Senin, 15 Januari 2007

Mencintai Rasulullah SAW

Mencintai Rasulullah saw

Pemateri: Ustz. Septi (id: septina_h)

*Disampaikan di Kajian Muslimah Online, Senin, 15 Jan 2007


Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara , isteri-isteri,kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) jalan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. QS: At-Taubah: 24

Cinta adalah sebuah ungkapan yang sangat indah dalam kehidupan manusia, dengan cinta manusia bisa sengsara dan dengan cinta pula manusia bisa bahagia, bahkan surga bisa diraih dengan cinta, yaitu cinta yang hakiki kepada manusia terpilih Muhammad Saw.

Cinta kepada Rasulullah Saw dengan sebenar-benarnya cinta, merupakan pondasi aqidah seorang muslim. Kita bisaa mencontoh bentuk-bentuk cintah yang benar dan membuahkan hasil di dunia maupun di akhirat dari generasi As- Salafus Shalih. Kita bisa menelusuri jejak mereka dalam bercinta dengan kekasih melia Rasulullah Saw, bagaimana mereka menagorbankan
jiwa, harta, anak, oranga tua dan asegala apa yang dimilikinya.

Banyak orang yang mengaku cinta Rasulullah Saw tetapi mereka tidak tahu hakekatnya, bentuk serta konsekuensi dari cinta tersebut. Padahal semua itu telah dicontokan oleh generasi terbaik, seharusnya manusia yang ingin mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat harus mencontoh mereka.

Para sahabat dalam memahami cinta kepada Rasulullah Saw, membuktikan dengan segala pengorbanan, pembelaan dan konsekuensinya. Mereka tidak segan-segan mengorbankan harta yang paling mahal yang mereka miliki untuk membela Rasululah Saw. Dan cinta mereka kepada beliau melebihi cintanya kepada siapapun, sebagai realisasi dari hadits rawayat Imam Muslim dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda : " Tidaklah seorang hamba beriman sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia."

Mereka rela kehilangan harta kekayaan, jiwa, anak-anak, orang tua dan seluruh manusia, bahkan lebih baik kehilangan segala macam kenikmatan dari pada kehilangan Rasulullah Saw. Bagaimana sikap kaum Anshor pada perang Hunain, seperti diriwayatkan oleh Abu Said, ia berkata: " Maka kaum Anshor menangis hingga air mata mereka membasahi jenggotnya dan
mereka mengatakan: kami rela menerima Rasulullah Saw menjadi bagian dan pemberian untuk kami." Begitu juga Abu Thalha yang telah menjadikan nyawa sebagai taruhan untuk sang kekasihnya sehingga ia menyatakan kepada Rasulullah Saw pada waktu perang Uhud: " Wahai Rasulullah Saw janganlah engkau memperlihatkan diri agar tak terkena anak panah pasukan
musuh, cukuplah leherku yang menjadi tameng musuh asalkan leher engkau selamat." Hal serupa juga dilakukan oleh Abu Dujanah sebagaiman yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Ishaq berkata:" Abu Dujanah pernah menjadikan dirinya sebagai perisai Rasulullah Saw dari panah musuh dengan merangkul Nabi sehingga panah musuh menancap dipunggungnya dan menghujam seluruh tubuhnya sementara ia tidak bergerak sama sekali."

Kesenangan dan kegembiraan para sahabat untuk selalu berteman dan bersama Nabi dalam keadaan suka maupun duka terkadang diungkapkan dengan tetesan air mata, sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Bakar ra, tatkala diminta untuk menemani beliau dalam hijrah.Abu Bakar ra, bukannya tidak tahu atau lupa bahaya dan resiko yang akan dihadapi dalam
perjalanan hijrah, tetapi karena besarnya tekan dan keinginannya untuk menemani Nabi yang mulia maka ia justru menangis karena bahagia dan gembira bisa menjadi pendamping Rasulullah Saw dalam hijrah tersebut. Imam Al- Hafidz Ibnu Hajar berkata:" Ibnu Ishaq menambahkan dalam riwayatnya bahwa Aisyah berkata:" Saya melihat Abu Bakar menangis dan saya tidak menyangka ada seorang yang menangis karena kegirangan."

Tidak hanya pengorbanan cinta sebatas itu untuk melindungi keselamatan diri Rasululah Saw, tetapi pengorbanan jiwa dan raga para sahabat juga teruji dalam membela sunnah dan menegakan ajaran beliau sehingga tidak aneh jika empat ratus sahabat berjanji untuk mati bersama pada perang Yarmuk.

Prinsip para sahabat dalam membela agama sang kekasih mereka, terungkap dari pernyataan Ubadah bin shamit tatkala diutus kepada Muqauqis:" Tidaklah ada seorangpun diantara kita yang setiap pagi dan sore melainkan selalu berdoa memohon mati syahid dan hendaklah tidak kembali
ke tanah airnya, bumi pertiwinya, keluarganya, atau anak-anaknya. Tidak seorangpun diantara mereka yang memikirkan nasib keluarganya kecuali karena mereka telah memasrahkan keluarga dan anak-anak mereka kepada Allah Swt dan mereka hanya memikirkan apa yang ada didepannya."

Kewajiban mencintai Rasulullah Saw haruslah melebihi cinta kepada pertama: Diri sendiri, ini di riwayatkan oleh Imam Al- Bukhari dari Abdulah bin Hisyam bahwa ia berkata:" Kami pernah bersama Nabi Saw sementara beliau menggandeng tangan Umar bin Khaththab r.a, lalu Umar
berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri." Maka Nabi Saw bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya! Hingga aku lebih engkau cintai daripada mencintai dirimu sendiri." Maka Umar
berkata kepadanya:" Sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri." Nabi Saw bersabda:" Sekarang wahai Umar."

Kedua: Orang tua dan anak, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:" Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, tidaklah diantara kalian beriman sehingga aku lebih dicintai daripada orang tua dan anaknya."

Ketiga: Keluarga, harta dan seluruh manusia. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda:"Tidak beriman seorang hamba sehingga aku lebih ia cintai daripada keluarga, hartanya, dan seluruh manusia." Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak membutuhkan cinta kita, dan keberadaaan cinta kepada beliau, kita tidak menambah ketinggian dan kemuliaan beliau serta hilangnya cinta kita tidak pula mengurangi kedudukan dan kehormatan beliau, bagaimana tidak, bukankah beliau kekasih Allah Swt semesta alam.Tidak hanya itu, bahkan siapa yang mengikuti Nabi Saw, Allah Swt akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya
sebagaiman firmanNya:" Katakanlah 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'.Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Imran:31).Oleh sebab itulah mencintai Nabi Saw akan mendatangkan
manisnya iman. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Anas ra, bahwa Nabi talah bersabda:"Tiga perkara, barang siapa yang tiga hal tersebut berada dalam dirinya maka ia akan mendapatkan manisnya iman; hendaknya Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selainnya, hendaklah ia mencinatai seseorang dan tidak mencintainya kecuali hanya
karena Allah, dan hendaklah ia benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilemparkan kedalam api."

Arti manisnya iman sebagaiman yang telah disebutkan oleh para ulama adalah merasakan lezatnya segala ketaatan dan siap menunaikan beban agama serta mengutamakan itu daripada seluruh materi dunia. Selain akan merasakan manisnya iman, orang yang mencinatai Rasulullah Saw akan bersama beliau di akhirat. Imam Muslim dari Anas bin Malik ra, bahwa ia berkata:"Pernah seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya:'Wahai Rasulullah kapan hari kiamat datang?

Beliau berasabda:' Apa yang kamu persiapkan untuknya?' Ia menjawab:'Cinta kepada Allah dan
cinta kepada RasulNya.' Beliau bersabda:'Kamu akan bersama orang yang kamu cintai." Allahu Akbar ! betapa agungnya balasan orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw dan mengagungkan beliau.

