Senin, 16 Oktober 2006

Perayaan Hari Idul Fitri

Sesungguhnya Idul Fitri telah menjadi hari kegembiraan, saling bertemu, berkunjung, dan mengucap selamat.
Adapun beberapa adab yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi hari khusus ini adalah:

1. Hendaklah menghadapi Idul Fitri dengan niat yang baik. Tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu cuek sehingga tidak menunjukkan kegembiraan.

2. Mandi. Kegembiraan tidak akan lengkap bila tubuh kotor. Maka disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum pergi shalat Ied.

3. Bersih secara sempurna dan wangi. Bagi pria, pakailah wewangian. Sedang kaum wanita, tidak dibolehkan memakai wangi-wangian. Tujuannya adalah agar muslim dan muslimah dalam kondisi yang baik dan wangi dalam menghadapi hari yang penuh kegembiraan.

4. Mengenakan pakaian yang baru, jika mampu. Yaitu, pakaian yang belum pernah dikenakan sebelumnya. Hal ini merupakan bentuk kesyukuran terhadap nikmat dari Allah SWT.

Umar bin Khattab (ra) pernah membeli baju sutra untuk Rasulullah agar dipakai pada hari Ied. Rasulullah menolak memakainya karena baju tersebut berbahan sutra namun Rasulullah (saw) menyetujui perbuatan Ummar tersebut yang berhias pada hari Ied.

Bila tidak mempunyai pakaian yang baru, gunakanlah pakaian yang paling bagus. Buatlah persiapan untuk merayakan hari istimewa ini.

5. Mengeluarkan zakat fitrah sebelum berangkat shalat Ied. Boleh membayarnya dua hari sebelum 1 Syawal. Tujuannya untuk berbagi kegembiraan di hari raya bagi orang-orang yang kurang mampu. Bila imam mengumandangkan takbir untuk shalat Ied, maka sudah tidak bisa lagi membayar zakat (kecuali karena alasan udzur), yang ada hanyalah sedekah.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
"Bahwa Rasulullah saw. memerintahkan agar zakat fitrah diberikan sebelum manusia berangkat untuk salat Ied."

6. Rasulallah memakan beberapa butri korma sebelum shalat Ied. Intinya, makanlah sebelum Shalat Ied.

Dari Anas Radliallahu anhu, ia berkata :
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pergi (ke tanah lapang) pada hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma".[1]

7. Pada Idul Adha, tidak makan sebelum berangkat shalat. Sunnahnya seperti itu, kalau tak mampu, bolehlah makan. Sunnahnya, setelah Shalat Idul Adha, makanlah makanan dari daging hewan kurban yang disembelih.

Dari Buraidah Radliallahu anhu ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari Raya Kurban beliau tidak makan hingga kembali (dari mushalla) lalu beliau makan dari sembelihannya" [Diriwayatkan Tirmidzi 542, Ibnu Majah 1756, Ad-Darimi 1/375 dan Ahmad 5/352 dan isnadnya hasan]

8. Bersegera berangkat ke tempa Shalat Ied.

9. Membawa serta para wanita menuju tempat shalat. Termasuk yang sedang haid, tua-muda, janda, dan lainnya. Bila sedang haid, tidaklah boleh shalat. Tujuannya agar semua para wanita bersama-sama merasakan dan merayakan kegembiraan.

10. Hendaklah membawa anak-anak ke tempat shalat. Agar mereka juga merasakan kegembiraannya perayaan Ied walau mereka belum wajib shalat.

11. Rasulullah keluar ke tempat shalat dengan berjalan kaki. Beliau tidak menggunakan hewan kendaraannya. Bagi yang letak rumahnya jauh dari lokasi shalat, boleh menggunakan kendaraan.

At-Tirmidzi meriwayatkan (530) dan Ibnu Majah (161) dari Ali Radliallahu 'anhu bahwa ia berkata : "Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki". [Dihasankan oleh Syaikh kami Al-Albani dalam "Shahih Sunan Tirmidzi"].

12. Bertahlil dan bertakbir dengan suara yang keras sewaktu berangkat ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan kegembiraan dan kemeriahan lebaran dengan Kebesaran Allah.

Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir".[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Al-Mushannaf" dan Al-Muhamili dalam "Kitab Shalatul 'Iedain" dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab "Silsilah Al Hadits As-Shahihah" (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Ied]

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

13. Tidak mengerjakan shalat apapun sebelum Shalat Ied. Kecuali bila shalatnya di dalam masjid, maka mengerjakan Shalat Tahiyyatul Masjid. Setelah Shalat Ied dan sampai di rumah, Rasulullah lalu mengerjakan shalat 2 raka'at.

14. Tidak ada adzan dan iqomah selama Shalat Ied.

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.:
"Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Atha telah mengabarkanku dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, keduanya berkata: Tidak ada azan bagi salat hari raya idul fitri atau idul adha. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang itu, lalu Jabir bin Abdullah Al-Anshari memberitahukan kepadaku bahwa tidak ada azan untuk salat hari raya idul fitri, baik saat imam menaiki mimbar maupun sesudahnya. Juga tidak ada iqamat, seruan atau apapun. Pada saat itu tidak ada azan atau iqamat."

