Jumat, 08 September 2006

SALON KHUSUS MUSLIMAH

sebagai ummat Islam, kita di tuntut utk menjadi hamba yang bersih, yg cantik dari segi penampilan dan tentunya cantik yg sederhana, bukan yg berlebih lebihan
Bahkan Islam menganjurkan di saat hendak mengerjakan ibadat, supaya berhias diri disamping menjaga kebersihan dan kesucian tempat maupun pakaian.seperti dlm firman Allah di surat al a'raaf : 31, pakailah pakaianmu yg bersih pada saat ke masjid. Bila Islam sudah menetapkan hal-hal yang indah, baik bagi laki-laki maupun wanita.maka terhadap wanita, Islam lebih memberi perhatian dan kelonggaran, karena fitrahnya, sebagaimana dibolehkannya memakai kain sutera dan perhiasan emas, dimana hal itu diharamkan bagi kaum laki-laki.

Salon adalah salah satu bentuk jasa yang tujuannya adalah memperbagus dan mempercantik penampilan pisik seseorang.Dan bila salon khusus wanita, tentunya para pekerjanya adalah wanita,dan begitu juga dengan konsumennya. Sehingga tidak ada masalah dalam melihat aurat atau memegang rambut dan kepala.
Sedangkan yang perlu diperhatikan dalam mengelola salon adalah hal-hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW untuk melakukannya.
Karena bila memang termasuk praktek yang dilarang, maka bentuk usaha itupun juga tidak halal dan berpengaruh juga pada kehalalan uang yang dihasilkan.
Hal hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Pewarna Rambut (hitam)
Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban.
ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya,dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin seperti hadits yg di riwayatkan Abu Huraurah ra
agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin (Riwayat Bukhari)
Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar,Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.
Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu?
Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam?
bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya, maka bersabdalah nabi : `Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.` (Riwayat Muslim)
Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam.
Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: `Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda,tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.` Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain. Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.
seperti hadits yang diriwayatkan Abu Dzar
`Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.` (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)
Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan. Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.
`Sesungguhnya sebaik-baik alat yang kamu pergunakan untuk mengubah warna ubanmu adalah hinna` dan katam` (HR at-Tirmidzi dan Ashabus Sunnan)
Hinna` adalah pewarna rambut berwarna merah sedangkan katam adalah pohon Yaman yang mengeluarkan zat pewarna hitam kemerah-merahan.
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.
`Sesungguhnya sebaik-baik alat yang kamu pergunakan untuk mengubah warna ubanmu adalah hinna` dan katam` (HR at-Tirmidzi dan Ashabus Sunnan)
`Sesungguhnya sebaik-baik alat yang kamu pergunakan untuk mengubah warna ubanmu adalah hinna` dan katam` (HR at-Tirmidzi dan Ashabus Sunnan)
Hinna` adalah pewarna rambut berwarna merah sedangkan katam adalah pohon Yaman yang mengeluarkan zat pewarna hitam kemerah-merahan.
2. Memakai rambut palsu atau menyambung rambut
Termasuk perhiasan perempuan yang terlarang ialah menyambung rambut dengan rambut lain, baik rambut itu asli atau imitasi seperti yang terkenal sekarang ini dengan nama wig.
Dari riwayat Said bin Musayyab, salah seorang sahabat Nabi saw. ketika Muawiyah berada di Madinah setelah beliau berpidato, tiba-tiba mengeluarkan segenggam rambut dan mengatakan, `Inilah rambut yang dinamakan Nabi saw. Azzur yang artinya atwashilah (penyambung), yang dipakai oleh wanita untuk menyambung rambutnya, hal itulah yang dilarang oleh Rasulullah saw.
Dan tentu hal itu adalah perbuatan orang-orang Yahudi.
Bagaimana dengan Anda, wahai para ulama, apakah kalian tidak melarang hal itu? Padahal aku telah mendengar sabda Nabi saw. yang artinya, `Sesungguhnya terbinasanya orang-orang Israel itu karena para wanitanya memakai itu (rambut palsu) terus-menerus`.` (H.r. Bukhari).
Imam Bukhari meriwayatkan dari jalan Aisyah, Asma`, Ibnu Mas`ud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah sebagai berikut:
`Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.`
3. Merias dengan riasan yang bertentangan dengan batasan Islam.
Seperti bedak tebal dan gincu merah menyala yang membangkitkan syahwat laki-laki. Begitu juga dengan pakaian yang tidak menutup aurat dan baju yang ketat mencetak bentuk tubuh.
4. Membuat tahi lalat palsu, memangkur gigi dan memotong alis
Salah satu cara berhias yang berlebih-lebihan yang diharamkan Islam, yaitu mencukur rambut alis mata untuk ditinggikan atau disamakan
Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, seperti tersebut dalam hadis:
`Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.` (Riwayat Abu Daud, dengan sanad yang hasan. Demikian menurut apa yang tersebut dalam Fathul Baari)
Sedang dalam Bukhari disebut:
Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang minta dicukur alisnya.
5. Pakaian Wanita Menyerupai Laki-laki dan Sebaliknya
Rasulullah s.a.w. pernah mengumumkan, bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki dilarang memakai pakaian perempuan
Disamping itu beliau melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.
Termasuk diantaranya, ialah tentang bicaranya, geraknya, cara berjalannya, pakaiannya, dan sebagainya
Sejahat-jahat bencana yang akan mengancam kehidupan manusia dan masyarakat, ialah karena sikap yang abnormal dan menentang tabiat.
Sedang tabiat ada dua:
tabiat laki-laki dan tabiat perempuan.Masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri.
Rasulullah s.a.w. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambutnya juga oleh Malaikat, diantaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan; dan yang kedua, yaitu perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadis Riwayat Thabarani).

Pemateri: septina_h

Selasa, 27 Juni 2006

Melacak Karakter Istri Sholihah dalam Al Qur'an

Oleh : Ustd. Adi J. Mustafa
(Senin, 26 Juni 2006)

Makalah singkat ini menyajikan beberapa karakter perempuan sholihah yang diungkapkan beberapa ayat al-Quran. Pengungkapan ayat-ayat ini dikaitkan dengan upaya pembangunan keluarga yang diliputi suasana tentram, cinta kasih dan sayang atau keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (samara) sebagaimana diungkapkan pada ayat:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)

Ayat-ayat yang digunakan sebagian terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai istri. Sebagian ayat lain tidak terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai istri, akan tetapi bila kita telusuri lebih jauh, ayat-ayat ini berkaitan secara tidak langsung dengan posisi istri, semisal pengungkapan ayat-ayat terkait kisah Ratu Bilqis pada surat an-Naml atau ayat-ayat yang menggambarkan sifat para bidadari di surga. Insya Allah ayat-ayat ini akan diungkapkan dalam kerangka mengungkapkan karakter istri sholihah.

