Kamis, 18 Januari 2007

Syirik Besar

Syirik Besar

Pemateri: Ustz. Septina (id: septina_h)


*disampaikan di Kajian Muslimah Online, Kamis, 18 Jan 2007

modi_ica: insya Allah tausyiah hr ini akan disampaikan oleh Mbak Septi

modi_ica: yuk kita siapkan hati dan pikiran kita untuk menerima tausyiah dr beliau

modi_ica: tafaddol mba Septi

ustz. Septi: InsyaALlah kali ini saya akan sharing mengenai SYIRIK BESAR

ustz. Septi: bisa langsung mulai aja ya

ustz. Septi: Syirik adalah menjadikan sesuatu sebagai sekutu Allah dalam hal-hal yang merupakan hak murni Allah

ustz. Septi: Seperti menjadikan tuhan atau beberapa tuhan selam Allah yang disembah, ditaati, dimintai pertolongan, dicmtai atau lairinya. Semua mi tidak ada yang berhak mendapatkannya selain Allah.

ustz. Septi: Itulah syirik akbar (besar) yang mengakibatkan tertolaknya amal shalih bahkan amal apa saja

ustz. Septi: karena syarat pertama diterimanya amal dan dinyatakan shalth adalah harus ikhlas karena Allah semata

ustz. Septi: sebagaimana firman Allah:

ustz. Septi: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya

ustz. Septi: maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

ustz. Septi: Syirik adalah dosa yang tidak terampun

ustz. Septi: Allah SWT berfirman

ustz. Septi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya (QS. An-Nisa’ : 48 dan 116)

ustz. Septi: Surga diharamkan bagi orang yang menyekutukan Allah (musyrik),

ustz. Septi: ), sedangkan neraka adalah tempat kembali dan tempat menetapnya.

ustz. Septi: . Allah berfirman :

ustz. Septi: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,

ustz. Septi: maka pasti Allah haramkan kepadanya surga, dan tempatnya di neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim seorang pun penolong”. (al-Maidah: 72)

ustz. Septi: MACAM-MACAM SYIRIK

ustz. Septi: Syirik ada dua macam; yaitu:

ustz. Septi: 1. Syirik Akbar (besar).

ustz. Septi: Syirik Akbar yaitu syirik yang tidak diampuni Allah dan tidak menyebabkan pelakunya masuk ke dalam surga selamanya.

ustz. Septi: 2. Syirik Ashghar (kecil).

ustz. Septi: Syirik Ashghar termasuk dosa besar, pelaku dan yang terus menerus melakukannya dikhawatirkan mati dalam kondisi kafir, jika tidak segera mendapatkan rahmat Allah untuk bertaubat sebelum meninggal.

ustz. Septi: Syirik Akbar ada dua macam:

ustz. Septi: 1. Jelas dan Terang (zhahi run jaliyyun).

nova_duri_riau:

ustz. Septi: Termasuk syi rik akbar dan zhahir adalah menyembah satu atau beberapa tuhan disamping menyembah Allah, baik tuhan itu berupa:

ustz. Septi: 1. Benda angkasa; seperti: matahari dan bulan, atau

ustz. Septi: 2. Benda mati; seperti: patung dan batu, atau

ustz. Septi: 3. Binatang; seperti: sapi dan anak sapi, atau

ustz. Septi: 4. Manusia; seperti: orang-orang yang menyembah Fir’ aun dan semacamnya,

ustz. Septi: yaitu: penguasa-penguasa yang mengaku atau diaku sebagai tuhan dan mendapatkan orang-orang yang membenarkannya.

ustz. Septi: Demikian juga orang-orang yang menyembah Budha atau Isa bin Maryam ‘alaihis-salam, atau juga tuhan itu berupa

ustz. Septi: 5. Makhluk gaib; seperti: jin, setan dan malaikat. Tuhan-tuhan mi memiliki para penyembah dan berbagai bangsa.

ustz. Septi: 2. Tersembunyi dan Tersamar (bathinun khafiyyun).

ustz. Septi: 1. Berdo’a dan Memohon Pertolongan kepada Orang Mati. Syirik akbar ada juga yang tersamar, tidak jelas bagi kebanyakan manusia.

ustz. Septi: Termasuk dalam syirik ini adalah: berdo’a kepada orang mati, dan orang-orang yang telah terkubur dan kalangan orang-orang yang memiliki cungkup dan orang-orang yang memiliki maqam,

ustz. Septi: , juga meminta pertolongan dan pemenuhan hajat kepada mereka, seperti: penyembuhan orang sakit, kelapangan dan kesulitan, bantuan kepada yang sangat membutuhkan, kemenangan atas musuh, dan hal-hal lain yang tidak memiliki kemampuan atasnya selam Allah.

ustz. Septi: Termasuk juga keyakinan bahwa mereka mampu memberikan manfaat atau menimpakan madharat (bahaya). Syirik seperti ini adalah pangkal dan dasar syirik alam, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah.

ustz. Septi: Penyebab tidak jelasnya syirik ini adalah manusia tidak menganggap do’a, meminta pertolongan, dan meminta bantuan kepada orang- orang yang telah dikubur sebagai ibadah

ustz. Septi: . Mereka mengira bahwa ibadah hanya terbatas pada ruku’, sujud, shalat, puasa dan semacamnya. Padahal, ruh ibadah -sebagaimana telah kami sebutkan- adalah do’a,

ustz. Septi: sebagaimana tersebut dalam hadits:

ustz. Septi: “Do’a adalah ibadah”. (HR. At-Tirmdzi, Ia berkata: ini hadits hasan shahih)

ustz. Septi: Hadits ini memang shahih, diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak, at-Thayalisi, Ahmad, Bukhari di dalam Adab al-Mufrad, Abu Daud, at- Tirmidzi, an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Ibnu Hibban, at-Thabrard dalam al-Mu’jam as-Shaghir, Al Hakim dan lainnya. (lihat: an-Nahjus-Sadid fi ta

ustz. Septi: Mereka berkata: “Kami tidak meyakini bahwa mayit tempat kami memohon dan meminta bantuan sebagai sembahan atau tuhan,

ustz. Septi: , justru kami meyakini bahwa mereka adalah makhluk seperti kita, akan tetapi mereka adalah perantara antara kami dengan Allah dan pemberi syafa’at di sisi-Nya.

ustz. Septi: Alasan ini muncul karena ketidaktahuan mereka tentang Allah.

ustz. Septi: Mereka mengira Allah seperti raja tiran dan penguasa kejam, tidak mungkin dicapai kecuali lewat perantara dan pemberi syafa’at.

ustz. Septi: . Ini persis seperti asumsi yang menjerumuskan orang-orang yang menyekutukan Allah pada zarnan dahulu, saat mengatakan:

ustz. Septi: “Kami tidak men yembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar : 3)

ustz. Septi: “Mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (Yunus : 18).

ustz. Septi: 2. Menjadikan selain Allah sebagai Pemilik Hak Membuat Syari’at (Hak Legislatif)

ustz. Septi: Termasuk syirik akbar yang tersamar bagi sebagian besar manusia adalah menjadikan selam Allah sebagai pemilik hak membuat syari’at (hak legislatzj) atau menjadikan selain Allah sebagai pembuat hukum.

ustz. Septi: Dengan bahasa lain, pemberian wewenang membuat perundang-undangan secara absolut oleh sebagian manusia kepada individu atau kelompok, baik untuk kepentingan mereka atau orang lain.

ustz. Septi: Dengan hak itu mereka:

ustz. Septi: a. Menghalalkan dan mengharamkan sesuai dengan yang mereka kehendaki.

ustz. Septi: Yang memilild hak pens yari’atan (legislatif~ terhadap makhluk-Nya hanyalah Allah, sebab Dia-Jah Yang Menciptakan, Memberi rizki, dan Memenuhi mereka dengan berbagai kenikmatan, baik lahir ataupun batin,

ustz. Septi: , Sebagai konsekwensinya, Dia-lah yang memiliki hal untuk membebani, memerintah, malarang, menghalal- kan dan menghararnkan atas mereka,

ustz. Septi: karena Dia adalah Rabb (Pencipta), Malik (Raja), dan Illah (Tuhan sembahan) manusia. Tidak seorangpun selain Dia yang memiliki Rububiyyah (sifat Mahamenciptakan), Mulkiyyah (sifat Maharnenguasai)

ustz. Septi: dan Llluhiyyah (sifat ketuhanan untuk disembah)~ sebagaimana yang Dia miliki. Jika demikian halnya, lalu dan mana hak pembuatan syari’at dan hukum itu mereka miliki?

ustz. Septi: Dunia adalah kerajaan Allah, dan seluruh manusia di alam semesta mi adalah hamba dan rakyat-Nya, Dia- lah Pemimpin dan Pemerintah (Penguasa) kerajaan ini. Karena itu, adalah menjadi milik-Nya hak membuat hukum, undang-undang, mengharamkan dan meng- halalkan, dan adalah keharusan bagi rakyat untuk mendengar dan mentaati-Nya.

ustz. Septi: Jika ada sebagian rakyat mengklaim (mengaku) bahwa ada seseorang dalam kerajaan Allah ini yang memiliki hak memerintah, melarang, menghalalkan, mengharamkan, membuat hukum dan perundang- undangan tanpa izin

ustz. Septi: dan Pemimpin atau Penguasa kerajaan berarti ia telah menjadikan seseorang itu sebagai sekutu Allah dalam kerajaan, melawan-Nya dalam kekuasaan kepemimpinan-Nya dan kekhususan- Nya dalam pemerintahan.

