Senin, 27 November 2006

Ramalan, Zodiak, Shio ...? NO way !!

Kategori: Aqidah
Sumber: Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaith. Fathul Majid Syarh Kitab, Tauhid [Edisi Revisi

Ilustrasi :
Sore itu, Mita lagi kesal berat. Bete. Wajahnya cemberut, jelek banget pokoknya. Diambilnya sebuah majalah remaja edisi terbaru, kemudian mulai dibuka-bukanya. Matanya terhenti pada halaman 'Zodiak Kamu'. Dalam hatinya, Mita berkata, "Zodiak? Gak boleh percaya sama yang beginian. Syirik namanya." Tapi matanya tak bergerak ke halaman berikutnya. "Hmmm, baca aja gpp kok, asalkan ga percaya."

Taurus : Tersenyumlah. Kamu akan mendapatkan kejutan manis yang tak terduga.

Secara otomatis, Mita tersenyum. Manis banget senyumnya. Dilanjutnya membaca zodiak.

Tapi hati-hati dengan ulah seorang teman. Tindakan cerobohnya dapat menghancurkan kerjaan yang sudah kamu kerjakan dengan hati-hati. Keahlianmu memang sangat diandalkan.

"Mita," ungkap Mita dengan bangga. "Kerjaan mana yang gak Mita selesaikan dengan baik? Bagaimana ya kalau Mita gak ada? Kacau balau tuh kayaknya semuanya."

***

Kira-kira, apakah Mita termasuk orang yang ga percaya pada ramalan? Ada dua kesalahannya:

1. Senyuman manis Mita itu merupakan ungkapan sikap percaya pada ramalan yang sudah dibacanya.
2. Ungkapan membanggakan diri (ujub diri) juga menunjukkan rasa percaya pada ramalan. Bahkan, dalam kalimatnya itu, ia telah menduakan Allah. Dia lupa, bahwa dengan ijin dan kasih sayang Allah sajalah sehingga ia mampu menyelesaikan pekerjaannya itu. Harusnya ia mengucapkan syukur pada Allah karena diberikan kemudahan dan kesempatan juga keahlian dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Lebih jauh tentang ramal-meramal. Kenapa hal itu tak boleh?

Rasulullah saw yang kita sayangi itu adalah utusan Allah. Beliau adalah manusia yang spesial, maksum (terlepas dari dosa karena Allah menjaganya). Beliau banyak mengetahui hal-hal ghoib. Ingat tentang peristiwa Isra' Mi'raj. Tapi, tau engga, Rasulullah saw aja tidak mengetahui secara rinci apa yang akan terjadi di masa datang. Beliau tidak tau, apakah sebentar lagi akan ada kejutan manis tak terduga, misalnya. Mengenai pengetahuannya tentang beberapa hal ghoib sesuai dengan Firman Allah dalam surah Al-Jinn : 26-27,

"Dia mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak menjelaskan kepada seorangpun tentang yang ghoib itu kecuali kepada Rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjagaan di hadapan dan di belakangnya."

Jelaslah, dari ayat di atas, dapat diketahui bahwa tak ada seorangpun di dunia ini yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, itu semua rahasia Allah. Salah satu bukti ketidaktahuan Rasululullah adalah saat ia tidak mengetahui apakah di dapurnya ada makanan yang dapat dimakan atau tidak. Bila ditanyakannya pada 'Aisyah ra (istri beliau) dan jawabannya tidak ada, maka Rasulullah hari itu akan berpuasa.

Kalau Rasulullah saja tidak mengetahuinya, masa sih seorang peramal bisa tau. Aneh ga sih? Usut punya usut, ternyata para peramal/ dukun/ orang pintar/ itu mendapatkan info dari para jin dan syetan.

Gini nih dalilnya, dulu sewaktu Rasulullah saw masih hidup, para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang tukang ramal, beliau bersabda, "mereka tidak ada apa-apanya." Para sahabat bertanya, "wahai Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami." Maka Rasulullah saw bersabda, "itu adalah kalimat yang benar, yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (peramal/ dukun). Maka para dukun tersebut mencampurkan kalimat yang benar tersebut dengan seribu kedustaan (kata-kata manis)." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Dari hadist di atas, peramal/ dukun merupakan kaki tangannya jin dan syetan, para walinya. Setan itu memang sukanya menggoda manusia sehingga terjerumus ke jalan yang salah, menjadi teman mereka di neraka nantinya. Rasulullah adalah utusan Allah yang membawa manusia ke jalan yang lurus. Kontradiksi kan? Makanya, bila mengakui perkataan para peramal/ dukun berarti sama saja memilih jalannya setan dan mendustakan Rasulullah sebagai utusan Allah. Hal ini diperkuat oleh hadist:

"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal lalu membenarkan apa yang dia katakan, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad saw." (HR. Abu Daud)

Nah, mudah aja kan, pilih jalan ke surga atau ke neraka? Agar dapat menjaga hati untuk ga tergelincir pada percaya ramalan, tak perlulah zodiak (shio dan ramalan lainnya) dibaca. Cara lainnya, pilihlah majalah Islam yang tidak memuat ramal-ramalan seperti itu. Menyehatkan dan melegakan kan? ^_^

Wallahu'allam...

Senin, 20 November 2006

Engkau Telah Mulia dengan Menjadi Seorang Muslimah

Kategori: muhasabbah
Sumber: Menjadi Wanita Paling Bahagia; Penulis DR. Aidh al-Qarni; Penerbit Qisthi Press

“Allah kelak akan menjadikan kelapangan setelah kesempitan.”

Putus asakah engkau melihat kebebasan hati, lalu di mana Allah dan ketentuan-Nya?

Semua musibah yang menimpa atas kehendak Allah menjadi penebus dosa dengan seizing-Nya. Bergembiralah dengan apa yang tertulis dalam hadis Rasulullah saw: “Apabila seorang perempuan taat kepada Tuhannya,mendirikan shalat lima waktu (yang menjadi kewajibannya), dan menjaga kehormatannya, maka ia akan masuk surga Tuhannya.”

Semua itu adalah perkara yang mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah. Oleh karena itu saudariku, laksanakanlah amalan-amalan yang agung tersebut, agar engkau dapat menemui Tuhan Yang Maha Pengasih, berjalan sesuai dengan al-Quran dan sunnah Nabi-nya, niscaya engkau akan menjadi seorang muslimah sejati. Dan itu, kemuliaan yang agung dan kebanggaan yang tak terkira. Orang selain dirimu dilahirkan di Negara-negara kafir, sebagai seorang Nashrani, Yahudi, Komunis, dan agama lainnya yang menyimpang dari agama Islam. Sementara engkau, telah dipilih Allah menjadi seorang muslimah, untuk menjadi salah seorang pengikut Muhammad saw yang meneladani jejak langkah Aisyah ra, Khadijah ra, dan Fatimah ra.

Selamat buatmu! Engkau mendirikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, melaksanakan ibadah haji dan memakai hijab. Selamat bagimu! Engakau rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammas saw sebagai Rasul.

Pencerahan: Emas adalah agamamu, perhiasan adlah budi pekertimu, dan hartamu adalah sopan santunmu.

Kamis, 16 November 2006

Persepsi-persepsi yang Benar tentang Allah

Pemateri : Martsiska
Disampaikan dalam Kajian Muslimah Online tgl 16 Oktober 2006

Mengenal Allah dan Hak-hakNya

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Bismillahir rahmaanir rahiim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin

Alhamdulillah, alladzii arsala rasuulahu bil huda wa dinil haq, liyudhhirahu ‘ala diini kullih wa kafa billahi syahiida
Asyhadu anla ilaha illallahwahdahu laa syarikalah
wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh, laa nabiya ba’da
Allahumma shalli wa salim wa baarik ‘ala syaidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ‘ajma’in
Rabbisy syrahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam millisaani yahqahuu qaulii

Ada sebuah pepatah yang akrab sekali dengan keseharian kita; tak kenal maka tak sayang.

Seorang hamba yang tidak mengenal Rabb-nya bisa dipastikan akan menemui kegagalan dalam mencintai Allah SWT. Padahal cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan dia menduduki derajat atau level yang tinggi, demikian yang dikatakan Al Ghazali dalam kitab Al Mahabbah.

Sementara Ali bin Abi Thalib ra, pernah berkata, "Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin".

Maka Rasulullah Muhammad saw dalam membina generasi sahabat sangat mementingkan sisi pengenalan dan persepsi yang benar tentang Allah dan hak-hakNya. Persepsi yang benar tentang Allah SWT akan mengantar seseorang hamba kepada keyakinan dan keimanan yang kuat. Jika seseorang telah memiliki keimanan yang kuat maka akan tumbuh dalam dirinya kesungguhan untuk mewujudkan sebuah penghambaan yang total kepada Allah SWT, juga kesungguhan untuk memperjuangkan tegaknya dien Allah di muka bumi. Yang kesemua itu tentu hadir sebagai konsekuensi kecintaannya kepada Allah.

