dengan tema "Dilema Muslimah : Antara Karir & Keluarga"
Pemateri : Ustdz. Miriani Kamaliah
10.30 - 11.00 : Tanya Jawab
11.00 - 11.25 : Taaruf peserta & penyampaian kritikan, saran, dan masukan untuk KaMus
11.25 - 11.30 : Penutup & Do'a

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Info lebih lanjut hubungi :
Hanum (YM id : izzatul_islam16/HP : 021-70044928)
Rina (YM id : seu_chi/HP : 0815-931-6832)

Rabu, 23 November 2005

Permasalahan Pra Nikah & Sesudahnya

Bismilaah ar-Rahmaan ar-Rahiim
Assalaamu'alaykum waRahmatulaah waBarakaatuh

Permasalahan Pra Nikah dan sesudahnya.

Dari sekian banyak permasalahan seputar pra-nikah, hal yang cukup mendasar dan menempati urutan terbanyak menurut saya adalah dalam proses ta'aruf dan sesudahnya.
Karena ini forum akhwat, maka yang kita bahas lebih ke "bagaimana proses ta'aruf untuk muslimah".

Pertama yang saya ketahui adalah : bersihkan niat, ikhlaskan menikah adalah untuk ibadah. semata untuk mencari ridloNYA.
tidak mudah memang menerima "calon suami" kita apa adanya, apalgi apabila yang datang tidak sesuai dengan "kriteria" yang kita harapkan. disinilah sandungan/ujian pertama keikhlasan kita.

kedua : jaga nilai2 yang ada pada saat proses taaruf, usahakan semuanya sesuai dengan landasan syar'i yang ada. sangat disayangkan apabila niat yang sudah diusahakan untuk bersih, terkotori oleh hal2 yang berbau maksiat.
(misalnya janjian bertemu berdua, sering surat2an, dan lain2).

Ketiga : terus berdoa, memohon petunjuk dan bimbinganNYA. Mohon dilapangkan hati, dimudahkan jalannya, dan diberi kemantapan tekad untuk melakukan yang terbaik sesuai kehendakNYA.
(karena kita mahluk yang lemah dan sangat lemah. adakalanya kita tidak kuat menjalani hal yang terjadi, mohonlah kekuatan dariNYA).

keempat : terakhir adalah tawakkal

Setelah niat yang kita usahakan, proses yang kita jaga, terakhir yang terbaik kita lakukan adalah tawakkal. Menyerahkan semua yang terjadi padaNYA. karena hanya dialah yang Maha Tahu apa yang akan terjadi nanti, dan hanya ALLAH yang tahu yang terbaik untuk kita dunia akhirat.
Tidak ada yang lebih indah dari tawakkal ini.
Dua hal yang mengagumkan untuk seorang muslim, adalah pada saat dia diberi musibah dia bersabar, dan pada saat dia diberi kenikmatan dia bersyukur. Dan kedua2nya adalah baik.

Begitu juga dengan proses taaruf yang terjadi. Apabila pada saat berjalannya proses, semuanya sesuai dengan harapan kita, maka kita bersyukur. Dan bila yang terjadi adalah sebaliknya, ternyata tidak sesuai, maka kita bersabar.

Hal2 yang mungkin terjadi pada saat proses ta'aruf yang tidak sesuai dengan harapan kita.
(Klo yang sesuai mah ga usah dibahas yaa....paling berkahirnya happy ending, hehe....alhamdulillaah).
InsAllah kita bahas yang jadi permasalahannya dan bagaimana kita menyikapinya.

(Ini bahasa bebas aja yaa...)
Yang pertama : si ikhwan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, istilahnya tidak sesuai kriteria (tidak ganteng, tidak putih, tidak cerdas atau tidak kaya.....hehe). bersabarlah....ingatlah kembali hal2 yang bernilai kekal (yang bisa membuat kita bahagia sampai akhir nanti), dan bernilai dihadapanNYA. jangan tergiur oleh hal2 yang bersifat sementara, yang bernilai remeh. Saatnya untuk bersikap dewasa, dengan bisa menentukan mana hal2 yang termasuk "intan permata" dan mana yang terkatagori "batu biasa", yang kurang atau tidak bernilai.
Saya kira akhwat sudah sering membaca buku2 tentang pernikahan yaa...termasuk bagaimana menentukan kriteria untuk calon suami atau istri.
yang pertama diin atau akhlaqnya
yang kedua keturunannya
yang ketiga kekayaannya, dan
yang keempat kecantikannya (dibalik klo untuk ikhwan, ketampanannya)

Yang kedua : si ikhwan memutuskan begitu saja proses taaruf yang sedang kita jalani, tanpa ada kabar apapun atau memutuskan secara satu pihak tanpa ada alasan yang jelas. Juga, bersabarlah..mungkin memang bukan dia jodoh yang Allah tetapkan untuk kita. walau perih tapi yakinlah "ada yang lebih baik dan lebih tepat untuk kita". Sedih dan kecewa, itu wajar...apalagi klo si ikhwan ternyata sudah sesuai (ideal menurut kita) dengah harapan kita. Tapi taqidr Allah tidak ada apapun yang bisa menghalanginya.
Jangan lalu mengumpat2 tentang ikhwan tersebut, sebisa mungkin jaga hanya kita dan mungkin wasilah saja yang tahu. tidak ada gunanya untuk kita kecewa yang berlarut dan bahkan sampai menjelek2an ikhwan tersebut. Jangan sampai pahala kesabaran dan kesedihan kita hilang dengan tingkah laku kita.
"Apabila kita ikhlas dengan sesuatu yang Allah takdirkan terjadi, maka yakinlah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik"

Yang ketiga : Ada masalah dengan orang tua
Lakukan terus menerus pendekatan dengan mereka. Jangan sekali2 menghadapinya dengan kata2 atau sikap yang kasar. Yakinlah akhlaq/perilaku kita yang santun dan do'a yang tiada henti, akan meluluhkan hati mereka.

Saya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian, kepada Allah saya mohon ampun.
Hanya darinya kenikmatan kita bisa bersilaturahim, dan kesalahan yang ada bersumber dari saya pribadi.
Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.
wassalaamu'alaykum wrwb

senin, 21 november 2005
bunda alifa dan aisyah

Kamis, 20 Oktober 2005

Hidup Bersama Al Qur’an

Hidup Bersama Al Qur’an

Sayyid Qutb berkata, "Hidup bersama AlQur-an adalah nikmat, nikmat yang tidak akan dirasakan kecuali oleh orang2 yang pernah merasakannya". Ketika sekelompok hamba Allah mempelajari dan mengkaji isi Qur-an, maka malaikatpun datang membawa keberkahannya. Rasulullah bersabda, " Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di satu rumah di antara rumah2 Allah melainkan menyebarlah di antara mereka rahmat, dan Malaikat turun menaungi mereka dan Allah mengingat mereka di sisi-Nya ".

Di dalam al Qur’an surat Ali Imran: 45-47 Allah SWT berfirman:

45. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
46. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya[419]. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik[420].

[419] Pengikut pengikut Injil itu diharuskan memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalam Injil itu, sampai pada masa diturunkan Al Quran.
[420] Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam: a. karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini kafir (surat Al Maa-idah ayat 44). b. karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zalim (surat Al Maa-idah ayat 45). c. karena Fasik sebagaimana ditunjuk oleh ayat 47 surat ini.

Al Qur’an Surat Al Maidah: 50

50. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?


Kemudian dalam surat al Anbiyaa: 10

10. Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?