ustz. Septi: Karena itu al-Qur’an memvonis Ahli Kitab dengan syirik dan menamakan mereka sebagai musyrikin, sebab mereka memberikan hak pembuatan syari’at kepada pendeta dan rahib, lalu mereka mentaati apa yang mereka halalkan atau haramkan. Al-Qur’an men- sejajarkan hal ini dengan penyembahan mereka terhadap al-Masth bin Maryam. Allah berfirm

ustz. Septi: “Mereka menjadikan orang-orang ‘alimnya,dan rahib- rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Suci Allah dan apa yang mereka persekutukan”. (QS. At-Taubah : 31)

ustz. Septi: Rasulullah saw telah menjelaskan pengertian ayat ini kepada ‘Adiy bin Hatim ath-Tha’i, seorang Nasrani pada zaman jahiliyyah. Setelah memeluk Islam, ia memasuki rumah Rasulullah saw ketika beliau sedang membaca ayat di atas. Mendengar bacaan itu ‘Adiy berkata: “Mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib?” Rasulullah saw ber

ustz. Septi: “Betul.. Sesungguhnya mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka mengikutinya, itulah penyembahan kepada mereka (HR. at-Tirrnidzi, Ahmad dan Ibnu Jarir)

ustz. Septi: Ayat dan tafsirnya dan hadits Rasulullah saw ini menunjukkan bahwa siapa saja yang taat kepada selain Allah dalam bermaksiat atau mengikutinya dalam hal yang tidak diijinkan Allah, berarti telah menjadikannya sebagai Rabb dan Ma’bud (sembahan), serta menjadikannya.sebagai sekutu Allah

ustz. Septi: alhamdulillah, materinya sudah selesai

modi_ica: alhmdulillah

modi_ica: syukran jazakillah khair mba Septi


** sesi Tanya-jawab **

#1

ukhti_ade: kalo zodiak? syirik juga kan

ustz. Septi: zodiak itu termasuk syirik

ustz. Septi: karena

ustz. Septi: yang membuatnya kan seorang peramal

ustz. Septi: sedangkan peramal peramal itu semua nya memakai media jin untuk membantu kesuksesan ramalannya

ustz. Septi: begitu ukh ade (id adetomboy)

#2

ukhti_novi: apakah riya termasuk syirik kecil mba? riya terhadap ilmu, harta bahkan iman pun terkadang disombongkan.... gimana?

ustz. Septi: ya riya juga termasuk katagori syirik

ukhti_rahma: oh ya boleh nambahin nda?

ukhti_rahma: salah satu syirik yang samar, terkadang tanpa sadar kita sendiri melakukannya

ukhti_rahma: misalkan begini...

ukhti_rahma: untung ada ane...

ukhti_rahma: misalkan temen kita punya masalah terus kita bantu

ukhti_rahma: kemudian kita bilang, untuk da ane jadi antum bisa tertolong

ukhti_rahma: itu juga termasuk syirik

ukhti_rahma: sohati-hati ya ukh...

ukhti_rahma: kemudian kita bilang, untuk da ane jadi antum bisa tertolong<

#3

ukhti_ade: mmmmm trus kenapa zodiak kok ditempel dimajalah2 yang mungkin saja dibaca dan dikonsumsi oleh semua orang termasuk muslim......bahkan anak2

ukhti_ade: nah itu gimana supaya ga menyebar..kan yang baca belum tentu tahu zodiak itu syirik

ustz. Septi: itulah yang dilakukan orang orang yang hendak menghancurkan akidah umat islam

ustz. Septi: orang orang yang ingin menghancurkan islam, kan gak mungkin langsung menghancurkan dan menginjak2 akidah umat Islam

ustz. Septi: makanya mereka mengambil jalur aman

ustz. Septi: dengan cara cara yang tidak di sadari oleh umat Islam

ustz. Septi: dan yang paling dahsyat itu adalah media TV, media massa

ustz. Septi: di media massa terutama majalah2 remaja

ustz. Septi: masyaAllah....kita sulit sekali menghalangi laju informasi yang saat ini amat sangat menghancurkan umat Islam terutama remaja muslim kita

ustz. Septi: gimana ukh ade ...cukup ya

#4

ukhti_nayla: kalo misal percaya adat tuh sama aja syirik kan? Trus gmn cara ngatasinnya

ustz. Septi: untuk ukh nayla

ustz. Septi: adat itu menurut saya tidak juga semuanya salah, cuma memang harus pilih2 sekali...mana yang kira2 memang berpotensi syirik

ustz. Septi: seperti ada upacara 3 hari, 7 hari dst pada saat ada keluarga kita yang meninggal

ustz. Septi: kan Rasul tidak mencontohkan

ustz. Septi: yang di contohkan adalah, kita menghibur orang yang kesusahan itu

ustz. Septi: nah....mengadakan pengajian itu yang tidak di contohkan rasul

ustz. Septi: karena yg di contohkan itu kita daatang untuk menghibur, membantu kalau ada kesulitan keluarga yg ditinggal

ukhti_rahma: tapi mbak septi boleh ana punya pendapat lain?

ustz. Septi: silahkan

ukhti_rahma: tahlilan, mendoakan orang mati...

ukhti_rahma: itu ada sejarahnya

ukhti_rahma: dulu waktu indonesia masih hindu

ukhti_rahma: setiap orang yang meninggal diadakan pesta 7 hari 7 malam

ukhti_rahma: tujuannya sama menghibur yang ditinggalkan, walau caranya mungkar

ukhti_rahma: supaya yang ditinggalkan tidak kesepian

ukhti_rahma: nah...oleh wali songo

ukhti_rahma: kebiasaan itu diubah, yang tadinya kebiasaan pesta jadi kebiasaan bertasbih, mengucapkan asma'ul husna, bertahlil

ukhti_rahma: tujuannya sama daripafda diisi pesta lebih baik mengagungkan asma 4WI

ukhti_rahma: tapi sepeninggal wali songo, kebiasaan itu berubah oleh masyarakat

ukhti_rahma: kebiasaan itu dianggap suatu hal yang wajib dilakukan

ustz. Septi: yup...saya akan menuju ke pernyataan ukh rahma juga sebenarnya...jazakillah sdh dilanjutkan

ukhti_rahma: si empunya rumah harus memberikan makanan bahkan sampai rokok...

ustz. Septi: jadi menurut saya...kita harus pandai2 memilih

ukhti_rahma: itu yang harus diluruskan

ukhti_rahma: tahlil itu boleh, tidak dilarang

ukhti_rahma: tapi mewajibkan mengadakan tahlil setiap ada yang meninggal...itu tidak disunahkan

modi_ica: caranya mungkin dek Rahma yg mba Septi sebut bukan tahlilnya

ustz. Septi: ya

ustz. Septi: menurut saya, kita yang harus pandai menyiasati setiap adat itu agar menjadi sebuah acara yang bermanfaat, tidak mubah atau bahkan haram

#5

ukhti_dikoe: bagi org2 yg bisa melihat masa depan..bknnya itu gift dr Allah?

ustz. Septi: zaman sekarang ini sdh tidak ada lagi org2 yg di beri kelebihan seperti itu

ustz. Septi: Seingat saya, karomah itu terakhir di tutup oleh Allah dizaman sahabat nabi setelah nabi wafat. Kalau mukjizat di tutup hanya sampai nabi saja

ustz. Septi: setelah itu yg ada hanya pengaruh jin yang menguasai manusia

ustz. Septi: atau manusia yg belajar untuk bisa meramal

ukhti_dikoe: apa ada di al-qur'an atau hadist bhw itu hanya diberikan pada para nabi dan rasul?

ukhti_dikoe: temenku sih awalnya men-deny yah

ukhti_dikoe: jd dia bs melihat kilasan2 gbr ttg hidup kita gtu in the past n future

ukhti_dikoe: awalnya dia ga mau liat

ukhti_dikoe: yah mungkin dia takut syirik jg kli ye

ustz. Septi: coba saja teman nya untuk sholat taubat

ustz. Septi: insyaAllah hilang

ustz. Septi: tapi sholat taubatnya enggak sekali aja

ustz. Septi: dan itu taubatan nashuha

ustz. Septi: soalnya pengalaman saudara dekat saya juga begitu

ustz. Septi: setelah sholat taubat

ustz. Septi: alhamdulillah hilang

ukhti_dikoe: apa ada di alqur'am atau hadist mba?

ukhti_dikoe: bahwa itu hanya diberikan pd nabi dan rasul?

ukhti_dikoe: bhw memang sudah tdk ada lg yg diberi gift spt itu oleh Allah?

ukhti_dikoe: i really need to know

ustz. Septi: seingat saya ada, cuma saya lupa...afwan

ustz. Septi: mungkin ada teman lain yg lebih tau

ustz. Septi: afwan kalau jawabannya kurang memuaskan


**

modi_ica: sudah jam 16.45 disini sebentar lg maghrib , kita tutup ya kajian kita kali ini

modi_ica: syukran khairan katsiro mba Septi

modi_ica: kita tutup kajian ini dengan hamdalah

modi_ica: istigfar dan doa akhir majlis

modi_ica: afwan minkum jika ada kesalahan dan kekurangan selama memandu acara ini

modi_ica: mudah2n kita bisa ketemu lg di kamus hr senin depan


**

Artikel seutuhnya sbb:

Syirik adalah menjadikan sesuatu sebagai sekutu Allah dalam hal-hal yang merupakan hak murni Allah. Seperti menjadikan tuhan atau beberapa tuhan selam Allah yang disembah, ditaati, dimintai pertolongan, dicmtai atau lairinya. Semua mi tidak ada yang berhak mendapatkannya selain Allah.

Itulah syirik akbar (besar) yang mengakibatkan tertolaknya amal shalih bahkan amal apa saja, karena syarat pertama diterimanya amal dan dinyatakan shalth adalah harus ikhlas karena Allah semata sebagaimana firman Allah:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

Syirik adalah dosa yang tidak terampuni. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya (QS. An-Nisa’ : 48 dan 116)

Surga diharamkan bagi orang yang menyekutukan Allah (musyrik), sedangkan neraka adalah tempat kembali dan tempat menetapnya. Allah berfirman :

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah haramkan kepadanya surga, dan tempatnya di neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim seorang pun penolong”. (al-Maidah: 72)

MACAM-MACAM SYIRIK

Syirik ada dua macam; yaitu:

1. Syirik Akbar (besar).

2. Syirik Ashghar (kecil).

Syirik Akbar yaitu syirik yang tidak diampuni Allah dan tidak menyebabkan pelakunya masuk ke dalam surga selamanya.

Syirik Ashghar termasuk dosa besar, pelaku dan yang terus menerus melakukannya dikhawatirkan mali dalam kondisi kafir, jika tidak segera mendapatkan rahmat Allah untuk bertaubat sebelum meninggal.

SYIRIK AKBAR

Syirik Akbar ada dua macam:

1. Jelas dan Terang (zhahi run jaliyyun).

2. Tersembunyi dan Tersamar (bathinun khafiyyun).

A. Syirik Akbar yang Jelas dan Terang.

- Men yembah Tuhan selain Allah.

