- Jadikanlah 'Gadhdhul Bashar' (menundukan pandangan) sebagai 'hiasan mata' anda, niscaya akan semakin bening dan jernih.
- Oleskan 'Lipstik Kejujuran' pada bibir anda, niscaya akan semakin manis.
- Gunakanlah 'Pemerah Pipi' anda dengan kosmetika yang terbuat dari rasa malu yang dibuat pada salon iman.
- Pakailah 'Sabun Istighfar' yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.
- Rawatlah rambut anda dengan 'Jilbab Islami' yang akan menghilangkan ketombe pandangan laki-laki yang membahayakan.
- Hiasilah kedua tangan anda dengan gelang Tawadhu' dan jari-jari anda dengan cincin Ukhuwah.
- Sebaik-baiknya kalung adalah kalung ' Kesucian '
- Bedakilah wajah anda dengan 'Air Wudlu' niscaya akan bercahaya di akhirat
Kamis, 12 Juni 2008
Make Up Muslimah
Anda ingin lebih cantik dan menarik?
Selasa, 26 Juni 2007
Mengqadha Shalat dalam Hukum Haid
Kategori: Fiqh
Sumber: 52 Persoalan Sekitar Hukum Haid, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Darul Haq
Sumber: 52 Persoalan Sekitar Hukum Haid, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Darul Haq
Pertanyaan:
Jika seorang wanita mengalami haid pada pukul 01.00 siang umpamanya dan dia belum mengerjakan shalat Zhuhur, apakah dia harus mengqadha' shalat Zhuhur itu setelah suci?
Jawaban:
Terdapat perbedaan-perbedaan di antara para ulama dalam masalah ini. ada yang berpendapat, dia tidak harus mengqadha' shalat itu karena dia tidak meremehkannya, juga tidak berdosa karena boleh baginya mengerjakan shalat sampai pada akhir waktunya. Ada lagi pendapat yang mengatakan, dia harus mengqadha' shalat itu berdasarkan keumuman sabda Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam:
"Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu."
Dan sikap hati-hati ialah mengqadha' shalat itu karena hanya satu shalat saja dan tidak ada kesulitan dalam mengqadha'nya.
***
Pertanyaan:
Seorang wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat, apakah wajib baginya mengqadha' shalat itu jika telah suci, demikian pula jika telah suci sebelum habis waktu shalat?
Jawaban:
Pertama. Jika wanita kedatangan haid setelah masuk waktu shalat wajib baginya, jika telah suci mengqadha' shalat pada waktu dia haid bila dia belum mengerjakannya sebelum datangnya haid. Berdasarkan sabda Rasulullah shalallhu 'alaihi wa sallam,
"Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat itu."
Jadi, seandainya seorang wanita bisa mengerjakan sekedar satu raka'at dari waktu shalat kemudian dia kedatangan haid sebelum mengerjakannya, maka jika dia suci nanti, wajib mengqadha'-nya.
Kedua. Jika wanita itu suci dari haid sebelum habis waktu shalat, wajib baginya mengqadha' shalat tersebut. Seandainya dia suci pada saat sekedar satu raka'at sebelum terbit matahari maka wajib baginya mengqadha' shalat Subuh. Atau suci sebelum terbenam matahari sekedar satu raka'at, maka wajib baginya mengqadha' shalat Ashar. Atau suci sebelum tengah malam sekedar satu raka'at, wajib baginya mengqadha' shalat Isya'. namun kalau suci setelah tengah malam, tidak wajib baginya shalat Isya' tetapi dia berkewajiban shalat Subuh bila telah masuk waktunya.
Firman Allah:
"Kemudian apabila kami telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (seagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [QA An-Nisaa': 103]
Berarti tidak boleh bagi seseorang mengerjakan shalat di luar waktunya atau memulai shalat sebelum masuk waktunya.
Rabu, 30 Mei 2007
Aba'ah
Kategori: Fiqh
Sumber: Nasihat Ulama Besar untuk Wanita Muslimah, Penyusun Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Huraiqi, Pustaka Ibnu Katsir
Sumber: Nasihat Ulama Besar untuk Wanita Muslimah, Penyusun Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Huraiqi, Pustaka Ibnu Katsir
Pertanyaan: Telah tersebar di kalangan wanita muslimah satu fenomena yang berbahaya berupa kebiasaan memakai aba’ah, yaitu busana yang menutupi tubuh hingga ke bahu dan menutupi kepala dengan maksud agar terlihat anggun dipandang. Aba’ah ini terlihat ketat, transparan sehingga terlihat bentuk dada dan tulang, dan mereka memakai busana ini karena ingin mengikuti mode atau karena ingin ketenaran. Bagaimana hukum memakainya? Apakah ini termasuk hijab yang disyariatkan? Dan apakah ini termasuk dari ancaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang membawa pecut kemudian dengan pecut itu mereka memukul manusia dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, jika berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan punuk unta yang meliuk-liuk, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak pula mendapat harumnya. sedangkan wangi Surga sudah dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.”
Atas fatwanya, saya ucapkan Jazakumullah khairal jazza’.