Tanda-tanda mencintai Rasulullah Saw telah dibicarakan oeh para ulama, suatu contoh Ibnu Hajar berkata:"Termasuk tanda cinta kepada Nabi Saw di atas adlah bahwa seandainya disuruh memilih antara kehilangan dunia atau bertemu dengan Rasululah Saw kalau itu memungkinkan maka ia memilih kehilangan dunia dari pada kehilangan kesempatan untuk melihat beliau,
ia merasa lebih berat kehilangan Rasul Saw dari pada kehilangan kenikmatan dunia, maka orang yang seperti itu telah mendapat sifat kecintaan di atas dan siapa yang tidak bisa demikian maka tidak berhak mendapat bagian dari buah cinta itu. Yang demikian itu tidak hanya terbatas pada persoalan cinta belaka bahkan membela sunnah dan menegakan syariat serta melawan para penentang-penentangnya termasuk amar ma'ruf nahi munkar." Tanda cinta pertama adalah, Rindu Rasulullah Saw di atas segalanya. Sudah menjadi hal yang wajar bagi setiap orang, untuk selalu berhasrat dan berharap serta ingin bertemu dan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya, barang siapa yang mencintai kekasih yang mulia Rasulullah Saw maka sangatlah rindu dan berharap bisa bertemu serta menemani beliau baik di dunia maupun di akhirat. Dia menunggu kebahagian dengan perasaan rindu dan cemas, jika disuruh memilih di antara Rasulullah Saw atau kenikmatan dunia, maka ia lebih memilih bertemu Rasulullah Saw, ia sangat bergembira untuk melihat wajah beliau yang bercahaya dan sangat senang serta bahagia bila bisa diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau dan sangat takut bercampur cemas
bila terhalang tidak bisa melihat dan bertemu beliau bahkan mengguyur deras air mata duka tatkala berpisah dengan beliau.

Cintanya kaum Anshor terhadap Rasulullah Saw telah ditunjukan oleh mereka dengan cara menyabut kedatangan beliau ke kota Madinah yang digambarkan dalam hadits Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair ra, sebagai berikut:"Orang-orang Islam di Madinah mendengar kepergian Rasulullah Saw dari kota Makkah, maka mereka hampir setiap pagi pergi keluar kota di padang pasir untuk menunggu kedatangan Nabi Saw dan tidak pulang ke rumah hingga terik matahari di siang hari mengusir mereka. Pada suatu hari karena lama menunggu, mereka kembali kerumah, setelah mereka sampai di rumah masing-masing, ada seorang yahudi yang mendaki ke tempat yang tinggi di salah satu benteng untuk melihat sesuatu, tiba-tiba ia melihat Rasulullah Saw bersama para sahabatnya mengenakan pakaian putih dari kejahuan menerobos fatamorgana. Sehingga tanpa disadari ia berteriak dengan suara yang tinggi:' Wahai
oranga-orang Arab inilah pemuka kalian yang kalian tunggu-tunggu'. Maka dengan serempak mereka berhamburan, membawa pedang untuk menyambut kehadiran Rasulullah Saw di tengah-tengah padang pasir."

Subhanallah! Betapa dalam rasa rindu mereka ingin menyambut kehadiran Rasulullah Saw hingga mereka mondar-mandir setiap pagi ke padang pasir menunggu kehadiran beliau dan tidak pulang ke rumah hingga terik matahari di tengah siang yang mengusir mereka agar pulang ke rumah masing-masing.

Tanda cinta kedua; Mengorbankan harta dan jiwa demi Rasulullah Saw. Orang yang sedang bercinta, semangat membara, senang hati akan tidak segan-segan mengorbankan segala sesuatu baik berupa jiwa, kesenangan diri dan sesuatu yang paling berharga untuk sang kekasih. Begitu pula pecinta-pecinta Rasulullah Saw yang mulia dari kalangan sahabat, tinta sejarah telah menorehkan catatan emas tentang betapa tinggi pengorbanan dan pembelaan serta kesetiaan mereka terhadap beliau, sehingga orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw setelah merasakan dalam dada mereka kerugian yang tidak terhingga karena tidak mampu menggapai
kebahagian yang teragung dan harapan yang amat mahal. Imam Ahmad meriwayatkan kepada kita dari Barra' bin Azib berkata, Abu Bakar berkata"Pada waktu kami pergi hijrah, orang-orang sedang mengejar kita dan tidak ada yang dapat mengajar kami kecuali Surakah bin Malik bin
Ju'tsum dengan mengendarai kuda. Saya berkata kepada Beliau Saw:'Wahai Rasululah Saw pencarian telah mampu mendapatkan kita?'Maka Beliau bersabda 'Jangan kamu kawatir sesungguhnya Allah pasti bersama kita.' Hingga dia telah mendekati kita dan jarak kami dengan dia kira-kira satu atau dua atau tiga tombak, Abu Bakar berkata: 'Wahai Rasulullah Saw, Orang yang melakukan pencarian telah berhasil mengejar kita? Maka saya menangis?'. Beliau bertanya:'Kenapa kamu menangis?' Saya menjawab: 'Demi Allah, saya menangis bukan karena takut terhadap keselamatan diriku akan tetapi saya takut terhadap keselamatan diri engkau'. Barra' berkata:'Maka Rasulullah Saw mendoakan keburukan atas Surakah denagan berdoa:"Ya Allah, cukupkanlah dia dari kami dengan sesuatu yang Engkau kehendaki." Maka tiba-tiba kaki kuda Surakah terperosok ke dalam tanah yang keras hingga perut kuda menyentuh tanah."

Tanda cinta ketiga; Tunduk terhadap perintah dan menjahui larangannya.Tidak dapat dipungkiri bahwa orang akan selalu taat kepada orang yang dicintainya, dia berusaha melakukan apa saja yang diinginkan oleh sekasihnya dan menghindari segala apa saja yang dibenci olehnya. Ia
merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tidak terhingga. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah Saw yang mulia, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegerah mewujudkan perintah dan bersegerah menjahui larangan beliau. Betapa banyak kita dapatkan sikap-sikap indah yang tercermin dari perilaku sahabat yang mulia dan jujur dalam mencintai Rasulullah Saw. Orang-orang pecinta Rasulullah Saw bukan hanya sanggup meninggalkan suatu yang disenangi saja bahkan mereka sanggup meninggalkan kebiasaannya bertahun-tahun bahkan kebiasan yang mereka warisi secara turun-temurun, namun mereka
tidak menjadikan kebiasan itu sebagai hujjah untuk menentang perintah Rasulullah Saw seperti sikap kebanyakan kaum muslimin zaman sekarang ini. Allah Swt berfirman dalam surat An-Nur:51: "Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min bila mereka dipanggil kepad Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan:'Kami dengar,
dan kami patuhi'. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung,"

Tanda cinta keempat;membela sunnah dan memperjuangkan syariat. Sangat wajar bila orang selalu mengorbankan waktu, tenaga dan seluruh harta kekayaannya seperti pengorbanan yang dilakukan oleh kekasihnya. Rasulullah Saw telah mengorbankan seluruh pemberian Allah Swt baik berupa potensi, kemampuan harta dan jiwa untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari penyembahan hamba kepada penyembahan Rabbnya hamba. Rasulullah Saw berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh Agar kalimat Allah Swt tinggi dan kalimat kekafiran hancur dan hina dan beliau berperang agar tidak muncul fitnah dan hanya
agama Allah Swt yang tegak di muka bumi.Orang-orang yang mencintai Rasulullah Saw mengikuti dan mencontoh jejak petunjuk beliau dalam semua itu, dengan suka rela mereka dengan bantuan dan karunia Allah Swt selalu siap mengorbankan seluruh potensi dan kemampuan, mempersembahkan harta dan nyawa untuk tujuan seperti tujuan yang ditempuh Rasulullah Saw, beliau mempersembahkan waktu, harta dan jiwa untuk itu.Allah berfirman: "Di antara orang-orang mumin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kapada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)." (Al-Ahzab:23)

Tak terjangkau tinggi pekertimu

Tak tergambar indahnya Akhlakmu

Tak terbalas segala jasamu

Engkaulah Rasul, Rasul Mulia.


Kamis, 11 Januari 2007

Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga



Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga

Pemateri : Ust. Adi JM (id: adijm2001)


*disampaikan di Kajian Muslimah Online, Kamis, 11 Jan 2007


modi_diana: Insya Allah, kajian hari ini akan disampaikan oleh

ust Adi Junjunan Mustafa (id: adijm2001)

modi_diana: Yang akan membawakan tema yang sangat menarik, yaitu:

modi_diana: "Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga"

modi_diana: tafadhol ustadz..

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Diana

Ust. Adi JM: akhwat sekalian perajin Kamus

Ust. Adi JM: saya sampaikan salam penghormatan dalam Islam

Ust. Adi JM: assalaamu'alaikum wr wb

Ust. Adi JM: Alhamdulillaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasuulillaah wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa mawwalah.