Termasuk syi rik akbar dan zhahir adalah menyembah satu atau beberapa tuhan disamping menyembah Allah, baik tuhan itu berupa:

1. Benda angkasa; seperti: matahari dan bulan, atau

2. Benda mati; seperti: patung dan batu, atau

3. Binatang; seperti: sapi dan anak sapi, atau

4. Manusia; seperti: orang-orang yang menyembah Fir’ aun dan semacamnya, yaitu: penguasa-penguasa yang mengaku atau diaku sebagai tuhan dan mendapatkan orang-orang yang membenarkannya. Demikian juga orang-orang yang menyembah Budha atau Isa bin Maryam ‘alaihis-salam, atau juga tuhan itu berupa

5. Makhluk gaib; seperti: jin, setan dan malaikat. Tuhan-tuhan mi memiliki para penyembah dan berbagai bangsa.

B. Syirik Akbar yang Tersamar.

1. Berdo’a dan Memohon Pertolongan kepada Orang Mati. Syirik akbar ada juga yang tersamar, tidak jelas bagi kebanyakan manusia.

Termasuk dalam syirik mi adalah: berdo’a kepada orang mali, dan orang-orang yang telah terkubur dan kalangan orang-orang yang memiliki cungkup dan orang-orang yang memiliki maqam, juga meminta pertolongan dan pemenuhan hajat kepada mereka, seperti: penyembuhan orang sakit, kelapangan dan kesulitan, bantuan kepada yang sangat membutuhkan, kemenangan atas musuh, dan hal-hal lain yang tidak memiliki kemampuan atasnya selam Allah. Termasuk juga keyakinan bahwa mereka mampu memberikan manfaat atau menimpakan madharat (bahaya). Syirik seperti mi adalah pangkal dan dasar syirik alam, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Penyebab tidak jelasnya syirik mi adalah manusia tidak menganggap do’a, meminta pertolongan, dan meminta bantuan kepada orang- orang yang telah dikubur sebagai ibadah. Mereka mengira bahwa ibadah hanya terbatas pada ruku’, sujud, shalat, puasa dan semacamnya. Padahal, ruh ibadah -sebagaimana telah kami sebutkan- adalah do’a, sebagaimana tersebut dalam hadits:

“Do’a adalah ibadah”. (HR. At-Tirmdzi, Ia berkata: ini hadits hasan shahih)

Hadits ini memang shahih, diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak, at-Thayalisi, Ahmad, Bukhari di dalam Adab al-Mufrad, Abu Daud, at- Tirmidzi, an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Ibnu Hibban, at-Thabrard dalam al-Mu’jam as-Shaghir, Al Hakim dan lainnya. (lihat: an-Nahjus-Sadid fi takhriji Ahaditsi Taisiril ‘Aziz, hal: 83.

Mereka berkata: “Kami tidak meyakini bahwa mayit tempat kami memohon dan meminta bantuan sebagai sembahan atau tuhan, justru kami meyakini bahwa mereka adalah makhluk seperti kita, akan tetapi mereka adalah perantara antara kami dengan Allah dan pemberi syafa’at di sisi-Nya.

Alasan mi muncul karena ketidaktahuan mereka tentang Allah. Mereka mengira Allah seperti raja tiran dan penguasa kejam, tidak mungkin dicapai kecuali lewat perantara dan pemberi syafa’at. Ini persis seperti asumsi yang menjerumuskan orang-orang yang menyekutukan Allah pada zarnan dahulu, saat mengatakan:

“Kami tidak men yembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar : 3)

“Mereka men yembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (Yunus : 18).

2. Menjadikan selain Allah sebagai Pemilik Hak Membuat Syari’at (Hak Legislatif)

Termasuk syirik akbar yang tersamar bagi sebagian besar manusia adalah menjadikan selam Allah sebagai pemilik hak membuat syari’at (hak legislatzj) atau menjadikan selain Allah sebagai pembuat hukum.

Dengan bahasa lain, pemberian wewenang membuat perundang-undangan secara absolut oleh sebagian manusia kepada individu atau kelompok, baik untuk kepentingan mereka atau orang lain.

Dengan hak itu mereka:

a. Menghalalkan dan mengharamkan sesuai dengan yang mereka kehendaki.

b. Mereka menetapkan berbagai sistem dan aturan sebagai undang-undang, atau

c. Menetapkan metodologi dan pola pikir, yang:
- Tidak diizinkan Allah.
- Bertolak belakang dengan syari’at-Nya. Lalu, orang lam mengikuti dan mentaati apa yang telah mereka tetapkan sebagai undang-undang, seakan- akan syari’at Tuhan, atau hukum langit yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar.

Yang memilild hak pens yari’atan (legislatif~ terhadap makhluk-Nya hanyalah Allah, sebab Dia-Jah Yang Menciptakan, Memberi rizki, dan Memenuhi mereka dengan berbagai kenikmatan, baik lahir ataupun batin, Sebagai konsekwensinya, Dia-lah yang memiliki hal untuk membebani, memerintah, malarang, menghalal- kan dan menghararnkan atas mereka, karena Dia adalah Rabb (Pencipta), Malik (Raja), dan Il~h (Tuhan sembahan) manusia. Tidak seorangpun selain Dia yang memiliki Rububiyyah (sifat Mahamenciptakan), Mulkiyyah (sifat Maharnenguasai) dan Llluhiyyah (sifat ketuhanan untuk disembah)~ sebagaimana yang Dia miliki. Jika demikian halnya, lalu dan mana hak pembuatan syari’at dan hukum itu mereka miliki?

Dunia adalah kerajaan Allah, dan seluruh manusia di alam semesta mi adalah hamba dan rakyat-Nya, Dia- lah Pemimpin dan Pemerintah (Penguasa) kerajaan mi. Karena itu, adalah menjadi rnilik-Nya hak membuat hukum, undang-undang, mengharamkan dan meng- halalkan, dan adalah keharusan bagi rakyat untuk mendengar dan mentaati-Nya.

Jika ada sebagian rakyat mengklaim (mengaku) bahwa ada seseor?ng dalam kerajaan Allah mi yang memiliki hak memerintah, melarang, menghalalkan, mengharamkan, membuat hukum dan perundang- undangan tanpa izin dan Pemimpin atau Penguasa kerajaanberarti ia telah menjadikan seseorang itu sebagai sekutu Allah dalam kerajaan, melawan-Nya dalam kekuasaan kepemimpman-Nya dan kekhususan- Nya dalam pemerintahan.

Karena itu al-Qur’an memvonis Ahli Kitab dengan syirik dan menamakan mereka sebagai musyrikin, sebab mereka memberikan hak pembuatan syari’at kepada pendeta dan rahib, lalu mereka mentaati apa yang mereka halalkan atau haramkan. Al-Qur’an men- sejajarkan hal mi dengan penyembahan mereka terhadap al-Masth bin Maryam. Allah berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang ‘alimnya,dan rahib- rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Mahia Suci Allah dan apa yang mereka persekutukan”. (QS. At-Taubah : 31)

Rasulullah saw telah menjelaskan pengertian ayat ini kepada ‘Adiy bin Hatim ath-Tha’i, seorang Nasrani pada zaman jahiliyyah. Setelah memeluk Islam, ia memasuki rumah Rasulullah saw ketika beliau sedang membaca ayat di atas. Mendengar bacaan itu ‘Adiy berkata: “Mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib?” Rasulullah saw bersabda:

“Betul.. Sesungguhnya mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka mengikutinya, itulah penyembahan kepada mereka (HR. at-Tirrnidzi, Ahmad dan Ibnu Jarir)

Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz: 2 hal: 459, saat menafsirkan ayat 31 dan Surat at-Taubah [9]. Para pen-takhrij hadits ini berbeda pendapat, Syekh Nashirud-Din al-Albani menilainya hasan, sedangkan Abu Sulaiman Jasim al-Fuhaid ad-Dautsari dalam kitab an-Nahjus-Sadid menilainya dha’if dan mengatakan bahwa penisbatan hadits ini kepada Ahmad adalah wahm. Namun ayat di atas secara jelas mengatakan bahwa Ahbar dan Ruhban dalam agama Nasrani telah dinilai al-Qur’an sebagai Arbab, dan makna hadits mi dikuatkan oleh ayat~ayat al-Qur’an, seperti: al-An’am 61: 121. (Lihat an-Nahjus-Sadid, hal: 53)

Ayat dan tafsirnya dan hadits Rasulullah saw ini menunjukkan bahwa siapa saja yang taat kepada selain Allah dalam bermaksiat atau mengikutinya dalam hal yang tidak diijinkan Allah, berarti telah menjadikannya sebagai Rabb dan Ma’bud (sembahan), serta menjadikannya.sebagai sekutu Allah. Hal demikian ini bertolak belakang dengan tauhid yang tidak lain adalah agama Allah dan inti kalimat ikhlas: La Ilaha Illallah. Sebab, al-Ilah adalah al-ma’bud (tuhan yang berhak disembah), dan Allah telah menamakan ketaatan mereka kepada para pemimpin dan pendeta mereka sebagai penyembahan kepada mereka. Sedangkan para pemimpin dan pendeta itu disebut sebagai Arbab; yakni sekutu-sekutu Allah dalam penyembahan. Ini merupakan syirik akbar, sebab siapa saja yang mentaati makhluk dan mengikutinya di luar yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya, berarti ia telah menjadikannya sebagai rabb dan ma’bud, meskipun tidak dinamai demikian, sebagaimana difirmankan Allah dalam ayat lain:

“Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al-An’am: 121)

Ayat lain yang maknanya sama dengan ayat di atas

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?“ (QS. Syura : 21)

Jika yang demikian mi adalah hukum al-Qur’an dan as-Sunnah terhadap orang yang menjadikan selain Allah sebagai pembuat syari’at dan mengikutinya dalam hal-hal yang tidak diizinkan Allah, maka bagaimana pula dengan orang yang ménjadikan dirinya sebagai sekutu Allah, mengangkat dirinya sebagai pemegang hak membuat hukum (hak legislatif), perundangan (pensyari’atan), penghalalan dan pengharaman yang merupakan hak khusus ketuhanan?