15. Rasulullah mendahulukan shalat sebelum menyampaikan khutbah lebaran.

Ibnu Abbas berkata :
"Artinya : Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu 'anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah" [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
"Bahwa Nabi saw., Abu Bakar dan Umar, mereka melakukan salat Ied (idul fitri dan idul adha) sebelum khutbah."

16. Rasulullah sebagai imam menghadap manusia ketika berkhutbah.

Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah" [Dikeluarkan oleh Bukhari 956, Muslim 889, An-Nasa'i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54]

17. Tidak mengeluarkan mimbar untuk Shalat Ied.

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
"Bahwa Rasulullah saw. selalu keluar pada hari raya raya idul adha dan hari raya idul fitri. Beliau memulai dengan salat. Setelah menyelesaikan salat dan mengucapkan salam, beliau berdiri menghadap kaum muslimin yang duduk di tempat salat mereka masing-masing. Jika beliau mempunyai keperluan yang perlu disampaikan, beliau akan tuturkan hal itu kepada kaum muslimin. Atau ada keperluan lain, maka beliau memerintahkannya kepada kaum muslimin. Beliau pernah bersabda (dalam salah satu khutbahnya di hari raya): Bersedekahlah kalian! bersedekahlah! Bersedekahlah! Dan ternyata mayoritas yang memberikan sedekah adalah kaum wanita. Setelah itu beliau berlalu."

18. Rasulullah mengkhususkan satu khutbah lebaran untuk kaum wanita, terpisah dari khutbah untuk para pria.

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
"Bahwa Nabi saw. pernah melaksanakan salat hari Raya Fitri. Beliau memulai dengan salat terlebih dahulu. Sesudah itu beliau berkhutbah kepada kaum muslimin. Selesai khutbah Nabi saw. turun dan mendatangi kaum wanita. Beliau memberikan peringatan kepada mereka sambil berpegangan pada tangan Bilal. Lalu Bilal membentangkan pakaiannya dan para wanita memberikan sedekah."

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
"Aku pernah ikut salat Idul Fitri bersama Nabi saw., Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka semua melakukan salat Ied sebelum khutbah, kemudian ia berkhutbah, ia berkata: Rasulullah saw. turun, seola-olah aku melihat beliau ketika beliau dengan isyarat tangan mempersilakan kaum lelaki duduk. Kemudian beliau berjalan di antara barisan sampai ke tempat para wanita. Beliau disertai Bilal. Lalu beliau membaca: Hai Nabi, apabila para wanita yang beriman mendatangimu untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah. Beliau membaca ayat ini hingga akhir. Lalu beliau bertanya: Apakah kalian akan berjanji setia? Seorang wanita satu-satunya di antara mereka menjawab tegas: Ya, wahai Nabi Allah! Saat itu tidak diketahui siapa wanita tersebut. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bersedekahlah kalian! Bilal membentangkan pakaiannya seraya berkata: Marilah, demi bapak ibuku sebagai tebusan kalian! Mereka pun segera melemparkan gelang dan cincin ke dalam pakaian Bilal."

19. Saling berjabat tangan bagi mereka yang bertemu (tidak bagi wanita dan pria) dan mengucap selamat.

20. Memilih jalan lain ketika pulang, baik berjalan kaki maupun berkendaraan.

Dari Jabir bin Abdillah Radliallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari mushalla-pen)" [Hadits Riwayat Bukhari 986].

21. Menjalin tali silaturrahim, saling memberi hadiah, saling mengucap selamat (Taqqabbalallahu minna wa minkum bukan meminta maaf). Semua ini dilakukan di hari Ied saja, 1 Syawal.

22. Boleh menabuh rebana bagi kaum wanita diantara sesama wanita untuk menunjukkan kegembiraan.

23. Meninggalkan sesuatu yang melampaui batas pada hari itu.

Wallahu'alam.

Jumat, 13 Oktober 2006

Menggapai Keutamaan Laylatul Qodr

Keutamaan Lailatul-Qadar sangat besar, karena pada malam itulah diturunkannya Al-Qur’an Al-Kariim yang membimbing manusia yang berpegang kepadanya kepada jalan kemuliaan dan kehormatan, mengangkatnya ke puncak ketinggian dan keabadian.