Ust. Adi JM: “Salah seorang kalian tidak sampai kepada keimanan yang sempurna, hingga mencintai sesuatu bagi saudaranya, dengan sesuatu yang ia pun mencintai bagi dirinya.” (al-Hadits)

Ust. Adi JM: akhwat sekalian, semoga antunna dalam keadaan sehat wal 'afiyat

Ust. Adi JM: dan semoga Allah berikan keberkahan pada waktu kita dalam kajian hari ini

Ust. Adi JM: seperti disampaikan moderator kita, kajian hari ini bertema:

Ust. Adi JM: Menyampaikan Sinyal Cinta dalam Keluarga

Ust. Adi JM: Dalam banyak kasus, meredupnya cinta dalam keluarga terjadi karena lemahnya sinyal cinta yang kita sampaikan kepada pasangan.

Ust. Adi JM: Sinyal cinta ini bisa berupa tatapan mata, senyuman, ucapan, atau sentuhan ...

Ust. Adi JM: Pada saat kita bercakap-cakap dengan istri/suami, kita dapat menggunakan tatapan mata seefektif mungkin.

Ust. Adi JM: Tatapan mata ini bisa bermakna "aku sangat memperhatikanmu, sayang", "aku sangat senang mendengar ceritamu" ...

Ust. Adi JM: atau "ah ... aku turut bersedih dengan duka di hatimu," dan lain-lain.

Ust. Adi JM: Senyuman juga punya banyak arti, misalnya: "terima kasih, sayang",

Ust. Adi JM: atau "aku sayang kamu", "kamu lucu dech, aku suka".

Ust. Adi JM: Yang pasti senyuman yang kita kehendaki adalah yang menentramkan hati.

Ust. Adi JM: Dalam sabda Nabi Muhammad saw,"Raut wajah yang dihiasi senyuman terhadap saudaramu adalah shadaqah." Senyuman adalah pancaran ketulusan hati dan kemurnian iman seseorang.

Ust. Adi JM: Sinyal cinta yang lebih jelas tentu saja mesti disampaikan lewat ucapan yang baik.

Ust. Adi JM: Seorang yang bijak akan memperhatikan betul ucapannya.

Ust. Adi JM: Dan kepada istri/suami, tentulah ia akan memilih sebaik-baik kata.

Ust. Adi JM: Lewat ucapan, kita dapat mengungkapkan apresiasi, terima kasih, dan rasa suka. Lewat ucapan kita dapat menyampaikan harapan dan keinginan.

Ust. Adi JM: Lewat ucapan pula kita bisa sampaikan kekurangsukaan dan kritik yang membangun kepada istri/suami kita.

Ust. Adi JM: Akhirnya, sinyal cinta dapat disampaikan dalam sentuhan lembut penuh cinta dan kasih sayang.

Ust. Adi JM: Dan pada hubungan intim suami-istri terdapat kebahagiaan lahir dan batin.

Ust. Adi JM: Tentu saja jika momentum ini didahului dan dilakukan dengan terampil dan dalam suasana yang penuh cinta dan kasih sayang tadi.

Ust. Adi JM: Nah, akhwat sekalian ... pada kesempatan ini kita akan lebih banyak bicara ttg menyampaikan sinyal cinta dengan ucapan atau ungkapan kata

Ust. Adi JM: saya mohon maaf kalau ilustrasi2 yang akan disampaikan lebih dari sisi seorang suami

Ust. Adi JM: mudah2an bisa diambil hikmahnya

Ust. Adi JM: ada pertanyaan mendasar dalam menyampaikan sinyal cinta, yaitu:

Ust. Adi JM: Haruskah Cinta Diungkapkan?

Ust. Adi JM: Seorang sahabat menyatakan kekagumannya kepada teman-teman lulusan Eropa.

Ust. Adi JM: sahabat saya ini lama kuliah di Jepun

Ust. Adi JM: Saya tanya apa yang dikaguminya? Tentang kebiasaan mengungkapkan perasaan kepada istri, katanya.

Ust. Adi JM: Ia pun bercerita, seorang sahabatnya yang lulusan Jerman menginap beberapa malam di apartemennya.

Ust. Adi JM: Setiap kali menelpon istrinya di Jakarta, selalu sahabat saya ini mendengar ungkapan Ich liebe dich dari sang sahabat itu ke seberang sana.

Ust. Adi JM: (tahu kan arti Ich liebe dich?)

Ust. Adi JM: ikuti aja dulu ya ...

Ust. Adi JM: ntar dari konteksnya ketahuan kok

Ust. Adi JM: oke kita terusin ...

Ust. Adi JM: Saya tersenyum mendengarnya, lalu mengatakan,"Lho, saya malah heran kalau seorang suami tidak pernah mengatakan aku sayang sama kamu, istriku ...

Ust. Adi JM: atau sesekali mengatakan aku hari ini seneng abizz melihatmu, sayang ..."

Ust. Adi JM: Yang terakhir itu sebetulnya ungkapan yang lebih banyak dipakai anak muda, tapi cukup segar lah kalau sesekali diungkapkan.

Ust. Adi JM: Saya sampaikan, mungkin teman-teman di Eropa terkena imbas Perancis atau Paris yang terkenal romantis.

Ust. Adi JM: Sahabat saya tersenyum,"Wah, pantas ... mungkin kamu terkena gaya perancis juga alias perapatan ciamis ...!" Kami tertawa.

Ust. Adi JM: Lalu saya sedikit kisahkan bagaimana suasana romantis Paris itu.

Ust. Adi JM: Meskipun tak semua hal bisa dijadikan pelajaran, tapi dari Paris saya tahu sebagian arti romantis.

Ust. Adi JM: (oya, alhamdulillah saya sempat mendapat rizki kuliah di Belanda 1989-1996)

Ust. Adi JM: "Bisa jadi ada teman-teman secara tidak sadar sudah bergaya Jepang dalam berkomunikasi kepada istri ...," kata sahabat saya itu tiba-tiba.

Ust. Adi JM: (maaf ini memang konteks cerita Jepang ya ... mungkin Ind lain)

Ust. Adi JM: Mendengar kalimat itu membuat perasaan saya menerawang membayangkan otokorashi ala kaum samurai.

Ust. Adi JM: (otokorashi = style kaum lelaki)

Ust. Adi JM: Apakah kerasnya dunia luar, membuat beku komunikasi di dalam rumah? Wah dingin banget, kata saya dalam hati.

Ust. Adi JM: baik ... sampai sini kisah saya sama sobat saya

Ust. Adi JM: otokrasi beda lagi ya

Ust. Adi JM: Sudah jelas Nabi saw dan para sahabatnya itu orang-orang yang punya jiwa perjuangan yang hebat.

Ust. Adi JM: Kehidupan mereka di Madinah hampir tak pernah sepi dari perang atau ekspedisi militer.

Ust. Adi JM: Justru dalam kerasnya perjuangan itulah mereka menemukan keseimbangan pada kelembutan interaksi dengan istri dan anak-anak.

Ust. Adi JM: Setiap kali pulang berjihad, Nabi selalu disambut anak-anak kecil Madinah. Bukan hanya cucu beliau yang berlari menghampiri beliau, tapi juga beberapa anak lain.

Ust. Adi JM: Lalu Nabi pun memangku salah seorang dari anak-anak itu, sementara yang lainnya menarik-narik kain baju beliau, karena beliau memang begitu lembut dan menyayangi anak-anak.

Ust. Adi JM: Saat pulang dari sebuah ekspedisi militer, Nabi menggoda Jabir, sahabatnya yang pengantin baru.

Ust. Adi JM: "Wah, tentu bantal-bantal empuk sudah disiapkan di rumahmu ...," kata beliau.

Ust. Adi JM: Jabir terkejut dan mengatakan,"Tapi kami tak punya bantal-bantal empuk di rumah ..."

Ust. Adi JM: Tentu saja respon Jabir yang serius itu membuat Nabi tersenyum, sebab kalimat beliau adalah kiasan kemesraan istri yang menanti Jabir di rumahnya.

Ust. Adi JM: Bisa jadi Jabir yang masih muda itu gugup dan tidak siap diajak bergurau oleh satu pribadi yang amat dihormatinya ini.