Senin, 15 Januari 2007

Mencintai Rasulullah SAW

Mencintai Rasulullah saw

Pemateri: Ustz. Septi (id: septina_h)

*Disampaikan di Kajian Muslimah Online, Senin, 15 Jan 2007


Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara , isteri-isteri,kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) jalan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. QS: At-Taubah: 24

Cinta adalah sebuah ungkapan yang sangat indah dalam kehidupan manusia, dengan cinta manusia bisa sengsara dan dengan cinta pula manusia bisa bahagia, bahkan surga bisa diraih dengan cinta, yaitu cinta yang hakiki kepada manusia terpilih Muhammad Saw.

Cinta kepada Rasulullah Saw dengan sebenar-benarnya cinta, merupakan pondasi aqidah seorang muslim. Kita bisaa mencontoh bentuk-bentuk cintah yang benar dan membuahkan hasil di dunia maupun di akhirat dari generasi As- Salafus Shalih. Kita bisa menelusuri jejak mereka dalam bercinta dengan kekasih melia Rasulullah Saw, bagaimana mereka menagorbankan
jiwa, harta, anak, oranga tua dan asegala apa yang dimilikinya.

Banyak orang yang mengaku cinta Rasulullah Saw tetapi mereka tidak tahu hakekatnya, bentuk serta konsekuensi dari cinta tersebut. Padahal semua itu telah dicontokan oleh generasi terbaik, seharusnya manusia yang ingin mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat harus mencontoh mereka.

Para sahabat dalam memahami cinta kepada Rasulullah Saw, membuktikan dengan segala pengorbanan, pembelaan dan konsekuensinya. Mereka tidak segan-segan mengorbankan harta yang paling mahal yang mereka miliki untuk membela Rasululah Saw. Dan cinta mereka kepada beliau melebihi cintanya kepada siapapun, sebagai realisasi dari hadits rawayat Imam Muslim dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda : " Tidaklah seorang hamba beriman sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia."

Mereka rela kehilangan harta kekayaan, jiwa, anak-anak, orang tua dan seluruh manusia, bahkan lebih baik kehilangan segala macam kenikmatan dari pada kehilangan Rasulullah Saw. Bagaimana sikap kaum Anshor pada perang Hunain, seperti diriwayatkan oleh Abu Said, ia berkata: " Maka kaum Anshor menangis hingga air mata mereka membasahi jenggotnya dan
mereka mengatakan: kami rela menerima Rasulullah Saw menjadi bagian dan pemberian untuk kami." Begitu juga Abu Thalha yang telah menjadikan nyawa sebagai taruhan untuk sang kekasihnya sehingga ia menyatakan kepada Rasulullah Saw pada waktu perang Uhud: " Wahai Rasulullah Saw janganlah engkau memperlihatkan diri agar tak terkena anak panah pasukan
musuh, cukuplah leherku yang menjadi tameng musuh asalkan leher engkau selamat." Hal serupa juga dilakukan oleh Abu Dujanah sebagaiman yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Ishaq berkata:" Abu Dujanah pernah menjadikan dirinya sebagai perisai Rasulullah Saw dari panah musuh dengan merangkul Nabi sehingga panah musuh menancap dipunggungnya dan menghujam seluruh tubuhnya sementara ia tidak bergerak sama sekali."

Kesenangan dan kegembiraan para sahabat untuk selalu berteman dan bersama Nabi dalam keadaan suka maupun duka terkadang diungkapkan dengan tetesan air mata, sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Bakar ra, tatkala diminta untuk menemani beliau dalam hijrah.Abu Bakar ra, bukannya tidak tahu atau lupa bahaya dan resiko yang akan dihadapi dalam
perjalanan hijrah, tetapi karena besarnya tekan dan keinginannya untuk menemani Nabi yang mulia maka ia justru menangis karena bahagia dan gembira bisa menjadi pendamping Rasulullah Saw dalam hijrah tersebut. Imam Al- Hafidz Ibnu Hajar berkata:" Ibnu Ishaq menambahkan dalam riwayatnya bahwa Aisyah berkata:" Saya melihat Abu Bakar menangis dan saya tidak menyangka ada seorang yang menangis karena kegirangan."

Tidak hanya pengorbanan cinta sebatas itu untuk melindungi keselamatan diri Rasululah Saw, tetapi pengorbanan jiwa dan raga para sahabat juga teruji dalam membela sunnah dan menegakan ajaran beliau sehingga tidak aneh jika empat ratus sahabat berjanji untuk mati bersama pada perang Yarmuk.

Prinsip para sahabat dalam membela agama sang kekasih mereka, terungkap dari pernyataan Ubadah bin shamit tatkala diutus kepada Muqauqis:" Tidaklah ada seorangpun diantara kita yang setiap pagi dan sore melainkan selalu berdoa memohon mati syahid dan hendaklah tidak kembali
ke tanah airnya, bumi pertiwinya, keluarganya, atau anak-anaknya. Tidak seorangpun diantara mereka yang memikirkan nasib keluarganya kecuali karena mereka telah memasrahkan keluarga dan anak-anak mereka kepada Allah Swt dan mereka hanya memikirkan apa yang ada didepannya."

Kewajiban mencintai Rasulullah Saw haruslah melebihi cinta kepada pertama: Diri sendiri, ini di riwayatkan oleh Imam Al- Bukhari dari Abdulah bin Hisyam bahwa ia berkata:" Kami pernah bersama Nabi Saw sementara beliau menggandeng tangan Umar bin Khaththab r.a, lalu Umar
berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri." Maka Nabi Saw bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya! Hingga aku lebih engkau cintai daripada mencintai dirimu sendiri." Maka Umar
berkata kepadanya:" Sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri." Nabi Saw bersabda:" Sekarang wahai Umar."

Kedua: Orang tua dan anak, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:" Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, tidaklah diantara kalian beriman sehingga aku lebih dicintai daripada orang tua dan anaknya."

Ketiga: Keluarga, harta dan seluruh manusia. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda:"Tidak beriman seorang hamba sehingga aku lebih ia cintai daripada keluarga, hartanya, dan seluruh manusia." Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak membutuhkan cinta kita, dan keberadaaan cinta kepada beliau, kita tidak menambah ketinggian dan kemuliaan beliau serta hilangnya cinta kita tidak pula mengurangi kedudukan dan kehormatan beliau, bagaimana tidak, bukankah beliau kekasih Allah Swt semesta alam.Tidak hanya itu, bahkan siapa yang mengikuti Nabi Saw, Allah Swt akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya
sebagaiman firmanNya:" Katakanlah 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'.Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Imran:31).Oleh sebab itulah mencintai Nabi Saw akan mendatangkan
manisnya iman. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Anas ra, bahwa Nabi talah bersabda:"Tiga perkara, barang siapa yang tiga hal tersebut berada dalam dirinya maka ia akan mendapatkan manisnya iman; hendaknya Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selainnya, hendaklah ia mencinatai seseorang dan tidak mencintainya kecuali hanya
karena Allah, dan hendaklah ia benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilemparkan kedalam api."

Arti manisnya iman sebagaiman yang telah disebutkan oleh para ulama adalah merasakan lezatnya segala ketaatan dan siap menunaikan beban agama serta mengutamakan itu daripada seluruh materi dunia. Selain akan merasakan manisnya iman, orang yang mencinatai Rasulullah Saw akan bersama beliau di akhirat. Imam Muslim dari Anas bin Malik ra, bahwa ia berkata:"Pernah seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya:'Wahai Rasulullah kapan hari kiamat datang?

Beliau berasabda:' Apa yang kamu persiapkan untuknya?' Ia menjawab:'Cinta kepada Allah dan
cinta kepada RasulNya.' Beliau bersabda:'Kamu akan bersama orang yang kamu cintai." Allahu Akbar ! betapa agungnya balasan orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw dan mengagungkan beliau.

Tanda-tanda mencintai Rasulullah Saw telah dibicarakan oeh para ulama, suatu contoh Ibnu Hajar berkata:"Termasuk tanda cinta kepada Nabi Saw di atas adlah bahwa seandainya disuruh memilih antara kehilangan dunia atau bertemu dengan Rasululah Saw kalau itu memungkinkan maka ia memilih kehilangan dunia dari pada kehilangan kesempatan untuk melihat beliau,
ia merasa lebih berat kehilangan Rasul Saw dari pada kehilangan kenikmatan dunia, maka orang yang seperti itu telah mendapat sifat kecintaan di atas dan siapa yang tidak bisa demikian maka tidak berhak mendapat bagian dari buah cinta itu. Yang demikian itu tidak hanya terbatas pada persoalan cinta belaka bahkan membela sunnah dan menegakan syariat serta melawan para penentang-penentangnya termasuk amar ma'ruf nahi munkar." Tanda cinta pertama adalah, Rindu Rasulullah Saw di atas segalanya. Sudah menjadi hal yang wajar bagi setiap orang, untuk selalu berhasrat dan berharap serta ingin bertemu dan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya, barang siapa yang mencintai kekasih yang mulia Rasulullah Saw maka sangatlah rindu dan berharap bisa bertemu serta menemani beliau baik di dunia maupun di akhirat. Dia menunggu kebahagian dengan perasaan rindu dan cemas, jika disuruh memilih di antara Rasulullah Saw atau kenikmatan dunia, maka ia lebih memilih bertemu Rasulullah Saw, ia sangat bergembira untuk melihat wajah beliau yang bercahaya dan sangat senang serta bahagia bila bisa diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau dan sangat takut bercampur cemas
bila terhalang tidak bisa melihat dan bertemu beliau bahkan mengguyur deras air mata duka tatkala berpisah dengan beliau.

Cintanya kaum Anshor terhadap Rasulullah Saw telah ditunjukan oleh mereka dengan cara menyabut kedatangan beliau ke kota Madinah yang digambarkan dalam hadits Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair ra, sebagai berikut:"Orang-orang Islam di Madinah mendengar kepergian Rasulullah Saw dari kota Makkah, maka mereka hampir setiap pagi pergi keluar kota di padang pasir untuk menunggu kedatangan Nabi Saw dan tidak pulang ke rumah hingga terik matahari di siang hari mengusir mereka. Pada suatu hari karena lama menunggu, mereka kembali kerumah, setelah mereka sampai di rumah masing-masing, ada seorang yahudi yang mendaki ke tempat yang tinggi di salah satu benteng untuk melihat sesuatu, tiba-tiba ia melihat Rasulullah Saw bersama para sahabatnya mengenakan pakaian putih dari kejahuan menerobos fatamorgana. Sehingga tanpa disadari ia berteriak dengan suara yang tinggi:' Wahai
oranga-orang Arab inilah pemuka kalian yang kalian tunggu-tunggu'. Maka dengan serempak mereka berhamburan, membawa pedang untuk menyambut kehadiran Rasulullah Saw di tengah-tengah padang pasir."