Untuk memudahkan pengkajian, penulis mengelompokkan ayat-ayat untuk menggambarkan karakter istri sholihah dalam tiga profil, yaitu:

Profil Kekasih
Profil Ibu
Profil Sahabat

1. Profil Kekasih

1.1. Taat kepada Allah

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. 66:5)

Menurut Muhammad Qutb, secara khusus ayat di atas merupakan pembelajaran bagi istri-istri Nabi, tentang makna kemuliaan sebagai istri di hadapan Allah swt. Akan tetapi orang beriman mendapatkan limpahan kerunia karena dapat mengambil pelajaran berharga dari pengajaran Allah ini.

Seorang perempuan sholihah itu pertama kali disifati dengan karakter ketaatannya kepada Allah swt. Mengapa kita menempatkan ketaatan kepada Allah ini sebagai karakter utama seorang kekasih? Jawabannya karena sebagai kekasih seorang itu mesti memelihara kecantikannya. Dan kecantikan hakiki seorang perempuan itu adalah pada ketaatan kepada Allah swt. Ini adalah puncak kecantikan batin, sebagaimana digambarkan Ibnul Qayyim. Dan kecantikan batin ini akan memperindah dan menyempurnakan kecantikan lahir.

Ketaatan kepada Allah diwujudkan dalam keimanan dan mewujudkan keyakinannya ini dalam amal perbuatan, taat terhadap semua aturan yang Dia tetapkan bagi perempuan muslimah, yang cepat menyadari kekeliruan dengan bertaubat, yang rajin beribadah, berpuasa dan senantiasa menjelajah kerajaanNya, ciptaanNya dan tanda-tanda keesaanNya dan kebenaran pengaturanNya di alam semesta. Inilah cakupan yang amat menyeluruh dari sifat keislaman bagi muslimah sholihah.

Diantara ketaatan praktis kepada Allah swt yang saat ini banyak ditinggalkan perempuan muslimah adalah berbusana menutup aurat (QS an Nuur:31 dan al-Ahzab:59). Ini merupakan fitnah yang amat serius, sebab Rasulullah saw pernah menegaskan,”Orang-orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang, meliuk-liukan badannya dan rambutnya disasak, mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan mencium baunya surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak amat jauh.” (HR. Muslim)

1.2 Taat kepada Suami

Perempuan yang sholihah, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri 289 ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) 290 (QS. 4:34)

289: Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

290: Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

Rasulullah saw menyampaikan,”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya,dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilakan kepadanya: masuklah ke Surga dari pintu mana yang kamu suka." (HR Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ahmad dan Thabrani, Albani menyatakan keshahihannya).

Pada pengajarannya yang lain, Rasulullah saw berkata,”Perempuan mana saja yang meninggalkan dunia sementara suaminya meridhainya pasti masuk Surga." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sebaliknya kedurhakaan kepada suami akan mendatangkan kutukan dari Allah, para malaikat dan segenap manusia. Cukuplah pelajaran yang terdapat pada surat at-Tahrim menjadi peringatan bagi kaum muslimah.

Diantara sikap taat para istri kepada para suami adalah meminta ijin kepada suami jika hendak keluar rumah (tidak keluar rumah kecuali dengan ijin suami), tidak meminta bercerai tanpa alasan yang dibenarkan syariah, menjaga kesopanan dan kehormatan saat keluar rumah, tidak mengeraskan suara melebihi suami, tidak membantah suaminya dalam kebenaran, dan tidak menerima tamu yang dibenci suaminya ke dalam rumah, apalagi bermesraan dengan lelaki lain.

1.3. Lembut dan Pemalu

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami" … (QS. 28:25)

Al Quran yang merupakan kalam Allah tak pernah menyampaikan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula dengan disampaikannya sifat malu-malu pada ayat di atas, tentulah tersimpan hikmah untuk menggambarkan kemuliaan sifat perempuan.

Malu sendiri adalah bagian dari iman. Bahkan sebuah hadits pada Kumpulan 40 Hadits an-Nawawiy mengungkapkan: “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.” Penafsiran hadits ini paling tidak ada dua. Pertama, malu menjadi parameter apakah sebuah perbuatan layak dilakukan atau tidak. Kedua, orang yang rendah rasa malunya, akan melakukan apapun yang dia mau.

Sifat pemalu ini menunjukkan kemuliaan dan penjagaan kemuliaan dirinya. Bahkan sifat sopan dan pemalu ini dijadikan daya tarik pada bidadari, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat berikut:

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya …(QS. 55:56)

Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka ni'mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. (QS. 55:70-72)

1.4. Pencinta

Rasulullah saw bersabda,”Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang shalihah.” (HR Muslim). Kata perhiasan terkait dengan makna keindahan. Seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya. Isyarat tentang para bidadari menggambarkan keindahan dan keadaan penuh cinta pada mereka.

Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (QS. 56:22-23)

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung 1452, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (QS. 56:35-37)

1452: Maksudnya mereka diciptakan tanpa melalui kelahiran dan menjadi gadis.

Rasulullah saw mengisyaratkan keadaan istri terbaik,”Istri yang paling baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan; Bila menyuruhnya, mentaatinya.; Bila sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya." (HR An-Nasai dan dishahihkan oleh al-Iraqi).

Istri shalihah senantiasa menyenangkan hati suaminya dan menjaga suasana mesra tetap bersemi dalam keluarga. “Sesungguhnya apabila seorang suami menatap istrinya dan istrinya membalas pandangan (dengan penuh cinta kasih), maka Allah menatap mereka dengan pandangan kasih sayang. Dan jika sang suami membelai tangan istrinya, maka dosa mereka jatuh berguguran di sela-sela jari tangan mereka." (HR Maisaroh bin Ali dari Abu Said bin al-Khudri).

Saat ini para suami dihadapkan pada godaan besar di sisi hubungan intim pria-wanita. Banyak perempuan yang secara sadar atau tidak telah menjadi penggoda kaum pria baik langsung ataupun tak langsung. Maka menjadi salah satu tanggung jawab mulia bagi para istri untuk membantu para suami mencurahkan cinta mereka pada sesuatu yang halal. Di sinilah makna larangan bagi para istri menolak ajakan para suami, seperti tercatat dalam pengarahan Rasulullah saw berikut ini:

“Bila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak sehingga suaminya semalaman marah kepadanya, maka malaikat mengutuknya hingga pagi." (Muttafaqun alaihi)

Jadi hadits ini mesti ditempatkan dalam kerangka menjaga hubungan mesra dan cinta; Bukan menempatkan perempuan dalam posisi tertekan dan terpaksa dalam menjalankan hubungan intim suami-istri.

2. Profil Ibu**

2.1. Memiliki Visi Pendidikan untuk Mengabdi kepada Allah

Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk". (QS. 3:35-36)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. 46:15)

Ayat-ayat di atas mengajarkan agar para Ibu muslimah menjadikan visi terbesar pendidikan anak untuk menjadikan mereka para hamba Allah yang senantiasa berkhidmat kepada Allah swt. Kesuksesan utama orang tua dalam pendidikan anak adalah manakala mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur kepada Allah.