1. Keutamaan Malam Lailatul-Qadar

Tanda kebesaran dan keagungan Lailatul-Qadar adalah bahwa malam itu merupakan malam yang penuh berkah yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah ta’ala telah berfirman :
إِنّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مّبَارَكَةٍ إِنّا كُنّا مُنذِرِينَ
“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan” (QS. Ad-Dukhaan : 3).
وَمَآ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Dan tahukah kamu apakah malam lailatul-qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr : 2-3).
Maksud dari ayat tersebut adalah bahwa amalan di malam Lailatul-Qadar (yang penuh barakah) itu menyamai pahala amal seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadarnya. Seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk berusaha mencari malam tersebut dengan sabdanya :
ﻪﺒﻧﺫ ﻦﻣ ﻡﺪﻘﺗ ﺎﻣ ﻪﻟ ﺮﻔﻏ ﺎﺑﺎﺴﺘﺣﺍﻭ ﺎﻧﺎﻤﻳﺇ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ ﻡﺎﻗ ﻦﻣ
“Barangsiapa yang mendirikan ibadah (pada malam) Lailatul-Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Allah mensifati malam itu dengan malam keselamatan/kesejahteraan, sebagaimana firman-Nya :
سَلاَمٌ هِيَ حَتّىَ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr : 5).
Ini menunjukkan kemuliaan, kebaikan, dan keberkahannya. Orang yang terhalangi dari kebaikan malam itu berarti terhalangi dari kebaikan yang sangat banyak. Inilah keutamaan-keutamaan yang besar pada malam yang penuh barakah ini.

Pada malam ini kita diperintahkan untuk banyak-banyak berdoa dengan doa :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُعَنِّيْ
[Alloohumma innaka ‘afuwun tuhibbul-‘afwa fa’fu’annii]
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai maaf, maka berilah maaf kepadaku” (HR. Tirmidzi 3760 dengan sanad shahih).
Catatan : Adapun tambahan Kariim sesudah kalimat Alloohumma innaka ‘afuwun adalah tambahan yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka yang paling baik adalah menggunakan doa yang shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa menambah-nambahi.

2. Waktu terjadinya Malam Lailatul-Qadar

Lailatul-Qadar terjadi pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari bulan Ramadlan. Ada beberapa hadits shahih yang menyebutkan tentang hal ini, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadlan . Imam Asy-Syafi’I berkata,”Ini menurut saya, wallaahu a’lam, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai dengan pertanyaannya. Dan pendapat yang paling kuat bahwa itu terjadi pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan dan beliau mengatakan : “Carilah Lailatul-Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan” (HR. Bukhari 4/225 dan Muslim 1169) . Silakan membuka Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebutkan beberapa hadits dimaksud.

3. Tanda-Tanda lailatul-Qadar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kita tentang beberapa tanda yang mengisyaratkan terjadinya Lailatul-Qadar. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ubay radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ﻊﻔﺗﺮﺗ ﻰﺘﺣ ﺖﺴﻁ ﺎﻬﻧﺄﻛ ﺎﻬﻟ ﻉﺎﻌﺷﻻ ﺲﻤﺸﻟﺍ ﻊﻠﻂﺗ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ ﺔﺤﻴﺒﺻ
“Di pagi hari (setelah) malam Lailatul-qadar, matahari terbit tanpa cahaya yang menyinari (redup, tidak panas). Ia bagaikan bejana hingga naik” (HR. Muslim 762).
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ﺀﺍﺮﻤﺣ ﺔﻔﻴﻌﺿ ﺎﻬﺘﺤﻴﺒﺻ ﺲﻤﺸﻟﺍ ﺢﺒﺼﺗ ﺓﺩﺭﺎﺑ ﻻﻭ ﺓﺭﺎﺣ ﻻ ﺔﻘﻠﻁ ﺔﺤﻤﺳ ﺔﻠﻴﻟ ﺭﺪﻘﻟﺍ ﺔﻠﻴﻟ
“Lailatul-Qadar merupakan malam penuh kelembutan, cerah, tidak panas, dan tidak dingin. Matahari di pagi harinya menjadi nampak lemah lagi nampak kemerah-merahan” (HR. Ath-Thayalisi 349, Ibnu Khuzaimah 3/231,dan Al-Bazzar 1/486; dengan sanad hasan).
4. Beribadah di Malam Lailatul-Qadar

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan, beliau semakin giat dan khusyuk dalam beribadah. Beliau kencangkan ikat pinggangnya dan beri’tikaf di dalam masjid. Tidaklah beliau keluar dari masjid kecuali untuk menunaikan hajatnya saja.
Mari kita simak beberapa hadits berikut :

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata :
ﻪﻠﻫﺃ ﻆﻘﻳﺃﻭ ﻪﻠﻴﻟ ﻰﻴﺣﺃﻭ ﻩﺭﺰﺌﻣ ﺪﺷ ﺮﺸﻌﻟﺍ ﻞﺧﺩ ﺍﺫﺇ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻥﺎﻛ
“Apabila memasuki sepuluh (malam terakhir di bulan Ramadlan), Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengencangkan ikatan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (istri-istrinya)” (HR. Bukhari 2/233 dan Muslim 1174).
ﺎﻫﺮﻴﻏ ﻲﻓ ﺪﻬﺘﺠﻳ ﻻ ﺎﻣ ﺮﺧﺍﻭﻷﺍ ﺮﺸﻌﻟﺍ ﻲﻓ ﺪﻬﺘﺠﻳ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻥﺎﻛ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir (pada bulan Ramadlan) yang tidak beliau lakukan di saat-saat lain” (HR. Muslim 1174).
Maka selayaknyalah kita sebagai ummat beliau untuk meneladani beliau dalam menghidupkan bulan Ramadlan, khususnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan dengan ibadah-ibadah, seperti : I’tikaf, membaca Al-Qur’an dan berusaha menghafalnya, mempelajari hadits dan kandungan-kandungannya, dan lain-lain. Tidak selayaknya kita habiskan waktu malam dan siang kita hanya dengan tidur dan makan.