Ust. Adi JM: Benarlah perjuangan tak membuat Nabi dan para sahabatnya menjadi dingin dan keras dalam interaksi dengan para istri mereka.

Ust. Adi JM: Justru kemesraan itu menjadi penyeimbangan suasana perjuangan.

Ust. Adi JM: Nabi pernah berpesan:

Ust. Adi JM: Kalau kau mencintainya, maka sampaikanlah.

Ust. Adi JM: Ini tuntunan hikmah untuk mempererat persaudaraan; Maka menyatakan cinta kepada istri/suami itu bagian dari hikmah kenabian.

Ust. Adi JM: Kaidah ushul mengatakan, min baabil aulaa, sungguh lebih utama untuk menyatakan cinta kepada istri/suami.

Ust. Adi JM: akhirnya saya ingin tutup pengantar diskusi kita dengan obrolan sepasang suami istri

Ust. Adi JM: begini ...

Ust. Adi JM: "Hari ini aku betul-betul kangen ... sampai pengen nangis," katanya.

Ust. Adi JM: "Oya, jam berapa kangennya?"

Ust. Adi JM: "Sekitar jam 5 sore ..."

Ust. Adi JM: "Oh pantesan ... Jam segituan, rasanya saya juga enggak bisa konsentrasi di depan komputer. Kalau kangen ... coba tahan dikit lah, biar setrumannya enggak kenceng ke sini, saya

Ust. Adi JM: Kalau kangen ... coba tahan dikit lah, biar setrumannya enggak kenceng ke sini, sayang ..."

Ust. Adi JM: "Oyaaa ...? Apa enggak salah nih. Jangan-jangan di sana dech yang kangen duluan."

Ust. Adi JM: "Enggak juga, kayaknya di sana duluan ..."

Ust. Adi JM: "Ya udah, ambiiil ... mangga bungkuuus ..."

Ust. Adi JM: (rupanya orang sunda nih mereka)

Ust. Adi JM: "He he he ..."

Ust. Adi JM: "Kenapa ketawa?"

Ust. Adi JM: "Enggak … Kadang kamu luchu ... Thanks ya, udah dikangenin. Enggak penting siapa yang kangen duluan, yang pasti ik houd van jou ..."

Ust. Adi JM: (ik houd van jou = Ich liebe dich)

Ust. Adi JM: "Ik weet het. I love you too ..."

Ust. Adi JM: (ik weet het = saya tahu ...)

Ust. Adi JM: "Alhamdulillah."

Ust. Adi JM: "Alhamdulillah ..."

Ust. Adi JM: Udah segitu obrolannya

Ust. Adi JM: Penutup:

Ust. Adi JM: Ya Allah, jadikan cinta kami kepada istri-istri dan suami-suami kami sebagai cinta karenaMu, yang menjadi wasilah kami merasakan manisnya iman dan meraih ridhaMu.

Ust. Adi JM: Ya Allah, ampuni kami ketika berlebihan dalam bersikap.

Ust. Adi JM: Ya Allah, karuniakanlah kepada kami istri/suami dan anak-anak yang tetap mendorong kami untuk istiqamah dalam iman dan perjuangan. Aamiin.

Ust. Adi JM: Sekian ...

Ust. Adi JM: Cukup pengantarnya mbak Diana, silakan dipandu diskusinya.

modi_diana: Jazakallahu khoiron katsiro ustadz.


**

**sesi tanya-jawab**

#1

ukhti_hanim: pertanyaannya; istri jabir namanya siapa

ukhti_hanim: sm mo tau hadistnya

ukhti_hanim: riwayat hadist cerita itu, klw boleh

Ust. Adi JM: terima kasih buat mbak Hanim

Ust. Adi JM: sayang pada kisah tsb tidak disampaikan nama istri Jabir

Ust. Adi JM: yang saya ingat, Jabir menikahi janda dan usianya lebih tua dari dirinya

Ust. Adi JM: saat Nabi bertanya, kenapa tidak kau nikahi gadis, hingga kau bisa bercanda dengannya dan dia pun bercanda denganmu

Ust. Adi JM: Jabir menjawab, orang tuanya sudah meninggal

Ust. Adi JM: dan ia punya adik2 yang kecil

Ust. Adi JM: jadi ia berharap istrinya bisa membantu

Ust. Adi JM: mendengar itu Nabi bisa memahami pilihan Jabir

Ust. Adi JM: coba dicari di buku "senyum2 Nabi" ya

Ust. Adi JM: saya sudah terlupa dari buku mana saya baca

Ust. Adi JM: atau mungkin bisa ditemukan di buku ar-Rasul saw tulisan ust Said Hawwa

Ust. Adi JM: afwan saya terlupa

Ust. Adi JM: itu buat mbak Hanim semoga menjawab

#2

ukhti_mimin: tadi bapak bilang: Lewat ucapan kita dapat menyampaikan harapan dan keinginan. Lewat ucapan pula kita bisa sampaikan kekurangsukaan dan kritik yang membangun kepada istri/suami kita.

ukhti_mimin: pertanyaannya: mnta tlg cara komunikasi yg baik ttg hal tsb agar suami tdk tersinggung.

ukhti_mimin: sy sementara ini menyimpulkan bahwa ternyata laki2 punya ego khusus

ukhti_mimin: thd perempuan

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Mimin

Ust. Adi JM: secara umum masalah ini dibahas para ulama kita dalam kajian2 "adab memberi nasihat"

Ust. Adi JM: misalnya disampaikan dg sirr, artinya scr rahasia ... jadi contohnya jangan di depan anak2

Ust. Adi JM: apalagi di depan tetangga atau orang lain

Ust. Adi JM: bahkan istri yang bijak enggak akan menyampaikan nasihat/kritik di depan ortu atau mertua

Ust. Adi JM: kemudian, hal2 lainnya ... disampaikan pada moment yang tepat

Ust. Adi JM: jangan pas capek2nya baru pulang kantor misalnya

Ust. Adi JM: carilah suasana2 yang santai

Ust. Adi JM: misal: menjelang tidur, saat rihlah ...

Ust. Adi JM: kemudian ... sampaikan dengan cara yang lemah lembut dan kalimat2 yang baik

Ust. Adi JM: misalnya: gini mas ... menurut saya sikap mas kemarin itu kurang pas ...

Ust. Adi JM: karena ... bla bla bla

Ust. Adi JM: tapi itu pendapat saya lho ...

Ust. Adi JM: saya bisa salah juga ...

Ust. Adi JM: kira2 redaksi seperti itu

Ust. Adi JM: last but not least

Ust. Adi JM: bersikap ikhlas saat mengritik ... jangan dengan kondisi hati yang dibakar rasa marah

Ust. Adi JM: susah ya ...

Ust. Adi JM: tapi kira2 begitu cara memberikan kritik

ukhti_mimin: kalo semua adab sudah terpenuhi tp yah.. karena ada ego kelaki2an yg kadang tdk bisa nerima masukan dari "bawahan" gmn ngatasinya ya pak?

ukhti_mimin: cara yg efektifnya spt apa selain akhirnya kita diemmm gak jg ngomong

Ust. Adi JM: kalau kita sudah usahakan sebaik2nya tapi masih mentok ... maka bersabarlah

Ust. Adi JM: mungkin cara2 ngambek asal jangan kelewatan malah efektif ya ...

Ust. Adi JM: masing2 istri tahu bgm menghadpi suaminya ... enggak ada rumus umum

Ust. Adi JM: tapi, rumus umumnya, tugas kita adalah mengingatkan

Ust. Adi JM: sama seperti berdakwah, tugasnya adalah tabligh ... selebihnya kita berdoa kpd Allah

ukhti_mimin: apa itu artinya harus ngalah pak?

ukhti_mimin: krn sy liat blm berbagai kasus perempuan harus sering ngalah biar gak bentrok

Ust. Adi JM: iya ... kadang ngalah di hadapan suami malah pintu luluhnya hati dia

Ust. Adi JM: biarkan si suami merenung pada saat2 kesendiriannya

Ust. Adi JM: ini bg kesabaran para ibu yang mesti ada

Ust. Adi JM: dikatakan: al waqt juz'un minal 'ilaaj

Ust. Adi JM: waktu itu bagian dari pengobatan

Ust. Adi JM: begitu mbak Mimin.