Sikap syukur ini menyiratkan kebaikan-kebaikan mereka terhadap sesama manusia. Sebab syukur dalam makna yang luas berarti memanfaatkan segala kebaikan Allah swt untuk mentaatiNya. Artinya berbagai perbuatan kebajikan adalah perwujudan terima kasih kita kepada Allah. Dalam kerangka berpikir ini kita menemukan pentingnya pendidikan bagi anak, sebab pendidikan lah yang akan membuat seorang manusia memiliki karakter atau akhlak mulia.

Untuk itu seorang Ibu dituntut melengkapi wawasan dan pengetahuannya untuk mendidik anak-anak. Diantara pengetahuan mendasar bagi anak-anak adalah:

§ Dalam sisi keagamaan: tilawah Quran (serta pemahamannya pada hal-hal mendasar) dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya ra. Pengetahuan dasar keagamaan ini akan menjadi fondasi bagi kekokohan aqidah dan akhlak.

§ Dalam sisi pengetahuan dan keterampilan umum: komunikasi-berbahasa (termasuk sastra), logika-matematika, pengetahuan sejarah dan musik-bernyanyi.

2.2. Memiliki Keyakinan Kuat terhadap Janji Allah

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS. 28:7)

Dalam menghadapi berbagai tantangan jaman, seorang Ibu mesti senantiasa optimis, bahwa Allah akan menolong mereka mendidik anak-anaknya menjadi manusia berguna di masa depan. Sikap teguh Ibunda Nabi Musa sebagaimana digambarkan pada surat al-Qashash menjadi teladan utama dalam bersikap yakin akan bantuan Allah swt ini.

Ibu Musa ditakdirkan melahirkan anaknya dalam kondisi amat berat, yaitu ketika Firaun, penguasa yang amat zhalim saat itu, mengeluarkan perintah untuk membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil, karena alasan ketakutan akan runtuhnya kerajaannya. Akan Allah swt memerikan keteguhan kepada Ibu Musa dan dengan dibantu oleh kakak perempuan Musa, Ibu Musa berhasil melalui masa-masa sulit tersebut untuk melindungi dan memelihara Musa.

Kisah di atas menjadi pelajaran berharga bagi para ibu muslimah. Saat ini tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak-anak amat besar. Kita dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mendidik anak-anak, mulai dari seleksi pendidikan yang berkualitas, tantangan finansial, tantangan lingkungan hingga tantangan pada diri kita sendiri. Untuk tantangan lingkungan, kita menyaksikan banyaknya “polusi” berita dan informasi tentang kekerasan atau tindakan a-susila baik dalam bentuk tulisan ataupun tayangan-tayangan audio visual.

Dalam kondisi ini peran para Ibu amatlah besar untuk menjaga anak-anak agar tumbuh pada fitrah kesuciannya. Modal paling besar bagi para Ibu adalah kedekatan dengan Allah swt, memahami pengarahan (taujih) dan pengajaran dari Allah swt melalui al-Quran dan sunnah NabiNya. Untuk itu para Ibu hendaknya senantiasa mengadakan pengkajian yang mendalam terhadap dua sumber utama ajaran Islam ini

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. 33:34)

2.3. Penuh Suka Cita dalam Mendidik

Dan berkatalah istri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa'at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari. (QS. 28:9)

Sikap kasih sayang kepada anak-anak adalah fitrah yang Allah berikan kepada para Ibu untuk mendidik anak-anak mereka. Selama fitrah ini terjaga baik, seorang Ibu akan menjadikan perhatian pada anak sebagai perhatian terbesar dalam hidupnya. Kisah jatuh cintanya Asiyah istri Firaun kepada bayi Musa diabadikan al Quran untuk menggambarkan fitrah ini. Padahal Musa bukanlah anak kandungnya sendiri. Hendaknya sikap kasih sayang ini terus menyertai proses pendidikan anak.

Satu tantangan yang dihadapi para Ibu masa kini adalah tarikan untuk berkarir dan mencari penghasilan yang besar. Tarikan ini terjadi karena struktur sosial-ekonomi-masyarakat yang “memaksa” sebagian ibu-ibu untuk bekerja mencari nafkah. Padahal di dalam ajaran Islam, kewajiban mencari nafkah ini ada pada pundak para bapak. Motivasi lain adalah karena adanya kelemahan pola hubungan suami-istri. Sebagian istri merasa khawatir dirinya direndahkan oleh suami apabila tidak memiliki penghasilan sendiri. Tentu saja kondisi ini pun tidak seharusnya terjadi dalam keluarga muslim, sebab ajaran Islam telah memerintahkan para suami untuk bersikap kasih sayang dan adil dalam memimpin rumah tangga. Yang patut diwaspadai adalah ketika kaum perempuan justru sangat menikmati karirnya, sehingga meletakkan masalah pendidikan dan kasih sayang kepada anak pada prioritas ke sekian dibandingkan karirnya. Bahkan misalnya pada sebagian kalangan perempuan ada pandangan bahwa memiliki anak itu akan mengganggu karir mereka.

3. Profil Sahabat (Mitra)

3.1. Pencari Kebenaran

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat 1462. (QS. 58:1)

1462: Sebab turunnya ayat ini adalah berhubungan dengan persoalan seorang wanita yang bernama Khaulah binti Tsa'labah yang telah didzihar oleh suaminya Aus bin Shamit, yaitu dengan mengatakan kepada isterinya: "Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku", dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyah kalimat seperti itu sudah sama dengan menthalak isteri. Maka Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan dari Allah. Dan pada riwayat yang lain, Rasulullah saw mengatakan: "Engkau telah diharamkan bersetubuh dengan dia". Lalu Khaulah berkata: "Suamiku belum menyebut kata-kata thalak". Kemudian Khaulah berulang-ulang mendesak Rasulullah saw agar menetapkan suatu keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turunlah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya.

Seorang muslimah hendaklah terus bersemangat mencari dan menegakkan kebenaran sebagaimana ditunjukkan pada contoh sahabiyah Khaulah binti Tsalabah ini. Dengan demikian ia akan menjadi partner diskusi yang handal bagi suaminya.