Rabu, 11 Oktober 2006

Gaul Syar'i Ala Muslimah

Sumber: Nur Aulia Solihah ( sabili edisi Mei 2005)

Gaul and modis, siapa sih yang nggak pengen ? Pasti semua orang pengen. Saking pengennya, kadang cewek suka jadi plagiat total gaya hidup para selebritis. Coba deh lihat sekitar kamu. Soal pakaian saja, remaja putri mencontek abis fesyennya selebritis lokal maupun Holywood semisal Agnes Monica, Jeniffer Lopez, Nicole Kidman, Madonna dan sebagainya. Rok mini diatas dengkul, bujal, aurat terbuka merata disekitar leher dan dada. Hidup para selebritis kita pun tak jauh dari aktivitas dunia gemerlap alias dugem. Berhura-hura di pesta dan tempat hiburan degan gonta-ganti pasangan.

Tampil full aksesoris nyentrik dan make up tebal demi menggaet simpati serta kenalan. Kita nggak mau dong over acting untuk menarik perhatian dan simpatik orang seperti itu, tapi ngorbanin ridhanya Allah. Sebenarnya kayak apa sih tampil gaul, modis tapi tetap syar’i. Nah kalo kamu ingin jadi muslimah gaul tapi syar’i, kamu kudu ngikutin rambu-rambu Allah dibawah ini.

1.Berbusana muslimah
Islam juga mengatur urusan malbusat (urusan pakaian) ini lho. Ada dua busana yang wajib dipakai seorang muslimah yaitu khimar (kerudung) dan jilbab. Di masyarakat, orang menyamakan begitu saja antara kerudung dan jilbab.
Kerudung adalah penutup kepala atau pakaian atas. Batasan kerudung, minimal dua kancing paling atas baju atau tepat diatas dada. Selain itu tak membentuk kepala. Kadang karena pengen tampil trendy, perempuan suka niru gaya kudung gaul ketat menutup kepala dan leher saja. Bahkan tanpa sadar kelihatan warna kulit lehernya. Nah, gaya seperti ini sebenarnya belum sesuai dengan syar’i. Perintah memakai kerudung ini ada di Al Quran surat An Nur ayat 31.

Jilbab sendiri dalam kamus bahasa arab Al Munawir artinya baju longgar yang terus kebawah tak berpotongan. Rambu-rambu dalam berjilbab antara lain nggak transparan sehingga kelihatan warna kulitnya, longgar, nggak press body serta irkha’ ilaa asfal alias menyentuh tanah tapi nggak nglangsrah (jawa : panjang berekor). Kewajiban ber-jilbab ini termaktub dalam surat Al Ahzab ayat 59. “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu.”

Biar kelihatan cantik ‘n modis. Ada tips yang perlu diperhatikan. Bagi kamu yang bertubuh bongsor pilih kain jilbab yang berbunga kecil-kecil atau bergaris vertikal. Kebalikannya, bagi kamu yang berbody ceking pilih jilbab berbunga besar atau garis horisontal. Warna cerah dan bunga setaman sangat cocok bagi jiwa mudamu.

Biar tambah keren, coba padankan warna jilbab dengan warna kerudungmu. Kamu juga bisa berkreasi dengan model jilbabmu, dikasih rompi, rendra, manik-manik, bordir dan apa aja deh terserah selera . Asal jangan dikasih paku payung aja, entar dibilang kayak Rocker lagi.

2. No Ikhtilat, No khalwat
Tahu kan ikhtilat dan khalwat? Yup, ikhtilat ialah kondisi bercampurbaurnya antara laki-laki asing dan perempuan yang tidak dalam satu tempat tanpa ada urusan yang diperbolehkan agama. Maksud asing di sini, bukan mahram (laki-laki yang haram dinikahi) dan suami. Birthday party, tamasya, jjs (jalan-jalan sore) bareng-bareng, nonton film rame-rame cowok campur cewek adalah beberapa contoh aktivitas per-ikhtilatan ria. Hampir semua aktivitas, saat ini full dengan ikhtilat. Nggak semua ikhtilat dilarang sih. Di bidang muamalah seperti pendidikan, jual beli, medis, persaksian dipengadilan ikhtilat diperbolehkan, namun juga dengan batas tertentu pula.

Berlawanan dengan ikhtilat, khalwat adalah berdua-duaan antara laki-laki asing dan perempuan di tempat sepi. Berdasar ketidakbolehan khalwat inilah, hukum pacaran jadi nggak boleh alias haram. Apalagi ditambah aksi tangan doi yang ‘menjelajah’ kemana-mana. Wah gaswat bisa terjadi adegan usia 17 keatas. Sensor film kaleee. Pantang non, mendekati zina. Jadi inget iklan sabun no ikhtilat…,no khalwat…., no embi e…. (marry by accident maksudnya). Yang sudah terlanjur ke jebur melakukan pacaran, mendingan di-cut aja deh. Atau segera menikah, dengerin sarannya Meggy Z terlanjur basah, iya sudah mandi sekalian…..