Jawaban: Allah Ta’ala telah memerintahkan wanita muslimah untuk menutupi tubuh secara sempurna dengan hijab sebagaimana firman-Nya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dan jilbab adalah kain panjang yang digunakan wanita untuk menutupi kepala dan seluruh anggota badannya seperti halnya misylah (pakaian kebesaran bangsa Arab bagi kaum prianya). Sedangkan aba’ah pada awalnya dipakai untuk kepala dan seluruh badan. Maka aba’ah termasuk penutup dan penghalang dari pandangan mata orang lain.
Firman Allah Ta’ala:
“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dan tidak diragukan lagi bahwa menampakkan bentuk kepala dan kedua bahu wanita merupakan daya tarik yang akan memancing pandangan orang lain, jika wanita muslimah memakai aba’ah yang hanya sampai bahu, maka sama seperti laki-laki karena menampakkan bentuk kepala, leher, dan bentuk bahu serta menjelaskan secara detail sebagian anggota tubuhnya seperti dada, punggung, dan lainnya. Ini semua merupakan sebab terjadinya fitnah, memancing pandangan orang lain, serta mendekatkan diri pada orang jahil walaupun ia termasuk wanita yang menjaga kehormatan diri. Atas dasar inilah, maka tidak boleh bagi seorang muslimah memakai aba’ah yang hanya menutup hingga bahu karena adanya larangan, dan dikhawatirkan masuk kepada ancaman Nabi shalallahu a’alaihi wasallam dalam hadist di atas.
Syaikh ‘Abdullah bin Jibrin
pada 27/8/1413 H.
Rabu, 25 April 2007
Muslimah Indonesia : Hati-hati godaan konsumerisme
Kategori: Nasehat
Sumber: Majalah Alia
Sumber: Majalah Alia
Sebuah nasehat dari Ingrid Mattson
Saya sebenarnya ingin menasehati Muslim di Indonesia untuk berhati-hati menghadapi sejumlah permasalahan serius akibat modernisasi dan industrialisasi. Saya sedih melihat begitu banyak sungai dan seluran air di Jawa yang terpolusi, melihat sampah dan kotoran di jalan dan melihat pabrik-pabrik menyemburkan asap beracun ke udara.
Allah memberi manusia tanggung jawab untuk melindungi bumi ini dan agaknya kita tidak melaksanakan tugas ini dengan baik. Malahan, kita saat ini sedang menghancurkan bumi. Akibatnya, semua orang akan menderita secara fisik, mental, dan spiritual. Islam adalah agama yang suci dan mencintai kesucian (thaharah dan tazkiyyah) dan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassallam sendiri pernah berkata, "Allah itu indah dan cinta keindahan." Jadi, saya ingin mengajak para brothers dan sisters di Indonesia untuk memegang tanggung jawab ini dengan sungguh-sungguh dan untuk bekerja menciptakan lingkungan yang bersih dan indah.
Saya ingin menasehati my sisters untuk berhati-hati menghadapi godaan-godaan konsumerisme. Kita semua suka baju, perhiasan, dan perabot yang bagus. Kita semua ingin membahagiakan anak-anak dengan memberi mereka pakaian dan mainan yang bagus. Tapi kita juga harus hati-hati jangan sampai tertipu sehingga mengira bahwa banyak berbelanja membawa kebahagiaan. Padahal kebahagiaan hanya bisa kita dapatkan bila memiliki hati yang baik dan penuh kasih sayang, dan selalu tunduk kapada Allah. Kita justru akan lebih bahagia kalau berbagi denga kaum dhuafa, daripada kalau kita hambur-hamburkan uang untuk barang-barnang yang tidak akan kita pakai lagi dalam waktu dekat. Sewaktu di Jakarta saya sedih sekali melihat kondisi kaum miskin di sana. Padahal, adalah kewajiban agama kita sebagai Muslim untuk menolong tetangga kita.
Kamis, 19 April 2007
FYI : For Your Information
Kategori: FYI
Sumber: Majalah Muslimah
Sumber: Majalah Muslimah
Sejarah Kerudung Segi 4
Dalam sejarahnya, kerudung segi 4 adalah modifikasi dari scarf yang dililit di leher atau untuk menutupi kepala ketika panas. Bentuknya pun lebih kecil dari yang sekarang. Pada tahun 1960-an, scarf dan kaca mata lebar sangat populer di kalangan perempuan Amerika dan Eropah. Mengikut trend dari gaya Jacky Kennedy dan baju rancangan Channel. Kala itu menjadi aksesoris wajib bagi para selebritis Hollywood.
Pada perkembangannya, si segi empat mungil semakin menebar pesona dan disukai oleh perempuan Mesir, Iran, dan Pakistan. Namun, kenapa di Arab kerudung ini tidak populer? Sebab perempuan Arab lebih banyak menggunakan bergo super lebar dan berwarna hitam.
Perjalanan si segi empat ini pun mulai melanglang menuju Asia lewat jemaah haji sebagai oleh-oleh. Sekarang, kerudung ini sangat populer dan banyak sekali motifnya.