#3

ukhti_nova: Pertanyaan : bolehkah suami istri memperlihatkan kemesraan dan mengirimkan sinyal2 cinta didepan anak2 mereka atau orang lain? adakah adab2nya diatur dalam alqur'an?

ukhti_nova: afwan kalau ada yg salah dr pertanyaan saya

ukhti_nova: sekian pertanyaannya

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Nova

Ust. Adi JM: saya melihat tampilnya kita sbg ortu dalam keadaan mesra, hangat dan harmonis akan menjadi pengalaman baik bagi jiwa anak2 kita

Ust. Adi JM: jadi sebatas kita berjalan berpegangan tangan

Ust. Adi JM: atau duduk berdua di sofa dengan posisi merapat, tangan merangkul ke bahu

Ust. Adi JM: atau sun di pipi atau di kening

Ust. Adi JM: itu hal-hal yang wajar diketahui anak2

Ust. Adi JM: justru suasana mesra seperti itu memberikan keseimbangan bagi wawasan si anak

Ust. Adi JM: oh ternyata ayah sama bunda juga bisa mesra ya

Ust. Adi JM: oh ternyata menikah itu asyik ya

Ust. Adi JM: dan ternyata bukan pada "pacaran" sebelum nikah kemesraan yang halal itu dilakukan

Ust. Adi JM: makanya, dalam kasus kami di rumah ... kami bisa sampaikan kepada anak2 ... "itu" baru dilakukan kalau udah nikah ya ...

Ust. Adi JM: "itu" yang dimaksud misalnya tayangan orang pegangan tangan, sun-sunan yang mereka lihat di teve

Ust. Adi JM: maksud saya, jangan sampai pd anak muncul persepsi ... pacaran itu asyik, mesra ... tapi kalau udah nikah "garink", enggak mesra!

Ust. Adi JM: buktinya abi sama ummi kayak gitu ...

Ust. Adi JM: gitu mbak Nova

Ust. Adi JM: nah, di mana batas2nya

Ust. Adi JM: saya melihat ini masalah al-'urf atau kepatutan

Ust. Adi JM: cium bibir ... mungkin kalau kecup saja masih oke

Ust. Adi JM: tapi kalau ciuman hot ya jangan

Ust. Adi JM: kemudian tentu saja hubungan intim dan segenap pendahuluannya

Ust. Adi JM: itu pun tidak pantas dilihat anak2

Ust. Adi JM: bahkan Quran di surat an-Nuur menetapkan tiga waktu aurat bagi suami istri thd anak2 dan orang yang dirumah

Ust. Adi JM: sebelum waktu fajr, waktu dhuhr dan setelah isya ...

Ust. Adi JM: ini di surat an-Nuur

Ust. Adi JM: pada waktu2 itu anak2 mesti ketok pintu dan minta ijin kalau mau masuk kamar tidur ortu mereka

Ust. Adi JM: demikian ya mbak Nova.

#4

ukhti_yokka: pertanyaan : Emm..kdg klo blm terbiasa kan kaku jg ngucap syg2 gitu, perasaan mlh jd aneh, gimana ngatasinnya ust?

Ust. Adi JM: itu pertanyaannya?

Ust. Adi JM: baik ...

Ust. Adi JM: memang ekspresi cinta itu bisa berlainan dari orang ke orang

Ust. Adi JM: dari bangsa ke bangsa

Ust. Adi JM: enggak usah dipaksakan juga mengubah gaya scr drastis

Ust. Adi JM: enggak suami/istri kita malah curiga

Ust. Adi JM: aya naon ieu teh

Ust. Adi JM: ada apa nih

Ust. Adi JM: tapi bahwa setiap orang itu butuh dicintai, ini aksiomatis

Ust. Adi JM: adapun pengungkapan, ini bisa tumbuh dipengaruhi lingkungan, bacaan, atau mungkin tontonan

Ust. Adi JM: yang jadi masalah, skr kan pengungkapan sayang atau cinta malah marak pada hal-hal yang dilarang agama

Ust. Adi JM: masa yang udah suami-istri, yang udah jelas2 halalnya malah pelit menyampaikan sayang dan cinta

Ust. Adi JM: ditambah lagi arahan2 nabi saw yang saya sampaikan tadi

Ust. Adi JM: beliau menganjurkan kita mengungkapkan cinta kita fillahi, karena Allah, kepada yang kita cintai

Ust. Adi JM: jadi ... silakan mulai dari yang sederhana

Ust. Adi JM: misalnya menyampaikan, mas ... adek suka kalau mas pakai kemeja biru muda itu

Ust. Adi JM: apalagi bawahnya pakai celana biru tua yang kita beli lebaran lalu

Ust. Adi JM: itu contoh kalimat apresiasi ...

Ust. Adi JM: gitu ya, buat mbak Yokka

Ust. Adi JM: jadi sampaikan aja pakai bhs arab dulu ke suami, uhibbuka fillahi, kang ...

Ust. Adi JM: sekian buat mbak Yokka

Ust. Adi JM: afwan

Ust. Adi JM: uhibbuka --> buat pria

Ust. Adi JM: uhibbuki --> buat perempuan

Ust. Adi JM: uhibbu supermie --> buat yang suka supermie

#5

ukhti_lita: begini pak ustad..

ukhti_lita: misalnya kita menikah tanpa cinta

ukhti_lita: terus cinta itu belum juga tumbuh setelah pernikahan

ukhti_lita: apakah kata2 mesra itu bisa menciptakan cinta pak ustad

ukhti_lita: walau malu tuk ungkapain

ukhti_lita: itu aja pak ustad.. ini misalnya..

Ust. Adi JM: saya jawab pertanyaan mbak Lita ya

Ust. Adi JM: jadi ... bgm jika pernikahan tidak didasari cinta

Ust. Adi JM: sebetulnya ini memerlukan bahasan lain

Ust. Adi JM: bagaimana menumbuhkan cinta

Ust. Adi JM: dua pekan lagi semoga bisa dibahas ya

Ust. Adi JM: tapi ... sementara tanggapan saya begini

Ust. Adi JM: cinta itu bukan sesuatu yang statis

Ust. Adi JM: ada rumus begini, cinta kpd Allah cerminan iman kepadanya

Ust. Adi JM: iman itu bisa bertambah dan berkurang ... begitu juga cinta

Ust. Adi JM: ia sesuatu yang dinamis

Ust. Adi JM: mungkin saat awal nikah cintanya dikit

Ust. Adi JM: tapi dengan effort yang tepat, cinta itu dapat tumbuh kembang

Ust. Adi JM: caranya adalah dengan saling menghargai dan menghormati

Ust. Adi JM: dengan lebih mengenal sisi2 baik pasangan kita

Ust. Adi JM: dan dengan meredam ego diri kita

Ust. Adi JM: insya Allah kondisi2 ini akan secara otomatis membawa kita pada ucapan sayang kepada pasangan

Ust. Adi JM: ini memang bukan buat diteori2kan, tapi buat dipraktekan

Ust. Adi JM: cobalah!

Ust. Adi JM: gitu buat mbak Lita

#6

ukhti_zuliawati: apakah dengan membuat istri/suami cemburu itu 'bumbunya' cinta ustad?

Ust. Adi JM: terima kasih mbak Zuliawati

Ust. Adi JM: ini pertanyaan bagus buat menutup kajian

Ust. Adi JM: benar sekali ... cemburu bukan hanya bumbunya cinta

Ust. Adi JM: bahkan cinta sejati itu mesti disertai cemburu

Ust. Adi JM: dalam bahasa hadits disebutkan "ghirah"

Ust. Adi JM: Ibnul Qayyim dalam bukunya "taman orang-orang yang jatuh cinta dan dirundung rindu" mengupas amat dalam mengenai cemburu ini

Ust. Adi JM: untuk kasus suami-istri, seorang istri yang mencintai suaminya, akan sakit jika sang suami mencintai yang lain

Ust. Adi JM: begitu juga suami enggak akan rela (ridho) istrinya mencintai yang lain

Ust. Adi JM: jadi cemburu itu bukan cuma bumbu, tapi syarat cinta

Ust. Adi JM: ada seorang shahabat yang dikenal amat pencemburu

Ust. Adi JM: sampai2 perihal dirinya jadi obrolan beberapa sahabat lain di hadapan Nabi

Ust. Adi JM: saat itu Nabi berkomentar

Ust. Adi JM: kalian heran dengan cemburunya si fulan thd istrinya

Ust. Adi JM: sungguh, aku lebih pencemburu dari pada si fulan itu

Ust. Adi JM: dan Allah lebih pencemburu ...