3.2. Memiliki Kriteria Tepat tentang Pendamping Hidup

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28:26)

Menilik ayat di atas, sepertinya karakter ini berlaku bagi mereka yang belum menikah. Ayat di atas mengungkapkan kalimat putri seorang yang sholih di negeri Madyan, negeri tempat Musa muda melarikan diri dari kejaran Firaun. Sebagian penafsir mengatakan orang sholih ini adalah Nabi Syu’aib as. Begitulah gambaran seorang gadis yang cerdas dan sholihah menginterpretasikan sifat baik seorang pemuda. Ia tempatkan gejolak curahan hatinya mencari pasangan hidup, sekaligus melindungi posisinya dari kemestiannya bekerja dengan saudara perempuannya, karena sang ayah telah lanjut usia. Sang ayah pun memahami rahasia yang disembunyikan anak gadisnya. Setelah berbincang dengan Musa, ia menawari Musa untuk bekerja di tempatnya, dan ia berjanji akan menikahkan Musa dengan putrinya (kisah ini ada pada rangkaian ayat di atas, sebelum dan sesudahnya)

Akan tetapi bagi para muslimah yang telah menikah pun kisah di atas mengungkap pelajaran berharga. Perhatikanlah, perempuan sholihah meletakkan parameter lahir dan batin secara seimbang dalam berinteraksi dengan pasangan hidupnya. Maka semestinya apresiasi seorang istri kepada pasangannya pun selalu seimbang diantara sisi fisik dan psikis. Dalam kehidupan berumah tangga ini dapat diterjemahkan dalam bentuk perhatian pada pola makanan, pola istirahat, olah raga dan juga pada pola pendidikan serta pola ibadah ritual yang senantiasa mewarnai kehidupan suami-istri. Semakin panjang usia pernikahan, semakin terasa kebutuhan untuk saling mengingatkan dalam menjaga kondisi prima fisik dan psikis.

3.3. Kesetaraan di Hadapan Allah

Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam". (QS. 27:44)

Ketika Ratu Balqis telah menyaksikan kerajaan besar yang Allah karuniakan kepada Nabi Sulaiman as dan mengetahui siapakah yang benar-benar harus disembah di muka bumi ini, sadarlah ia bahwa ternyata perbuatannya dan kaumnya (di antaranya menyembah matahari) adalah perbuatan yang zhalim. Akan tetapi perhatikanlah, Ratu Bilqis tidak pernah menyatakan ketundukan kepada Sulaiman. Yang ia ucapkan adalah bahwa ia bersama Sulaiman tunduk patuh, berserah diri kepada Allah swt.


Dari ayat ini kita mendapatkan taujih Rabbani (pengarahan Ilahi), bahwa kedudukan kaum perempuan dan kaum lelaki di hadapan Allah swt itu sama, yaitu sebagai hamba. Islam telah memuliakan kedudukan kaum perempuan. Untuk itu kaum muslimah hendaknya senantiasa menjaga kemuliaan ini dan bahu-membahu bersama para suami mereka dalam menegakkan kebenaran.

3.4. Berkontribusi Aktif dalam Kerja Sosial dan Da’wah

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min 1219, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 33:35)

1219: Yang dimaksud dengan "orang muslim" di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud "orang yang mu'min" di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain 259. (QS. 3:195)

Sebab turunnya dua ayat di atas terkait langsung dengan kehidupan para muslimah di masa kehidupan Nabi Muhammad saw. Ayat pada surat al Ahzab turun karena adanya ucapan Ummu ‘Imarah al-Anshari kepada Rasulullah saw,”Kami menyaksikan segala sesuatu (terkait ajaran Islam) hanya bagi lelaki dan kami tidak melihat kaum perempuan disebut-sebut.” (diriwayatkan at-Tirmidzi melalui Ikrimah). Atau melalui Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa para muslimah berkata kepada Nabi saw,”Ya Rasulullah, mengapa hanya disebutkan kaum beriman lelaki dan tidak disebutkan kaum beriman perempuan?” (diriwayatkan ath-Thabrani). Sedangkan pada riwayat lain dikabarkan bahwa para muslimah menanyakan mengapa hanya para istri Nabi yang disebutkan. Mereka berkata,”Kalaulah pada kami ada kebaikan, tentu kami disebutkan.” Maka Allah swt menurunkan ayat di atas. (diriwayatkan Ibnu Sa’ad dari Qatadah)

Adapun untuk ayat pada akhir surat Ali ‘Imran, diriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata,”Ya Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan dalam peristiwa Hijrah sedikitpun.” Maka Allah swt menurunkan ayat tersebut. (diriwayatkan oleh Abdur Razaq, Said bin Manshur, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Abi Hatim).

Setelah kita ketahui konteks sosial sebab turunnya, ayat-ayat di atas semakin meneguhkan adanya peran sosial dan da’wah yang penting dari kaum perempuan sejak masa pertama turunnya ajaran Islam. Ini berlaku bagi semua perempuan. Mereka tidak kalah dengan kaum lelaki dalam melakukan seluruh aktifitas kehidupan, mulai yang sifatnya ibadah ritual hingga aktifitas sosial dalam rangka memperbaiki kondisi masyarakat.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.




Beberapa Buku Bacaan

Aisyah Abdurahman, Istri-istri Nabi saw., Pustaka Mantiq, 1988
Abu Mohd Rosyid Ridho, Wanita Sholihah: Ciri-ciri dan Fungsinya, Hikmah, Medan, 1985
Ibnu Ahmad Dahri, Peran Ganda Wanita Modern, Pustaka al-Kautsar, 1991
Ibnul Qayyim, Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.
Ibrahim bin Shalih al-Mahmud, Kiat Hidup Bahagia dengan Suami Anda, Firdaus, 1992
Khairiyah Husain Thaha, Konsep Ibu Teladan: Kajian Pendidikan Islam, Risalah Gusti, 1992
Muhammad Qutb, Figur Wanita Sorga dan Neraka, Penerbit Amarpress, 1987
As-Suyuthi, Asbabun Nuzul.

** Sebetulnya istri sholihah dalam profil ibu memiliki dimensi lain daripada apa yang disampaikan makalah ini, yaitu secara kejiwaan seorang istri memberikan ketentraman bagi suami, laksana seorang ibu kepada anaknya. Ada pembahasan menarik dari Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman tentang suasana kejiwaan Muhammad bin Abdullah saw di masa anak-anak dan remajanya yang telah ditinggal wafat ibunya pada usia 6 tahun. Suasana kejiwaannya merindukan seseorang yang bisa memberikan ketentraman bagai seorang ibu baginya. Allah swt Maha Pengasih, dengan takdir-Nya yang penuh hikmah, Muhammad pun dipertemukan dengan Khadijah. Pernikahannya dengan Khadijah, seorang perempuan yang matang jiwanya serta penuh kelembutan, seolah merupakan jawaban bagi Muhammad yang telah ditinggalkan ibunya sejak masa anak-anak. Ya ... dari Khadijah ini, Muhammad mendapatkan sentuhan lembut laksana seorang ibu, yang terus memberikan kasih sayang dan dukungan. Bahkan dukungan Khadijah ini semakin besar dan berarti ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasul Allah. Demikian kurang lebih kupasan Prof. Aisyah pada bab yang menerangkan profil Khadijah ra sebagai istri dalam buku "Istri-istri Nabi saw".

Sumber : http://adijm.multiply.com/journal/item/65

Minggu, 25 Juni 2006

Taujih Online Tentang "Fikih Nikah"

Ada acara bagus nih. Sayang klo dilewatkan .

Buat para muslimah yang belum menikah ..
belum ada keinginan utk menikah ?
atau ..
Ingin nikah, tapi belum tahu persiapan2 apa yg harus dilakukan?