3 Jaga Pandangan
Dari mata jatuh ke hati. Exactly. Hati yang kotor berawal dari ketidakbisaan menjaga pandangan mata. Mata adalah jendela hati. Oleh karena itu Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan mukmin untuk menundukkan pandangan (ghadul bashar) terutama pada lawan jenis. Menundukkan disini bukan lantas kemana saja bawaannya merem atau nunduk terus. Bisa-bisa dikira orang lagi cari uang receh yang jatuh ke jalan.

Menundukkan pandangan artinya kita melihat sesuatu itu no feeling. Natural dan biasa aja gitu loh. Termasuk melihat makhluk bernama pria. Emang sih, kalau dituruti siapa bisa nolak pemandangan cowok cool kayak Leonardo De Caprio atau Nicholas Saputra lewat di depan mata. Pengennya ekor mata ngikutin sampai si doski hilang dari pandangan. Ampe lupa tu di depan ada tiang listrik menanti. Wadauw kejedot… sakit booo.

Makanya kalau bertemu dengan lawan jenis terus ada sesuatu perubahan di diri kita sehingga menimbulkan silah jinsi (perasaan yang mengarah pada hal yang istimewa), itulah saat tepat untuk segera membalikkan pandangan mata dari obyek semula. Pandangan pertama rezeki, selanjutnya….. ghadhul bashar dong.

So, kamu jadi paham kan, nggak bener tuh, kalo kita menjadi muslimah yang kaffah, terus dibilang nggak gaul. Kamu bisa kok gaul n modis, tapi tetap syar'i. Biar funky asal syar'i...

Senin, 02 Oktober 2006

Mengisi Bulan Ramadhan dengan Taqorub Ilallah

Pemateri : Ummu Fatih
Disampaikan dalam Kajian Muslimah Online tgl 2 Oktober 2006

Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillahiladi arsala rosulahu bil huda wa dinilhaq, liyudhorohu aladinni qulli wakaffa billahi shahida, Ashadu ala ilahailallah waashadu'anna muhammadarrosululloh

Segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT, pada kesempatan ini di bulan yg penuh berkah, kita bisa bertemu kembali di majlis ilmu kamus siang ini.

Mohon maaf sebelumnya, karena kondisi badan sdg kurang fit, jadi mungkin tidak terlalu panjang materi yg akan kita ulas bersama. Namun semoga walaupun tidak panjang, bisa banyak kebaikan yg kita dapatkan. InsyaALlah

Sedikit cerita, tadi siang (di ind, pagi yah...) saya baru saja mendapat kabar salah seorang teman yang tinggal di sini meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rooji'un.

Ada satu hal yang menjadikan peristiwa ini seolah pengingat bagi kita...bahwa..maut itu hadir kapan saja, di mana saja, dan kita tidak tahu dalam kondisi apa B arangkali ramadhan tahun lalu, masih ada saudara, teman, orang tua, yg bersama menjalani ibadah ramadhan bersama, namun pada thn ini, tidak lg ..karena ketentuan Allah sudah menjemput.
Buat kita yg masih hidup sampai detik ini....betul-betul bersyukur, masih merasakan detik-detik ramadhan, masih punya kesempatan menjaring pahala dan keberkahan di bulan suci ini.
Untuk itu jgnlah lewatkan sedikitpun waktu berharga ini, jgn buang kesempatan usia ini, dan jgn sampai lengah melakukan hal-hal yang sia-sia..utamanya di bulan ramadhan.

Apa saja yg mesti kita lakukan untuk mengisinya?
Mungkin sdh banyak buku, ceramah para ustadz yg mengulasnya...namun tdk ada salahnya kita review kembali ..agar makin semangat...mumpung masih ada waktu 21 hari lagi...

1. Perbanyaklah shalat.
Shalat sunnah yang dilakukan di bulan ini akan di ganjar pahala sama dgn shalat wajib di bulan biasa. R esapi shalat2 kita..jangan berlalu tanpa kesan di hati..yg tersisa hanya lelah di badan saja...


2. Perbanyak tilawah Qur'an.
Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus."
ada saat ramadhan itulah rasulullah SAW mengulang hapalan Al-qur'annya, saat ramadhan inilah qur'an turun.
Maka sungguh merugi bila kita masih saja tidak terketuk untuk memperbanyak tilawah, memperbaiki bacaan al-qur'an di bulan ini.