Seorang sufi, Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit."

Ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: "Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa".

Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Mengenal Allah adalah sebuah usaha yang harus dilakukan seorang hamba agar tumbuh dalam hatinya rasa takut kepada Allah, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan kepadaNya.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Untuk mengenal dan selanjutnya mecintai Allah, persepsi-persepsi tentang Allah yang harus kita camkan dalam hati dan jiwa kita di antaranya adalah sbb:

Pertama,
Sesungguhnya Allah swt tidak mempunyai kekurangan sedikitpun. Dia Maha Sempurna dan kesempurnaan-Nya tiada batas. Dia Maha Esa, tiada sekutu bagiNya dan Dia tidak membutuhkan istri maupun anak.

• Al Ikhlas [112] :1-4
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.“

• Al Jin [72]
3. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.

• Al An’am [6]
101. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. 103. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

• Al Hadid [57]
3. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin[1452]; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

• Al Buruj [85]
14. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Kedua,
Sesungguhnya Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Pemilik dan Pengatur semua urusan.

• Al An’am [6]
13. Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

• Az Zumar [39]
62. Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

• Ar Ra’du [13]
2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

• Al A’raf [7]
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Ketiga,
Allah adalah sumber segala nikmat di alam raya, yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi.

• An Nahl [16]
53. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

• Luqman [31]
20. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

• Ibrahim [14]
34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Doa Rasulullah:
Ya Allah tiada nikmat yang bersamaku, atau bersama salah seorang makhlukMu di waktu pagi, melainkan dariMu saja, tiada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu syukur.

Keempat,
Sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu, maka tiada sesuatu pun di bumi dan di langit yang tersembunyi dariNya dan tiada sesuatu pun yang ditampakkan atau disembunyikan oleh manusia, kecuali diketahui olehNya.

• Ath Thalaq [65]
12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

• Al An’am [6]
3. Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

• Ali Imran [3]
5. Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.

• An Nahl [16]
74. Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

• Al Mulk [67]
13. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 14. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?

Kelima,
Allah swt menugaskan para malaikat untuk mencatat seluruh amal manusia dalam sebuah kitab. Tidak akan tertinggal satu amal pun, kecuali pasti tercatat di dalamnya.

• Qaaf [50]
18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

• Al Infithar [82]
10. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), 11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), 12. mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

• Al Kahfi [18]
49. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun".

• Al Isra’ [17]
13. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. 14. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".

Keenam,
Sesungguhnya Allah akan menguji hambaNya dengan sesuatu yang tidak mereka cintai dan tidak mereka inginkan, agar jelas hakikat diri mereka sebenarnya.

• Al Mulk [67]
2. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

• Ali Imran [3]
179. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.

• Muhammad [47]
3. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
31. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Ketujuh,
Sesungguhnya Allah akan memberikan taufiq, dukungan, dan pertolongan kepada orang yang kembali kepadaNya, berlindung dengan perlindunganNya, dan mengikuti hukumNya dalam segala hal.

• Al A’raf [7]
196. Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

• Al Hajj [22]
40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

• An Nahl [16]
128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

• Al Ankabut [29]
69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

• Muhammad [47]
7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Mengetahui dan memiliki persepsi yang benar tentang Allah akan mengantar kita kepada sebuah motivasi untuk senantiasa berkhidmat kepada kebaikan dan menghindarkan diri dari maksiat kepada Allah. Kesemuanya dalam rangka beribadah kepada Allah yang dilandasi kecintaan kepadaNya.

Dengan persepsi-persepsi tersebut di atas maka selayaknya seorang hamba mengetahui dan memenuhi hak Allah atas hambaNya yaitu bahwa mereka menyembahNya, mentauhidkanNya, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.

• Al Baqarah [2]
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, 22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

• An Nisaa’ [4]
1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

• Az Zumar [39]
66. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur".

Pemenuhan hak Allah akan mengantarkan seorang hamba kepada kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba, yaitu:

• Melaksanakan rukun Islam
– Syahadat, sholat, zakat, puasa, haji bila mampu

• Menyerahkan diri kepada Allah
– Hud:56; Yusuf:67; An Nisaa:40; Ali Imran:173
• Huud [11]
56. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus."

• Yusuf [12]
67. Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".

• An Nisaa’ [4]
40. Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

• Ali ‘Imran [3]
173. (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".

• Ikhlas
– ‘ Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya dan segala sesuatu tergantung dari apa yang diniatkan…’ (HR. Bukhari)

• Sabar
– Ali Imran:146; Al Kahfi: 28
• Ali ‘Imran [3]
146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

• Al Kahfi [18]
28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.




• Merasakan pengawasan Allah (muraqabbatullah)
– Asy Syu’ara:217-220; Al Mujadilah:7
• Asy Syu’ara [26]
217. Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, 218. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), 219. dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. 220. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

• Al Mujadilah [58]
7. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

• Mendekat kepadaNya dengan amalan sunnah
– ‘HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah (sunnah), hingga Aku mencintaiNya’ (HR. Bukhari)

• Percaya penuh kepadaNya
– Ar Rum:47,60
• Ar Ruum [30]
60. Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.

• Memperbarui taubat dan istighfar
– Ali Imran:135; Asy Syams:9,10
• Ali ‘Imran [3]
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

• Asy Syams [91]
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
• (Ihsan adalah ) engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya maka Allah melihatMu ( HR. Bukhari )


Allahu a’lam bishshawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Maraji’:
• Al Qur’an Al Karim
• Dr. SAyyid Muhammad Nuh, Membangun Kader Militan, Al I’tishom, 2005
• Cahyadi Takariawan, Abdullah Sunono, Wahid Ahmadi, Ida Nur Laila, Keakhwatan 1, Era Intermedia, 2005

Senin, 13 November 2006

Seimbang, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat


Pemateri: Hifizah N
Disampaikan dalam Kajian Muslimah Online, Senin, 13 November 2006

Allah menciptakan dunia dan seisinya dalam keadaan seimbang. Misalnya dijadikan-Nya siang dan malam. Bumi dan langit. Laki-laki dan Perempuan. Keseimbangan ekosistem, di mana populasi pemakan daging lebih sedikit dari pada populasi pemakan tumbuhan.

Hutan dan kekayaan alam sebagai sumber makanan diciptakan secara berlimpah, dibandingkan dengan mahluk hidup yang tinggal di dalamnya. Semua diciptakan Allah dalam prinsip keseimbangan.

Dan sunnatullahnya, bila mahluk Allah berusaha mempertahankan keseimbangan ini, maka kehidupannya akan berjalan dengan baik, aman dan nyaman.

Keseimbangan ini, kalau dalam Islam, berkaitan erat sekali dengan tauhid. Berkaitan dengan ketundukan kita akan aturan-aturan Allah di alam ini, mencakup hukum alam, maupun hukum yang diturunkan Allah lewat Al-Qur’an.

Misalnya yang mencakup hukum alam. Sunnatullahnya atau aturan yang berlaku di alam ini, orang yang menjaga dan memelihara lingkungan hidup, maka ia akan mendapat manfaat yang besar dari alam. Tetapi sebaliknya, orang-orang yang bertindak semaunya, menuruti hawa nafsunya, maka akan mendapatkan kerugian.

Menghasilkan bencana alam atau kerugian material lainnya. Hukum alam ini bisa ditaklukkan dengan menggunakan hukum alam yang lain. Tetapi tidak kita lawan.

Sedangkan hukum-hukum yang diturunkan Allah lewat Al-Qur’an, bila diikuti akan menghasilkan ketenangan hidup, kebahagiaan dan menguatkan jiwa dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan.

Dan sebaliknya, bila ditinggalkan, akan menimbulkan kekacauan hidup. Kesengsaraan, dan kezaliman terhadap diri sendiri maupun orang lain. Contohnya, misalnya dalam tata cara pergaulan.

Islam cukup ketat mengatur tata cara pergaulan, baik dengan sesama perempuan, sesama laki-laki maupun antara Laki-laki dan Perempuan. Satu saja perintah itu ditinggalkan, misalnya dalam hal menjaga pandangan, maka terbukalah kerusakan-kerusakan yang lebih besar mengikuti pelanggaran tersebut

Makanya tradisi mencuci mata, atau menonton film yang kental dengan budaya ‘bebas’, membuka kerusakan baru di masyarakat kita, yaitu seks bebas.
Sebagai muslim, ada beberapa hal yang perlu diseimbangkan.