Hmm..
Apa sih hukumnya Nikah?
Bagaimana sih sebenarnya proses pernikahan yang islami?
Persiapan2 apa aja sih yang harus dilakukan untuk menuju pernikahan yang barakah ?

Trus..trus..
Buat para Mba2..Ibu2...yang sudah menikah..
bagaimana tips2 membina rumah tangga agar sakinah, mawaddah warahmah..?

Yuukk..Dengerin Taujih On Line Divisi Dakwah Fahima yang Insya Allah dilaksanakan pada :

  • Hari/Pukul : Rabu, 28 Juni 2006/ 20.30- 22.30 JST
    (jam 18.30-20.30 WIB)
  • Tema : Fikih Nikah/Fiqh Munakahat
  • Muwajih/Pembicara : Ustzh. Fathiya Khatib, LC, MA
  • Tempat : RadioTarbiyah
    (http://www.radiotarbiyah.net/listen.pls)


Silahkan sahabat informasikan undangan ini ke saudari muslimah lainnya.
Jazakumullahu khairan katsiran

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Divisi Dakwah FAHIMA

CV Pembicara

Nama : Ustadzah Fathiya Khatib,LC,MA
Pendidikan :
S1 :
  • Islamic Studies, University of The Punjab Lahore Pakistan (1992)
  • Faculty Ushuluddin, International Islamic University Islamabad Pakistan (1993)

S2 :
  • Islamic Studies, Salafiyah University Faisal Abad, Pakistan (1996)
  • Tafsir Hadits, International Islamic University Islamabad, Pakistan (1998)

Senin, 12 Juni 2006

Tentang Kajian Muslimah

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, Kajian Muslimah yang diselenggarakan secara online telah berlangsung 2 tahun lebih sejak pembukaan perdananya sekitar awal Februari 2005.

Kajian Muslimah adalah salah satu program dari Divisi Kewanitaan Indonesian Muslim Blogger (disingkat IMB). Berawal dari berdirinya IMB pada 16 September 2004, para muslimblogger yang memasang fasilitas Yahoo Messenger seringkali 'berkumpul' di sebuah conference room, berdiskusi masalah blog, diskusi masalah keislaman, ataupun membahas berita-berita yang sedang hangat di tanah air dan internasional.

Muslimblogger yang ikut berdiskusi saat itu terdiri dari ikhwan dan akhwat. Adakalanya dari kalangan akhwat ada ingin yang bertanya tentang masalah kewanitaan. Tetapi seringkali merasa canggung menyampaikannya di hadapan peserta diskusi yang di dalamnya juga terdapat banyak ikhwan. Akhirnya...tercetuslah ide untuk membuat conference room khusus akhwat dengan tema-tema diskusi (utama) adalah masalah kewanitaan.

Dan...terbentuklah Kajian Muslimah
ini pada awal Februari 2005 (sayang sekali tanggal persisnya lupa ) dipunggawai antara lain oleh Mbak Septina, Elah, Nur, Vita, Yentri, dan Hanum. Di awal-awal terbentuknya, Kajian Muslimah diadakan setiap hari kerja! dari Senin s/d Jum'at setiap ba'da Dhuhur hingga Asar menjelang. Demi kerapihan organisasi serta agar kajian lebih terfokus, sedikit demi sedikit diadakan perubahan. Jadwal kajian dikurangi, menjadi tiga kali seminggu dengan jam yang sama, hingga akhirnya sekarang terbentuk format baru : kajian dua kali seminggu, setiap Senin dan Kamis jam 13.00 - 15.00 WIB. Dan demi ketertiban serta keseriusan kajian, ditunjuklah seorang pemateri didampingi oleh seorang moderator dalam setiap kajian.

Akhwat yang berperan sebagai moderator tetap saat ini adalah Devi, Ica, Putri, dan Nora, serta dikomandani oleh Ummi Nida sebagai PJ. Bila ingin ikut serta dalam Kajian Muslimah, silahkan menghubungi beliau-beliau ini .

Semoga diadakannya Kajian Muslimah yang bertujuan untuk menambah wawasan serta keimanan muslimah mendapatkan kemudahan dan ridho dari-Nya. Amin.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Minggu, 02 April 2006

Tentang Kesendirian bagi seorang muslim

ustadzah : ummu_fatih

Tentu diantara kita, seringkali merasa sendiri, apalagi bila sdg ditimpa suatu persoalan kesedihan, masalah dgn teman, saudara. Seringkali perasaan kesendiriannya ini menjadi begitu berlarut2...bahkan bisa mencapai timbulnya rasa putus asa. Bagi seorang muslim, logika kesepian tidak boleh sampai menyentuh sisi2 keimanannya. Meski secara fisik, secara sosial, kesendirian itu bisa menjadi benar-benar terjadi. Namun seorang muslim tidka hanya melihat dgn mata kepala saja. Sebab alat perasa seorang mukmin bukan panca indra belaka Ada mata hati, ada iman, ada keyakinan, ada pengharapan kepada Allah dan yang pasti tentunya adanya kerinduan akan surga yg abadi.
Ada banyak makna yg bisa kita renungkan, yg menunjukkan bahwa betapa seorang mukmin, tidak boleh merasa sendirian.

1. Kita tidak sendiri, ada Allah SWT bersama kita.
Ini sangat prinsip. Bahkan intinya.
Ada Allah tempat kita mengadu, menyerahkan segala jerih payah kita.
Sesulit apapun masalah yg kita hadapi, kita tidak boleh berputus asa. Ada Allah..
Sebaliknya, semeriah apapun kesenangan yg kita peroleh, jangan lupa diri...ada Allah Yang Maha Pemberi Karunia.
Firman ALlah SWT dalam Q.S> Al-An'am , 16.
"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan DIa sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu."Menghadirkan keberadaan ALlah (bhs kerennya...Maiyatullah..) adalah obat kesendirian yang sangat mujarab.
Mungkin terlihat terlalu teoritis...namun begitulah adanya.
Bila segala materi, daya dukung hidup benar2 buntu, percayalah masih ada Allah Yang Maha Perkasa.
Jika semua ikhtiar manusiawi telah diledakkan hingga ke urat2nya, percayalah..masih ada Allah Yang Maha Kaya...Karenanya ada seorang ulama Mesir pernah mengatakan...sebenarnya masalah hidup hanya satu (menjawab pertanyaan murid2 ttg bgm menyikapi masalah2 hidup)
Masalah kita dalam hidup ini adalah...bagaimana bila kita tidak sampai masuk surga???
Alangkah dalamnya ucapan itu. Bukan berarti hiduo ini tidak ada masalah
Tapi, ada masalah yg sangat utama yg akhirnya kelak akan melupakan masalah2 duniawi itu.
Untuk itulah, ditengah2 masalah yg mendera, belum kabulnya keinginan dan harapan2 kita, ditengah2 ketidakberdayaan kita...masih ada Allah Yang Maha Penolong.
ummu_fatih: Tentu ini hanya rumusnya seorang muslim.
ummu_fatih: Karenanya, dalam banyak ayat Allah mengingatkan kita tentang saat-saat dimana manusia harus bertekuk lutut di hadapan kekuasaan Allah.
ummu_fatih: FirmanNya dalam Q.S. An-Naml : 63-64
i"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang dalam kesulitan apabila ia berdo'a padaNya
dan yang menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu, manusia sebagai khalifah di bumi?
Apakah disamping Allah ada tuhan yang lain? Amat sedikitlah kamu mengingatNya.."
luckycantik has left the conference.

luckycantik has joined the conference.

luckycantik has joined the conference.

ummu_fatih: Yah..firman Allah dalam ayat di atas menjadi jawaban bagi seorang muslim yg berputus asa terhadap pertolongan Allah...Astaghfirullah...
ummu_fatih: Ternyata seorang mukmin tidak pernah merasa sendiri. Apapun situasi yg ia hadapi...bersama Allah ada kekuatan..
luckycantik has left the conference.

ika_nursila has joined the conference.

betma_1999 has left the conference.

betma_1999 has joined the conference.

luckycantik has joined the conference.