Ust. Adi JM: cemburunya Allah adalah apabila hamba2Nya menyembah (mencintai) kepada selain dirinya

Ust. Adi JM: jadi jelaslah cemburu itu menyatu dengan citnta

Ust. Adi JM: demikian mbak Zuliawati.

Ust. Adi JM: cukup ya ... akhwat sekalian

Ust. Adi JM: skr udah jam 17:03 di Jepang dan karena winter (musim dingin) udah gelap di luar

modi_diana: alhamdulillah..

modi_diana: tafadhol ustadz..

modi_diana: jazakallah khoiron katsio..

Ust. Adi JM: waiyyakunn

Ust. Adi JM: baik mbak Diana dan akhwat sekalian saya pamit

Ust. Adi JM: afwan kalau ada yang salah. wassalaamu'alaikum wr wb

**

Materi tersebut didownload dari: Sampaikan Sinyal Cinta Itu

Dalam banyak kasus, meredupnya cinta dalam keluarga terjadi karena lemahnya sinyal cinta yang kita sampaikan kepada pasangan. Sinyal cinta ini bisa berupa tatapan mata, senyuman, ucapan, atau sentuhan ...

Pada saat kita bercakap-cakap dengan istri/suami, kita dapat menggunakan tatapan mata seefektif mungkin. Tatapan mata ini bisa bermakna "aku sangat memperhatikanmu, sayang", "aku sangat senang mendengar ceritamu", "ah ... aku turut bersedih dengan duka di hatimu," dan lain-lain. Senyuman juga punya banyak arti, misalnya: "terima kasih, sayang", "aku sayang kamu", "kamu lucu dech, aku suka". Yang pasti senyuman yang kita kehendaki adalah yang menentramkan hati. Dalam sabda Nabi Muhammad saw,"Raut wajah yang dihiasi senyuman terhadap saudaramu adalah shadaqah." Senyuman adalah pancaran ketulusan hati dan kemurnian iman seseorang.

Sinyal cinta yang lebih jelas tentu saja mesti disampaikan lewat ucapan yang baik. Seorang yang bijak akan memperhatikan betul ucapannya. Dan kepada istri/suami, tentulah ia akan memilih sebaik-baik kata. Lewat ucapan, kita dapat mengungkapkan apresiasi, terima kasih, dan rasa suka. Lewat ucapan kita dapat menyampaikan harapan dan keinginan. Lewat ucapan pula kita bisa sampaikan kekurangsukaan dan kritik yang membangun kepada istri/suami kita.

Akhirnya, sinyal cinta dapat disampaikan dalam sentuhan lembut penuh cinta dan kasih sayang. Dan pada hubungan intim suami-istri terdapat kebahagiaan lahir dan batin. Tentu saja jika momentum ini didahului dan dilakukan dengan terampil dan dalam suasana yang penuh cinta dan kasih sayang tadi.

Dalam sebuah diskusi bertajuk Memberi Kepuasan kepada Pasangan, seorang peserta bertanya kira-kira sebagai berikut,"Apabila sedang dalan keadaan hamil tua, suami meminta jatah-nya, sedangkan kami dalam keadaan lelah dan enggak mood apa yang harus kita lakukan ...? Apakah kami berdosa jika tidak memenuhi keinginan suami?"

Saat itu saya tidak menjawab masalah dosa atau tidak. Saya melihat ada hal lain yang mesti diletakkan secara proporsional. Pertama, secara umum hubungan intim saat hamil itu tidak akan mengganggu kesehatan janin yang dikandung. Permasalahannya memang bisa jadi ada ketidaknyamanan fisik dan hormonal pada seorang istri saat mengandung. Hal kedua yang perlu diperhatikan, seringkali para suami muda kurang memahami perlunya suasana psikologis yang nyaman bagi seorang istri untuk berhubungan intim, apalagi dalam kondisi hamil tua. Maka diperlukan perlakuan yang lembut untuk sampai pada puncak hubungan.

Ibu penanya tadi memotong,"Tapi itulah masalahnya, Pak. Kadang suami tidak mengerti hal seperti itu ...!"

Saya sampaikan, di situlah perlunya seorang istri menyampaikan apa yang ia inginkan dari suaminya. Dalam kasus di atas, istri bisa saja mengatakan,"Bang ... tolong donk jangan terburu-buru. Saya masih ingin dipijitin dulu kaki dan punggungnya nih, soalnya agak pegal-pegal ..." Dengan demikian suami bisa mengetahui apa yang diinginkan istrinya. Dan hubungan yang dikehendaki istri dan suaminya dapat berlangsung dalam suasana yang nyaman.

Ringkasan tanya-jawab di atas menggambarkan contoh sederhana dan sehari-hari tentang pentingnya kita menyampaikan sinyal cinta secara clear kepada pasangan kita. Insya Allah dengan penyampaian sinyal-sinyal cinta yang jelas, tepat dan bervariasi kita akan senantiasa memperoleh ketentraman, cinta dan kasih sayang dalam berumah tangga.

artikel terkait: Haruskah Cinta Diungkapkan?


Haruskah Cinta Diungkapkan?

Seorang sahabat menyatakan kekagumannya kepada teman-teman lulusan Eropa. Saya tanya apa yang dikaguminya? Tentang kebiasaan mengungkapkan perasaan kepada istri, katanya. Ia pun bercerita, seorang sahabatnya yang lulusan Jerman menginap beberapa malam di apartemennya. Setiap kali menelpon istrinya di Jakarta, selalu sahabat saya ini mendengar ungkapan Ich liebe dich dari sang sahabat itu ke seberang sana.

Saya tersenyum mendengarnya, lalu mengatakan,"Lho, saya malah heran kalau seorang suami tidak pernah mengatakan aku sayang sama kamu, istriku ... atau sesekali mengatakan aku hari ini seneng abizz melihatmu, sayang ..." Yang terakhir itu sebetulnya ungkapan yang lebih banyak dipakai anak muda, tapi cukup segar lah kalau sesekali diungkapkan.

Saya sampaikan, mungkin teman-teman di Eropa terkena imbas Perancis atau Paris yang terkenal romantis. Sahabat saya tersenyum,"Wah, pantas ... mungkin kamu terkena gaya perancis juga alias perapatan ciamis ...!" Kami tertawa. Lalu saya sedikit kisahkan bagaimana suasana romantis Paris itu. Meskipun tak semua hal bisa dijadikan pelajaran, tapi dari Paris saya tahu sebagian arti romantis.

"Bisa jadi ada teman-teman secara tidak sadar sudah bergaya Jepang dalam berkomunikasi kepada istri ...," kata sahabat saya itu tiba-tiba. Mendengar kalimat itu membuat perasaan saya menerawang membayangkan otokorashi ala kaum samurai. Apakah kerasnya dunia luar, membuat beku komunikasi di dalam rumah? Wah dingin banget, kata saya dalam hati.

***

Sudah jelas Nabi saw dan para sahabatnya itu orang-orang yang punya jiwa perjuangan yang hebat. Kehidupan mereka di Madinah hampir tak pernah sepi dari perang atau ekspedisi militer. Justru dalam kerasnya perjuangan itulah mereka menemukan keseimbangan pada kelembutan interaksi dengan istri dan anak-anak. Setiap kali pulang berjihad, Nabi selalu disambut anak-anak kecil Madinah. Bukan hanya cucu beliau yang berlari menghampiri beliau, tapi juga beberapa anak lain. Lalu Nabi pun memangku salah seorang dari anak-anak itu, sementara yang lainnya menarik-narik kain baju beliau, karena beliau memang begitu lembut dan menyayangi anak-anak.

Saat pulang dari sebuah ekspedisi militer, Nabi menggoda Jabir, sahabatnya yang pengantin baru. "Wah, tentu bantal-bantal empuk sudah disiapkan di rumahmu ...," kata beliau. Jabir terkejut dan mengatakan,"Tapi kami tak punya bantal-bantal empuk di rumah ..." Tentu saja respon Jabir yang serius itu membuat Nabi tersenyum, sebab kalimat beliau adalah kiasan kemesraan istri yang menanti Jabir di rumahnya. Bisa jadi Jabir yang masih muda itu gugup dan tidak siap diajak bergurau oleh satu pribadi yang amat dihormatinya ini.