1. Jasadiyyah/badan/fisik

Keseimbangan pemenuhan kebutuhan fisik ini sangat penting dalam hidup setiap muslim. Hadist Rosulullah menyatakan, “Muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari muslim yang lemah”. Kekuatan fisik ini yang sebanarnya banyak mengagumkan non muslim di zaman Rosulullah.

Dengan pola hidup yang teratur, makanan yang halal dan baik, serta kebersihan yang terjaga, masyarakat madinah jarang sekali ditemukan menderita penyakit.

Rosulullah pun sepanjang hidupnya hampir tidak pernah sakit, kecuali menjelang kematian beliau.

Keseimbangan dalam hal fisik ini memiliki pengaruh yang besar dalam ibadah dan prestasi kerja setiap muslim. Oleh karena itu hal ini menjadi penting untuk di jaga.

2. Akal

Keseimbangan pemenuhan kebutuhan akal ini juga penting, karena dimana pun kita hidup di dunia ini, orang-orang akan selalu menghargai orang yang berilmu, dari pada yang kurang berilmu.

Dalam Islam, bahkan, orang yang beriman dan berilmu ini diangkat derajatnya beberapa kali disbanding orang yang hanya beriman saja. Tapi, dalam Islam, yang disebut orang ‘alim atau orang yang berilmu itu adalah orang yang memiliki rasa takut yang besar kepada Allah SWT.

Jadi seorang mu’min, dianggap sudah bertambah ilmunya, ketika rasa takutnya kepada Allah semakin besar. Dan ini, sebenarnya tidak tergantung dari jenis ilmu apa yang dimilikinya.

Misalnya, ilmu psikologi, kalau hanya membahas ilmu psikologi yang berasal dari barat, tidak akan berpengaruh apa pun dalam diri kita, tetapi kalau ditunjang dengan bercermin dengan konsep-konsep psikologi dalam Al-Qur’an yang banyak membahas jiwa manusia, baru terasa kebesaran Allah yang sangat memahami jiwa manusia.

Begitu juga ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itulah keseimbangan dalam mengasah akal ini diperlukan oleh setiap muslim. Oh iya, ada ilmu-ilmu yang harus/wajib hukumnya untuk diketahui oleh setiap muslim.

Yaitu ilmu tentang aqidah, ibadah, dasar-dasar keimanan dan keislaman kita, agar menjadi basic dalam landasan berpikir kita.

3. Ruhiyyah/hati

Keseimbangan dalam hal ini juga penting, karena inilah yang tetap mengarahkan kehidupan seorang muslim untuk tetap berada dalam rel yang benar.


Keseimbangan ruhiyyah ini dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Berzikir, membaca Al-qur’an, bermunajat kepada Allah akan mempertajam visi kita dalam kehidupan.

Visi seorang muslim, yaitu untuk beribadah kepada Allah meliputi semua dimensi kehidupan. Belajar, bekerja, berdagang, adalah dalam rangka beribadah kepada Allah.
Ibadah-ibadah ritual adalah tiangnya, yang memperkokoh keimanan kita kepada Allah. Inilah sumber ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup kita.

4. Sosial

Keseimbangan sosial ini juga penting untuk dijaga oleh setiap muslim. Perintahnya pun banyak terdapat dalam al-Qur’an dan hadist-hadist

Misalnya perintah untuk berukhuwwah dan bersatu. Perintah untuk menghormati tetangga. Perintah untuk mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Keseimbangan sosial ini saat ini banyak ditinggalkan dikota-kota besar. Bahkan di negara-negara maju, sikap individualistic ini menjadi suatu hal yang biasa. Bahkan identic dengan gaya hidup masyarakat modern. Padahal ini adalah gaya hidup yang tidak sehat.

Tidak heran bila penyakit sosial, seperti gangguan jiwa dan bunuh diri banyak terjadi di zaman sekarang ini. Karena ketidakpedulian kepada orang lain membuat banyak orang kesepian, dan akhirnya memilih jalan pintas untuk keluar dari masalah kehidupan.

5. Keseimbangan untuk melestarikan alam.

Alam ini adalah rizki yang diberikan Allah, sekaligus amanah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam kehidupan. Tetapi memanfaatkan alam juga ada aturannya
Merusak alam akan menimbulkan bencana. Dan ini justeru merugikan manusia itu sendiri. Islam mendorong umatnya untuk memajukan ilmu pengetahuan, tetapi melarang menggunakannya untuk merusak lingkungan.

Misalnya kemajuan teknologi nuklir, jangan sampai disalahgunakan untuk membunuh manusia dan menghancurkan lingkungan hidup.

Inilah hal yang penting dalam kehidupan kita. Kalau dalam buku 7 Habits of Highly Effective people, kebiasaan menjaga ke-empat keseimbangan ini tertuang dalam bab “Mengasah Gergaji”.

Diceritakan dalam buku tersebut, ada seorang tukang kayu yang selama berjam-jam menggergaji pohon, tanpa sedikitpun berhenti untuk mengasah gergajinya

Pekerjaannya semakin berat, karena gergajinya semakin tumpul. Padahal kalau ia menyediakan waktu sedikit saja untuk mengasah gergajinya, mungkin pekerjaannya akan menjadi lebih cepat dan tingkat kelelahannya pun berkurang.

Pohon itu adalah semua aktivitas kehidupan kita. Sedangkan gergaji adalah aspek-aspek yang tadi disebutkan di atas.

wallahu a'lam bissawab



Rabu, 01 November 2006

Pernikahan Teh Ela

Kategori: pengumuman

Bukanlah kebetulan, saat bumi berputar kelilingi matahari.
Bukan kebetulan pula, ketika matahari pancarkan kehidupan di bumi.
Pun bukan kebetulan, saat air mengalir melakukan siklusnya.

Bukanlah ketidaksengajaan, saat ibu melahirkan anaknya.
Bukan pula ketidaksengajaan, ketika anak berkembang menjadi dewasa.
Pun bukan pula ketidaksengajaan saat seseorang membutuhkan pendamping,
dan Ar-Rahman mengijabahnya dengan lembut dan indah ...

Sungguh...

Adalah skenario Ilahi
Saat dua insan bertaut hati dalam suatu ikatan nan suci
Taati perintah Ilahi, ikuti sunnah nabi
Syukuri fitrah insani.

Telah menikah

Eko Suprapto Wibowo (swdev)
Dengan
Ela Nurlaela (matahari)

Ahad, 29 Oktober 2006

Di Subang
Akad nikah dilaksanakan jam 09.00 dilanjutkan walimatul ursy jam 11.00 – selesai

Seluruh penghuni pondk mengucapkan:
Barakallahu lakum wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair.
Semoga menjadi keluarga yang barokah mawaddah warrohmaah.

Senin, 16 Oktober 2006

Perayaan Hari Idul Fitri

Sesungguhnya Idul Fitri telah menjadi hari kegembiraan, saling bertemu, berkunjung, dan mengucap selamat.
Adapun beberapa adab yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi hari khusus ini adalah:

1. Hendaklah menghadapi Idul Fitri dengan niat yang baik. Tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu cuek sehingga tidak menunjukkan kegembiraan.

2. Mandi. Kegembiraan tidak akan lengkap bila tubuh kotor. Maka disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum pergi shalat Ied.

3. Bersih secara sempurna dan wangi. Bagi pria, pakailah wewangian. Sedang kaum wanita, tidak dibolehkan memakai wangi-wangian. Tujuannya adalah agar muslim dan muslimah dalam kondisi yang baik dan wangi dalam menghadapi hari yang penuh kegembiraan.

4. Mengenakan pakaian yang baru, jika mampu. Yaitu, pakaian yang belum pernah dikenakan sebelumnya. Hal ini merupakan bentuk kesyukuran terhadap nikmat dari Allah SWT.

Umar bin Khattab (ra) pernah membeli baju sutra untuk Rasulullah agar dipakai pada hari Ied. Rasulullah menolak memakainya karena baju tersebut berbahan sutra namun Rasulullah (saw) menyetujui perbuatan Ummar tersebut yang berhias pada hari Ied.

Bila tidak mempunyai pakaian yang baru, gunakanlah pakaian yang paling bagus. Buatlah persiapan untuk merayakan hari istimewa ini.

5. Mengeluarkan zakat fitrah sebelum berangkat shalat Ied. Boleh membayarnya dua hari sebelum 1 Syawal. Tujuannya untuk berbagi kegembiraan di hari raya bagi orang-orang yang kurang mampu. Bila imam mengumandangkan takbir untuk shalat Ied, maka sudah tidak bisa lagi membayar zakat (kecuali karena alasan udzur), yang ada hanyalah sedekah.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
"Bahwa Rasulullah saw. memerintahkan agar zakat fitrah diberikan sebelum manusia berangkat untuk salat Ied."