Yahoo! Messenger: sherly_sr has declined to join and sent: No, thank you.
ceceti has left the conference.

y4t12002 has joined the conference.

ummu_fatih: 2. Kita tidak sendiri, ada orang-orang mukmin yang lain.
alifia6 has joined the conference.

akhwat72 has left the conference.

luckycantik: assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
akhwat72 has joined the conference.

luckycantik: makasih atas invite-annya teman2
Yahoo! Messenger: gilang234 has declined to join and sent: No, thank you.
dian_andriati has left the conference.

ika_nursila: assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
ummu_fatih: Ada banyak orang mukmin yang bisa kita jadikan teman.
ummu_fatih: Terlebih untuk kepentingan mengajak kita kepada kebaikan, kepentingan menyeru kepada jalan yang lebihbaik.
ummu_fatih: Prinsip kebersamaan dalam islam tercakup dalam internal dan eksternal.
el_mumtazah: subhanallah...
ummu_fatih: Secara internal....kebersamaan adalah saling tolong menolong, saling bantu dalam kebaikan
ummu_fatih: Sabda Rasulullah SAW
ummu_fatih: "Sebaik-baik amal adalah kamu menghadirkan rasa gembira ke hati saudaramu atau engkau membayar utangnya atau engkau memberinya roti."
ummu_fatih: Secara eksternal...kebersamaan adalah ruang untuk berlomba dalam kebaikan
ummu_fatih: atau fastabiqul khoirot
fu_fu97 has joined the conference.

ummu_fatih: Bersama-sama dgn orang2 mukmin, kita jalin kebersamaan.
ummu_fatih: Ada banyak orang lain yg bisa membuat kita tidak sendiri.
ummu_fatih: 3. Kita tidak sendirian, apa yang hilang dari kita akan diganti oleh Allah SWT.
ummu_fatih: Rasa sedih, duka, kesendirian, akan dibayar oelh Allah. Sekali lagi selama kita seorang mukmin.
ummu_fatih: Sebab...apapun yg Allah berikan pada kita, adalah ketetapan terbaik untuk kita.
ummu_fatih: Meski itu adalah hal yg tidak mengenakkan, namun ada hikmah kebaikan dibaliknya.
ummu_fatih:Yah..firman Allah dalam ayat di atas menjadi jawaban bagi seorang muslim yg berputus asa terhadap pertolongan Allah...Astaghfirullah...
Ternyata seorang mukmin tidak pernah merasa sendiri. Apapun situasi yg ia hadapi...bersama Allah ada kekuatan.
Kita tidak sendiri, ada orang-orang mukmin yang lain.
Ada banyak orang mukmin yang bisa kita jadikan teman.
Terlebih untuk kepentingan mengajak kita kepada kebaikan, kepentingan menyeru kepada jalan yang lebihbaik.
Prinsip kebersamaan dalam islam tercakup dalam internal dan eksternal.
Secara internal....kebersamaan adalah saling tolong menolong, saling bantu dalam kebaikan.
Sabda Rasulullah SAW
"Sebaik-baik amal adalah kamu menghadirkan rasa gembira ke hati saudaramu atau engkau membayar utangnya atau engkau memberinya roti."
Secara eksternal...kebersamaan adalah ruang untuk berlomba dalam kebaikan atau fastabiqul khoirot.
Bersama-sama dgn orang2 mukmin, kita jalin kebersamaan.
Ada banyak orang lain yg bisa membuat kita tidak sendiri.
3. Kita tidak sendirian, apa yang hilang dari kita akan diganti oleh Allah SWT.
Rasa sedih, duka, kesendirian, akan dibayar oelh Allah. Sekali lagi selama kita seorang mukmin.
Sebab...apapun yg Allah berikan pada kita, adalah ketetapan terbaik untuk kita.
Meski itu adalah hal yg tidak mengenakkan, namun ada hikmah kebaikan dibaliknya.
Misalnya dalam do'a...bila kita mohon dgn tulus, pasti Allah memberikan jawaban.
Tetapi tidak mesti sesuai dgn yg kita minta.
Bisa jadi pengabulan do'a itu berupa hal yg sama dgn yg kita harapkan,
bisa jadi pengabulan do'a itu berupa dijauhkannya kita dari malapetaka dan dihapuskannya kesalahan2 kita.
Bisa juga balasannya bukan di dunia ini, namun di akhirat kelak.
Begitulah seorang mukmin dihadapan Allah SWT.
Ada banyak hal yg membuat kita tidak sendirian, tetapi pusaran utamanya ada pada nyala keimanan.
Dari sana ia memancarkan sumber-sumber kebersamaan,
pengharapan dan dukungan Allah SWT.
Secara vertikal, hidup kita gantungkan kepada ALlah. Secara horizontal, kita memupuk kebersamaan dgn saudara2 mukmin untuk saling berfastabiqul khoirot dan saling menasihati-mengingatkan.
Sekarang bagaimana cara seorang muslim membebaskan diri dari kesendirian?

1. Bertegur sapa dengan salam dan tersenyumlah
adalah tanda-tanda kehidupan.
Tegur sapa dan tersenyum telah memberikan banyak pembuktian dalam masyarakat, bahwa dgn ini bisa meningkatkan produktifitas
Tegur sapa dan senyuman berangkat dari kebugaran jiwa dan fisik. berpikir positif, optimis.
Tentunya hal2 ini akan memberikan pengaruh positif bagi diri dan org lain.
Bayangkan..begitu banyak fitnah dan masalah yg timbul hanya karena pelitnya bertegur sapa dan senyum...
Didalam Islam, kita bertegur sapa dengan mengucapkan salam yg bermakna do'a
Tegur sapa dan senyum bisa mencairkan ketegangan dalam interaksi sosial yg kerap menjadi konflik, mispresepsi.