Al Qur’an surat Al Kahfi:1-3

1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan[871] di dalamnya;
2. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,
3. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
[871] Tidak ada dalam Al-Quran itu makna-makna yang berlawananan dan tak ada penyimpangan dari kebenaran.
Salawat serta salam bagi Nabi yang mu'jizatnya Al Qur'an, imamnya Al Qur'an, akhlaqnya Al Qur'an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghilang kesedihannya adalah Al Qur'an: Nabi Muhammad bin Abdullah, dan keluarganya serta para sahabatnya, yang beriman dengannya, mendukung dan membantunya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya, mereka adalah orang-orang yang beruntung, dan seluruh orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Amma ba'du:
Tidak ada di dunia ini, suatu kitab, baik itu kitab agama atau kitab biasa, yang terjaga dari perubahan dan pemalsuan, kecuali Al Qur'an. Tidak ada seorangpun yang dapat menambah atau mengurangi satu hurup-pun darinya.Ayat-ayatnya dibaca, didengarkan, dihapal dan dijelaskan, sebagaimana bentuknya saat diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad Saw, dengan perantaraan ruh yang terpercaya (Jibril).Al Quran berisikan seratus empat belas surah. Seluruhnya dimulai dengan basmalah (bismillahirrahmanirrahim). Kecuali satu surah saja, yaitu surah at Taubah. Ia tidak dimulai dengan basmalah. Dan tidak ada seorang pun yang berani untuk menambahkan basmalah ini pada surah at Taubah, baik dengan tulisan atau bacaan. Karena, dalam masalah Al Qur'an ini, tidak ada tempat bagi akal untuk campur tangan.
Tidak ada di dunia ini suatu kitab yang dihapal oleh ribuan dan puluhan ribu orang, di dalam hati mereka, kecuali Al Qur'an ini, yang telah dimudahkan oleh Allah SWT untuk diingat dan dihapal. Maka tidak aneh jika kita menemukan banyak orang, baik itu lelaki maupun perempuan, yang menghapal Al Qur'an dalam mereka. Ia juga dihapal oleh anak-anak kecil kaum Muslimin, dan mereka tidak melewati satu hurup-pun dari Al Qur'an itu.
Al Qur'an tidak semata dijaga makna-makna, kalimat-kalimat serta lafazh-lafazhnya saja, namun juga cara membaca dan makhraj hurup-hurupnya. Seperti kata mana yang harus madd (panjang), mana yang harus ghunnah (dengung), izhhar (jelas), idgham (digabungkan), ikhfa (disamarkan) dan iqlab (dibalik). Atau seperti yang digarap oleh suatu ilmu khusus yang dikenal dengan 'ilmu tajwid Al Qur'an'.
Al Qur’an Surat Al Israa:9
9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

Al Qur’an Surat Al Maidah: 15-16Ÿ
15. Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan[408].
16. Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

[408] Cahaya Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dan kitab Maksudnya: Al Quran.

AlQur’an surat An-Nisaa: 174

174. Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).

AlQur’an Surat At Taghaabun: 8

8. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Di antara karakteristik cahaya adalah: Dirinya sendiri telah jelas, kemudian ia memperjelas yang lain. Ia membuka hal-hal yang samar, menjelaskan hakikat-hakikat, membongkar kebatilan-kebatilan, menolak syubhat (kesamaran), menunjukkan jalan bagi orang-orang yang sedang kebingungan saat mereka gamang dalam menapaki jalan atau tidak memiliki petunjuk jalan, serta menambah jelas dan menambah petunjuk bagi orang yang telah mendapatkan petunjuk.
Pentingnya Al Qur’an
Tujuan utama turunnya al Qur’an adalah menjadi aturan hidup agar tidak terjadi kerusakan dimuka bumi akibat tidak sesuai dengan sunatullah. Disamping itu, turunnya al-Qur’an adalah untuk menghubungkan manusia dengan Rabbnya, agar manusia mengetahui bahwa Allah semata yang patut disembah dan diibadahi. Di dalam Al qur’an terkandung konsep membentuk pribadi yang saleh, yang akan dianugerahkan amanah untuk menjadi saksi bagi manusia. Yang diciptakan untuk memberikan manfaat bagi manusia dan memberikan petunjuk bagi mereka.
Al-Qur’an juga menyerukan untuk membentuk keluarga yang akan menjadi menjadi cikal bakal terbentuknya suatu masyarakat. Juga mengajarkan sikap adil terhadap kalangan perempuan, yang merupakan pokok utama dalam bangunan keluarga.
Al-Qur’anpun mengajarkan manusia untuk saling mengenal dan tidak saling mengisolasi diri, saling mencintai dan membenci karena Allah. Al qur’an juga menyerukan agar bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan dan lain sebagainya.
Al-Qu’ran dalam Surat Al-Isra' ayat 82 dinyatakan sebagai Obat: "Dan Kami turunkan dari Al-Qu’ran suatu yang menjadi penawar dan rahmat...". Kemudian seorang ulama Al-Azhar, Khairi Makawy mengatakan bahwa Allah swt. menyifati Al-Qur’an dengan al-syifa', yang ditafsirkan oleh para ulama dengan 'hilangnya rasa sakit' (zawal al-maradh) dan terhindar dari berbagai macam penyakit.
Disamping itu semua, bahwa membaca ayat-ayat Al-Qur’an dapat mendatangkan ketentraman hati bagi pembacanya sehingga akan menjadi sumber kebahagian, kekuatan dan kemampuan untuk memberi respon positif terhadap ujian dan tantangan yang Allah berikan..

Al Qur’an surat Ar Ra’du: 28
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Hati yang selalu gelisah, tidak tenang dan selalu menyimpan rasa benci dan dendam kepada orang lain, adalah hati yang belum menemukan 'penawar'nya. Al-Qur’an adalah 'mutiara' dalam hidup. Ia adalah pedoman bahtera dan haluan hidup. Dia adalah 'cahaya' dalam kegelapan. Sayang sekali bila berlalunya hari semakin menjauhkan seseorang dari cahaya Al-Qur’an.
Demikian pentingnya keberadaan Al-Qur’an dalam kehidupan manusia, sehingga mengimani dan mengamalkan kandungannya menjadi satu kewajiban tersendiri bagi seorang muslim.
Hidup dan berinteraksi dengan al-Quran tercakup dalam beberapa bentuk aktifitas :

1. Tilawah (membaca)
Yaitu dengan senantiasa membaca Al Qur’an pada hari-hari kehidupannya dengan cara mengutamakan membaca Al-Qur-an daripada bacaan atau aktifitas lain, misalnya diawal hari seperti setelah sholat malam sebelum adzan subuh. Dan atau waktu lain yang telah ditentukan sebagai waktu wajib membaca Qur’an pada setiap harinya

2. Hifdz (menghafal)
Melalui perencanaan/dibuat program dan jadwal rutin kapan saatnya dimana Qur’an hanya diperlalukan untuk dihafalkan. Karena bila tidak direncanakan, diprogramkan atau dijadwalkan secara khusus seringkali aktifitas menghafal qur’an terabaikan. Demikian terus dari waktu ke waktu hingga ketika menyadari ternyata sudah lama tidak mengulang hafalan atau bahkan tidak pula menghafal Qur’an.
Untuk keberhasilan progam ini, lebih baik jika dilakukan bersama-sama atau paling tidak adalah bersama teman atau pasangan.

3. Tadabbur (mengkaji)
Mentadaburi Al Qur’an dapat dilakukan sendiri-sendiri dengan cara membaca terjemahannya ke dalam bahasa yang dapat dimengerti atau dengan bersama-sama pada suatu forum kajian Tafsir al Qur’an. Bila dilakukan sendiri-sendiri , dapat dilaksanakan bersamaan ketika kita mengulang hafalan atau sambil menghafal Al Qur’an, pada sebagian orang hal itu dapat mendukung proses pengingatan apa yang coba dihafalkannya.
Selain itu dapat pula dengan cara membaca terjemahannya pada waktu setelah tilawah Qur’an.

4. Amal (Mengamalkan)
Yang dimaksud adalah mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur’an.Al-Qur’an berisikan hal-hal yang mengatur peri kehidupan manusia dari urusan sehari-hari hingga urusan mengatur sebuah negeri. Karenanya bagi seorang muslim tiadalah panduan hidup itu terkecuali bersumber dari Al-Qur’an. Tiap ayat-ayatnya mengandung sesuatu agar difahami dan kemudian diamalkan.

Keempat bentuk aktifitas ini satu dengan yang lainnya saling mendukung, oleh sebab itu keempat bentuk ini menjadi syarat utama atau menjadi hal yang esensial untuk dapat dikatakan hidup bersama al-Qur’an.

Umat yang berada di abad-abad pertama --yang merupakan abad-abad yang paling utama-- telah berinteraksi dengan baik dengan Al Qur'an. Mereka berlaku baik dalam memahaminya, mengetahui tujuan-tujuannya, berlaku baik dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan mereka, dalam bidang-bidang kehidupan yang beragam, serta berlaku baik pula dalam mendakwahkannya. Contoh terbaik hal itu adalah para sahabat. Kehidupan mereka telah diubah oleh Al Quran dengan amat drastis dan revolusioner. Al Qur'an telah merubah mereka dari perilaku-perilaku jahiliyah menuju kesucian Islam, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke dalam cahaya. Kemudian mereka diikuti oleh murid-murid mereka dengan baik, untuk selanjutnya murid-murid generasi berikutnya mengikuti murid-murid para sahabat itu dengan baik pula. Melalui mereka itulah Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia, membebaskan negeri-negeri, memberikan kedudukan bagi mereka di atas bumi, sehingga mereka kemudian mendirikan negara yang adil dan baik, serta peradaban ilmu dan iman.Kemudian datang generasi-generasi berikutnya, yang menjadikan Al Qur'an terlupakan, mereka menghapal hurup-hurupnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al Qur'an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur'an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al Qur'an. Di antara merek ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al Qur'an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al Qur'an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikuti dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al An'aam: 155

155. Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.