Subhanallah! Betapa dalam rasa rindu mereka ingin menyambut kehadiran Rasulullah Saw hingga mereka mondar-mandir setiap pagi ke padang pasir menunggu kehadiran beliau dan tidak pulang ke rumah hingga terik matahari di tengah siang yang mengusir mereka agar pulang ke rumah masing-masing.

Tanda cinta kedua; Mengorbankan harta dan jiwa demi Rasulullah Saw. Orang yang sedang bercinta, semangat membara, senang hati akan tidak segan-segan mengorbankan segala sesuatu baik berupa jiwa, kesenangan diri dan sesuatu yang paling berharga untuk sang kekasih. Begitu pula pecinta-pecinta Rasulullah Saw yang mulia dari kalangan sahabat, tinta sejarah telah menorehkan catatan emas tentang betapa tinggi pengorbanan dan pembelaan serta kesetiaan mereka terhadap beliau, sehingga orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw setelah merasakan dalam dada mereka kerugian yang tidak terhingga karena tidak mampu menggapai
kebahagian yang teragung dan harapan yang amat mahal. Imam Ahmad meriwayatkan kepada kita dari Barra' bin Azib berkata, Abu Bakar berkata"Pada waktu kami pergi hijrah, orang-orang sedang mengejar kita dan tidak ada yang dapat mengajar kami kecuali Surakah bin Malik bin
Ju'tsum dengan mengendarai kuda. Saya berkata kepada Beliau Saw:'Wahai Rasululah Saw pencarian telah mampu mendapatkan kita?'Maka Beliau bersabda 'Jangan kamu kawatir sesungguhnya Allah pasti bersama kita.' Hingga dia telah mendekati kita dan jarak kami dengan dia kira-kira satu atau dua atau tiga tombak, Abu Bakar berkata: 'Wahai Rasulullah Saw, Orang yang melakukan pencarian telah berhasil mengejar kita? Maka saya menangis?'. Beliau bertanya:'Kenapa kamu menangis?' Saya menjawab: 'Demi Allah, saya menangis bukan karena takut terhadap keselamatan diriku akan tetapi saya takut terhadap keselamatan diri engkau'. Barra' berkata:'Maka Rasulullah Saw mendoakan keburukan atas Surakah denagan berdoa:"Ya Allah, cukupkanlah dia dari kami dengan sesuatu yang Engkau kehendaki." Maka tiba-tiba kaki kuda Surakah terperosok ke dalam tanah yang keras hingga perut kuda menyentuh tanah."

Tanda cinta ketiga; Tunduk terhadap perintah dan menjahui larangannya.Tidak dapat dipungkiri bahwa orang akan selalu taat kepada orang yang dicintainya, dia berusaha melakukan apa saja yang diinginkan oleh sekasihnya dan menghindari segala apa saja yang dibenci olehnya. Ia
merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tidak terhingga. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah Saw yang mulia, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegerah mewujudkan perintah dan bersegerah menjahui larangan beliau. Betapa banyak kita dapatkan sikap-sikap indah yang tercermin dari perilaku sahabat yang mulia dan jujur dalam mencintai Rasulullah Saw. Orang-orang pecinta Rasulullah Saw bukan hanya sanggup meninggalkan suatu yang disenangi saja bahkan mereka sanggup meninggalkan kebiasaannya bertahun-tahun bahkan kebiasan yang mereka warisi secara turun-temurun, namun mereka
tidak menjadikan kebiasan itu sebagai hujjah untuk menentang perintah Rasulullah Saw seperti sikap kebanyakan kaum muslimin zaman sekarang ini. Allah Swt berfirman dalam surat An-Nur:51: "Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min bila mereka dipanggil kepad Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan:'Kami dengar,
dan kami patuhi'. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung,"

Tanda cinta keempat;membela sunnah dan memperjuangkan syariat. Sangat wajar bila orang selalu mengorbankan waktu, tenaga dan seluruh harta kekayaannya seperti pengorbanan yang dilakukan oleh kekasihnya. Rasulullah Saw telah mengorbankan seluruh pemberian Allah Swt baik berupa potensi, kemampuan harta dan jiwa untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari penyembahan hamba kepada penyembahan Rabbnya hamba. Rasulullah Saw berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh Agar kalimat Allah Swt tinggi dan kalimat kekafiran hancur dan hina dan beliau berperang agar tidak muncul fitnah dan hanya
agama Allah Swt yang tegak di muka bumi.Orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw mengikuti dan mencontoh jejak petunjuk beliau dalam semua itu, dengan suka rela mereka dengan bantuan dan karunia Allah Swt selalu siap mengorbankan seluruh potensi dan kemampuan, mempersembahkan harta dan nyawa untuk tujuan seperti tujuan yang ditempuh Rasulullah Saw, beliau mempersembahkan waktu, harta dan jiwa untuk itu.Allah berfirman: "Di antara orang-orang mumin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kapada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)." (Al-Ahzab:23)

Tak terjangkau tinggi pekertimu

Tak tergambar indahnya Akhlakmu

Tak terbalas segala jasamu

Engkaulah Rasul, Rasul Mulia.


Kamis, 11 Januari 2007

Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga



Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga

Pemateri : Ust. Adi JM (id: adijm2001)


*disampaikan di Kajian Muslimah Online, Kamis, 11 Jan 2007


modi_diana: Insya Allah, kajian hari ini akan disampaikan oleh

ust Adi Junjunan Mustafa (id: adijm2001)

modi_diana: Yang akan membawakan tema yang sangat menarik, yaitu:

modi_diana: "Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga"

modi_diana: tafadhol ustadz..

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Diana

Ust. Adi JM: akhwat sekalian perajin Kamus

Ust. Adi JM: saya sampaikan salam penghormatan dalam Islam

Ust. Adi JM: assalaamu'alaikum wr wb

Ust. Adi JM: Alhamdulillaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasuulillaah wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa mawwalah.

Ust. Adi JM: “Salah seorang kalian tidak sampai kepada keimanan yang sempurna, hingga mencintai sesuatu bagi saudaranya, dengan sesuatu yang ia pun mencintai bagi dirinya.” (al-Hadits)

Ust. Adi JM: akhwat sekalian, semoga antunna dalam keadaan sehat wal 'afiyat

Ust. Adi JM: dan semoga Allah berikan keberkahan pada waktu kita dalam kajian hari ini

Ust. Adi JM: seperti disampaikan moderator kita, kajian hari ini bertema:

Ust. Adi JM: Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga

Ust. Adi JM: Dalam banyak kasus, meredupnya cinta dalam keluarga terjadi karena lemahnya sinyal cinta yang kita sampaikan kepada pasangan.

Ust. Adi JM: Sinyal cinta ini bisa berupa tatapan mata, senyuman, ucapan, atau sentuhan ...

Ust. Adi JM: Pada saat kita bercakap-cakap dengan istri/suami, kita dapat menggunakan tatapan mata seefektif mungkin.

Ust. Adi JM: Tatapan mata ini bisa bermakna "aku sangat memperhatikanmu, sayang", "aku sangat senang mendengar ceritamu" ...

Ust. Adi JM: atau "ah ... aku turut bersedih dengan duka di hatimu," dan lain-lain.

Ust. Adi JM: Senyuman juga punya banyak arti, misalnya: "terima kasih, sayang",

Ust. Adi JM: atau "aku sayang kamu", "kamu lucu dech, aku suka".

Ust. Adi JM: Yang pasti senyuman yang kita kehendaki adalah yang menentramkan hati.

Ust. Adi JM: Dalam sabda Nabi Muhammad saw,"Raut wajah yang dihiasi senyuman terhadap saudaramu adalah shadaqah." Senyuman adalah pancaran ketulusan hati dan kemurnian iman seseorang.

Ust. Adi JM: Sinyal cinta yang lebih jelas tentu saja mesti disampaikan lewat ucapan yang baik.

Ust. Adi JM: Seorang yang bijak akan memperhatikan betul ucapannya.

Ust. Adi JM: Dan kepada istri/suami, tentulah ia akan memilih sebaik-baik kata.

Ust. Adi JM: Lewat ucapan, kita dapat mengungkapkan apresiasi, terima kasih, dan rasa suka. Lewat ucapan kita dapat menyampaikan harapan dan keinginan.

Ust. Adi JM: Lewat ucapan pula kita bisa sampaikan kekurangsukaan dan kritik yang membangun kepada istri/suami kita.

Ust. Adi JM: Akhirnya, sinyal cinta dapat disampaikan dalam sentuhan lembut penuh cinta dan kasih sayang.

Ust. Adi JM: Dan pada hubungan intim suami-istri terdapat kebahagiaan lahir dan batin.

Ust. Adi JM: Tentu saja jika momentum ini didahului dan dilakukan dengan terampil dan dalam suasana yang penuh cinta dan kasih sayang tadi.

Ust. Adi JM: Nah, akhwat sekalian ... pada kesempatan ini kita akan lebih banyak bicara ttg menyampaikan sinyal cinta dengan ucapan atau ungkapan kata

Ust. Adi JM: saya mohon maaf kalau ilustrasi2 yang akan disampaikan lebih dari sisi seorang suami

Ust. Adi JM: mudah2an bisa diambil hikmahnya

Ust. Adi JM: ada pertanyaan mendasar dalam menyampaikan sinyal cinta, yaitu:

Ust. Adi JM: Haruskah Cinta Diungkapkan?

Ust. Adi JM: Seorang sahabat menyatakan kekagumannya kepada teman-teman lulusan Eropa.

Ust. Adi JM: sahabat saya ini lama kuliah di Jepun

Ust. Adi JM: Saya tanya apa yang dikaguminya? Tentang kebiasaan mengungkapkan perasaan kepada istri, katanya.

Ust. Adi JM: Ia pun bercerita, seorang sahabatnya yang lulusan Jerman menginap beberapa malam di apartemennya.