2. Segeralah berkeluarga dan bertetanggalah
Untuk memecah kesendirian, menikahlah segera. karena begitu banyak rahasia kehidupan yg baru terungkap setelah menikah. Dan itu tidak bisa dibayangkan oleh idealitas seorang pelajang.
Rasa tanggung jawab akan lebih bisa tumbuh pada org2 yang telah teruji melewati masa2 sulit berkeluarga.
Sehingga mempercepat proses pematangan.
Keluarga adalah sel terkecil dari masyarakat.
Disanalah tercipta kebersamaan yg paling inti. Untuk itulah anggota keluarga sekcil apapun, yang pertama memberikan makna kehidupan kita.
bertetanggalah...jangan bersikap eksklusif dgn tetangga2 kita.
Karena RAsulullah SAW dalam banyak riwayat, mencontohkan bgm kita sebainya bersikap baik pada tetangga.

3. Berhimpulah dalam jamaa'ah

Kamis, 23 Maret 2006

Doa yang Efisien dan Efektif

Assalammu`alaykum wr.wb.

Alhamdulillahilladzi arsala rosulahu bil huda wa dinilhaq, liyudzhirohuu `aladdiniqullihii walau karihal mussyrikuun, Ashadu ala ilaahaillah waashhaduanna muhammadarrosululloh.

Kita patut bersyukur dengan segala ni`mat yang Allah telah ,baik ni`mat iman, sehat dan ni`mat berukhuwah dengan sesama muslimah dimanapun berada.
Semoga pertemuan KAMUS ini juga dicatat sebagai amalan dalam rangka taqarubb ilallah.**************************"

Berdoalah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orangyang menyombongkan diri dari dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalamkeadaan hina dina."(QS,al-Mu`min:60)

"Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah maka Allah murka kepadanya."(HR.Tirmidzi)

Siapa yang tak pernah berdoa selama hidupnya? Pertanyaan di atas hanya ingin mengingatkan bahwasanya sebagai makhluk yang lemah,kita pasti memerlukan yang berKuasa atas diri ini baik ketika dalam keadaan susah maupun senang. Hanya saja kebanyakan manusia hanya ingat kepada Khaliqnya saat `terjepit` dengan berdoa agar cepat berlalu masalahnya.


Doa:manifeatasi dzikrullah

Doa sebagai ekspresi dzikrullah merupakan saripati ibadah yang dapat memberikan kesadaran diri cognizance (self awareness);senantiasa merasakan kehadiran Allah dan pengakuan kelemahan
diri. Doa pada dasarnya bukan sekedar ritual melainkan sebuah oase di tengah gurun kegersangan ruhani dan di tengah rimba keresahan duniawi.

Doa yang benar akan membawa keteguhan dalam prinsip hidup. Dengan doa pula seseorang akan memiliki sikap optimis, karena doa pada hakekatnya merupakan rintihan,curhat dan harapan akan curahan pertolongan seorang hamba kepada Khaliqnya. Karena doa merupakan dzikrullah,maka ia otomatis tidak dapat dipisahkan dari keimanan kepada Allah,Zat yang senantiasa ada untukdipuja dan dimohon dan telah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak jemu memohon kepada-Nya.
Allah swt mencintai hamba-Nya yang rajin berdoa secara benar dan kontinyu.

Dalam terminologi Islam,konsideran doa tidak sekedar takut(khauf)yang melahirkan jiwa tabah,berani dan rasa harap(roja`)yang melahirkan jiwa yang optimis dan menumbuhkanmotivasi tapi juga terdapat gelora cinta(mahabbah)yang menghidupkan dan menerangi jiwasehingga akan semakin mesra hubungan dengan Allah sang Maha Kekasih."Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka ,bertambah kuat imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal." (QS al-Anfal:2)

Kekuatan doa

Doa merupakan esensi jiwa yang harus disampaikan dari nurani terdalam dengan penuh kesadaran, sehingga doa yang dilatunkan dapat melahirkan kekuatan(energi)spiritual bagi orang yang berdoa. Doa,sebagaimana kesimpulan pakar psikologi,merupakan kekuatan terbesar untuk memecahkan masalahnya. Sebuah pengalaman ketika seseorang dalam keadaan terperangkap kawanan copet di mikrolet, tak ada yang dapat menolongnya.Ketika itu hanya ingat akan bantuan dari yang Maha Penolong,maka sungguh kekuatan doa dapat lari dari kawanan copet itu dengan berusaha tidak menyerahkan dompet dan selamat.

Begitupun cerita ketua rombongan haji yang kehilangan jamaahnya dan sudah berusaha mencarinya tetapi nihil.Seolah tiada lagi harapan menemukan mereka kecuali dengan bergantung pada doa.Setelah berdoa di depan jumrah `Aqabah,apa yang terjadi kemudian?Sekejap saja setelah doa itut terucap,serta merta beberapa jama`ah yang hilang itu berjalan di hadapannya.Sungguh,merinding saat itu dan kejadian itu membuat hati kami haru dan bertambah yakin bahwa"Maha benar Engkau Ya Allah dengan segala janji-Mu; berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku-kabulkan."

Sebuah publikasi penelitian tentang kanker yang dilakukan oleh para peneliti dan Nasional nstitutesof Health,USA,yang dipimpin oleh Dr.Richad Childs,menyatakan bahwa penyakit kanker berat,seperti kanker darah,kenker ginjal dan kanker getah bening,biasanya sangat resisten dan tidak mempan terhadap pengobatan chemotherapy maupun radio therapy. Namun sel-sel kanker ganas ini justru sangat rentan (susceptible) dan takluk pada sistem kekebalan tubuh. Diantara cara peningkatan sistem kekebalan tubuh,sebagaimana temuan seorang dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya,adalah melalui doa dan shalat yang benar dan rutin(wirid tahajjud).Sumber majalah UMMI;manajemen doa oleh DR.Setiawan Budi Utomo.

Kaidah berdoa

Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar menyebutkan bahwa syarat diterimanya doa adalah mengkosumsi makanan halal dan berusaha menjauhi perbuatan maksiat.

Dalam kitab Ihya``Ulumuddin,Imam al-Ghazali menyampaikan sepuluh metode yang efisien dan efektif, yaitu:

1. Memilih waktu yang tepat dan memanfaatkan saat-saat mulia seperti ramadhan,`Arafah,Jum`at dan saat sepertiga akhir di waktu sahur yang merupakan mustajab.
2. Memanfaatkan kondisi yang mustajab(terkabul) seperti kondisi sujud,jihad,turun hujan dan diantara azan dan qamat.
3. Menghadap qiblat,menengadahkan tangan dan mengusap wajah saat selesai.
4. Menyederhanakan suara dan menghindari suara keras.
5. Menyederhanakan bahasa doa dan lebih utama-bila takut salah ucap-menggunakan doa alqur`an dan doa yang diajarkan atau dilakukan oleh Nabi(doa matsurat yang diajarkan oleh Rasulullah saw.)
6. Penuh khidmat,khusyu` dan emosi jiwa.
7. Bersungguh-sungguh dalam memohon dan berharap yang disertai keyakinan akan dikabulkan doanya.
8. Menekankan permohonannya dan dapat mengulanginya tiga kali tanpa disertai prasangka akan lama dikabulkannya.
9. Memulai doanya dengan dzikir dan pujian kepada Allah serta shalawat kepada Rasulullah saw.Bismillahhirohmaanirrohiim.Alhamdulillahi robbil`aalamiin.Allahumma sholii wasallim `alaa sayyidinaa muhaddin wa`alaa aalihi washohbihii ajma`iin ( lalu teruskan dengan doa yang dihendaki)
10. Itikad tulus dan niat kuat untuk bertaubat secara benar.