Allahummarhamna bil Quran, waj`alhu lana imaman wa nuran wa hudanwa rahmah.Amin
Waallohua’lam bishawab

Sumber :
Al Qur’an& Terjemahan
‘Berinteraksi dg alQur’an’, Qaradawi.net
‘Taman Qur’an’, Eramuslim.com
‘Al-Qur’an:Penawar’, Qosim Nursheha Dzulhadi

Senin, 17 Oktober 2005

Dengki

Hati-hati dengan Dengki

Kenapa iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as? Sebab, iblis sangat dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis. Rasulullah SAW bersabda, "Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang muslim yang rakus terhadap harta dan dengki terhadap agama. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu". (HR. At-Tirmidzi)

Seorang pendengki hidupnya tidak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan muak kepadanya. Jika kelak mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat hina di hadapan Allah. Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan terbalik, sehingga neraka Jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang akan Allah timpakan kepada seorang pendengki.

Apakah dengki itu? Secara garis besar sifat ini terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, dengki yang diharamkan. Seseorang merasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain dan merasa bahagia kalau orang lain mendapat musibah. Atau setidaknya, ia menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ini dengki yang diharamkan, karena sifat seperti ini termasuk ke dalam tingkatan ketiga dari penyakit hati.

Kedua, dengki yang diperbolehkan berupa rasa iri kepada kenikmatan orang lain, tapi tidak ingin menghilangkan kenikmatan tersebut darinya. Melihat orang lain memiliki rumah bagus, kita merasa iri ingin pula memiliki hal yang sama dan tidak dengan cara menjadikan orang tersebut jatuh miskin. Keinginan seperti ini wajar-wajar saja selama tidak bergeser menjadi perasaan tidak enak, yang berlanjut pada hasrat ingin melenyapkan kenikmatan orang tersebut.

Bahkan, "kebolehan" merasa dengki seperti ini insya Allah akan berpahala bila kita berbuat. Pertama, ketika melihat orang berilmu dan gemar mengamalkan ilmunya, giat berdakwah dengan penuh keikhlasan, dan kita pun menginginkan untuk berbuat seperti itu. Kedua, ketika melihat orang kaya yang gemar membelanjakan hartanya di jalan Allah, lantas kita menginginkan berbuat hal serupa.

Dengki biasanya akan berpasangan dengan keadaan yang dihadapi pemiliknya. Mahasiswa akan dengki kepada sesama mahasiswa. Orang pintar akan dengki kepada orang yang pintar lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, akan sulit terjadi seseorang merasa dengki terhadap orang lain yang memiliki kapasitas berbeda.

Secara umum ada empat hal yang bisa menyebabkan munculnya sifat dengki, yaitu: pertama, kebencian dan permusuhan. Sifat ini bisa muncul karena pernah disakiti, difitnah, salah satu haknya dilanggar, atau sebab-sebab lain yang merugikan diri sendiri. Kedua, hadirnya naluri untuk selalu lebih dari orang lain. Naluri ini merupakan jalan tol menuju penyakit dengki. Seseorang yang merasa pakaiannya paling bagus misalnya, akan mudah dihinggapi rasa dengki ketika melihat ada orang yang pakaiannya lebih bagus dan lebih mahal daripada yang dipakai dirinya.

Kita hidup seharusnya seperti orang memandikan mayat. Ia akan senang bila ada yang membantu. Ketika berkiprah dalam dakwah, hendaknya kita bersyukur tatkala ada saudara seiman yang memiliki misi yang sama, dan ditakdirkan ilmu dan jamaahnya lebih banyak dari kita. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisaa: 32, ''Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.''

Penyebab dengki yang ketiga adalah ambisi kepemimpinan. Obsesi ingin selalu memimpin yang disertai ambisi untuk merebut pucuk pimpinan adalah sarana yang paling rawan munculnya kedengkian. Bahkan bisa menjadi awal hancurnya sebuah negara dan umat. Karena itu, dalam konteks kepemimpinan umat, orang yang pertama kali terbenam ke dalam neraka adalah ulama-ulama pendengki yang selalu berambisi menjadi pemimpin dan mengejar popularitas. Munculnya kedengkian dalam hati para ulama dan pemimpin umat sedikit demi sedikit akan menghapuskan cita-cita luhur untuk mewujudkan ittihadul ummah; persatuan umat dalam cahaya Islam.

Dalam QS Al-Hujurat ayat 12 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah pula sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Penyebab keempat adalah akhlak yang buruk. Orang yang buruk akhlaknya akan kikir berbuat kebaikan dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Jika melihat sesuatu yang tidak disukainya, ia pasti akan menggerutu dan sibuk menyalahkan. Orang seperti ini hidupnya akan selalu sengsara, dan di akhirat nanti akan mendapatkan transfer pahala yang ia miliki kepada orang yang didengkinya. Rasulullah menyebutnya sebagai orang bangkrut, mufhlis. Ia membawa pahala kebaikan, tapi pahala itu habis untuk menggantikan dosa yang diperbuatnya pada orang lain.

Oleh karena itu, Ibnu Sirrin pernah berucap, "Saya tidak sempat dengki di dunia ini. Kengapa saya harus dengki, apalagi perkara di dunia dan terlebih lagi dengki kepada orang saleh? Bukankah dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat nanti. Apa perlu kita dengki? Wallahu a'lam bish-shawab.

( KH Abdullah Gymnastiar )

Kajian muslimah dibawakan oleh ummu_fatih

Kamis, 13 Oktober 2005

Al-Ukhuwah Al-Islamiyah (Persaudaraan Islam)

Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah.
Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.
Poerpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1
Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain :

1. Melaksanakan proses ta’aruf (saling mengenal). Literaturnya : 49:13

Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran(Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan thd suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.

2. Melaksanakan proses tafahum (saling memahami) Al-Hadits

Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses ta’aruf/pengenalan dapat deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah ta’awun (saling tolong menolong) dalam persaudaraan.
Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati, pikiran dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.
3. Melakukan At-Ta’aawun (saling tolong menolong). Q.S. 5::2

Bila saling memahami sudah lahir maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan ama( saling Bantu membantu).
Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk social yang butuh berinteraksi dan butuhbantuan org lain. Kebersamaan akan bernila bila kita mengadakan saling Bantu membantu
.
4. Melaksanakan proses takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan)

yang muncul setelah proses ta’awun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi ek sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah.
Hadits : Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri (HR. Bukhari-Muslim).

Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah SWT. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Kesatuan barisan dan umat berarti bersatu fikrah/pemikiran dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter (kejiwaan). Inilah kekuatan Islam. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini.

Kajian Dibawakan oleh: ummu_fatih

Minggu, 09 Oktober 2005

Bagaimana Dosa Kecil Menjadi Besar

AlDakwah.org ---
Ketika setan dikeluarkan dari sorga dan diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk hidup sampai hari qiyamat, ia berjanji di hadapan Allah SWT akan menyesatkan hamba-hamba-Nya dengan segala cara sehingga tidak di dapati kecuali hanya sedikit dari manusia ini yang selamat. Setan akan mengajak manusia dari perkara yang paling besar yaitu mempersekutukan Allah SWT. Kalau tidak bisa dengan perkara yang lebih kecil lagi seperti dosa-dosa besar, dan begitu seterusnya sehingga hal sekecil apapun tidak pernah dilewatkan oleh setan. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan kita agar menjadikan setan sebagai musuh, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)


Kita mungkin bisa menghindari dari dosa besar seperti zina, mencuri, dan dosa-dosa besar lainnya, tapi tidak bisa menghindari dosa kecil hanya karena alasan dosanya kecil. Padahal kalau kita melihat dalil-dalil syar'i, beberapa dosa tersebut dapat menjadi besar. Dan memang inilah cara-cara setan dalam memperdaya umat ini. Oleh karena itu begitu lihainya syetan menggunakan kesempatan. Allah SWT memerintahkan kepada kita agar menjauhkan diri dari segala yang dilarang, yang besar maupun yang kecil. Allah SWT berfirman yang artinya:

Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah;. (QS. 59:7)

Bagaimana dosa-dosa kecil menjadi besar?

1. Dilakukan terus-menerus
Misalnya seorang laki-laki memandang wanita dan ini adalah zina mata, namun zina mata lebih kecil dari zina kemaluan. Tapi dengan melakukannya terus-menerus maka dia akan menjadi besar . Sebab tidak ada dosa kecil kalau dilakukan terus-menerus, sebagaimana dikatakan seorang salaf:' Tidak ada yang namanya dosa kecil kalau dilakukan terus-menerus dan tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan taubat".