3. Perbanyak sedekah.
Banyak hadits yg mengungkap keutamaan memberi berbuka utk org yg berpuasa..walaupun hanya dgn seteguk air.
Bandingkan...lebih banyak mana jajan kita di mall, dg sedekah yg kita masukkan kotak amal?? bila nilai nominalnya sama...percayalah..nilainya sangat jauh berbeda...apalagi di bulan suci ini..semua amal dilipatgandakan.
Nah..insyaAllah mulai sekarang, sebelum belanja, jajan..kita hitung dulu..berapakah uang yg diinfakkan sebelum belanja ini?
Beberapa waktu lalu saya di beri pesan lewat Ym, katanya teman tsb, hanya dgn 50 rb sudah bisa memberi buka puasa untuk satu keluarga..subhanallah... sebegitu bernilainya uang 50 rb itu untuk saudara2 kita yg tidak mampu...pdhl mungkin saja..uang senilai itu biasa kita beli untuk selembar kerudung misalnya pdhl kerudung kita bertumpuk2 menanti giliran dipakai ada di lemari... jadi...mari kita edit lagi neraca dompet kita...mana yg lebih banyak..belanja akherat atau dunia... dan saat ramadhan inilah momentum yg pas.

4. jangan sia-siakan malam-malam di bulan ramadhan.
Sayang sekali bila kenikmatan, keberkahan malam yg di janjikan ALlah terlewati tanpa sujud tarawih kita, tanpa tangis taubat kita, tanpa suara memelas kita padaNya atas do'a2 kita.
Perbanyak tahajud, sholat istikharah, sholat hajat, dll. InsyaAllah saat inilah terbukanya pintu2 terkabulnya do'a.

5. Kurangilah hal-hal yg sia-sia. Mata kita jangan dibiarkan habis hanya untuk memandangi si kotak ajaib TV.
Telinga kita jangan dibiarkan melanglangbuana mendengar hal-hal yg tidak bermanfaat. Kaki kita, paksalah untuk senantiasa melangkah ke tempat2 yg membiuat kita ingat sama ALlah.

InsyaALlah masih banyak lagi hal yg bisa kita lakukan untuk mengisi bulan keberkahan ini. KIta tidak tahu..apakah ini ramadhan kita yg terakhir atau bukan..
tapi kita harus terus berusaha, melakukan yg terbaik untuk kehidupan yg abadi di akherat nanti.

Kamis, 28 September 2006

Rabu, 27 September 2006

Menjadi Muslimah

Kategori: Bahan Muhasabbah

Wanita Islam merupakan bagian dari masyarakat yang tidak dapat dipisah-kan dan mempunyai posisi yang sangat penting. Ia mempunyai kewajiban terhadap Allah, dirinya sendiri, keluarga, lingkungan dan terhadap Islam. Pada kali ini akan sedikit dibahas tentang kewajiban seorang muslimah terhadap dirinya sendiri, lingkungan dan Islam.

Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

Kewajiban seorang muslimah terhadap dirinya adalah berhias dengan akhlaq yang mulia sebagai cermin dari keimanan yang ada di dalam dirinya. Diantara akhlaq mulia yang harus dimiliki seorang muslimah adalah :

1. Hati yang lembut dan perasaan yang sensitif.
Rasulullah sebagai panutan bagi seluruh umat Islam terkenal mempunyai hati yang sangat lembut.

2. Jujur.
Sifat ini mutlak harus ada pada diri setiap muslimah. Jujur dalam bersikap sehari-hari, selalu berhati-hati dengan segala ucapannya agar lidahnya tidak tergelincir pada perkataan yang dusta.

3. Berani & mempunyai fisik yang kuat.
Bagaimana seorang muslimah yang berani dan kuat ? Asma binti Abu Bakar adalah salah seorang wanita yang dapat dijadikan contoh. Dimana dalam masa kehamilannya beliau berjalan melintasi padang pasir dan menaiki bukit terjal sambil membawa bekal bagi Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar yang ketika itu bersembunyi di gua Tsaur. Sedang-kan keberanian dalam berpendapat dapat kita ambil contoh teguran Kaulah binti Sa’labah kepada Ummar bin Khattab yang pada masa kekhalifahannya hendak membatasi harga mahar.

4. Menjauhi teman yang buruk.
Pada prinsipnya teman yang buruk adalah teman yang menjauhkan kita dari mengingat Allah dan mengajak kita pada perbuatan yang mengundang murka Allah. Teman seperti inilah yang harus kita hindari, karena akhlaq seseorang itu dapat dilihat dari akhlaq teman karibnya.

Kewajiban terhadap Lingkungannya

Seorang muslimah hidup dalam suatu lingkungan masyarakat dan saling berinteraksi dengan mereka. Dalam berinteraksi dengan sesamanya, seorang muslimah harus memiliki hal-hal sebagai berikut :

1. Sikap adil.
Ia harus mampu bersikap adil kepada orang-orang di sekitar-nya. Tidak membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.

2. Keperdulian terhadap orang lain.
Tanggap terhadap situasi dan keadaan saudaranya yang sedang mempunyai masalah. Perduli bukan berarti hanya mengetahui bagaimana keadaan saudaranya, tetapi juga berusaha untuk menunjukkan perha-tiannya sebagai bukti dari keper-duliannya itu.

3. Hati yang pengasih.
Seorang muslimah harus memiliki rasa sayang terhadap sesamanya dan mampu untuk menunjukkan rasa sayangnya itu.