Benarlah perjuangan tak membuat Nabi dan para sahabatnya menjadi dingin dan keras dalam interaksi dengan para istri mereka. Justru kemesraan itu menjadi penyeimbangan suasana perjuangan.

***

Kalau kau mencintainya, maka sampaikanlah. Ini tuntunan hikmah untuk mempererat persaudaraan; Maka menyatakan cinta kepada istri itu bagian dari hikmah kenabian. Kaidah ushul mengatakan, min baabil aulaa, sungguh lebih utama untuk menyatakan cinta kepada istri.

***

"Hari ini aku betul-betul kangen ... sampai pengen nangis," katanya.

"Oya, jam berapa kangennya?"

"Sekitar jam 5 sore ..."

"Oh pantesan ... Jam segituan, rasanya saya juga enggak bisa konsentrasi di depan komputer. Kalau kangen ... coba tahan dikit lah, biar setrumannya enggak kenceng ke sini, sayang ..."

"Oyaaa ...? Apa enggak salah nih. Jangan-jangan di sana dech yang kangen duluan."

"Enggak juga, kayaknya di sana duluan ..."

"Ya udah, ambiiil ... mangga bungkuuus ..."

"He he he ..."

"Kenapa ketawa?"

"Enggak, kadang kamu luchu ... thanks ya, udah dikangenin. Enggak penting siapa yang kangen duluan, yang pasti ik houd van jou ..."

"Ik weet het. I love you too ..."

"Alhamdulillah."

"Alhamdulillah ..."

***

Ya Allah, jadikan cinta kami kepada istri-istri kami sebagai cinta karenaMu, yang menjadi wasilah kami merasakan manisnya iman dan meraih ridhaMu. Ya Allah, ampuni kami ketika berlebihan dalam bersikap. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami istri dan anak-anak yang tetap mendorong kami untuk istiqamah dalam iman dan perjuangan. Amiin.




Senin, 27 November 2006

Ramalan, Zodiak, Shio ...? NO way !!

Kategori: Aqidah
Sumber: Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaith. Fathul Majid Syarh Kitab, Tauhid [Edisi Revisi

Ilustrasi :
Sore itu, Mita lagi kesal berat. Bete. Wajahnya cemberut, jelek banget pokoknya. Diambilnya sebuah majalah remaja edisi terbaru, kemudian mulai dibuka-bukanya. Matanya terhenti pada halaman 'Zodiak Kamu'. Dalam hatinya, Mita berkata, "Zodiak? Gak boleh percaya sama yang beginian. Syirik namanya." Tapi matanya tak bergerak ke halaman berikutnya. "Hmmm, baca aja gpp kok, asalkan ga percaya."

Taurus : Tersenyumlah. Kamu akan mendapatkan kejutan manis yang tak terduga.

Secara otomatis, Mita tersenyum. Manis banget senyumnya. Dilanjutnya membaca zodiak.

Tapi hati-hati dengan ulah seorang teman. Tindakan cerobohnya dapat menghancurkan kerjaan yang sudah kamu kerjakan dengan hati-hati. Keahlianmu memang sangat diandalkan.

"Mita," ungkap Mita dengan bangga. "Kerjaan mana yang gak Mita selesaikan dengan baik? Bagaimana ya kalau Mita gak ada? Kacau balau tuh kayaknya semuanya."

***

Kira-kira, apakah Mita termasuk orang yang ga percaya pada ramalan? Ada dua kesalahannya:

1. Senyuman manis Mita itu merupakan ungkapan sikap percaya pada ramalan yang sudah dibacanya.
2. Ungkapan membanggakan diri (ujub diri) juga menunjukkan rasa percaya pada ramalan. Bahkan, dalam kalimatnya itu, ia telah menduakan Allah. Dia lupa, bahwa dengan ijin dan kasih sayang Allah sajalah sehingga ia mampu menyelesaikan pekerjaannya itu. Harusnya ia mengucapkan syukur pada Allah karena diberikan kemudahan dan kesempatan juga keahlian dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Lebih jauh tentang ramal-meramal. Kenapa hal itu tak boleh?

Rasulullah saw yang kita sayangi itu adalah utusan Allah. Beliau adalah manusia yang spesial, maksum (terlepas dari dosa karena Allah menjaganya). Beliau banyak mengetahui hal-hal ghoib. Ingat tentang peristiwa Isra' Mi'raj. Tapi, tau engga, Rasulullah saw aja tidak mengetahui secara rinci apa yang akan terjadi di masa datang. Beliau tidak tau, apakah sebentar lagi akan ada kejutan manis tak terduga, misalnya. Mengenai pengetahuannya tentang beberapa hal ghoib sesuai dengan Firman Allah dalam surah Al-Jinn : 26-27,

"Dia mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak menjelaskan kepada seorangpun tentang yang ghoib itu kecuali kepada Rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjagaan di hadapan dan di belakangnya."

Jelaslah, dari ayat di atas, dapat diketahui bahwa tak ada seorangpun di dunia ini yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, itu semua rahasia Allah. Salah satu bukti ketidaktahuan Rasululullah adalah saat ia tidak mengetahui apakah di dapurnya ada makanan yang dapat dimakan atau tidak. Bila ditanyakannya pada 'Aisyah ra (istri beliau) dan jawabannya tidak ada, maka Rasulullah hari itu akan berpuasa.

Kalau Rasulullah saja tidak mengetahuinya, masa sih seorang peramal bisa tau. Aneh ga sih? Usut punya usut, ternyata para peramal/ dukun/ orang pintar/ itu mendapatkan info dari para jin dan syetan.

Gini nih dalilnya, dulu sewaktu Rasulullah saw masih hidup, para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang tukang ramal, beliau bersabda, "mereka tidak ada apa-apanya." Para sahabat bertanya, "wahai Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami." Maka Rasulullah saw bersabda, "itu adalah kalimat yang benar, yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (peramal/ dukun). Maka para dukun tersebut mencampurkan kalimat yang benar tersebut dengan seribu kedustaan (kata-kata manis)." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Dari hadist di atas, peramal/ dukun merupakan kaki tangannya jin dan syetan, para walinya. Setan itu memang sukanya menggoda manusia sehingga terjerumus ke jalan yang salah, menjadi teman mereka di neraka nantinya. Rasulullah adalah utusan Allah yang membawa manusia ke jalan yang lurus. Kontradiksi kan? Makanya, bila mengakui perkataan para peramal/ dukun berarti sama saja memilih jalannya setan dan mendustakan Rasulullah sebagai utusan Allah. Hal ini diperkuat oleh hadist:

"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau paranormal lalu membenarkan apa yang dia katakan, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad saw." (HR. Abu Daud)

Nah, mudah aja kan, pilih jalan ke surga atau ke neraka? Agar dapat menjaga hati untuk ga tergelincir pada percaya ramalan, tak perlulah zodiak (shio dan ramalan lainnya) dibaca. Cara lainnya, pilihlah majalah Islam yang tidak memuat ramal-ramalan seperti itu. Menyehatkan dan melegakan kan? ^_^

Wallahu'allam...

Senin, 20 November 2006

Engkau Telah Mulia dengan Menjadi Seorang Muslimah

Kategori: muhasabbah
Sumber: Menjadi Wanita Paling Bahagia; Penulis DR. Aidh al-Qarni; Penerbit Qisthi Press

“Allah kelak akan menjadikan kelapangan setelah kesempitan.”

Putus asakah engkau melihat kebebasan hati, lalu di mana Allah dan ketentuan-Nya?

Semua musibah yang menimpa atas kehendak Allah menjadi penebus dosa dengan seizing-Nya. Bergembiralah dengan apa yang tertulis dalam hadis Rasulullah saw: “Apabila seorang perempuan taat kepada Tuhannya,mendirikan shalat lima waktu (yang menjadi kewajibannya), dan menjaga kehormatannya, maka ia akan masuk surga Tuhannya.”