2. Karena diremehkan

Sesungguhnya perbuatan dosa itu apabila dianggap berat oleh seorang hamba akan menjadi kecil di sisi Allah SWT. Karena anggapan sebuah dosa sebagai dosa yang besar berpangkal dari hati yang benci kepadanya dan berupaya menghindarinya.

3. Apabila seorang hamba merasa senang melakukannya

Perasaan bangga gembira dan senang terhadap dosa, menjadikan dosa tersebut menjadi besar. Ketika rasa senang kepada dosa kecil sudah mendominasi diri seseorang, maka menjadi besarlah dosa kecil tersebut, dan besar pula pengaruhnya untuk menghitamkan hatinya. Sampai-sampai ada yang merasa bangga karena bisa melakukan sebuah dosa, padahal kegembiran pada sebuah dosa lebih besar dari dosa itu sendiri. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 24:19)

Misalnya seperi orang yang berkata: Tidakkah kamu tahu bagaiman aku membuntuti fulan dan berhasil melihatnya" atau ucapan-ucapan dan perbuatan lainnya yang menunjukkan sikap bangga dan senang atas perbuatan dosa. Maka semua itu menjadikan dosa yang semula kecil menjadi besar.

4. Apabila menyepelekan tabir Allah SWT yang menutupi kesalahannya, kasih sayang-Nya dan keramahan-Nya

Sikap santainya dalam melakukan dosa, tidak adanya rasa takut kepada Allah SWT dan pengawasan-Nya. Perasaan aman dari siksa Allah SWT adalah gamnbaran dari menyepelekan tabir Allah SWT. Dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu mendatangkan murka Allah SWT. Ibnu Abbas r.a. berkata: Wahai orang yang berdosa, jangan merasa aman dari akibat buruknya. Tatkala suatu dosa diikuti oleh sesuatu yang lebih besar dari dosa, jika kamu melakukan dosa, tanpa merasa malu terhadap pengawas yang ada di kanan kirimu, maka kamu berdosa, dan menyepelekan dosa itu lebih besar dari dosa itu sendiri,…, kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu sudah melakukannya, itu lebih besar dari dosa itu sendiri, kesedihanmu atas suatu dosa ketika ia lepas darimu (tidak dapat melaksanakannya, maka itu lebih besar dari dosa itu sendiri. Kekhawatiranmu terhadap angin ketika ia menggerakkan daun pintumu pada saat kamu sedang melakukan dosa serta hatimu tidak pernah risau dengan pengawasan Allah SWT kepadamu, maka itu lebih besar dari dosa itu sendiri".

5. Mujaharah

Yakni apabila seseorang melakukan dosa dengan terang-terangan di depan umum atau dengan menceritakannya kepada orang lain padahal jika ia tidak menceritakannya orang lain tidak ada yang tahu, kecuali dia dengan Rabbnya. Dengan sikap ini berarti ia telah mengundang hasrat orang lain untuk melakukan dosa tersebut dan secara tidak langsung ia telah mengajak orang lain untuk ikut melakukannya. Dalam hal ini ia telah melakukan dua hal sekaligus yaitu dosa itu sendiri ditambah mujaharahnya, sehingga dosanya pun menjadi besar. Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap umatku dapat diampuni dosa-dosanya kecuali orang yang mengekspos dosa-nya. Contoh dari mengekspos dosa adalah seorang yang melakukan dosa dimalam hari, kemudian pada pagi harinya, padahal Allah SWT telah menutupi dosanya, ia mengatakan:Wahai fulan, tadi malam saya telah melakukan demikian dan demikian. Di malam hari Allah SWT telah menutupi perbuatan dosanya, namun di pagi harinya justru ia sendiri yang menyiarkannya". (HR: Bukhari 5721, Baihaqi 17373, Dailami 4795)

6. Jika dilakukan oleh orang yang menjadi panutan

Seorang yang diangap panutan, baik ia seorang ulama atau seorang direktur perusahaan, kepala sekolah atau siapa saja yang mempunyai pengaruh, sehingga apabila ia melakukan suatu dosa orang-orang akan mengikutinya, maka dosa yang dilakukannya itu menjadi besar. Sebab dosa-dosa orang yang mengikutinya akan menjadi tanggungannya. Rasulullah SAW bersabda:

'Barangsiapa yang membuat dalam Islam tradisi yang buruk, maka dibebankan kepadanya dosa yang buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR: Muslim 1017, Ahmad 19179-19197)

Rasulullah SAW ketika menulis surat kepada Najasyi ( Asyhamah bin Al-Aabjar) Raja Habasyah (Ethiopia), Juraij bin Mata yang bergelas Muqauqis raja Mesir, Kisra raja Persia, Heraqlius raja Romawi dalam rangka mengajak mereka ke dalam Islam. Di antara isi surat tersebut disebutkan bahwa jika mereka menolak, maka mereka akan menanggung dosa semua kaumnya. Hal ini tiada lain karena mereka adalah panutan bagi kaum mereka. Jika mereka masuk Islam maka dengan sendirinya mereka juga akan masuk Islam, walaupun tidak semuanya.

Ini adalah sebagian yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar, kalau ada di antara kita yang pernah salah karena pernah melakukan hal yang tersebut, hendaklah kita bertaubat kepada Allah SWT, janganlah kita menunda-nunda karena tidak ada yang bisa menjamin kalau kita masih akan hidup sampai esok hari, sebab berapa banyak tanaman yang rusak sebelum keluar tunasnya. Semoga Allah SWT memberikan kepada kita taufik-Nya.

Jamaluddin

Maraji':
1. Saatnya bertaubat, Muhammad bin Husain Yakqub, Darul haq.
2. Bahaya Dosa dan perngaruhnya, Muhammad bin Ahmad Rasyid Ahman, At-Tibyan.
3. Minhajul Qashidin, Ibnu Quddamah, Al-Kautsar.
4. Raudhatul Anwar FiSirati An-Nabi Al-Mukhtar.



kajian dibawakan oleh ummi_ninasupri

Kamis, 29 September 2005

Kewajiban Muslimah Terhadap Dirinya

(diambil dari Materi keakhwatan - Cahyadi Takariawan)
Ukhti semua pantas bersyukur karena Allah SWT telah menganugrahi kesempurnaan fisik, akal pikiran nikmat berpikir dan hati yang beriman. Segenap nikmat ini tentunya diberikan Allah SWT pada kita semata hanya untuk digunakan beribadah kepada Allah SWT.

Agar mendapat ridho Allah, maka segenap nikmat yang dimiliki tidak boleh ditelantarkan. Sebaliknya harus dijaga, dipelihara, dikembangkan demi pengbdian kita kepada Allah SWT.

Karenanya, seorang muslimah harus paham apa kewajiban terhadap nikmat-nikmat diri yang dimiliki. Kewajiban yan emsti dipahami tersebut terbagi atas :

1. Kewajiban muslimah terhadap tubuhnya.

Banyak muslimah yang tampaknya kurang peduli dengan keadaan fisiknya, karena menganggap bahwa itu tidak penting., karena yang lebih penting adalah penunaian amanah-amanah dengan sukses. Kurang peduli terhadap fisik bisa berupa tidak menjaga asupan makanan yang sehat dan bergizi, sehingga seringkali tubuh mudah sakit-sakitan, kemudian tidak pula diobati dengan tuntas sampai menjadi penyakit yang parah. Kekurang pedulian yang lain adalah kebersihan tubuh. Kebersihan disini bisa pakaian, rumah/kamar pribadi, kebiasaan sehari-hari, dll. Termasuk kurang peduli pula pada penampilan, misalnya memakai pakaian yang berwarna mencolok atau tidak serasi, memakai pakaian tidak sesuai event, jilbab tidak rapih,dl.

Namun banyak pula muslimah yang memperlakukan tubuhnya secara berlebihan, hingga cenderung boros, baik untuk pakaian, perawatan tubuh, aksesoris, dsb. Sehingga pakaian muslimah yang digunakan tidak seusai lagi syar’i (penutup auratnya dgn tidak tipis/menerawang/ketat, berwarna mencolok mata).
Seorang muslimah yang mensyukuri nikmat tubuhnya, tentunya akan senantiasa bersikap proporsional dalam menjaga fisiknya. Menjaga makanan dan minuman dengan memilih yang halal, bersih, bergizi. Berolah raga teratur. Tidur yang cukup dan berkualitas (bukan kuantitas).
Menjaga kebersihan diri (kebersihan kulit/wajah/rambut, bau aroma tubuh) dan lingkungan (kamar tidur, toilet misalnya). Kesehatan wanita sejak dini/muda akan sangat berpengaruh bagi kehidupannya kelak, sesuai kodratinya. Misalnya untuk kesehatan reproduksinya, kesehatan organ seksualnya, kekuatan tubuhnya untuk hamil, menyusui, mengurus rumah tangga, dan aktif di masyarakat. Dalam berpakaian pun senantiasa sesuai dgn syari’at, rapih, bersih, sehingga menciptakan image yang baik di
masyarakat, bagaimana seharusnya sosok wanita muslim. Perhatian-perhatian ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda ketika sahabat Abdullah bin Amr bin Ash berpuasa disiang dan malam hari, “ Janganlah lakukan, karena sesungguhnya matamu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, badanmu memiliki hak yang harus kau tunaikan, keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, maka puasa dan berbukalah, shalat dan tidurlah..(HR.Muslim).