6. Rasulallah memakan beberapa butri korma sebelum shalat Ied. Intinya, makanlah sebelum Shalat Ied.

Dari Anas Radliallahu anhu, ia berkata :
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pergi (ke tanah lapang) pada hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma".[1]

7. Pada Idul Adha, tidak makan sebelum berangkat shalat. Sunnahnya seperti itu, kalau tak mampu, bolehlah makan. Sunnahnya, setelah Shalat Idul Adha, makanlah makanan dari daging hewan kurban yang disembelih.

Dari Buraidah Radliallahu anhu ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari Raya Kurban beliau tidak makan hingga kembali (dari mushalla) lalu beliau makan dari sembelihannya" [Diriwayatkan Tirmidzi 542, Ibnu Majah 1756, Ad-Darimi 1/375 dan Ahmad 5/352 dan isnadnya hasan]

8. Bersegera berangkat ke tempa Shalat Ied.

9. Membawa serta para wanita menuju tempat shalat. Termasuk yang sedang haid, tua-muda, janda, dan lainnya. Bila sedang haid, tidaklah boleh shalat. Tujuannya agar semua para wanita bersama-sama merasakan dan merayakan kegembiraan.

10. Hendaklah membawa anak-anak ke tempat shalat. Agar mereka juga merasakan kegembiraannya perayaan Ied walau mereka belum wajib shalat.

11. Rasulullah keluar ke tempat shalat dengan berjalan kaki. Beliau tidak menggunakan hewan kendaraannya. Bagi yang letak rumahnya jauh dari lokasi shalat, boleh menggunakan kendaraan.

At-Tirmidzi meriwayatkan (530) dan Ibnu Majah (161) dari Ali Radliallahu 'anhu bahwa ia berkata : "Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki". [Dihasankan oleh Syaikh kami Al-Albani dalam "Shahih Sunan Tirmidzi"].

12. Bertahlil dan bertakbir dengan suara yang keras sewaktu berangkat ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan kegembiraan dan kemeriahan lebaran dengan Kebesaran Allah.

Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir".[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Al-Mushannaf" dan Al-Muhamili dalam "Kitab Shalatul 'Iedain" dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab "Silsilah Al Hadits As-Shahihah" (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Ied]

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

13. Tidak mengerjakan shalat apapun sebelum Shalat Ied. Kecuali bila shalatnya di dalam masjid, maka mengerjakan Shalat Tahiyyatul Masjid. Setelah Shalat Ied dan sampai di rumah, Rasulullah lalu mengerjakan shalat 2 raka'at.

14. Tidak ada adzan dan iqomah selama Shalat Ied.

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.:
"Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Atha telah mengabarkanku dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, keduanya berkata: Tidak ada azan bagi salat hari raya idul fitri atau idul adha. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang itu, lalu Jabir bin Abdullah Al-Anshari memberitahukan kepadaku bahwa tidak ada azan untuk salat hari raya idul fitri, baik saat imam menaiki mimbar maupun sesudahnya. Juga tidak ada iqamat, seruan atau apapun. Pada saat itu tidak ada azan atau iqamat."

15. Rasulullah mendahulukan shalat sebelum menyampaikan khutbah lebaran.

Ibnu Abbas berkata :
"Artinya : Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu 'anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah" [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
"Bahwa Nabi saw., Abu Bakar dan Umar, mereka melakukan salat Ied (idul fitri dan idul adha) sebelum khutbah."

16. Rasulullah sebagai imam menghadap manusia ketika berkhutbah.

Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah" [Dikeluarkan oleh Bukhari 956, Muslim 889, An-Nasa'i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54]

17. Tidak mengeluarkan mimbar untuk Shalat Ied.

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
"Bahwa Rasulullah saw. selalu keluar pada hari raya raya idul adha dan hari raya idul fitri. Beliau memulai dengan salat. Setelah menyelesaikan salat dan mengucapkan salam, beliau berdiri menghadap kaum muslimin yang duduk di tempat salat mereka masing-masing. Jika beliau mempunyai keperluan yang perlu disampaikan, beliau akan tuturkan hal itu kepada kaum muslimin. Atau ada keperluan lain, maka beliau memerintahkannya kepada kaum muslimin. Beliau pernah bersabda (dalam salah satu khutbahnya di hari raya): Bersedekahlah kalian! bersedekahlah! Bersedekahlah! Dan ternyata mayoritas yang memberikan sedekah adalah kaum wanita. Setelah itu beliau berlalu."

18. Rasulullah mengkhususkan satu khutbah lebaran untuk kaum wanita, terpisah dari khutbah untuk para pria.

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
"Bahwa Nabi saw. pernah melaksanakan salat hari Raya Fitri. Beliau memulai dengan salat terlebih dahulu. Sesudah itu beliau berkhutbah kepada kaum muslimin. Selesai khutbah Nabi saw. turun dan mendatangi kaum wanita. Beliau memberikan peringatan kepada mereka sambil berpegangan pada tangan Bilal. Lalu Bilal membentangkan pakaiannya dan para wanita memberikan sedekah."

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
"Aku pernah ikut salat Idul Fitri bersama Nabi saw., Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka semua melakukan salat Ied sebelum khutbah, kemudian ia berkhutbah, ia berkata: Rasulullah saw. turun, seola-olah aku melihat beliau ketika beliau dengan isyarat tangan mempersilakan kaum lelaki duduk. Kemudian beliau berjalan di antara barisan sampai ke tempat para wanita. Beliau disertai Bilal. Lalu beliau membaca: Hai Nabi, apabila para wanita yang beriman mendatangimu untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah. Beliau membaca ayat ini hingga akhir. Lalu beliau bertanya: Apakah kalian akan berjanji setia? Seorang wanita satu-satunya di antara mereka menjawab tegas: Ya, wahai Nabi Allah! Saat itu tidak diketahui siapa wanita tersebut. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bersedekahlah kalian! Bilal membentangkan pakaiannya seraya berkata: Marilah, demi bapak ibuku sebagai tebusan kalian! Mereka pun segera melemparkan gelang dan cincin ke dalam pakaian Bilal."

19. Saling berjabat tangan bagi mereka yang bertemu (tidak bagi wanita dan pria) dan mengucap selamat.

20. Memilih jalan lain ketika pulang, baik berjalan kaki maupun berkendaraan.

Dari Jabir bin Abdillah Radliallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari mushalla-pen)" [Hadits Riwayat Bukhari 986].

21. Menjalin tali silaturrahim, saling memberi hadiah, saling mengucap selamat (Taqqabbalallahu minna wa minkum bukan meminta maaf). Semua ini dilakukan di hari Ied saja, 1 Syawal.

22. Boleh menabuh rebana bagi kaum wanita diantara sesama wanita untuk menunjukkan kegembiraan.

23. Meninggalkan sesuatu yang melampaui batas pada hari itu.

Wallahu'alam.

Jumat, 13 Oktober 2006

Menggapai Keutamaan Laylatul Qodr

Keutamaan Lailatul-Qadar sangat besar, karena pada malam itulah diturunkannya Al-Qur’an Al-Kariim yang membimbing manusia yang berpegang kepadanya kepada jalan kemuliaan dan kehormatan, mengangkatnya ke puncak ketinggian dan keabadian.

1. Keutamaan Malam Lailatul-Qadar

Tanda kebesaran dan keagungan Lailatul-Qadar adalah bahwa malam itu merupakan malam yang penuh berkah yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah ta’ala telah berfirman :
إِنّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مّبَارَكَةٍ إِنّا كُنّا مُنذِرِينَ
“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan” (QS. Ad-Dukhaan : 3).
وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Dan tahukah kamu apakah malam lailatul-qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr : 2-3).
Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa amalan di malam Lailatul-Qadar (yang penuh barakah) itu menyamai pahala amal seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadarnya. Seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk berusaha mencari malam tersebut dengan sabdanya :
ﻪﺒﻧﺫ ﻦﻣ ﻡﺪﻘﺗ ﺎﻣ ﻪﻟ ﺮﻔﻏ ﺎﺑﺎﺴﺘﺣﺍﻭ ﺎﻧﺎﻤﻳﺇ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ ﻡﺎﻗ ﻦﻣ
“Barangsiapa yang mendirikan ibadah (pada malam) Lailatul-Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Allah mensifati malam itu dengan malam keselamatan/kesejahteraan, sebagaimana firman-Nya :
سَلاَمٌ هِيَ حَتّىَ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr : 5).
Ini menunjukkan kemuliaan, kebaikan, dan keberkahannya. Orang yang terhalangi dari kebaikan malam itu berarti terhalangi dari kebaikan yang sangat banyak. Inilah keutamaan-keutamaan yang besar pada malam yang penuh barakah ini.