Doa dalam ayat-ayat al-Qur`an Banyak dalam ayat-ayat al-Qur`an yang baik untuk dibaca dan dihafalkan dalam doa sehari-hari.

Al-Baqarah:250,286, Ali`Imran:8,147,191-194Al-`Araf:23Al-Kahfi:10An-Naml:19Al-Furqon:74As-Syu`ara`:83-87Al-Ahqaf:15Al-Hasyr:10At-Tahrim:11

Silakan ditambahkan jika ada yang menemukan dalam surah dan ayat lain.

Wallahu`alam bish-showab.Yang benar datangnya dari Allah swt dan yang salah dari saya yang dhoif.(Aquulu qaulii hadza wastaghfirullah lii walakum)

wassalammu`alaykum wr.wb.
Yokohama,23 Maret 2006
Oleh : Ummu_azka

Rabu, 15 Maret 2006

Bekal untuk Perubahan

Alhamdulillah, washolatu wasalamu `ala Rosulilah saw.Semoga pertemuan kita dalam KAMUS kali ini, di catat sebagai amal kebajikan yang dapat memperberat timbangan kebajikan untuk masuk ke surgaNya yang memangdi peruntukkan bagi hamba-hambaNya yang sholih dan mau memperbaiki diri.

Dalam moment pergantian tahun baru 1427 Hijriah ini selayaknya kita sebagaiumat Islam yang meramaikannya dengan membuat program dan bermuhasabah atas segala amalyang telah kita perbuat selama kita menghirup udara dengan gratis dari Allah Ta`ala.Dan dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak terutama untuk saya pribadi juga saudara-saudara muslimah yang dirahmati Allah untuk memperbaiki diri untuk bekal kita dalam merajut benang-benang kehidupan dengan sisa umur yang tidak kita ketahuikapan ajal itu akan tiba. Tapi selayaknya kita mempersiapkannya dengan melakukan perubahan-perubahan.

Satu hal yang menjadikan tekad baik tidak pernah berbuah adalah mengandalkan perubahan datang dari luar.
Dalam melakukan perubahan ini diperlukan usaha denganberamal dan seni mengelola hidup karena tidak semua rencana baik berjalan mulus.Bisa jadi apa-apa yang telah kita rencanakan , terhambat atau tidak berhasil samasekali. Oleh karena itu kita membutuhkan kekuatan jiwa dalam melakukan perubahan."...Bawalah bekal,karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa"(QS 2:197). Dengan berbekal takwa, jiwa tak akan pernah kering.

Dengan kehidupan yang beraneka ragammasalah, dihadapi dengan shabar tidak berputus asa,qona`ah yang meredam ketidakpuasandan istiqomah yang mengikis dari perbuatan menyimpang.
Bekal yang cukup tidak akan berarti kalau perubahan belum menjadi pilihan. Jadi harus ada kesadaran dan memaksakan diri. Seperti, kalau susah untuk shaum sunnah,butuh paksaan agar bangun sahur dan menahan lapar dan haus juga hal-hal yang dapatmengurangi pahala shaum kita.
Menariknya, paksaan bisa datang dari luar diri, misalnya banjir,gempa bumi atau hal lainyang memaksa kita untuk melakukan perubahan dari kejadian yang dialami.

Ada 3 fondasi amaliah dalam melakukan perubahan:1.Aspek ibadah" Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu"(QS 51:56) Dimana kita mulai dari sholat, apakah dalam 5 waktu ada yang tertinggal atau dilakukan hanya sekedar melunaskan kewajiban tanpa menjaganya untuk melaksanakannya di awal waktu, berjama`ah dan berusaha khusyu` bahkan menambahnya walau hanya sekedar 2 raka`at sholat sunnah.

Kemudian kita tengok ibadah dari tilawah qur`an, masihkah dengan terbata-bata dan cukup dengan 10 menit saja tanpa ada perasaan merugi di kala bersentuhan dengan komputer bisa lebih dari 1 jam. Begitupun dengan ibadah lainnya yang terkadang kurang di perhatikan karena alasan kesibukan. Dalam kaitan ibadah ini, berkaitan dengan kebutuhan ruhani yang memang perlu diperhatikan sebagaimana kita memperhatikan tubuh dengan makan yang bergizi dan kebutuhan akal dengan membaca dan belajar . 2.Aspek Pekerjaan dan Perolehan Rizki Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin.
Karena dianggap merupakan urusan duniawi tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadist,Rasulullah SAW besabda:
" Dari Ibnu Mas`ud ra dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda,`Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat,hingga ia ditanya tentang
5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya kemana dipergunakan,hartanya darimana diperoleh dan kemana dibelanjakannya dan ilmunya sejauh mana pengamalannya?" (HR.Turmudzi)

3.Aspek Kehidupan Sosial Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Jangan sampai dalam berinteraksi, orang lain merasa tidak nyaman. Entah dengan lidah yang tak menyadari telah melukai perasaan teman ,kadang juga menganggap ringan perilaku ketidakpedulian,mudah saja membiarkan tetangga miskin tanpa pernah menjenguknya, membiarkan PRT memakan lauk ala kadarnya yang berbeda dengan kita,membiarkan orang tua kita memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dan pengertian dari kita.

Untuk itu, bagaimana kedepannya kita berusaha melakukan perubahan dengan mengedepankan akhlak sebagai muslim, yang dengan begitu siapapun dan di manapun akan senang dan nyaman bersama kita. Dari Abu Hurairah ra,bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?` Sahabat menjawab,`Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.`Raasulullah SAW bersabda,`Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala)shalat,zakat,puasa, namun ia juga datang dengan membawa (dosa)menuduh, mencela, memakan harta orang lain,memukul atau mengintimidasi orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya.

Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya,diambillah dosa-dosa mereka dan docampakkan pada dirinya, lalu diapun di campakkan ke dalam api neraka.(HR.Muslim ) Semoga kelak, ketika yaumul hisab kita bukan menjadi orang yang muflis atau bangkrut tapi menjadi muslim yang muflih atau sukses karena kepedulian kita dengan sesama tanpa pamrih. Terakhir mari mengingat firman Allah SWT "..Sesunggunya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...(QS Ar-Ra`du:11 )Akhirul kalam, mohon maaf atas salah dan khilaf.Aquulu qouli haazda wastaghfirullahal`adzim lii walakum.
Wassalammu`alaykum wr.wb.Yokohama, Februari 2006