2. Kewajiban muslimah terhadap akalnya.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna dalam proses penciptaannya.
Allah berfirman,”Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Q.S. At-Tiin,95:4)
Keistimewaan manusia adalah dengan dianugrahinya kemampuan akal dengan segala kapasitasnya. Sejak kehamilan di minggu ke-3 otak manusia akan terus berkembang secara pesat dan cepat dengan kemampuan yang menakjubkan. Kelebihan otak manusia yg diberikan Allah SWT ini adalah dengan berfungsinya akal. Inilah yang membedakannya dgn binatang.

Muslimah potensi yang tidak kalah dibandingkan dengan laki-laki. Akal yg dikaruniakan Allah kepada manusia haruslah dijaga dengan baik dari hal-hal yang merusak akal baik dari segi fungsi dan kesehatannya. Menjaga kesehatan akal adalah dengan memilih makanan dan minuman yg menyehatkan bukan yang merusakan misalnya khamr/memabukkan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a Bahwa Nabi SAW bersabda,”Semua yang mengacaukan akal dan semua yang memabukkan adalah haram.” (HR. Abu Daud)
Dari segi penjagaan fungsi akal, adalah dengan mengisi akal dengan informasi yang bermanfaat. Ilmu dan informasi yang bermanfaat akan menjadikan makanan yang bergizi buat otak. Ilmu dan informasi itu berupa, pengetahuan keislaman. Syaikh Said Hawa menyebutkan beberapa ilmu islam yang harus diketahui setiap muslim meliputi 10 jenis yaitu :

- Ilmu ttg pengenalan Allah, rasul dan Islam itu sendiri.
- Ilmu ttg Al-qur’an baik kandungannya, sebab-sebabnya, cara membacanya.
- Ilmu ttg As-sunnah, baik kandungannya, sanadnya.
- Ilmu ttg Ushul Fiqh yaitu ilmu yang berbicara tetang kaidah2 dasar yang dipergunakan untuk
memutuskan suatu dasar hokum dari dalil2 yg global.
- Ilmu ttg Aqidah, akhlak dan fiqih
- Ilmu ttg sirah nabawiyah dan tarikh umat islam (sejaah islam)
- Ilmu bahasa arab untuk mendalami materi Al-qur’an, hadits nabi, fiqih,dsb.
Ilmu ttg system musuh dalam menghancurkan islam (deislamisasi). Terutama yang
berkaitan dengan ghozul fikr (perang pemikiran).
- Ilmu tentang islam kontemporer
- Ilmu ttg fiqh dakwah, yaitu aturan dan tata cara dalam menyampaikan islam/dakwah.
Dengan mengusai penuh salah satu ilmu diatas diharapkan akan lahir ulama-ulama muslimah yang akan membantu memecahkan masalah keumatan terutama masalah2 ttg wanita.

Kemudian pengetahuan lain yang diperlukan adalah ilmu umum dan wawasan kontemporer. Dari sekian banyak ilmu umum, ada fardhu kifayah bagi muslimah untuk menguasai salah satu dari bidang-bidang tersebut, mendalaminya sehingga bisa professional. Dengan tersedianya ahli-ahli muslimah di bidang umum, akan sangat membantu kesulitan umat. Terutama dalam mengatasi masalah kewanitaan. Misalnya bidang kesehatan, bidang advokasi/hukum, bidang psikoligi, teknik, tata busana, kecantikan, dll.
Dibidang kekinian pun muslimah dituntut untuk mengikuti perkembangan informasi dari berbagai dunia, ttg politik, nilai mata uang, seni dan budaya, olah raga,dll. Dengan wawasan yang luas akan sangat membantu muslimah dalam mengaktualisasikan dirinya di keluarga (dalam mendidik anak atau ngobrol ama suami nyambung..) atau dalam masyarakat.
Pengetahuan yang lain adalah keterampilan teknis. Tanpa ada ahli dibidang-bidang teknis, muslimah akan mengalami keuslitan teknis yang semestinya tidak perlu terjadi apabila ilmunya dimiliki. Seperti computer, internet, dan sarana informasi lain.

3. Kewajiban muslimah terhadap hatinya

Segala sesuatu yang bersifat materi saja tidak akan menjamin ketenangan dalam hati. Untuk itulah kewajiban inti ada pada pengisian hati agar semua proses kegiatan dapat berjalan baik. Untuk mengasah fungsi hati ada beberapa hal yg harus dilakukan, yaitu:
a. Dzikrullah (mengingat Allah atau menyebut Allah),
“Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.” ( Ar-Raad, 28)
Dzikir selain menentramkan hati juga mencerahkan pikiran, kecemerlangan akal dan hati karena senantiasa mengingat Allah SWT. Al-Hadits, “ Perumpaan orang yang berdzikir kepada tuhannya dengan orang yang tidak berzikir ibarat yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)
a. Membaca Al-qur’an
b. Menjauhi maksiat
c. Menjauhi ketergantungan pada makhluk
d. Memperbanyak ibadah.
Dibawakan oleh ummi_fatih

Minggu, 25 September 2005

Tuntunan Dlm Beramal,Mengenali Ajakan2 Yg Berseru Dlm Diri

Bismillaah Ar-Rahmaan Ar-Rahiim
Assalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Sesungguhnya segala puji hanya bagi ALLAH Subhananu wa ta’ala, kita memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu dan keburukan amal. Barangsiapa yang ditunjuki Allah, maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah semata dan tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya yang telah menyampaikan risalah Islam, menunaikan amanah, menasehati umat dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya sampai ajal menjemput.

Alhamdulillaah, segala puji hanya bagiNya, yang telah memberikan kita karunia sehingga pada saat ini kita bisa berkumpul untuk sedikit mengkaji ilmuNya, mudah2an Allah memberi kita kefahaman. Aamiin.

InsyaAllah, pada kesempatan Kamus kali ini, saya akan menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan “Tuntunan dalam Beramal, dan Mengenali Ajakan2 yang Berseru dalam Diri”. Mudah2an dengan semakin mengenali dan memahami tuntunan dalam beramal, bisa semakin menguatkan dan mengajak hati kita untuk lebih konsisten dalam beramal, sehingga bias menambah ketaatan kita kepada Allah swt. aamin


1. Mengenali ajakan2 ini, terbagi dalam tiga hal.
1. Mengenali ajakan Allah kepada petunjuk
a. QS Al-‘araf : 172
Allah sudah membekali kita fitrah ketauhidan pada saat kita masih di dalam kandungan, sebelum kita lahir di dunia ini sehingga sebenarnya ajakan Allah ini sudah bisa kita rasakan.
“…dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka 8seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?”. Mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi”. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan…dst”dalam Firman yang lainnya : “Sesungguhnya kewajiban kamilah memberikan petunjuk”.


2. Mengenali ajakan jiwa kepada hawa nafsu
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (yusuf: 53)

“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah.” (Al-Maidah:30)


3. Mengenali ajakan syetan kepada kesesatan.
Ini sesuai dengan firman ALLAH,
“Syetan menjanjikan (menakut-nakuti)kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.” (Al-Baqarah:268)
juga dengan firman Allah,
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syetan2 itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. (fathir:6)

Ketiga ajakan tersebut akan tercerminkan (siapa yang “menang” atau mendominasi) yaitu pada amal2 perbuatan kita, pada perkataan2 kita, dan pada perasaan secara keseluruhan.


2. Tuntunan dalam Beramal
a, Adab dalam beramal
Terbagi dalam : adab2 beramal kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada diri kita sendiri. Hal ini bisa dijadikan sebagai pedoman kita dalam mengukur amalan2 yang akan kita lakukan.
Adab kepada Allah
- Hendaknya Anda bersikap adil kepadaNya dalam amal2 ibadah, dengan tidak menentang sifat2 Tuhanmu berupa keagungan, kebesaran, dan keperkasaan.
- Hendaknya Anda tidak bersyukur kepada selain-Nya atas nikmat-nikmat yang diberikanNYA dan tidak melupakanNYA. Sebab Dialah yang memberikan kebaikan dan mengulurkannya.
- Hendaklah kita tidak menjadikan nikmat-nikmatNya itu sebagai penolong untuk berbuat maksiat kepadaNya, tidak memuji kepada selainNya atas rezeki yang Ia berikan.