Pada malam ini kita diperintahkan untuk banyak-banyak berdoa dengan doa :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُعَنِّيْ
[Alloohumma innaka ‘afuwun tuhibbul-‘afwa fa’fu’annii]
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai maaf, maka berilah maaf kepadaku” (HR. Tirmidzi 3760 dengan sanad shahih).
Catatan : Adapun tambahan Kariim sesudah kalimat Alloohumma innaka ‘afuwun adalah tambahan yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka yang paling baik adalah menggunakan doa yang shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa menambah-nambahi.

2. Waktu terjadinya Malam Lailatul-Qadar

Lailatul-Qadar terjadi pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari bulan Ramadlan. Ada beberapa hadits shahih yang menyebutkan tentang hal ini, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadlan . Imam Asy-Syafi’I berkata,”Ini menurut saya, wallaahu a’lam, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai dengan pertanyaannya. Dan pendapat yang paling kuat bahwa itu terjadi pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan dan beliau mengatakan : “Carilah Lailatul-Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan” (HR. Bukhari 4/225 dan Muslim 1169) . Silakan membuka Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan beberapa hadits dimaksud.

3. Tanda-Tanda lailatul-Qadar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kita tentang beberapa tanda yang mengisyaratkan terjadinya Lailatul-Qadar. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ubay radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ﻊﻔﺗﺮﺗ ﻰﺘﺣ ﺖﺴﻁ ﺎﻬﻧﺄﻛ ﺎﻬﻟ ﻉﺎﻌﺷﻻ ﺲﻤﺸﻟﺍ ﻊﻠﻂﺗ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ ﺔﺤﻴﺒﺻ
“Di pagi hari (setelah) malam Lailatul-qadar, matahari terbit tanpa cahaya yang menyinari (redup, tidak panas). Ia bagaikan bejana hingga naik” (HR. Muslim 762).
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ﺀﺍﺮﻤﺣ ﺔﻔﻴﻌﺿ ﺎﻬﺘﺤﻴﺒﺻ ﺲﻤﺸﻟﺍ ﺢﺒﺼﺗ ﺓﺩﺭﺎﺑ ﻻﻭ ﺓﺭﺎﺣ ﻻ ﺔﻘﻠﻁ ﺔﺤﻤﺳ ﺔﻠﻴﻟ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ
“Lailatul-Qadar merupakan malam penuh kelembutan, cerah, tidak panas, dan tidak dingin. Matahari di pagi harinya menjadi nampak lemah lagi nampak kemerah-merahan” (HR. Ath-Thayalisi 349, Ibnu Khuzaimah 3/231,dan Al-Bazzar 1/486; dengan sanad hasan).
4. Beribadah di Malam Lailatul-Qadar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan, beliau semakin giat dan khusyuk dalam beribadah. Beliau kencangkan ikat pinggangnya dan beri’tikaf di dalam masjid. Tidaklah beliau keluar dari masjid kecuali untuk menunaikan hajatnya saja.
Mari kita simak beberapa hadits berikut :

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata :
ﻪﻠﻫﺃ ﻆﻘﻳﺃﻭ ﻪﻠﻴﻟ ﻰﻴﺣﺃﻭ ﻩﺭﺰﺌﻣ ﺪﺷ ﺮﺸﻌﻟﺍ ﻞﺧﺩ ﺍﺫﺇ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻥﺎﻛ
“Apabila memasuki sepuluh (malam terakhir di bulan Ramadlan), Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengencangkan ikatan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (istri-istrinya)” (HR. Bukhari 2/233 dan Muslim 1174).
ﺎﻫﺮﻴﻏ ﻲﻓ ﺪﻬﺘﺠﻳ ﻻ ﺎﻣ ﺮﺧﺍﻭﻷﺍ ﺮﺸﻌﻟﺍ ﻲﻓ ﺪﻬﺘﺠﻳ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻥﺎﻛ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir (pada bulan Ramadlan) yang tidak beliau lakukan di saat-saat lain” (HR. Muslim 1174).
Maka selayaknyalah kita sebagai ummat beliau untuk meneladani beliau dalam menghidupkan bulan Ramadlan, khususnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan dengan ibadah-ibadah, seperti : I’tikaf, membaca Al-Qur’an dan berusaha menghafalnya, mempelajari hadits dan kandungan-kandungannya, dan lain-lain. Tidak selayaknya kita habiskan waktu malam dan siang kita hanya dengan tidur dan makan.

Rabu, 11 Oktober 2006

Gaul Syar'i Ala Muslimah

Sumber: Nur Aulia Solihah ( sabili edisi Mei 2005)

Gaul and modis, siapa sih yang nggak pengen ? Pasti semua orang pengen. Saking pengennya, kadang cewek suka jadi plagiat total gaya hidup para selebritis. Coba deh lihat sekitar kamu. Soal pakaian saja, remaja putri mencontek abis fesyennya selebritis lokal maupun Holywood semisal Agnes Monica, Jeniffer Lopez, Nicole Kidman, Madonna dan sebagainya. Rok mini diatas dengkul, bujal, aurat terbuka merata disekitar leher dan dada. Hidup para selebritis kita pun tak jauh dari aktivitas dunia gemerlap alias dugem. Berhura-hura di pesta dan tempat hiburan degan gonta-ganti pasangan.

Tampil full aksesoris nyentrik dan make up tebal demi menggaet simpati serta kenalan. Kita nggak mau dong over acting untuk menarik perhatian dan simpatik orang seperti itu, tapi ngorbanin ridhanya Allah. Sebenarnya kayak apa sih tampil gaul, modis tapi tetap syar’i. Nah kalo kamu ingin jadi muslimah gaul tapi syar’i, kamu kudu ngikutin rambu-rambu Allah dibawah ini.

1.Berbusana muslimah
Islam juga mengatur urusan malbusat (urusan pakaian) ini lho. Ada dua busana yang wajib dipakai seorang muslimah yaitu khimar (kerudung) dan jilbab. Di masyarakat, orang menyamakan begitu saja antara kerudung dan jilbab.
Kerudung adalah penutup kepala atau pakaian atas. Batasan kerudung, minimal dua kancing paling atas baju atau tepat diatas dada. Selain itu tak membentuk kepala. Kadang karena pengen tampil trendy, perempuan suka niru gaya kudung gaul ketat menutup kepala dan leher saja. Bahkan tanpa sadar kelihatan warna kulit lehernya. Nah, gaya seperti ini sebenarnya belum sesuai dengan syar’i. Perintah memakai kerudung ini ada di Al Quran surat An Nur ayat 31.

Jilbab sendiri dalam kamus bahasa arab Al Munawir artinya baju longgar yang terus kebawah tak berpotongan. Rambu-rambu dalam berjilbab antara lain nggak transparan sehingga kelihatan warna kulitnya, longgar, nggak press body serta irkha’ ilaa asfal alias menyentuh tanah tapi nggak nglangsrah (jawa : panjang berekor). Kewajiban ber-jilbab ini termaktub dalam surat Al Ahzab ayat 59. “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu.”

Biar kelihatan cantik ‘n modis. Ada tips yang perlu diperhatikan. Bagi kamu yang bertubuh bongsor pilih kain jilbab yang berbunga kecil-kecil atau bergaris vertikal. Kebalikannya, bagi kamu yang berbody ceking pilih jilbab berbunga besar atau garis horisontal. Warna cerah dan bunga setaman sangat cocok bagi jiwa mudamu.

Biar tambah keren, coba padankan warna jilbab dengan warna kerudungmu. Kamu juga bisa berkreasi dengan model jilbabmu, dikasih rompi, rendra, manik-manik, bordir dan apa aja deh terserah selera . Asal jangan dikasih paku payung aja, entar dibilang kayak Rocker lagi.

2. No Ikhtilat, No khalwat
Tahu kan ikhtilat dan khalwat? Yup, ikhtilat ialah kondisi bercampurbaurnya antara laki-laki asing dan perempuan yang tidak dalam satu tempat tanpa ada urusan yang diperbolehkan agama. Maksud asing di sini, bukan mahram (laki-laki yang haram dinikahi) dan suami. Birthday party, tamasya, jjs (jalan-jalan sore) bareng-bareng, nonton film rame-rame cowok campur cewek adalah beberapa contoh aktivitas per-ikhtilatan ria. Hampir semua aktivitas, saat ini full dengan ikhtilat. Nggak semua ikhtilat dilarang sih. Di bidang muamalah seperti pendidikan, jual beli, medis, persaksian dipengadilan ikhtilat diperbolehkan, namun juga dengan batas tertentu pula.