Ust. Adi JM: Setiap kali menelpon istrinya di Jakarta, selalu sahabat saya ini mendengar ungkapan Ich liebe dich dari sang sahabat itu ke seberang sana.

Ust. Adi JM: (tahu kan arti Ich liebe dich?)

Ust. Adi JM: ikuti aja dulu ya ...

Ust. Adi JM: ntar dari konteksnya ketahuan kok

Ust. Adi JM: oke kita terusin ...

Ust. Adi JM: Saya tersenyum mendengarnya, lalu mengatakan,"Lho, saya malah heran kalau seorang suami tidak pernah mengatakan aku sayang sama kamu, istriku ...

Ust. Adi JM: atau sesekali mengatakan aku hari ini seneng abizz melihatmu, sayang ..."

Ust. Adi JM: Yang terakhir itu sebetulnya ungkapan yang lebih banyak dipakai anak muda, tapi cukup segar lah kalau sesekali diungkapkan.

Ust. Adi JM: Saya sampaikan, mungkin teman-teman di Eropa terkena imbas Perancis atau Paris yang terkenal romantis.

Ust. Adi JM: Sahabat saya tersenyum,"Wah, pantas ... mungkin kamu terkena gaya perancis juga alias perapatan ciamis ...!" Kami tertawa.

Ust. Adi JM: Lalu saya sedikit kisahkan bagaimana suasana romantis Paris itu.

Ust. Adi JM: Meskipun tak semua hal bisa dijadikan pelajaran, tapi dari Paris saya tahu sebagian arti romantis.

Ust. Adi JM: (oya, alhamdulillah saya sempat mendapat rizki kuliah di Belanda 1989-1996)

Ust. Adi JM: "Bisa jadi ada teman-teman secara tidak sadar sudah bergaya Jepang dalam berkomunikasi kepada istri ...," kata sahabat saya itu tiba-tiba.

Ust. Adi JM: (maaf ini memang konteks cerita Jepang ya ... mungkin Ind lain)

Ust. Adi JM: Mendengar kalimat itu membuat perasaan saya menerawang membayangkan otokorashi ala kaum samurai.

Ust. Adi JM: (otokorashi = style kaum lelaki)

Ust. Adi JM: Apakah kerasnya dunia luar, membuat beku komunikasi di dalam rumah? Wah dingin banget, kata saya dalam hati.

Ust. Adi JM: baik ... sampai sini kisah saya sama sobat saya

Ust. Adi JM: otokrasi beda lagi ya

Ust. Adi JM: Sudah jelas Nabi saw dan para sahabatnya itu orang-orang yang punya jiwa perjuangan yang hebat.

Ust. Adi JM: Kehidupan mereka di Madinah hampir tak pernah sepi dari perang atau ekspedisi militer.

Ust. Adi JM: Justru dalam kerasnya perjuangan itulah mereka menemukan keseimbangan pada kelembutan interaksi dengan istri dan anak-anak.

Ust. Adi JM: Setiap kali pulang berjihad, Nabi selalu disambut anak-anak kecil Madinah. Bukan hanya cucu beliau yang berlari menghampiri beliau, tapi juga beberapa anak lain.

Ust. Adi JM: Lalu Nabi pun memangku salah seorang dari anak-anak itu, sementara yang lainnya menarik-narik kain baju beliau, karena beliau memang begitu lembut dan menyayangi anak-anak.

Ust. Adi JM: Saat pulang dari sebuah ekspedisi militer, Nabi menggoda Jabir, sahabatnya yang pengantin baru.

Ust. Adi JM: "Wah, tentu bantal-bantal empuk sudah disiapkan di rumahmu ...," kata beliau.

Ust. Adi JM: Jabir terkejut dan mengatakan,"Tapi kami tak punya bantal-bantal empuk di rumah ..."

Ust. Adi JM: Tentu saja respon Jabir yang serius itu membuat Nabi tersenyum, sebab kalimat beliau adalah kiasan kemesraan istri yang menanti Jabir di rumahnya.

Ust. Adi JM: Bisa jadi Jabir yang masih muda itu gugup dan tidak siap diajak bergurau oleh satu pribadi yang amat dihormatinya ini.

Ust. Adi JM: Benarlah perjuangan tak membuat Nabi dan para sahabatnya menjadi dingin dan keras dalam interaksi dengan para istri mereka.

Ust. Adi JM: Justru kemesraan itu menjadi penyeimbangan suasana perjuangan.

Ust. Adi JM: Nabi pernah berpesan:

Ust. Adi JM: Kalau kau mencintainya, maka sampaikanlah.

Ust. Adi JM: Ini tuntunan hikmah untuk mempererat persaudaraan; Maka menyatakan cinta kepada istri/suami itu bagian dari hikmah kenabian.

Ust. Adi JM: Kaidah ushul mengatakan, min baabil aulaa, sungguh lebih utama untuk menyatakan cinta kepada istri/suami.

Ust. Adi JM: akhirnya saya ingin tutup pengantar diskusi kita dengan obrolan sepasang suami istri

Ust. Adi JM: begini ...

Ust. Adi JM: "Hari ini aku betul-betul kangen ... sampai pengen nangis," katanya.

Ust. Adi JM: "Oya, jam berapa kangennya?"

Ust. Adi JM: "Sekitar jam 5 sore ..."

Ust. Adi JM: "Oh pantesan ... Jam segituan, rasanya saya juga enggak bisa konsentrasi di depan komputer. Kalau kangen ... coba tahan dikit lah, biar setrumannya enggak kenceng ke sini, saya

Ust. Adi JM: Kalau kangen ... coba tahan dikit lah, biar setrumannya enggak kenceng ke sini, sayang ..."

Ust. Adi JM: "Oyaaa ...? Apa enggak salah nih. Jangan-jangan di sana dech yang kangen duluan."

Ust. Adi JM: "Enggak juga, kayaknya di sana duluan ..."

Ust. Adi JM: "Ya udah, ambiiil ... mangga bungkuuus ..."

Ust. Adi JM: (rupanya orang sunda nih mereka)

Ust. Adi JM: "He he he ..."

Ust. Adi JM: "Kenapa ketawa?"

Ust. Adi JM: "Enggak … Kadang kamu luchu ... Thanks ya, udah dikangenin. Enggak penting siapa yang kangen duluan, yang pasti ik houd van jou ..."

Ust. Adi JM: (ik houd van jou = Ich liebe dich)

Ust. Adi JM: "Ik weet het. I love you too ..."

Ust. Adi JM: (ik weet het = saya tahu ...)

Ust. Adi JM: "Alhamdulillah."

Ust. Adi JM: "Alhamdulillah ..."

Ust. Adi JM: Udah segitu obrolannya

Ust. Adi JM: Penutup:

Ust. Adi JM: Ya Allah, jadikan cinta kami kepada istri-istri dan suami-suami kami sebagai cinta karenaMu, yang menjadi wasilah kami merasakan manisnya iman dan meraih ridhaMu.

Ust. Adi JM: Ya Allah, ampuni kami ketika berlebihan dalam bersikap.

Ust. Adi JM: Ya Allah, karuniakanlah kepada kami istri/suami dan anak-anak yang tetap mendorong kami untuk istiqamah dalam iman dan perjuangan. Aamiin.

Ust. Adi JM: Sekian ...

Ust. Adi JM: Cukup pengantarnya mbak Diana, silakan dipandu diskusinya.

modi_diana: Jazakallahu khoiron katsiro ustadz.


**

**sesi tanya-jawab**

#1

ukhti_hanim: pertanyaannya; istri jabir namanya siapa

ukhti_hanim: sm mo tau hadistnya

ukhti_hanim: riwayat hadist cerita itu, klw boleh

Ust. Adi JM: terima kasih buat mbak Hanim

Ust. Adi JM: sayang pada kisah tsb tidak disampaikan nama istri Jabir

Ust. Adi JM: yang saya ingat, Jabir menikahi janda dan usianya lebih tua dari dirinya

Ust. Adi JM: saat Nabi bertanya, kenapa tidak kau nikahi gadis, hingga kau bisa bercanda dengannya dan dia pun bercanda denganmu

Ust. Adi JM: Jabir menjawab, orang tuanya sudah meninggal

Ust. Adi JM: dan ia punya adik2 yang kecil

Ust. Adi JM: jadi ia berharap istrinya bisa membantu

Ust. Adi JM: mendengar itu Nabi bisa memahami pilihan Jabir

Ust. Adi JM: coba dicari di buku "senyum2 Nabi" ya

Ust. Adi JM: saya sudah terlupa dari buku mana saya baca

Ust. Adi JM: atau mungkin bisa ditemukan di buku ar-Rasul saw tulisan ust Said Hawwa

Ust. Adi JM: afwan saya terlupa

Ust. Adi JM: itu buat mbak Hanim semoga menjawab

#2

ukhti_mimin: tadi bapak bilang: Lewat ucapan kita dapat menyampaikan harapan dan keinginan. Lewat ucapan pula kita bisa sampaikan kekurangsukaan dan kritik yang membangun kepada istri/suami kita.

ukhti_mimin: pertanyaannya: mnta tlg cara komunikasi yg baik ttg hal tsb agar suami tdk tersinggung.

ukhti_mimin: sy sementara ini menyimpulkan bahwa ternyata laki2 punya ego khusus

ukhti_mimin: thd perempuan

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Mimin

Ust. Adi JM: secara umum masalah ini dibahas para ulama kita dalam kajian2 "adab memberi nasihat"

Ust. Adi JM: misalnya disampaikan dg sirr, artinya scr rahasia ... jadi contohnya jangan di depan anak2

Ust. Adi JM: apalagi di depan tetangga atau orang lain

Ust. Adi JM: bahkan istri yang bijak enggak akan menyampaikan nasihat/kritik di depan ortu atau mertua

Ust. Adi JM: kemudian, hal2 lainnya ... disampaikan pada moment yang tepat

Ust. Adi JM: jangan pas capek2nya baru pulang kantor misalnya

Ust. Adi JM: carilah suasana2 yang santai

Ust. Adi JM: misal: menjelang tidur, saat rihlah ...

Ust. Adi JM: kemudian ... sampaikan dengan cara yang lemah lembut dan kalimat2 yang baik

Ust. Adi JM: misalnya: gini mas ... menurut saya sikap mas kemarin itu kurang pas ...