4. Menjaga hak-hak orang lain.
Apa yang menjadi hak orang lain adalah merupakan kewajiban bagi diri kita untuk memenuhinya. Sebagai contoh, hak seornag muslim dari muslim yang lain adalah dikunjungi ketika ia sakit.
Kewajiban terhadap Islam
Diantara kewajiban muslimah terhadap Islam adalah keikutsertaanya dalam menyebarkan syiar-syiar Islam. Dengan selalu berprilaku baik, menjaga adab-adab yang islami, dan membina hubungan baiknya dengan masyarakat, maka secara tidak langsung ia telah turut andil dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Dari sinilah orang dapat melihat dan merasakan indahnya islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Selain itu seorang muslimah juga dituntut untuk dapat berperan aktif dalam membina masyarakatnya sesuai dengan kemampuan dan kelebihan masing-masing. Aisyah ra adalah salah satu istri Rasulullah yang pandai tentang ilmu hadits, fiqih, dan kedokteran. Kemampuan tersebut beliau ajarkan kepada para muslimah lainnya dalam rangka keikutsertaannya membina masyarakat pada saat itu.
Demikianlah tiga kewajiban seorang muslimah yang harus ia jalankan. Dengan mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut diharapkan bahwa setiap muslimah akan sadar, bahwa dia hidup bukan untuk dirinya sendiri, dan dia juga islam bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga hidup dan islam bagi masyarakatnya, dan harus turut serta dalam menyebarkan nilai-nilai islam tersebut. Tanggung jawabnya begitu besar, dan kelak akan dimintai pertanggung-jawabannya di hari akhir.

Selasa, 26 September 2006

Ilmu perhiasan tak ternilai bagi muslimah :)

Kategori: Artikel
Sumber: http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/perhiasan.htm



Seorang yang mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah diatur dalam syariat Islam.

Seorang yang sukses bukanlah orang yang hidup dengan bersemboyan ‘semau gue’ dengan mengikuti hawa nafsunya, tapi orang yang sukses adalah orang yang mengambil Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan pemahaman As Salafus Shalih sebagai pengikat aturan hidupnya. Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah yang baligh dan berakal (mukallaf) untuk menuntut ilmu.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat menyempurnakan kewajibannya.

Sebagai hamba Allah, seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yang meliputi pengetahuan terhadap nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Selain itu, ia harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala bersendiri dalam mencipta, mengatur, memiliki, dan memberi rezeki. Ia pun wajib menunaikan hak-hak Allah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sebagaimana tujuan penciptaannya. Allah berfirman :

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56)

Seseorang tidak akan berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu dien (agama).

Di samping mengenal Allah, seorang Muslimah juga wajib mengenal Nabi-nya, yaitu Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, karena beliau merupakan perantara antara Allah dengan manusia dalam penyampaian risalah-Nya. Sesuai dengan makna persaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, maka ia wajib mentaati segala yang beliau perintahkan, membenarkan segala yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan. Hal ini sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (Al Hasyr : 7)

Ayat ini merupakan kaidah umum yang agung dan jelas tentang wajibnya seluruh kaum Muslimin mengambil sunnah yang telah tetap dan hadits-hadits shahih dalam aqidah, ibadah, muamalah, adab, akhlak, seluruhnya. Hal ini tidak akan diketahui kecuali dengan menuntut ilmu terlebih dahulu.

Selain mengenal Allah dan Rasul-Nya, seorang Muslimah juga wajib mengenal agama Islam sebagai agama yang dianutnya, dengan memperhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahihah, sehingga ia memiliki pendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing. Dan agar ia berada di atas cahaya, bukti, dan kejelasan dari agamanya.

Inilah masalah pertama yang disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bukunya Al Ushuluts Tsalatsah, yaitu berilmu sebelum beramal dan berdakwah.

Seorang Muslimah juga wajib membekali dirinya dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan, sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan tuntunan syariat.

Sebagai isteri, seorang Muslimah dituntut agar menjadi isteri yang shalihah, sehingga ia dapat menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suaminya. Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu 'anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang sifat-sifat wanita shalihah :

“… maka wanita shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.” (An Nisa’ : 34)

Maksud ayat ini diterangkan oleh Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan Asy Syaikh Salim Al Hilali rahimahumullah bahwa wanita yang shalihah adalah yang menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mentaati-Nya, mentaati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, dan menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta menjaga harta suami, anak-anak mereka, dan kehormatannya tatkala suaminya tidak ada.

Untuk menjadi wanita shalihah yang seperti ini, seorang Muslimah membutuhkan ilmu.

Sebagai seorang ibu, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Di bawah kepemimpinan suami, isteri adalah penjaga rumah tangga suami dan anak-anaknya, sebagaimana dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda :

“Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, maka setiap kalian adalah pemimpin, akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Hasil didikan seorang ibu terhadap anak-anaknya inilah yang termasuk perkara yang akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah Muslimah harus menuntut ilmu syar’i sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati karena keshalihan mereka.