Berlawanan dengan ikhtilat, khalwat adalah berdua-duaan antara laki-laki asing dan perempuan di tempat sepi. Berdasar ketidakbolehan khalwat inilah, hukum pacaran jadi nggak boleh alias haram. Apalagi ditambah aksi tangan doi yang ‘menjelajah’ kemana-mana. Wah gaswat bisa terjadi adegan usia 17 keatas. Sensor film kaleee. Pantang non, mendekati zina. Jadi inget iklan sabun no ikhtilat…,no khalwat…., no embi e…. (marry by accident maksudnya). Yang sudah terlanjur ke jebur melakukan pacaran, mendingan di-cut aja deh. Atau segera menikah, dengerin sarannya Meggy Z terlanjur basah, iya sudah mandi sekalian…..

3 Jaga Pandangan
Dari mata jatuh ke hati. Exactly. Hati yang kotor berawal dari ketidakbisaan menjaga pandangan mata. Mata adalah jendela hati. Oleh karena itu Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan mukmin untuk menundukkan pandangan (ghadul bashar) terutama pada lawan jenis. Menundukkan disini bukan lantas kemana saja bawaannya merem atau nunduk terus. Bisa-bisa dikira orang lagi cari uang receh yang jatuh ke jalan.

Menundukkan pandangan artinya kita melihat sesuatu itu no feeling. Natural dan biasa aja gitu loh. Termasuk melihat makhluk bernama pria. Emang sih, kalau dituruti siapa bisa nolak pemandangan cowok cool kayak Leonardo De Caprio atau Nicholas Saputra lewat di depan mata. Pengennya ekor mata ngikutin sampai si doski hilang dari pandangan. Ampe lupa tu di depan ada tiang listrik menanti. Wadauw kejedot… sakit booo.

Makanya kalau bertemu dengan lawan jenis terus ada sesuatu perubahan di diri kita sehingga menimbulkan silah jinsi (perasaan yang mengarah pada hal yang istimewa), itulah saat tepat untuk segera membalikkan pandangan mata dari obyek semula. Pandangan pertama rezeki, selanjutnya….. ghadhul bashar dong.

So, kamu jadi paham kan, nggak bener tuh, kalo kita menjadi muslimah yang kaffah, terus dibilang nggak gaul. Kamu bisa kok gaul n modis, tapi tetap syar'i. Biar funky asal syar'i...

Senin, 02 Oktober 2006

Mengisi Bulan Ramadhan dengan Taqorub Ilallah

Pemateri : Ummu Fatih
Disampaikan dalam Kajian Muslimah Online tgl 2 Oktober 2006

Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillahiladi arsala rosulahu bil huda wa dinilhaq, liyudhorohu aladinni qulli wakaffa billahi shahida, Ashadu ala ilahailallah waashadu'anna muhammadarrosululloh

Segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT, pada kesempatan ini di bulan yg penuh berkah, kita bisa bertemu kembali di majlis ilmu kamus siang ini.

Mohon maaf sebelumnya, karena kondisi badan sdg kurang fit, jadi mungkin tidak terlalu panjang materi yg akan kita ulas bersama. Namun semoga walaupun tidak panjang, bisa banyak kebaikan yg kita dapatkan. InsyaALlah

Sedikit cerita, tadi siang (di ind, pagi yah...) saya baru saja mendapat kabar salah seorang teman yang tinggal di sini meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rooji'un.

Ada satu hal yang menjadikan peristiwa ini seolah pengingat bagi kita...bahwa..maut itu hadir kapan saja, di mana saja, dan kita tidak tahu dalam kondisi apa B arangkali ramadhan tahun lalu, masih ada saudara, teman, orang tua, yg bersama menjalani ibadah ramadhan bersama, namun pada thn ini, tidak lg ..karena ketentuan Allah sudah menjemput.
Buat kita yg masih hidup sampai detik ini....betul-betul bersyukur, masih merasakan detik-detik ramadhan, masih punya kesempatan menjaring pahala dan keberkahan di bulan suci ini.
Untuk itu jgnlah lewatkan sedikitpun waktu berharga ini, jgn buang kesempatan usia ini, dan jgn sampai lengah melakukan hal-hal yang sia-sia..utamanya di bulan ramadhan.

Apa saja yg mesti kita lakukan untuk mengisinya?
Mungkin sdh banyak buku, ceramah para ustadz yg mengulasnya...namun tdk ada salahnya kita review kembali ..agar makin semangat...mumpung masih ada waktu 21 hari lagi...

1. Perbanyaklah shalat.
Shalat sunnah yang dilakukan di bulan ini akan di ganjar pahala sama dgn shalat wajib di bulan biasa. R esapi shalat2 kita..jangan berlalu tanpa kesan di hati..yg tersisa hanya lelah di badan saja...


2. Perbanyak tilawah Qur'an.
Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."
ada saat ramadhan itulah rasulullah SAW mengulang hapalan Al-qur'annya, saat ramadhan inilah qur'an turun.
Maka sungguh merugi bila kita masih saja tidak terketuk untuk memperbanyak tilawah, memperbaiki bacaan al-qur'an di bulan ini.

3. Perbanyak sedekah.
Banyak hadits yg mengungkap keutamaan memberi berbuka utk org yg berpuasa..walaupun hanya dgn seteguk air.
Bandingkan...lebih banyak mana jajan kita di mall, dg sedekah yg kita masukkan kotak amal?? bila nilai nominalnya sama...percayalah..nilainya sangat jauh berbeda...apalagi di bulan suci ini..semua amal dilipatgandakan.
Nah..insyaAllah mulai sekarang, sebelum belanja, jajan..kita hitung dulu..berapakah uang yg diinfakkan sebelum belanja ini?
Beberapa waktu lalu saya di beri pesan lewat Ym, katanya teman tsb, hanya dgn 50 rb sudah bisa memberi buka puasa untuk satu keluarga..subhanallah... sebegitu bernilainya uang 50 rb itu untuk saudara2 kita yg tidak mampu...pdhl mungkin saja..uang senilai itu biasa kita beli untuk selembar kerudung misalnya pdhl kerudung kita bertumpuk2 menanti giliran dipakai ada di lemari... jadi...mari kita edit lagi neraca dompet kita...mana yg lebih banyak..belanja akherat atau dunia... dan saat ramadhan inilah momentum yg pas.

4. jangan sia-siakan malam-malam di bulan ramadhan.
Sayang sekali bila kenikmatan, keberkahan malam yg di janjikan ALlah terlewati tanpa sujud tarawih kita, tanpa tangis taubat kita, tanpa suara memelas kita padaNya atas do'a2 kita.
Perbanyak tahajud, sholat istikharah, sholat hajat, dll. InsyaAllah saat inilah terbukanya pintu2 terkabulnya do'a.

5. Kurangilah hal-hal yg sia-sia. Mata kita jangan dibiarkan habis hanya untuk memandangi si kotak ajaib TV.
Telinga kita jangan dibiarkan melanglangbuana mendengar hal-hal yg tidak bermanfaat. Kaki kita, paksalah untuk senantiasa melangkah ke tempat2 yg membiuat kita ingat sama ALlah.

InsyaALlah masih banyak lagi hal yg bisa kita lakukan untuk mengisi bulan keberkahan ini. KIta tidak tahu..apakah ini ramadhan kita yg terakhir atau bukan..
tapi kita harus terus berusaha, melakukan yg terbaik untuk kehidupan yg abadi di akherat nanti.

Kamis, 28 September 2006

Rabu, 27 September 2006

Menjadi Muslimah

Kategori: Bahan Muhasabbah

Wanita Islam merupakan bagian dari masyarakat yang tidak dapat dipisah-kan dan mempunyai posisi yang sangat penting. Ia mempunyai kewajiban terhadap Allah, dirinya sendiri, keluarga, lingkungan dan terhadap Islam. Pada kali ini akan sedikit dibahas tentang kewajiban seorang muslimah terhadap dirinya sendiri, lingkungan dan Islam.

Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

Kewajiban seorang muslimah terhadap dirinya adalah berhias dengan akhlaq yang mulia sebagai cermin dari keimanan yang ada di dalam dirinya. Diantara akhlaq mulia yang harus dimiliki seorang muslimah adalah :

1. Hati yang lembut dan perasaan yang sensitif.
Rasulullah sebagai panutan bagi seluruh umat Islam terkenal mempunyai hati yang sangat lembut.

2. Jujur.
Sifat ini mutlak harus ada pada diri setiap muslimah. Jujur dalam bersikap sehari-hari, selalu berhati-hati dengan segala ucapannya agar lidahnya tidak tergelincir pada perkataan yang dusta.