Adab kepada manusia
- Hendaklah Anda bersikap Adil kepada mereka, yaitu dengan memperlakukan mereka seperti perlakukan yang Anda sukai dari mereka terhadap Anda. Ini adalah adab paling pertengahan. Yang lebih tinggi daripadanya ialah mengalahkan kepentingan diri sendiri, dan yang lebih rendah dari itu ialah mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Adab kepada diri sendiri
Ialah hendaknya ia tidak menzaliminya dengan perbuatan-perbuatan jahat.
Firman Allah:
“ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (Ali-Imran: 135)

b. Mengenali ajakan ALLAH dalam beramal
Ajakan Allah dalam amal perbuatan hamba telah diterangkan-Nya kepada kita dalam firman-Nya:
“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah yang mengikuti jalan yang lurus.” (al-Hujurat: 7)

c. Mengenali ajakan syetan dalam perbuatan
Ajakan syetan adalah salah satu pilar dari pilar-pilar kezaliman yang terdapat di luar jiwa. Jika terdapat seruan jiwa dalam dirinya, maka syetan membisikkan keapdanya (jiwa) seruan-seruan untuk merusak hubungan hamba dengan Allah dan dengan sesame manusia, bahkan dengan dirinya sendiri.

Mengenali ajakan-ajakan syetan dalam perbuatan terbagi dalam
@Gangguan syetan dalam hubungan mukmin dengan Tuhannya.
Ajakan syetan pada kemaksiatan ialah dengan memperindahnya dan menyegerakannya. Ajakannya pada ketaatan-ketaatan adalah agar menunda-nunda dan menyimpangkannya. Sedangkan bentuk ajakannya dalam semua perbuatan pada umumnya ialah agar melaksanakannya dengan berlebihan.
Kemaksiatan terjadi karena tiga perkara secara berurutan :
- berlepas Dirinya Allah daripadanya
- Diperindahnya kemaksiatan oleh syetan
- Melemahnya fitrah

b. Gangguan syetan dalam hubungan mukmin dengan sesama manusiaYaitu suatu usaha untuk merusak hubungan Anda dengan sesame manusia, dalam kaitannya dengan kerelaan, kemarahan dan memenuhi janji serta menyia-nyiakannya. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba kepada saudaranya, maka iblis akan menghembuskan nafasnya, tidak hanya untuk menyia-nyiakannya perbuatan tersebut, tetapi juga menyia-nyiakan dasar hubungan tersebut dan emncabutnya sampai ke akar-akarnya.
Maka jika Anda mencintai saudara sesame mukmin, syetan akan mengembuskan dalam kecintaan ini, baik dengan melebih-lebihkah yang merusak atau dengan pengurangan yang tercela, guna mengeluarkan cinta tersebut dari keseimbangan dan konsistensinya.
Maka untuk menjaga diri kita dari ajakan syetan ini, hendaklah kita berpedoman kepada : “Kesesuaian dengan hukum syara’ (agama), yaitu bahwa Anda mencintai orang yang diharuskan oleh Allah kepada Anda untuk dicintai atau diperbolehkan mencintainya, serta membenci orang yang diharuskan oleh Allah untuk dibenci, bukan selainnya”

Mungkin sekian dulu pembahasan dari saya.
Sekali lagi saya hanya sekedar menyampaikan kebenaran yang ada.
Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan serta kesalahan yang berasal dari diri saya yang sangat dhoif, sedangkan segala kebenaran berasal dari Allah Azza wa Jalla.

Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Dibawakan oleh ummi shintalifa

Kamis, 22 September 2005

Afatul Lisan

1. PERINTAH BERKATA BAIK
Kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepadamanusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengansesama manusia. Ungkapan yang keluar dari mulut manusia bisa berupa ucapanbaik, buruk, keji, dsb.Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu ciri manusia ini menjadibermakna dan bernilai ibadah, Allah SWT menyerukan umat manusia untuk berkatabaik dan menghindari perkataan buruk. Allah SWT berfirman :
“Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku. “Hendaklah mereka mengucapkanperkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syaitan itu menimbulkanperselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyatabagi manusia.” QS. 17: 53”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik danbantahlah mereka dengan cara yang baik…” QS. 16:125
Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah iaberkata baik atau diam.” HR. Muttafaq alaih“
Takutlah pada neraka, walau dengan sebiji kurma. Jika kamu tidak punyamaka dengan ucapan yang baik “ Muttafaq alaih“
Ucapan yang baik adalah sedekah” HR. Muslim.
2. KEUTAMAAN DIAM
Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak ada yangdapat menahannya kecuali diam. Oleh karena itu dalam agama kita dapatkananjuran diam dan perintah pengendalian bicara. Sabda Nabi:
“ Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis danjenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk sorga” HR. Al Bukhariy“Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Dantidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya” HR AhmadKetika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga,Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketikaditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasul menjawab : “dua lubang, yaitumulut dan kemaluan” HR. At Tirmidziy
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang bisa menjaga mulutnya,Allah akan tutupi keburukannya” HR. Abu Nuaim.Ibnu Mas'ud berkata : “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama akupenjarakan dari pada mulutku sendiri”Abu Darda berkata : “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif
Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyakmendengar dari pada berbicara.
3.lMACAM-MACAM AFATUL-LISAN, PENYEBAB DAN TERAPINYA
Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan dalam empat kelompok :murni membahayakan, ada bahaya dan manfaat, tidak membahayakan dan tidakmenguntungkan, dan murni menguntungkan.Ucapan yang murni membahayakan maka harus dijauhi, begitu juga yangmengandung bahaya dan manfaat. Sedangkan ucapan yang tidak ada untung ruginyamaka itu adalah tindakan sia-sia, merugikan. Tinggallah yang keempat yaituucapan yang menguntungkan.Berikut ini akan kita bahas afatul lisan dari yang paling tersembunyi sampaiyang paling berbahaya. Ada dua puluh macam bahaya lisan, yaitu:
1. Berbicara sesuatu yang tidak perlu
Rasulullah SAW bersabda : “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorangadalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” HR AtTirmidziy"
Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam tidakberdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Seperti menanyakansesuatu yang tidak diperlukan. Contoh pertanyaan ke orang lain “apakah andapuasa, jika dijawab YA, membuat orang itu riya, jika dijawab TIDAK padahal iapuasa, maka dusta, jika diam tidak dijawab, dianggap tidak menghormati penanya.Jika menghindari pertanyaan itu dengan mengalihkan pembicaraan maka menyusahkan orang lain mencari – cari bahan, dst.
Penyakit ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu.Atau basa-basi untuk menunjukkan perhatian dan kecintaan, atau sekedar mengisiwaktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna. Perbuatan ini termasuk dalamperbuatan tercela.Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang palingberharga. Jika tidak dipergunakan secara efektif maka akan merugikan dirisendiri. selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulut akandimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi tangga ke sorgaatau jaring jebakan ke neraka. Secara aplikatif kita coba melatih dirisenantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.
2. Fudhulul-Kalam ( Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakuppembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihikebutuhan yang secukupnya. Seperti sesuatu yang cukup dikatakan dengan satukata, tetapi disampaikan dengan dua kata, maka kata yang kedua ini “fudhul”(kelebihan).
Firman Allah : “Tidak ada kebaikan pada kebanyakanbisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruhbersedekah, berbuat ma'ruf, atau perdamaian di antara manusia” QS.4:114.
Rasulullah SAW bersabda : “Beruntunglah orang yang dapat menahan 3. kelebihan bicaranya, dan menginfakkan kelebihan hartanya “ HR. AlBaghawiy.Ibrahim At Taymiy berkata : Seorang mukmin ketika hendak berbicara, iaberfikir dahulu, jika bermanfaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidakdiucapkan. Sedangkan orang fajir (durhaka) sesungguhnya lisannya mengalir saja”Berkata Yazid ibn Abi Hubaib :”Di antara fitnah orang alim adalah ketikaia lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Jika orang lain sudah cukupberbicara, maka mendengarkan adalah keselamatan, dan dalam berbicara adapolesan, tambahan dan pengurangan.
3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil adalah pembicaraan ma'siyat, seperti menceritakantentang perempuan, perkumpulan selebritis, dsb, yang tidak terbilang jumlahnya.Pembicaraan seperti ini adalah perbuatan haram, yang akan membuat pelakunyabinasa. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan ucapan yang Allah murkai,ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga harikiamat” HR Ibn Majah.“ Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang palingbanyak terlibat dalam pembicaraan batil” HR Ibnu Abiddunya.
Allah SWT menceritakan penghuni neraka. Ketika ditanya penyebabnya, merekamenjawab: “ …dan adalah kami membicarakan yang batil bersama denganorang-orang yang membicarakannya” QS. 74:45Terhadap orang-orang yang memperolok-olokkan Al Qur'an, Allah SWTmemperingatkan orang-orang beriman :”…maka janganlah kamu duduk besertamereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya(kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka.” QS.4:140
4. Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan)

Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan menyerangdan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat. Biasanya orangyang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin menunjukkan kesalahan oranglain agar terlihat kelebihan dirinya.Hal ini biasanya disebabkan oleh taraffu' (rasa tinggi hati)karena kelebihan dan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan tersesat suatu kaum setelah merekamendapatkan hidayah Allah, kecuali mereka melakukan perdebatan” HR. AtTirmidziyImam Malik bin Anas berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati danmewariskan kekesalan”
5. Al Khusumah (pertengkaran)
Jika orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkanlawan dan mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah adalahsikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak atau hartaorang lain, yang bukan haknya. Sikap ini bisa merupakan reaksi atas orang lain,bisa juga dilakukan dari awal berbicara.Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yangpaling dibenci Allah adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar” HR.Al Bukhariy
6. Taqa'ur fil-kalam (menekan ucapan)
Taqa'ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakandiri bersyajak dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing.Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di harikiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yangbanyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”. HR. AhmadTidak termasuk dalam hal ini adalah ungkapan para khatib dalam memberikannasehat, selama tidak berlebihan atau penggunaan kata-kata asing yang membuatpendengar tidak memahaminya. Sebab tujuan utama dari khutbah adalah menggugahhati, dan merangsang pendengar untuk sadar. Di sinilah dibutuhkan bentuk-bentukkata yang menyentuh.
7. Berkata keji, jorok dan caci maki
Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabudengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengn seksual, dsb. Halini termasuk perbuatan tercela yang dilarang agama. Nabi bersabda :
“Jauhilah perbuatan keji. Karena sesungguhnya Allah tidak suka sesuatu yangkeji dan perbuatan keji” dalam riwayat lain :”Surga itu haram bagisetiap orang yang keji”. HR. Ibnu Hibban“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata kejidan jorok” HR. At Tirmidziy.Ada seorang A'rabiy (pedalaman) meminta wasiat kepada Nabi :Sabda Nabi : “Bertaqwalah kepada Allah, jika ada orang yang mencelakekuranganmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanyaada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapapun. KataA'rabiy tadi : “Sejak itu saya tidak pernah lagi mencaci maki orang”.HR. Ahmad.
“Termasuk dalam dosa besar adalah mencaci maki orang tua sendiri” Parasahabat bertanya : “Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua sendiri? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orang tuanya”. HR. Ahmad.
Perkataan keji dan jorok disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yangmenyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan denganorang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang durhaka lainnya.
8. La'nat (kutukan)
Penyebab munculnya kutukan pada sesama manusia biasanya adalah satu dari tigasifat berikut ini, yaitu : kufur, bid'ah dan fasik. Dan tingkatan kutukannyaadalah sebagai berikut :
- Kutukan dengan menggunakan sifat umum, seperti : semoga Allah mengutukorang kafir, ahli bid'ah dan orang-orang fasik.-Kutukan dengan sifat yang lebih khusus, seperti: semoga kutukan Allahditimpakan kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Majusi, dsb.-Kutukan kepada orang tertentu, seperti : si fulan la'natullah. Hal inisangat berbahaya kecuali kepada orang-orang tertentu yang telah Allahberikan kutukan seperti Fir'aun, Abu Lahab, dsb. Dan orang-orang selainyang Allah tentukan itu masih memiliki kemungkinan lain.
-Kutukan yang ditujukan kepada binatang, benda mati , atau orang tertentuyang tidak Allah tentukan kutukannya, maka itu adalah perbuatan tercela yanghaus dijauhi. Sabda Nabi :
“ Orang beriman bukanlah orang yang suka mengutuk” HR At Tirmidziy“Janganlah kamu saling mengutuk dengan kutukan Allah, murka-Nya maupunjahanam” HR. At Tirmidziy.“Sesungguhnya orang-orang yang saling mengutuk tidak akan mendapatkansyafaat dan menjadi saksi di hari kiamat” HR. Muslim.
9. Ghina' (nyanyian) dan Syi'r (syair)
Syair adalah ungkapan yang jika baik isinya maka baik nilainya, dan jikaburuk isinya buruk pula nilainya. Hanya saja tajarrud (menfokuskan diri) untuk hanya bersyair adalah perbuatan tercela. Rasulullah SAWbersabda :“Sesungguhnya memenuhi rongga dengan nanah, lebih baik dari padamemenuhinya dengan syair” HR Muslim. Said Hawa mengarahkan hadits ini padasyair-syair yang bermuatan buruk.Bersyair secara umum bukanlah perbuatan terlarang jika di dalamnya tidakterdapat ungkapan yang buruk. Buktinya Rasulullah pernah memerintahkan Hassanbin Tsabit untuk bersyair melawan syairnya orang kafir.
10. Al Mazah (Sendau gurau)
Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama,kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan sering kaliterdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalahgurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain, tidakberlebihan dan tidak menjadi kebiasaan. Seperti gurauan Nabi dengan istri danpara sahabatnya.
Kebiasaan bergurau akan membawa seseorang pada perbuatan yang kurang berguna.Disamping itu kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.
Umar bin Khatthab berkata : “Barang siapa yang banyak bercanda, maka iaakan diremehkan/dianggap hina”.Said ibn al Ash berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, janganlah bercandadengan orang mulia, maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula bercanda denganbawahan maka nanti akan melawanmu”
11. As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza'( cemoohan)
Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkanaib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau peragaan dihadapannya. Jika dilakukan tidak di hadapan orang yang bersangkutan disebut ghibah(bergunjing).Perbuatan ini terlarang dalam agama. Firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain(karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yangmengolok-olok dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain(karena) boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yangmengolok-olok “ QS. 49:11
Muadz bin Jabal ra. berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Barangsiapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak akan matisebelum melakukannya” HR. At Tirmidziy"
12. Menyebarkan rahasia
Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan mengecewakanorang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali.
Rasulullah SAWbersabda :“Sesungguhnya orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalahorang laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia ceritakanrahasianya”. HR. Muslim.
13. Janji palsu
Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskantidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.Firman Allah : “Wahai orang-orang beriman tepatilah janji…” QS5:1Pujian Allah SWT pada Nabi Ismail as: “Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya..” QS 19:54
Rasulullah SAW bersabda : “ada tiga hal yang jika ada pada seseorangmaka dia adalah munafiq, meskipun puasa, shalat, dan mengaku muslim. Jikaberbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khiyanat”Muttafaq alaih dari Abu Hurairah.
14. Bohong dalam berbicara dan bersumpah
Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang palingbusuk. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan kecuranganakan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang berbohong akanterus berbohong hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pembohong” Muttafaqalaih.“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan menegur dan memandangnya di harikiamat, yaitu : orang yang membangkit-bangkit pemberian, orang yang menjualdagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang memanjangkan kain sarungnya”HR Muslim.
“Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang, celaka dia, celakadia” HR Abu Dawud dan At Tirmidziy
15. Ghibah (Bergunjing)
Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah pernahbertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat: ”HanyaAllah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi: “ghibah adalahmenceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidakmenyukainya.” Para sahabat bertanya : “Jika yang diceritakan itu memang ada?Jawab Nabi : ”Jika memang ada itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu telahung ke ghibah sbg salah satu afamengada-ada” HR Muslim.Al Qur'an menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara sendiri (QS.49:12)Ghibah bisa terjadi dengan berbagai macam cara, tidak hanya ucapan, bisa jugatulisan, peragaan. dsb.Hal-hal yang mendorong terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut ini :
a. Melampiaskan kekesalan/kemarahan
b. Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita
c. Merasa akan dikritik atau cela orang lain, sehingga orang yang dianggaphendak mencela itu jatuh lebih dahulu.
d. Membersihkan diri dari keterikatan tertentu
e. Keinginan untuk bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya
f. Hasad/iri dengan orang lain
g.Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu
h.Menghina dan meremehkan orang lain.
Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlak lainnya yaitu dengan ilmudan amal.Secara umum ilmu yang menyadarkan bahwa ghibah itu berhadapan dengan murkaAllah. Kemudian mencari sebab apa yang mendorongnya melakukan itu. Sebab padaumumnya penyakit itu akan mudah sembuh dengan memotong penyebabnya.Menceritakan kekurangan orang lain dapat dibenarkan jika terdapat alasanberikut ini:
a. Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi
b. Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran
c. Meminta fatwa,seperti yang dilakukan istri Abu Sufyan pada Nabi.
d.Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang
e. Orang yang dikenali dengan julukan buruknya, seperti al a'raj (pincang),dst.
f. Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan terang-terangan(mujahir)
Hal-hal penting yang harus dilakukan seseorang yang telah berbuat ghibah adalah :
a. Menyesali perbuatan ghibahnya itu
b. Bertaubat, tidak akan mengualnginya lagi
c. Meminta maaf/dihalalkan dari orang yang digunjingkan
16. Namimah (adu domba)
Namimah adalah menyampaika pembicaraan seseorang kepada orang lain
17. Perkataan yang berlidah dua
18. Menyanjung
19. Kurang cermat dalam berbicara (asal bunyi)
20. Melibatkan diri secara bodoh pada beberapapengetahuan dan pertanyaan yang menyulitkan
Dibawakan oleh Ummi Nina