Di tempat lain, bila seorang Muslimah belum menikah, maka sebagai anak ia wajib taat pada orang tuanya selama tidak memerintahkan kepada maksiat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya… .” (Al Ankabut : 8)

Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :

“Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh jiwa (tanpa hak), dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari)

Untuk dapat berbuat baik dan menunaikan hak-hak orang tua dengan benar, seorang Muslimah tidak bisa lepas dari ilmu.

Seluruh kewajiban ini harus dapat ditunaikan dengan dasar ilmu. Karena jika tidak, akan terjadi berbagai kesalahan dan kerusakan. Maka tidak heran, bila para Muslimah yang bodoh terhadap agamanya melakukan berbagai praktek kesyirikan dan kebid’ahan. Akibat kebodohannya pula, banyak Muslimah yang durhaka pada suami atau orang tuanya. Atau terjadi berbagai kesalahan dalam mendidik anak sehingga muncullah generasi yang berakhlak buruk, bahkan bisa jadi durhaka pada orang tua yang telah merawat dan membesarkannya. Karena kebodohannya pula, banyak Muslimah yang tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya, sehingga ia menjadi fitnah dan terjerumus dalam perzinahan dan berbagai kemaksiatan. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari yang demikian itu.

Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

“Aku berdiri di muka pintu Syurga, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin, sedang orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Dan ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka. Dan ketika aku berdiri di dekat pintu neraka, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya dengan menuntut ilmu, seorang Muslimah akan mengetahui jalan yang selamat. Kaum Muslimah masa kini akan menjadi baik bila mereka mau mencontoh para Muslimah generasi terdahulu (generasi salafuna shalih), mereka sangat memperhatikan dan bersemangat dalam menuntut ilmu.

Dalam sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Seorang wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berkata :

‘Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah membawa haditsmu, maka jadikanlah bagi kami satu harimu yang kami datang pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.’ Maka beliau bersabda : ‘Berkumpullah pada hari ini dan ini di tempat ini.’ Maka mereka pun berkumpul, lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendatangi mereka dan mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun sangat bersemangat mengajar para shahabiyah, sampai-sampai beliau menyuruh wanita yang haid, baligh, dan merdeka untuk menyaksikan kumpulan ilmu dan kebaikan. Bahkan beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memutuskan udzur wanita yang tidak memiliki hijab, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain dari Ummu ‘Athiyah Al Anshariyah radhiallahu 'anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyuruh kami mengeluarkan wanita yang merdeka, yang haid, dan yang dipingit untuk keluar pada hari Iedul Fithri dan Adha. Adapun yang haid memisahkan diri dari tempat shalat, dan mereka pun menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah! Salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau bersabda : ’Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.’ “

Oleh karena itulah, kita dapatkan dalam sejarah Islam, di antara mereka ada yang menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, sastrawati, dan ahli dalam seluruh bidang ilmu dan bahasa. Sebagai contoh, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu 'anha yang dididik dalam madrasah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sehingga beliau menjadi wanita yang berilmu dan shalihah.

Imam Az Zuhri rahimahullah berkata : ”Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dan dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka ilmu ‘Aisyah lebih afdhal.”

Bahkan ‘Aisyah merupakan guru dari beberapa shahabat, ia menjadi bahan rujukan mereka dalam masalah hadits, sunnah, dan fiqih. Urwah bin Az Zubair berkata : “Aku tidak melihat orang yang lebih mengetahui ilmu fiqih, pengobatan, dan syi’ir ketimbang ‘Aisyah.”

Para wanita dari kalangan tabi’in juga berdatangan ke rumah ‘Aisyah untuk belajar, di antara muridnya adalah Amrah bintu ‘Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah. Ibnu Hibban berkata : “Dia adalah orang yang paling mengetahui hadits-haditsnya ‘Aisyah.”

Di antara deretan nama wanita generasi terdahulu yang cemerlang dalam ilmu adalah Hafshah bintu Sirin yang masyhur dengan ibadahnya, kefaqihannya, bacaan Al Qur’annya, dan hadits-haditsnya. Begitu pula Ummu Darda Ash Shuqra Hujaimah, ia seorang yang faqih, ’alimah, banyak meriwayatkan hadits, cerdas, masyhur dengan keilmuan, amalan, dan zuhudnya.

Demikianlah --wahai saudariku Muslimah-- mereka adalah contoh terbaik bagi kita dan telah terbukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya :

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadilah : 11)

Semoga Allah memudahkan jalan bagi kita untuk menuntut ilmu dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Amin. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Maraji’ :

1. Al Qur’anul Karim

2. Inayatun Nisa’ bil Hadits An Nabawi. Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.

3. Nisa’ Haula Ar Rasul. Mahmud Mahdi Al Istambuli dan Musthafa Abu Nashr Asy Syalbi.

4. Riyadlus Shalihin. Imam Nawawi.

5. Bahjatun Nadhirin. Salim bin ‘Ied Al Hilali.

6. Aisarut Tafasir. Abu Bakar Jabir Al Jazairi.

7. Hasyiyah Ats Tsalatsah Al Ushul. Muhammad bin Abdul Wahhab.