Hmm, yang satu saduran dari Jacky Kennedy yang satu bagian dari budaya Arab (Islam). Ayo, pilih yang mana? *_^ Be a smart muslimah.
Bagaimana dengan Si Selop?
Lebih unik lagi dengan si selop ini. Dulunya selop merupakan sandal (sepatu) buat kaum cowok. Selop banyak dipakai oleh raja-raja zaman dulu. Sri Sultan Hamengku Buwono IX selalu memakai selop di segala kesempatan. Begitu juga dengan Napoleon Bonaparte, memakai selop ini yang dinamakan Mule Shoes, sejenis sandal tertutup namun bagian belakangnya terbuka. Model mule ini sangat beragam, pada masa Renaissance di Eropah, model mule sangat unik, bersol tebal dan posisi solnya ada di tengah. Aneh ya :D
Setelah mengalami berbagai bentuk. mule pun semakin akrab di kalangan perempuan, bahkan modelnya juga lebih cewek banget. Mulai dari hak datar hingga yang lancip. Selop bagi kaum pria juga mulai berubah gaya menjadi lebih terbuka, seperti sandal gunung.
Model (dunia) emang suka terbalik-balik ya. Aneh. Yang awalnya bagi wanita menjadi umum bagi pria dan yang awalnya bagi pria menjadi umum bagi wanita. Asal jangan sampai kita menjadi terlihat seperti pria aja, inilah yang terlarang. Wallahu'alam.
Smart Choice
Nah, ternyata nih sekarang udah mulai banyak muslimah yang memilih toko buku sebagai tempat favorit. Keren euy. Berarti udah makin pinter aja kaum muslimah di Indonesia ini.
Tapi, kira-kira buku apa aja yang dibaca? Komik? Enggaklah, pastinya buku-buku yang dibaca adalah buku yang bermanfaat, bermanfaat di dunia ini dan juga manjadi bekal untuk akhirat. Waw, smart choice ya smart muslimah...
Rabu, 18 April 2007
Menjadi Wanita Sholehah
Kategori: Artikel
Sumber: NN
Sumber: NN
Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.
Mereka hanya perlu
memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
---------------------------------------
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:
" Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."
Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An'am: artinya:
" Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir."
3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Ad-dunya mata' , khoirul mata' al mar'atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.
(source : NN )
Senin, 16 April 2007
Iman kepada Kitab-kitab-Nya
Kategori: aqidah
Sumber:
1. Peran Iman dalam Ibadah (Al-Imanu wal Ibadah), Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
2. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Sumber:
1. Peran Iman dalam Ibadah (Al-Imanu wal Ibadah), Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
2. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Meyakini bahwa Allah telah menurunkan Kitab-kitab suci kepada para Rasul-Nya untuk menjadi hujjah, petunjuk, pengetahuan bagi seluruh isi alam, dan pegangan bagi mereka yang mengamalkan ajran-ajaran Allah.
Mengenal Kitab-Nya, yaitu Taurat (Nabi Musa 'alaihissallam), Injil (Nabi Isa 'alaihissallam), Zabur (Nabi Dawud 'alaihissallam), Suhuf Ibrahim 'alaihissallam dan Musa 'alaihissallam, Al-Quran (Nabi Muhammad shalallahu 'alaihissallam)
Allah me-nasakh (mengkadaluarsakan) kitab-kitab sebelum Al-Quran dan menjadikan Kitab Al-Quran terpelihara dengan penuh dan tidak dapat diubah-ubah oleh tangan manusia.
Adapun kitab-kitab sebelum Al-Quran diturunkan untuk umat tertentu dan untuk jangkauan waktu yang terbatas serta telah banyak mengalami perubahan. Perubahan-perubahan ini dilakukan oleh manusia dan banyak menyelisihi isi Al-Quran. Contohnya adalah perbuatan kaum Nasrani dalam merubah Injil dalam aqidah kaum Nasrani, sebagaimana telah diketahui bersama yaitu aqidah Trinitas. Mereka mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga. Ini merupakan kedustaan terhadap Al-Masih Isa ibnu Maryam.
Firman Allah dalam Al-Baqarah 79:
"Maka amat celakalah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri kemudian berkata, 'ini dari Allah'. Dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit. Maka celaka besarlah bagi mereka karena apa yang ditulis dengan tangan mereka sendiri. Dan celaka besar pula bagi meraka karena apa yang mereka kerjakan."
Juga firman Allah dalam Al-An'am 91:
"Katakanlah: Siapakah yang menurunkan kitab Taurat yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi umat manusia? Kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan sebagiannya dan kamu sembunyikan sebagian besarnya."
Sedangkan Allah menjadikan kitab Al-Quran terpelihara dengan penuh dan tidak dapat diubah-ubah oleh tangan manusia sebagaimana firman Allah dalam Al-Hijr 9:
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami pulalah yang benar-benar memeliharanya."
Al-Quran akan tetap menjadi hujjah sampai hari kemudian.
Langganan:
Postingan (Atom)