Ust. Adi JM: karena ... bla bla bla

Ust. Adi JM: tapi itu pendapat saya lho ...

Ust. Adi JM: saya bisa salah juga ...

Ust. Adi JM: kira2 redaksi seperti itu

Ust. Adi JM: last but not least

Ust. Adi JM: bersikap ikhlas saat mengritik ... jangan dengan kondisi hati yang dibakar rasa marah

Ust. Adi JM: susah ya ...

Ust. Adi JM: tapi kira2 begitu cara memberikan kritik

ukhti_mimin: kalo semua adab sudah terpenuhi tp yah.. karena ada ego kelaki2an yg kadang tdk bisa nerima masukan dari "bawahan" gmn ngatasinya ya pak?

ukhti_mimin: cara yg efektifnya spt apa selain akhirnya kita diemmm gak jg ngomong

Ust. Adi JM: kalau kita sudah usahakan sebaik2nya tapi masih mentok ... maka bersabarlah

Ust. Adi JM: mungkin cara2 ngambek asal jangan kelewatan malah efektif ya ...

Ust. Adi JM: masing2 istri tahu bgm menghadpi suaminya ... enggak ada rumus umum

Ust. Adi JM: tapi, rumus umumnya, tugas kita adalah mengingatkan

Ust. Adi JM: sama seperti berdakwah, tugasnya adalah tabligh ... selebihnya kita berdoa kpd Allah

ukhti_mimin: apa itu artinya harus ngalah pak?

ukhti_mimin: krn sy liat blm berbagai kasus perempuan harus sering ngalah biar gak bentrok

Ust. Adi JM: iya ... kadang ngalah di hadapan suami malah pintu luluhnya hati dia

Ust. Adi JM: biarkan si suami merenung pada saat2 kesendiriannya

Ust. Adi JM: ini bg kesabaran para ibu yang mesti ada

Ust. Adi JM: dikatakan: al waqt juz'un minal 'ilaaj

Ust. Adi JM: waktu itu bagian dari pengobatan

Ust. Adi JM: begitu mbak Mimin.

#3

ukhti_nova: Pertanyaan : bolehkah suami istri memperlihatkan kemesraan dan mengirimkan sinyal2 cinta didepan anak2 mereka atau orang lain? adakah adab2nya diatur dalam alqur'an?

ukhti_nova: afwan kalau ada yg salah dr pertanyaan saya

ukhti_nova: sekian pertanyaannya

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Nova

Ust. Adi JM: saya melihat tampilnya kita sbg ortu dalam keadaan mesra, hangat dan harmonis akan menjadi pengalaman baik bagi jiwa anak2 kita

Ust. Adi JM: jadi sebatas kita berjalan berpegangan tangan

Ust. Adi JM: atau duduk berdua di sofa dengan posisi merapat, tangan merangkul ke bahu

Ust. Adi JM: atau sun di pipi atau di kening

Ust. Adi JM: itu hal-hal yang wajar diketahui anak2

Ust. Adi JM: justru suasana mesra seperti itu memberikan keseimbangan bagi wawasan si anak

Ust. Adi JM: oh ternyata ayah sama bunda juga bisa mesra ya

Ust. Adi JM: oh ternyata menikah itu asyik ya

Ust. Adi JM: dan ternyata bukan pada "pacaran" sebelum nikah kemesraan yang halal itu dilakukan

Ust. Adi JM: makanya, dalam kasus kami di rumah ... kami bisa sampaikan kepada anak2 ... "itu" baru dilakukan kalau udah nikah ya ...

Ust. Adi JM: "itu" yang dimaksud misalnya tayangan orang pegangan tangan, sun-sunan yang mereka lihat di teve

Ust. Adi JM: maksud saya, jangan sampai pd anak muncul persepsi ... pacaran itu asyik, mesra ... tapi kalau udah nikah "garink", enggak mesra!

Ust. Adi JM: buktinya abi sama ummi kayak gitu ...

Ust. Adi JM: gitu mbak Nova

Ust. Adi JM: nah, di mana batas2nya

Ust. Adi JM: saya melihat ini masalah al-'urf atau kepatutan

Ust. Adi JM: cium bibir ... mungkin kalau kecup saja masih oke

Ust. Adi JM: tapi kalau ciuman hot ya jangan

Ust. Adi JM: kemudian tentu saja hubungan intim dan segenap pendahuluannya

Ust. Adi JM: itu pun tidak pantas dilihat anak2

Ust. Adi JM: bahkan Quran di surat an-Nuur menetapkan tiga waktu aurat bagi suami istri thd anak2 dan orang yang dirumah

Ust. Adi JM: sebelum waktu fajr, waktu dhuhr dan setelah isya ...

Ust. Adi JM: ini di surat an-Nuur

Ust. Adi JM: pada waktu2 itu anak2 mesti ketok pintu dan minta ijin kalau mau masuk kamar tidur ortu mereka

Ust. Adi JM: demikian ya mbak Nova.

#4

ukhti_yokka: pertanyaan : Emm..kdg klo blm terbiasa kan kaku jg ngucap syg2 gitu, perasaan mlh jd aneh, gimana ngatasinnya ust?

Ust. Adi JM: itu pertanyaannya?

Ust. Adi JM: baik ...

Ust. Adi JM: memang ekspresi cinta itu bisa berlainan dari orang ke orang

Ust. Adi JM: dari bangsa ke bangsa

Ust. Adi JM: enggak usah dipaksakan juga mengubah gaya scr drastis

Ust. Adi JM: enggak suami/istri kita malah curiga

Ust. Adi JM: aya naon ieu teh

Ust. Adi JM: ada apa nih

Ust. Adi JM: tapi bahwa setiap orang itu butuh dicintai, ini aksiomatis

Ust. Adi JM: adapun pengungkapan, ini bisa tumbuh dipengaruhi lingkungan, bacaan, atau mungkin tontonan

Ust. Adi JM: yang jadi masalah, skr kan pengungkapan sayang atau cinta malah marak pada hal-hal yang dilarang agama

Ust. Adi JM: masa yang udah suami-istri, yang udah jelas2 halalnya malah pelit menyampaikan sayang dan cinta

Ust. Adi JM: ditambah lagi arahan2 nabi saw yang saya sampaikan tadi

Ust. Adi JM: beliau menganjurkan kita mengungkapkan cinta kita fillahi, karena Allah, kepada yang kita cintai

Ust. Adi JM: jadi ... silakan mulai dari yang sederhana

Ust. Adi JM: misalnya menyampaikan, mas ... adek suka kalau mas pakai kemeja biru muda itu

Ust. Adi JM: apalagi bawahnya pakai celana biru tua yang kita beli lebaran lalu

Ust. Adi JM: itu contoh kalimat apresiasi ...

Ust. Adi JM: gitu ya, buat mbak Yokka

Ust. Adi JM: jadi sampaikan aja pakai bhs arab dulu ke suami, uhibbuka fillahi, kang ...

Ust. Adi JM: sekian buat mbak Yokka

Ust. Adi JM: afwan

Ust. Adi JM: uhibbuka --> buat pria

Ust. Adi JM: uhibbuki --> buat perempuan

Ust. Adi JM: uhibbu supermie --> buat yang suka supermie

#5

ukhti_lita: begini pak ustad..

ukhti_lita: misalnya kita menikah tanpa cinta

ukhti_lita: terus cinta itu belum juga tumbuh setelah pernikahan

ukhti_lita: apakah kata2 mesra itu bisa menciptakan cinta pak ustad

ukhti_lita: walau malu tuk ungkapain

ukhti_lita: itu aja pak ustad.. ini misalnya..

Ust. Adi JM: saya jawab pertanyaan mbak Lita ya

Ust. Adi JM: jadi ... bgm jika pernikahan tidak didasari cinta

Ust. Adi JM: sebetulnya ini memerlukan bahasan lain

Ust. Adi JM: bagaimana menumbuhkan cinta

Ust. Adi JM: dua pekan lagi semoga bisa dibahas ya

Ust. Adi JM: tapi ... sementara tanggapan saya begini

Ust. Adi JM: cinta itu bukan sesuatu yang statis

Ust. Adi JM: ada rumus begini, cinta kpd Allah cerminan iman kepadanya

Ust. Adi JM: iman itu bisa bertambah dan berkurang ... begitu juga cinta

Ust. Adi JM: ia sesuatu yang dinamis

Ust. Adi JM: mungkin saat awal nikah cintanya dikit

Ust. Adi JM: tapi dengan effort yang tepat, cinta itu dapat tumbuh kembang

Ust. Adi JM: caranya adalah dengan saling menghargai dan menghormati

Ust. Adi JM: dengan lebih mengenal sisi2 baik pasangan kita

Ust. Adi JM: dan dengan meredam ego diri kita

Ust. Adi JM: insya Allah kondisi2 ini akan secara otomatis membawa kita pada ucapan sayang kepada pasangan

Ust. Adi JM: ini memang bukan buat diteori2kan, tapi buat dipraktekan

Ust. Adi JM: cobalah!

Ust. Adi JM: gitu buat mbak Lita

#6

ukhti_zuliawati: apakah dengan membuat istri/suami cemburu itu 'bumbunya' cinta ustad?

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Zuliawati

Ust. Adi JM: ini pertanyaan bagus buat menutup kajian

Ust. Adi JM: benar sekali ... cemburu bukan hanya bumbunya cinta

Ust. Adi JM: bahkan cinta sejati itu mesti disertai cemburu

Ust. Adi JM: dalam bahasa hadits disebutkan "ghirah"

Ust. Adi JM: Ibnul Qayyim dalam bukunya "taman orang-orang yang jatuh cinta dan dirundung rindu" mengupas amat dalam mengenai cemburu ini

Ust. Adi JM: untuk kasus suami-istri, seorang istri yang mencintai suaminya, akan sakit jika sang suami mencintai yang lain

Ust. Adi JM: begitu juga suami enggak akan rela (ridho) istrinya mencintai yang lain

Ust. Adi JM: jadi cemburu itu bukan cuma bumbu, tapi syarat cinta

Ust. Adi JM: ada seorang shahabat yang dikenal amat pencemburu

Ust. Adi JM: sampai2 perihal dirinya jadi obrolan beberapa sahabat lain di hadapan Nabi

Ust. Adi JM: saat itu Nabi berkomentar

Ust. Adi JM: kalian heran dengan cemburunya si fulan thd istrinya

Ust. Adi JM: sungguh, aku lebih pencemburu dari pada si fulan itu

Ust. Adi JM: dan Allah lebih pencemburu ...