3. Berani & mempunyai fisik yang kuat.
Bagaimana seorang muslimah yang berani dan kuat ? Asma binti Abu Bakar adalah salah seorang wanita yang dapat dijadikan contoh. Dimana dalam masa kehamilannya beliau berjalan melintasi padang pasir dan menaiki bukit terjal sambil membawa bekal bagi Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar yang ketika itu bersembunyi di gua Tsaur. Sedang-kan keberanian dalam berpendapat dapat kita ambil contoh teguran Kaulah binti Sa’labah kepada Ummar bin Khattab yang pada masa kekhalifahannya hendak membatasi harga mahar.

4. Menjauhi teman yang buruk.
Pada prinsipnya teman yang buruk adalah teman yang menjauhkan kita dari mengingat Allah dan mengajak kita pada perbuatan yang mengundang murka Allah. Teman seperti inilah yang harus kita hindari, karena akhlaq seseorang itu dapat dilihat dari akhlaq teman karibnya.

Kewajiban terhadap Lingkungannya

Seorang muslimah hidup dalam suatu lingkungan masyarakat dan saling berinteraksi dengan mereka. Dalam berinteraksi dengan sesamanya, seorang muslimah harus memiliki hal-hal sebagai berikut :

1. Sikap adil.
Ia harus mampu bersikap adil kepada orang-orang di sekitar-nya. Tidak membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.

2. Keperdulian terhadap orang lain.
Tanggap terhadap situasi dan keadaan saudaranya yang sedang mempunyai masalah. Perduli bukan berarti hanya mengetahui bagaimana keadaan saudaranya, tetapi juga berusaha untuk menunjukkan perha-tiannya sebagai bukti dari keper-duliannya itu.

3. Hati yang pengasih.
Seorang muslimah harus memiliki rasa sayang terhadap sesamanya dan mampu untuk menunjukkan rasa sayangnya itu.

4. Menjaga hak-hak orang lain.
Apa yang menjadi hak orang lain adalah merupakan kewajiban bagi diri kita untuk memenuhinya. Sebagai contoh, hak seornag muslim dari muslim yang lain adalah dikunjungi ketika ia sakit.
Kewajiban terhadap Islam
Diantara kewajiban muslimah terhadap Islam adalah keikutsertaanya dalam menyebarkan syiar-syiar Islam. Dengan selalu berprilaku baik, menjaga adab-adab yang islami, dan membina hubungan baiknya dengan masyarakat, maka secara tidak langsung ia telah turut andil dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Dari sinilah orang dapat melihat dan merasakan indahnya islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Selain itu seorang muslimah juga dituntut untuk dapat berperan aktif dalam membina masyarakatnya sesuai dengan kemampuan dan kelebihan masing-masing. Aisyah ra adalah salah satu istri Rasulullah yang pandai tentang ilmu hadits, fiqih, dan kedokteran. Kemampuan tersebut beliau ajarkan kepada para muslimah lainnya dalam rangka keikutsertaannya membina masyarakat pada saat itu.
Demikianlah tiga kewajiban seorang muslimah yang harus ia jalankan. Dengan mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut diharapkan bahwa setiap muslimah akan sadar, bahwa dia hidup bukan untuk dirinya sendiri, dan dia juga islam bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga hidup dan islam bagi masyarakatnya, dan harus turut serta dalam menyebarkan nilai-nilai islam tersebut. Tanggung jawabnya begitu besar, dan kelak akan dimintai pertanggung-jawabannya di hari akhir.

Selasa, 26 September 2006

Ilmu perhiasan tak ternilai bagi muslimah :)

Kategori: Artikel
Sumber: http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/perhiasan.htm



Seorang yang mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah diatur dalam syariat Islam.

Seorang yang sukses bukanlah orang yang hidup dengan bersemboyan ‘semau gue’ dengan mengikuti hawa nafsunya, tapi orang yang sukses adalah orang yang mengambil Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan pemahaman As Salafus Shalih sebagai pengikat aturan hidupnya. Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah yang baligh dan berakal (mukallaf) untuk menuntut ilmu.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat menyempurnakan kewajibannya.

Sebagai hamba Allah, seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yang meliputi pengetahuan terhadap nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Selain itu, ia harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala bersendiri dalam mencipta, mengatur, memiliki, dan memberi rezeki. Ia pun wajib menunaikan hak-hak Allah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sebagaimana tujuan penciptaannya. Allah berfirman :

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56)

Seseorang tidak akan berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu dien (agama).

Di samping mengenal Allah, seorang Muslimah juga wajib mengenal Nabi-nya, yaitu Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, karena beliau merupakan perantara antara Allah dengan manusia dalam penyampaian risalah-Nya. Sesuai dengan makna persaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, maka ia wajib mentaati segala yang beliau perintahkan, membenarkan segala yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan. Hal ini sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (Al Hasyr : 7)

Ayat ini merupakan kaidah umum yang agung dan jelas tentang wajibnya seluruh kaum Muslimin mengambil sunnah yang telah tetap dan hadits-hadits shahih dalam aqidah, ibadah, muamalah, adab, akhlak, seluruhnya. Hal ini tidak akan diketahui kecuali dengan menuntut ilmu terlebih dahulu.

Selain mengenal Allah dan Rasul-Nya, seorang Muslimah juga wajib mengenal agama Islam sebagai agama yang dianutnya, dengan memperhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahihah, sehingga ia memiliki pendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing. Dan agar ia berada di atas cahaya, bukti, dan kejelasan dari agamanya.

Inilah masalah pertama yang disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bukunya Al Ushuluts Tsalatsah, yaitu berilmu sebelum beramal dan berdakwah.

Seorang Muslimah juga wajib membekali dirinya dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan, sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan tuntunan syariat.

Sebagai isteri, seorang Muslimah dituntut agar menjadi isteri yang shalihah, sehingga ia dapat menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suaminya. Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu 'anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang sifat-sifat wanita shalihah :

“… maka wanita shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.” (An Nisa’ : 34)

Maksud ayat ini diterangkan oleh Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan Asy Syaikh Salim Al Hilali rahimahumullah bahwa wanita yang shalihah adalah yang menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mentaati-Nya, mentaati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, dan menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta menjaga harta suami, anak-anak mereka, dan kehormatannya tatkala suaminya tidak ada.

Untuk menjadi wanita shalihah yang seperti ini, seorang Muslimah membutuhkan ilmu.

Sebagai seorang ibu, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Di bawah kepemimpinan suami, isteri adalah penjaga rumah tangga suami dan anak-anaknya, sebagaimana dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda :

“Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, maka setiap kalian adalah pemimpin, akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Hasil didikan seorang ibu terhadap anak-anaknya inilah yang termasuk perkara yang akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah Muslimah harus menuntut ilmu syar’i sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati karena keshalihan mereka.

Di tempat lain, bila seorang Muslimah belum menikah, maka sebagai anak ia wajib taat pada orang tuanya selama tidak memerintahkan kepada maksiat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya… .” (Al Ankabut : 8)

Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :

“Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh jiwa (tanpa hak), dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari)

Untuk dapat berbuat baik dan menunaikan hak-hak orang tua dengan benar, seorang Muslimah tidak bisa lepas dari ilmu.

Seluruh kewajiban ini harus dapat ditunaikan dengan dasar ilmu. Karena jika tidak, akan terjadi berbagai kesalahan dan kerusakan. Maka tidak heran, bila para Muslimah yang bodoh terhadap agamanya melakukan berbagai praktek kesyirikan dan kebid’ahan. Akibat kebodohannya pula, banyak Muslimah yang durhaka pada suami atau orang tuanya. Atau terjadi berbagai kesalahan dalam mendidik anak sehingga muncullah generasi yang berakhlak buruk, bahkan bisa jadi durhaka pada orang tua yang telah merawat dan membesarkannya. Karena kebodohannya pula, banyak Muslimah yang tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya, sehingga ia menjadi fitnah dan terjerumus dalam perzinahan dan berbagai kemaksiatan. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari yang demikian itu.

Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Aku berdiri di muka pintu Syurga, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin, sedang orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Dan ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka. Dan ketika aku berdiri di dekat pintu neraka, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya dengan menuntut ilmu, seorang Muslimah akan mengetahui jalan yang selamat. Kaum Muslimah masa kini akan menjadi baik bila mereka mau mencontoh para Muslimah generasi terdahulu (generasi salafuna shalih), mereka sangat memperhatikan dan bersemangat dalam menuntut ilmu.