Semua itu adalah perkara yang mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah. Oleh karena itu saudariku, laksanakanlah amalan-amalan yang agung tersebut, agar engkau dapat menemui Tuhan Yang Maha Pengasih, berjalan sesuai dengan al-Quran dan sunnah Nabi-nya, niscaya engkau akan menjadi seorang muslimah sejati. Dan itu, kemuliaan yang agung dan kebanggaan yang tak terkira. Orang selain dirimu dilahirkan di Negara-negara kafir, sebagai seorang Nashrani, Yahudi, Komunis, dan agama lainnya yang menyimpang dari agama Islam. Sementara engkau, telah dipilih Allah menjadi seorang muslimah, untuk menjadi salah seorang pengikut Muhammad saw yang meneladani jejak langkah Aisyah ra, Khadijah ra, dan Fatimah ra.

Selamat buatmu! Engkau mendirikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, melaksanakan ibadah haji dan memakai hijab. Selamat bagimu! Engakau rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammas saw sebagai Rasul.

Pencerahan: Emas adalah agamamu, perhiasan adlah budi pekertimu, dan hartamu adalah sopan santunmu.

Kamis, 16 November 2006

Persepsi-persepsi yang Benar tentang Allah

Pemateri : Martsiska
Disampaikan dalam Kajian Muslimah Online tgl 16 Oktober 2006

Mengenal Allah dan Hak-hakNya

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Bismillahir rahmaanir rahiim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin

Alhamdulillah, alladzii arsala rasuulahu bil huda wa dinil haq, liyudhhirahu ‘ala diini kullih wa kafa billahi syahiida
Asyhadu anla ilaha illallahwahdahu laa syarikalah
wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh, laa nabiya ba’da
Allahumma shalli wa salim wa baarik ‘ala syaidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ‘ajma’in
Rabbisy syrahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam millisaani yahqahuu qaulii

Ada sebuah pepatah yang akrab sekali dengan keseharian kita; tak kenal maka tak sayang.

Seorang hamba yang tidak mengenal Rabb-nya bisa dipastikan akan menemui kegagalan dalam mencintai Allah SWT. Padahal cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan dia menduduki derajat atau level yang tinggi, demikian yang dikatakan Al Ghazali dalam kitab Al Mahabbah.

Sementara Ali bin Abi Thalib ra, pernah berkata, "Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin".

Maka Rasulullah Muhammad saw dalam membina generasi sahabat sangat mementingkan sisi pengenalan dan persepsi yang benar tentang Allah dan hak-hakNya. Persepsi yang benar tentang Allah SWT akan mengantar seseorang hamba kepada keyakinan dan keimanan yang kuat. Jika seseorang telah memiliki keimanan yang kuat maka akan tumbuh dalam dirinya kesungguhan untuk mewujudkan sebuah penghambaan yang total kepada Allah SWT, juga kesungguhan untuk memperjuangkan tegaknya dien Allah di muka bumi. Yang kesemua itu tentu hadir sebagai konsekuensi kecintaannya kepada Allah.

Seorang sufi, Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit."

Ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: "Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa".

Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Mengenal Allah adalah sebuah usaha yang harus dilakukan seorang hamba agar tumbuh dalam hatinya rasa takut kepada Allah, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan kepadaNya.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Untuk mengenal dan selanjutnya mecintai Allah, persepsi-persepsi tentang Allah yang harus kita camkan dalam hati dan jiwa kita di antaranya adalah sbb:

Pertama,
Sesungguhnya Allah swt tidak mempunyai kekurangan sedikitpun. Dia Maha Sempurna dan kesempurnaan-Nya tiada batas. Dia Maha Esa, tiada sekutu bagiNya dan Dia tidak membutuhkan istri maupun anak.

• Al Ikhlas [112] :1-4
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.“

• Al Jin [72]
3. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.

• Al An’am [6]
101. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. 103. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

• Al Hadid [57]
3. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin[1452]; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

• Al Buruj [85]
14. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, 15. yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, 16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Kedua,
Sesungguhnya Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Pemilik dan Pengatur semua urusan.

• Al An’am [6]
13. Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

• Az Zumar [39]
62. Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

• Ar Ra’du [13]
2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

• Al A’raf [7]
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Ketiga,
Allah adalah sumber segala nikmat di alam raya, yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi.

• An Nahl [16]
53. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

• Luqman [31]
20. Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.

• Ibrahim [14]
34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Doa Rasulullah:
Ya Allah tiada nikmat yang bersamaku, atau bersama salah seorang makhlukMu di waktu pagi, melainkan dariMu saja, tiada sekutu bagiMu. Maka bagiMu segala puji dan bagiMu syukur.

Keempat,
Sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu, maka tiada sesuatu pun di bumi dan di langit yang tersembunyi dariNya dan tiada sesuatu pun yang ditampakkan atau disembunyikan oleh manusia, kecuali diketahui olehNya.

• Ath Thalaq [65]
12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

• Al An’am [6]
3. Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

• Ali Imran [3]
5. Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.

• An Nahl [16]
74. Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

• Al Mulk [67]
13. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 14. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?

Kelima,
Allah swt menugaskan para malaikat untuk mencatat seluruh amal manusia dalam sebuah kitab. Tidak akan tertinggal satu amal pun, kecuali pasti tercatat di dalamnya.

• Qaaf [50]
18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

• Al Infithar [82]
10. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), 11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), 12. mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

• Al Kahfi [18]
49. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun".

• Al Isra’ [17]
13. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. 14. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu".

Keenam,
Sesungguhnya Allah akan menguji hambaNya dengan sesuatu yang tidak mereka cintai dan tidak mereka inginkan, agar jelas hakikat diri mereka sebenarnya.

• Al Mulk [67]
2. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

• Ali Imran [3]
179. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.

• Muhammad [47]
3. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
31. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Ketujuh,
Sesungguhnya Allah akan memberikan taufiq, dukungan, dan pertolongan kepada orang yang kembali kepadaNya, berlindung dengan perlindunganNya, dan mengikuti hukumNya dalam segala hal.

• Al A’raf [7]
196. Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

• Al Hajj [22]
40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

• An Nahl [16]
128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

• Al Ankabut [29]
69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

• Muhammad [47]
7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Mengetahui dan memiliki persepsi yang benar tentang Allah akan mengantar kita kepada sebuah motivasi untuk senantiasa berkhidmat kepada kebaikan dan menghindarkan diri dari maksiat kepada Allah. Kesemuanya dalam rangka beribadah kepada Allah yang dilandasi kecintaan kepadaNya.

Dengan persepsi-persepsi tersebut di atas maka selayaknya seorang hamba mengetahui dan memenuhi hak Allah atas hambaNya yaitu bahwa mereka menyembahNya, mentauhidkanNya, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.

• Al Baqarah [2]
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, 22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

• An Nisaa’ [4]
1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

• Az Zumar [39]
66. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur".

Pemenuhan hak Allah akan mengantarkan seorang hamba kepada kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba, yaitu:

• Melaksanakan rukun Islam
– Syahadat, sholat, zakat, puasa, haji bila mampu

• Menyerahkan diri kepada Allah
– Hud:56; Yusuf:67; An Nisaa:40; Ali Imran:173
• Huud [11]
56. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus."

• Yusuf [12]
67. Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".

• An Nisaa’ [4]
40. Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

• Ali ‘Imran [3]
173. (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".

• Ikhlas
– ‘ Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya dan segala sesuatu tergantung dari apa yang diniatkan…’ (HR. Bukhari)

• Sabar
– Ali Imran:146; Al Kahfi: 28
• Ali ‘Imran [3]
146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

• Al Kahfi [18]
28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.




• Merasakan pengawasan Allah (muraqabbatullah)
– Asy Syu’ara:217-220; Al Mujadilah:7
• Asy Syu’ara [26]
217. Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, 218. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), 219. dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. 220. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

• Al Mujadilah [58]
7. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

• Mendekat kepadaNya dengan amalan sunnah
– ‘HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah (sunnah), hingga Aku mencintaiNya’ (HR. Bukhari)

• Percaya penuh kepadaNya
– Ar Rum:47,60
• Ar Ruum [30]
60. Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.

• Memperbarui taubat dan istighfar
– Ali Imran:135; Asy Syams:9,10
• Ali ‘Imran [3]
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

• Asy Syams [91]
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
• (Ihsan adalah ) engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya maka Allah melihatMu ( HR. Bukhari )


Allahu a’lam bishshawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Maraji’:
• Al Qur’an Al Karim
• Dr. SAyyid Muhammad Nuh, Membangun Kader Militan, Al I’tishom, 2005
• Cahyadi Takariawan, Abdullah Sunono, Wahid Ahmadi, Ida Nur Laila, Keakhwatan 1, Era Intermedia, 2005