Minggu, 18 September 2005

Peran Politik Wanita Dalam Sejarah Islam

Islam telah selesai dengan masalah gender
Allah berfirman dalam QS. An Nahl [16]:97
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Allah tidak pilih kasih antara laki2 dan perempuan
siapa saja yang beramal shalih maka baginya pahala Allah dalam firman Allah yang lain:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. Al Hujurat [49]:13
inna akramakum 'indallahi atqakum
sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa sama sekali tidak berkonteks laki2 atau perempuan.Allah tidak pilih kasih dalam hal pahala dan ganjaran.begitu pula Allah tidak pilih kasih dalam hal dosa. begitulah dalam hal kewajiban2nya sebagai hamba termasuk pula kewajiban2 terhadap agamanya
Islam dan tarbiyahnya sesungguhnya menyiapkan wanita muslimah untuk mengemban peran besar peradaban sebenarnya apa saja peran peradaban itu?
peran peradaban wanita muslimah:
1. mendidik anak
2. menyiapkan generasi rabbani
3. berperan di masyarakat
4. istri shalihah
5. mencari ilmu
Islam menempatkan wanita sebagai sumber peradaban.
dari rahimnya, wanita2 melahirkan pelaku2 sejarah setiap zaman
seperti apakah wajah suatu zaman. lihatlah wajah2 pelaku2 sejarahnya
seperti apakah wajah pelaku2 sejarah, tanyakan kepada wanita2 yang melahirkannya
seperti apakah wajah pelaku2 sejarah, tanyakan kepada wanita2 yang melahirkan dan mendidiknya
salah satu peran besar peradaban wanita muslimah adalah melahirkan dan mendidik generasi
satu hal penting yang perlu kita camkan bersama bahwa kita sedang membicarakan generasi bukan anak2 kita saja, bukan anak2 kita saja (nantinya) tanggung jawab kita adalah anak2 kita anak2 lingkungan kita juga anak2 saudara kita anak2 kerabat kita dan generasi dalam konteks luasnya itu adalah peran pertama
1.melahirkan dan mendidik GENERASI
2.adalah berkontribusi dalam aktivitas peradaban dalam hal apa? dalam segala hal ekonominya, politiknya, sosialnya, budayanya, pendidikannya dll. jika antunna sekarang telah berkomitmen kepada perbankan syariah maka itulah kontribusi antunna kepada peradaban Islam.
jadi 2. berkontribusi dalam aktivitas peradaban (ekonomi, politik, sosial, budaya, dst)
3.adalah melaksanakan amanah amar ma'ruf nahi munkar.
sekarang kita akan memfokuskan bahasan kita pada peran politik wanita muslimah
untuk memahaminya saya mengajak akhawat sekalian untuk menengok sayyidah Siti Khadijah dan peran politiknya. Masuk Islam (memeluk Islam) akan kita pahami sebagai sebuah aktivitas politik
Ada yang tidak sepakat?
berpegang teguh kepada Islam adalah sebuah aktivitas politik.martsiska: Mengapa?
Pasalnya, orang2 jahiliyah terdahulu tidak pernah membantah bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rizki, yang berkuasa dan mengatur." Katakanlah, Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab, Allah. ....QS. Yunus [10]:31
Tapi sejak semula mereka mengingkari bahwa Allah memiliki syariat yang harus ditaati
maka di akhir ayat tersebut Allah berfirman
"Maka katakanlah mengapa kamu tidak bertaqwa kepadaNya"
Pangkal aktivitas politik adalah penetapan syariat ,maka ini adalah bagian dari iman orang2 Mukmin. ketika orang Mukmin mengurusi masalah politik, pada hakikatnya mereka sedang menjaga iman, agar tidak ada yang mengungguli mereka kecuali syariat Khaliq yang disembah.
Jadi, bagi orang2 yang beriman, aktivitas politik muncul dari sumber yang sangat kuat, yaitu iman kembali kepada Sayyidah Khadijah.sangat lumrah sekiranya Rasulullah menawarkan Islam untuk pertama kalinya kepada orang yang sangat dekat dengan beliau.
Ibnu Al Atsir berkata, "Menurut ijma' kaum Muslimin, Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam, yang tidak pernah didahului seorang pun dari kaum laki2 maupun wanita, beberapa poin karakter Siti Khadijah dari sisi politis diantaranya adalah beliau memiliki derajat kepedulian yang tinggi tentang berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya. dan kasak kusuk yang berkembang di tengah manusia tentang kedekatan masa diutusnya seorang nabi yang ditunggu2, kepedulian ini beliau topang dengan memahami secara cermat masalah wahyu dan risalah yang disinggung2 Rasulullah saw "Dalam kondisi Rasulullah yang pertama kali menerima wahyumartsiska: Khadijah hadir sebagai seorang wanita yang tegarmartsiska: padahal wanita lain bisa saja menjadi nervous dan kalut pikirannya ketika suaminya datang sambil memberitahukan masalah wahyu"
Apa yang diucapkan Khadijah ketika Muhammad saw mengabarkan bahwa beliau baru saja melihat Jibril?Wanita mulia ini berkata. Terimalah kabar gembira wahai anak pamanku dan teguhkan hatimu.
Demi yang diriku ada di TanganNya, sesungguhnya aku berharap engkau menjadi nabi umat ini
Subhanallah, Allahu akbar .wanita yang luar biasa hebat bukan??? beliau pula yang berkata,
Khadijah pula yang berkata kepada Rasulullah, Sama sekali tidak, Allah tidak akan menelantarkan engkau selama2nya, karena engkau adalah orang yang suka menyambung tali persaudaraan, membawa beban. memberi pekerjaan orang fakir, menjamu tamu dan menolong orang2 yang berbuat kebenaran.
Khadijah pula yang sering kali mendampingi Rasulullah di gua Hira' ,Khadijah adalah juga sosok wanita muslimah yang cerdas dan kritis . Al Baihaqy telah meriwayatkan bahwa Khadijah berkata kepada Rasulullah,
Wahai anak pamanku, dapatkah engkau memberitahukan kepadaku tentang teman yang mendatangi engkau? Ya, sabda Rasulullah. Ketika Khadijah berada di dekatnya, maka Jibril turun.Setelah melihat kedatangan Jibril, beliau bersabda, Wahai Khadijah, inilah Jibril....
Apakah engkau melihatnya pada saat ini? tanya Khadijah.Ya, jawab Rasulullah "berpindahlah dan duduklah di kamarku, kata Khadijah, Rasulullah duduk di kamar Khadijah. Lalu Khadijah bertanya, Apakah engkau dapat melihatnya saat ini? Ya, jawab Rasulullah Khadijah kemudian melepas kerudung di kepala dan mengangkatnya, lalu bertanya lagi, Apakah engkau dapat melihatnya saat ini?
Tidak, jawab Rasulullah Khadijah lalu berkata, Ini bukan syetan. Dia adalah malaikat wahai anak pamanku. Maka teguhkanlah hatimu dan bergembiralah karenanya. Lalu Khadijah menyatakan keimanannya dan bersaksi bahwa apa yang Rasulullah sampaikan adalah benar Demikianlah Khadijah dengan peran politik peradabannya beliau adalah sosok yang senantiasa
1) menjalin hubungan dengan masyarakatnya
2) peduli terhadap sesamanya
3)menyimak segala kejadian dan permasalahan sekitarnya kesemuannya memungkinkannya menentukan pilihan dengan benar Beliau juga mengambil
kesemuannya memungkinkannya menentukan pilihan dengan benar .Beliau juga mengambil penelusuran tentang kebenaran dakwah Rasulullah, bahkan beliau pergi untuk menemui Waraqah bin Naufal, demikianlah kemudian Khadijah menjadi sosok penyokong utama dakwah Rasulullah pada mula2nya.
Semoga akhwat fillah dapat menangkap demikian besarnya peran seorang Sayyidah Khadijah
peran politiknya dalam perjuangan dakwah Islam dan mewujudkan peradaban Islam yang demikian majunya meski beliau sendiri tidak bersama Rasulullah ketika daulah Islamiyah itu pada akhirnya tegak