Dalam sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Seorang wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berkata :

‘Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah membawa haditsmu, maka jadikanlah bagi kami satu harimu yang kami datang pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.’ Maka beliau bersabda : ‘Berkumpullah pada hari ini dan ini di tempat ini.’ Maka mereka pun berkumpul, lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendatangi mereka dan mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun sangat bersemangat mengajar para shahabiyah, sampai-sampai beliau menyuruh wanita yang haid, baligh, dan merdeka untuk menyaksikan kumpulan ilmu dan kebaikan. Bahkan beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memutuskan udzur wanita yang tidak memiliki hijab, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain dari Ummu ‘Athiyah Al Anshariyah radhiallahu 'anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyuruh kami mengeluarkan wanita yang merdeka, yang haid, dan yang dipingit untuk keluar pada hari Iedul Fithri dan Adha. Adapun yang haid memisahkan diri dari tempat shalat, dan mereka pun menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah! Salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau bersabda : ’Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.’ “

Oleh karena itulah, kita dapatkan dalam sejarah Islam, di antara mereka ada yang menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, sastrawati, dan ahli dalam seluruh bidang ilmu dan bahasa. Sebagai contoh, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu 'anha yang dididik dalam madrasah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sehingga beliau menjadi wanita yang berilmu dan shalihah.

Imam Az Zuhri rahimahullah berkata : ”Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dan dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka ilmu ‘Aisyah lebih afdhal.”

Bahkan ‘Aisyah merupakan guru dari beberapa shahabat, ia menjadi bahan rujukan mereka dalam masalah hadits, sunnah, dan fiqih. Urwah bin Az Zubair berkata : “Aku tidak melihat orang yang lebih mengetahui ilmu fiqih, pengobatan, dan syi’ir ketimbang ‘Aisyah.”

Para wanita dari kalangan tabi’in juga berdatangan ke rumah ‘Aisyah untuk belajar, di antara muridnya adalah Amrah bintu ‘Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah. Ibnu Hibban berkata : “Dia adalah orang yang paling mengetahui hadits-haditsnya ‘Aisyah.”

Di antara deretan nama wanita generasi terdahulu yang cemerlang dalam ilmu adalah Hafshah bintu Sirin yang masyhur dengan ibadahnya, kefaqihannya, bacaan Al Qur’annya, dan hadits-haditsnya. Begitu pula Ummu Darda Ash Shuqra Hujaimah, ia seorang yang faqih, ’alimah, banyak meriwayatkan hadits, cerdas, masyhur dengan keilmuan, amalan, dan zuhudnya.

Demikianlah --wahai saudariku Muslimah-- mereka adalah contoh terbaik bagi kita dan telah terbukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya :

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadilah : 11)

Semoga Allah memudahkan jalan bagi kita untuk menuntut ilmu dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Amin. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Maraji’ :

1. Al Qur’anul Karim

2. Inayatun Nisa’ bil Hadits An Nabawi. Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.

3. Nisa’ Haula Ar Rasul. Mahmud Mahdi Al Istambuli dan Musthafa Abu Nashr Asy Syalbi.

4. Riyadlus Shalihin. Imam Nawawi.

5. Bahjatun Nadhirin. Salim bin ‘Ied Al Hilali.

6. Aisarut Tafasir. Abu Bakar Jabir Al Jazairi.

7. Hasyiyah Ats Tsalatsah Al Ushul. Muhammad bin Abdul Wahhab.

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

Kategori: Artikel
Sumber: http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/ahlisurga.htm




Azhari Asri dan Redaksi
[MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini]

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, di antaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Di antara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13)

Wallahu A’lam Bis Shawab.

Senin, 25 September 2006

KEISTIMEWAAN SEORANG WANITA

Kategori: Sisi Keagungan Wanita
Sumber: Artikel yg dikirim oleh K`Diana ( Salah satu penghuni Pondok Muslimah )


1. Doa wanita lebih maqbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih
kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulallah s.a.w. akan hal
tersebut, jawab baginda: "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang
yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 orang lelaki yang soleh.

3. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

4. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh.

5. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama
orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s.w.t. dan orang yang
takutkan Allah s.w.t. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah)
lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah.
Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa
yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail
a.s.

7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan
kifarat (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari
pertama haidhnya membaca "Alhamdulillahi'alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah
Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon ampun kepada Allah
dari segala dosa."; maka Allah menetapkan dia bebas dari neraka dan dengan
mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari seksa, bahkan AllahTa'ala
mengangkatnya ke atas darjat, seperti darjatnya 40 orang mati syahid,
apabila dia selalu berzikir kepada Allah selama haidhnya.

8. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku
(Rasulullah s.a.w.) di dalam syurga.

9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan
atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ehsan
dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa
serta bertanggung jawab, maka baginya adala syurga.

10. Daripada Aisyah r.ha. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada
anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka merekaakan
menjadi penghalang baginya daripada api neraka."

11. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

12. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah
panggilan ibumu dahulu.

13. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu
neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang
dia kehendaki dengan tidak dihisab.

Wanita yang menjaga sholat, puasa dan taat pada suami, Allah akan mengizinkannya untuk memasuki syurga dari mana-mana pintu yang dia suka.


14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di
udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya
selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya (serta menjaga
sembahyang dan puasanya).

15. Aisyah r.ha. berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w. siapakah
yang lebih besar haknya terhadap wanita ?" Jawab baginda, "Suaminya" "Siapa
pula berhak terhadap lelaki ?" Jawab Rasulullah s.a.w. "Ibunya".

16. Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib
sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya,
maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.

17. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah
s.w.t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya(10,000 tahun).

18. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka
beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s.w.t.mencatatkan baginya
setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.


19. Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80
rakaat solat wanita yang tidak hamil.

20. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

21. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.

22. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah
s.w.t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah
s.w.t.

23. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan
setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

24. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada
dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.


25. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan
dikira sebagai mati syahid.

26. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu
badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang
diberikannya.

27. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2 1/2 tahun), maka
malaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajib
baginya.

28. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah
akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

29. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana
menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang
hamba.

30. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang
sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan
hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

31. Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah
mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu
kesalahannya,bahkan segala sesuatu yang disinari sang suria akan meminta
keampunan baginya, dan Allah mengangkatkannya seribu darjat untuknya.

32. Seorang wanita yang solehah lebih baik daripada seribu orang lelaki yang
tidak soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka
ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginyade lapan pintu
syurga, yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.

33. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

34. Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulanglah ia, disapukan
mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau merenung
ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan hidangan
padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya kerana
mencari keredhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah
ucapannya,tiap-tiap langkahnya dan setiap renungannya pada suaminya
sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak, Allah
kurniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas kurniaan rahmat
itu. Tiada seorang pun yang sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.

35. Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan
malamnya menggembirakan suaminya.

36. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suaminya melihat
isterinya dengan kasih sayang akan di pandang Allah dengan penuh rahmat.

37. Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun
solat.

38. Wanita yang melayan dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam
keadaan letih akan medapat pahala jihad.

39. Jika wanita memijit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas
dan jika wanita memijit suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.

40. Dari Hazrat Muaz : Mana-mana wanita yang berdiri atas dua kakinya
membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh
api,maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.

41. Thabit Al Banani berkata: Seorang wanita dari Bani Israel yang buta
sebelah matanya sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia
menghidangkan makanan dihadapan suaminya, dipegangnya pelita sehingga
suaminya selesai makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan sumbu, maka
diambilnya rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada keesokkannya matanya yang
buta telah celik. Allah kurniakan keramat (kemuliaan pada perempuan itu
kerana memuliakan dan menghormati suaminya).

42. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah s.a.w. keluar mengiringi
jenazah. Baginda dapati beberapa orang wanita dalam majlis itu. Baginda lalu
bertanya, "Adakah kamu menyembahyangkan mayat ?" Jawab mereka,"Tidak" Sabda
Baginda, "Seeloknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala
bagi kamu.
Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami nIscaya pahalanya
sama dengan ibadat-ibadat orang lelaki.

43. Wanita yang memerah susu binatang dengan 'Bismillah' akan didoakan oleh
binatang itu dengan doa keberkatan.

44. Wanita yang menguli tepung gandum dengan 'Bismillah', Allah akan
berkatkan rezekinya.

45. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti
meyapu lantai di Baitullah.

46. "Wahai
Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika
membuat roti, Allah akan mebinakan 7 parit diantara dirinya dengan api
neraka, jarak diantara parit itu ialah sejauh langit dan bumi."

47. "Wahai
Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan
mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang yang dibuat dan
memadamkan seratus perbuatan jahat."

48. "Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam akan benang
dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khas untuknya di atas takhta
di hari akhirat."

49. "Wahai
Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya,
menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah
akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan
memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat dan menjadikan dirinya
kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya."

50. Sabda Nabi s.a.w.: "Ya
Fatimah barang mana wanita meminyakkan rambut dan
janggut suaminya, memotong misai dan mengerat kukunya, Allah akan memberi
minum akan dia dari sungai sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul
maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman daripada taman-
taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka dan
selamatlah ia melintas Titian Shirat."


Begitu istimewanya seorang yang bernama wanita.