Ust. Adi JM: cemburunya Allah adalah apabila hamba2Nya menyembah (mencintai) kepada selain dirinya

Ust. Adi JM: jadi jelaslah cemburu itu menyatu dengan citnta

Ust. Adi JM: demikian mbak Zuliawati.

Ust. Adi JM: cukup ya ... akhwat sekalian

Ust. Adi JM: skr udah jam 17:03 di Jepang dan karena winter (musim dingin) udah gelap di luar

modi_diana: alhamdulillah..

modi_diana: tafadhol ustadz..

modi_diana: jazakallah khoiron katsio..

Ust. Adi JM: waiyyakunn

Ust. Adi JM: baik mbak Diana dan akhwat sekalian saya pamit

Ust. Adi JM: afwan kalau ada yang salah. wassalaamu'alaikum wr wb

**

Materi tersebut didownload dari: Sampaikan Sinyal Cinta Itu

Dalam banyak kasus, meredupnya cinta dalam keluarga terjadi karena lemahnya sinyal cinta yang kita sampaikan kepada pasangan. Sinyal cinta ini bisa berupa tatapan mata, senyuman, ucapan, atau sentuhan ...

Pada saat kita bercakap-cakap dengan istri/suami, kita dapat menggunakan tatapan mata seefektif mungkin. Tatapan mata ini bisa bermakna "aku sangat memperhatikanmu, sayang", "aku sangat senang mendengar ceritamu", "ah ... aku turut bersedih dengan duka di hatimu," dan lain-lain. Senyuman juga punya banyak arti, misalnya: "terima kasih, sayang", "aku sayang kamu", "kamu lucu dech, aku suka". Yang pasti senyuman yang kita kehendaki adalah yang menentramkan hati. Dalam sabda Nabi Muhammad saw,"Raut wajah yang dihiasi senyuman terhadap saudaramu adalah shadaqah." Senyuman adalah pancaran ketulusan hati dan kemurnian iman seseorang.

Sinyal cinta yang lebih jelas tentu saja mesti disampaikan lewat ucapan yang baik. Seorang yang bijak akan memperhatikan betul ucapannya. Dan kepada istri/suami, tentulah ia akan memilih sebaik-baik kata. Lewat ucapan, kita dapat mengungkapkan apresiasi, terima kasih, dan rasa suka. Lewat ucapan kita dapat menyampaikan harapan dan keinginan. Lewat ucapan pula kita bisa sampaikan kekurangsukaan dan kritik yang membangun kepada istri/suami kita.

Akhirnya, sinyal cinta dapat disampaikan dalam sentuhan lembut penuh cinta dan kasih sayang. Dan pada hubungan intim suami-istri terdapat kebahagiaan lahir dan batin. Tentu saja jika momentum ini didahului dan dilakukan dengan terampil dan dalam suasana yang penuh cinta dan kasih sayang tadi.

Dalam sebuah diskusi bertajuk Memberi Kepuasan kepada Pasangan, seorang peserta bertanya kira-kira sebagai berikut,"Apabila sedang dalan keadaan hamil tua, suami meminta jatah-nya, sedangkan kami dalam keadaan lelah dan enggak mood apa yang harus kita lakukan ...? Apakah kami berdosa jika tidak memenuhi keinginan suami?"

Saat itu saya tidak menjawab masalah dosa atau tidak. Saya melihat ada hal lain yang mesti diletakkan secara proporsional. Pertama, secara umum hubungan intim saat hamil itu tidak akan mengganggu kesehatan janin yang dikandung. Permasalahannya memang bisa jadi ada ketidaknyamanan fisik dan hormonal pada seorang istri saat mengandung. Hal kedua yang perlu diperhatikan, seringkali para suami muda kurang memahami perlunya suasana psikologis yang nyaman bagi seorang istri untuk berhubungan intim, apalagi dalam kondisi hamil tua. Maka diperlukan perlakuan yang lembut untuk sampai pada puncak hubungan.

Ibu penanya tadi memotong,"Tapi itulah masalahnya, Pak. Kadang suami tidak mengerti hal seperti itu ...!"

Saya sampaikan, di situlah perlunya seorang istri menyampaikan apa yang ia inginkan dari suaminya. Dalam kasus di atas, istri bisa saja mengatakan,"Bang ... tolong donk jangan terburu-buru. Saya masih ingin dipijitin dulu kaki dan punggungnya nih, soalnya agak pegal-pegal ..." Dengan demikian suami bisa mengetahui apa yang diinginkan istrinya. Dan hubungan yang dikehendaki istri dan suaminya dapat berlangsung dalam suasana yang nyaman.

Ringkasan tanya-jawab di atas menggambarkan contoh sederhana dan sehari-hari tentang pentingnya kita menyampaikan sinyal cinta secara clear kepada pasangan kita. Insya Allah dengan penyampaian sinyal-sinyal cinta yang jelas, tepat dan bervariasi kita akan senantiasa memperoleh ketentraman, cinta dan kasih sayang dalam berumah tangga.

artikel terkait: Haruskah Cinta Diungkapkan?


Haruskah Cinta Diungkapkan?

Seorang sahabat menyatakan kekagumannya kepada teman-teman lulusan Eropa. Saya tanya apa yang dikaguminya? Tentang kebiasaan mengungkapkan perasaan kepada istri, katanya. Ia pun bercerita, seorang sahabatnya yang lulusan Jerman menginap beberapa malam di apartemennya. Setiap kali menelpon istrinya di Jakarta, selalu sahabat saya ini mendengar ungkapan Ich liebe dich dari sang sahabat itu ke seberang sana.

Saya tersenyum mendengarnya, lalu mengatakan,"Lho, saya malah heran kalau seorang suami tidak pernah mengatakan aku sayang sama kamu, istriku ... atau sesekali mengatakan aku hari ini seneng abizz melihatmu, sayang ..." Yang terakhir itu sebetulnya ungkapan yang lebih banyak dipakai anak muda, tapi cukup segar lah kalau sesekali diungkapkan.

Saya sampaikan, mungkin teman-teman di Eropa terkena imbas Perancis atau Paris yang terkenal romantis. Sahabat saya tersenyum,"Wah, pantas ... mungkin kamu terkena gaya perancis juga alias perapatan ciamis ...!" Kami tertawa. Lalu saya sedikit kisahkan bagaimana suasana romantis Paris itu. Meskipun tak semua hal bisa dijadikan pelajaran, tapi dari Paris saya tahu sebagian arti romantis.

"Bisa jadi ada teman-teman secara tidak sadar sudah bergaya Jepang dalam berkomunikasi kepada istri ...," kata sahabat saya itu tiba-tiba. Mendengar kalimat itu membuat perasaan saya menerawang membayangkan otokorashi ala kaum samurai. Apakah kerasnya dunia luar, membuat beku komunikasi di dalam rumah? Wah dingin banget, kata saya dalam hati.

***

Sudah jelas Nabi saw dan para sahabatnya itu orang-orang yang punya jiwa perjuangan yang hebat. Kehidupan mereka di Madinah hampir tak pernah sepi dari perang atau ekspedisi militer. Justru dalam kerasnya perjuangan itulah mereka menemukan keseimbangan pada kelembutan interaksi dengan istri dan anak-anak. Setiap kali pulang berjihad, Nabi selalu disambut anak-anak kecil Madinah. Bukan hanya cucu beliau yang berlari menghampiri beliau, tapi juga beberapa anak lain. Lalu Nabi pun memangku salah seorang dari anak-anak itu, sementara yang lainnya menarik-narik kain baju beliau, karena beliau memang begitu lembut dan menyayangi anak-anak.

Saat pulang dari sebuah ekspedisi militer, Nabi menggoda Jabir, sahabatnya yang pengantin baru. "Wah, tentu bantal-bantal empuk sudah disiapkan di rumahmu ...," kata beliau. Jabir terkejut dan mengatakan,"Tapi kami tak punya bantal-bantal empuk di rumah ..." Tentu saja respon Jabir yang serius itu membuat Nabi tersenyum, sebab kalimat beliau adalah kiasan kemesraan istri yang menanti Jabir di rumahnya. Bisa jadi Jabir yang masih muda itu gugup dan tidak siap diajak bergurau oleh satu pribadi yang amat dihormatinya ini.

Benarlah perjuangan tak membuat Nabi dan para sahabatnya menjadi dingin dan keras dalam interaksi dengan para istri mereka. Justru kemesraan itu menjadi penyeimbangan suasana perjuangan.

***

Kalau kau mencintainya, maka sampaikanlah. Ini tuntunan hikmah untuk mempererat persaudaraan; Maka menyatakan cinta kepada istri itu bagian dari hikmah kenabian. Kaidah ushul mengatakan, min baabil aulaa, sungguh lebih utama untuk menyatakan cinta kepada istri.

***

"Hari ini aku betul-betul kangen ... sampai pengen nangis," katanya.

"Oya, jam berapa kangennya?"

"Sekitar jam 5 sore ..."

"Oh pantesan ... Jam segituan, rasanya saya juga enggak bisa konsentrasi di depan komputer. Kalau kangen ... coba tahan dikit lah, biar setrumannya enggak kenceng ke sini, sayang ..."

"Oyaaa ...? Apa enggak salah nih. Jangan-jangan di sana dech yang kangen duluan."

"Enggak juga, kayaknya di sana duluan ..."

"Ya udah, ambiiil ... mangga bungkuuus ..."

"He he he ..."

"Kenapa ketawa?"

"Enggak, kadang kamu luchu ... thanks ya, udah dikangenin. Enggak penting siapa yang kangen duluan, yang pasti ik houd van jou ..."

"Ik weet het. I love you too ..."

"Alhamdulillah."

"Alhamdulillah ..."

***

Ya Allah, jadikan cinta kami kepada istri-istri kami sebagai cinta karenaMu, yang menjadi wasilah kami merasakan manisnya iman dan meraih ridhaMu. Ya Allah, ampuni kami ketika berlebihan dalam bersikap. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami istri dan anak-anak yang tetap mendorong kami untuk istiqamah dalam iman dan perjuangan. Amiin.